Connect with us

BOJONEGORO

Program AUTP Diikuti Para Petani di Kecamatan Bojonegoro

Published

on

Jatimraya.com, Bojonegoro – Para petani di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang menanam tanaman padi seluas 3.195,89 hektare masuk program asuransi usaha tani padi (AUTP) sejak 20 Desember 2017.

“Petani mengasuransikan tanaman padinya karena sawahnya rawan bencana banjir luapan Bengawan Solo dan banjir bandang,” kata Kasi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Bojonegoro Susana di Bojonegoro, Jumat (19/1/2018).

Menurut dia, petani yang ikut program AUTP membayar premi sebesar Rp36.000/hektare dari total premi sebesar Rp180.000 kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Dari tanaman padi seluas 3.195,89 hektare itu, milik 4.307 petani dengan luas terbanyak di Kecamatan Baureno dan Kanor.

“Sisanya premi ditanggung Pemerintah melalui APBN,” ucapnya.

Sesuai ketentuan, lanjut dia, tanaman padi petani yang masuk program AUTP apabila mengalami kerusakan akibat banjir di atas 75 persen memperoleh klaim asuransi dari PT Jasindo sebesar Rp6 juta/hektare.

Sesuai data, kata dia, tanaman padi di daerahnya yang masuk program AUTP pada 2017 seluas 6.003,12 hektare, dengan total premi asuransi sebesar Rp159.501.960. Tanaman padi itu lokasinya di sejumlah desa di Kecamatan Balen, Malo, Kota, Baureno dan Kanor.

Dari tanaman padi pada 2017 itu, lanjut dia, untuk tanaman padi yang masuk program AUTP sejak 15 Maret sampai 31 Agustus sudah panen semuanya.

Begitu pula, kata dia, dari tanaman padi yang masuk program AUTP seluas 3.195,89 hektare, sekarang ini sebagian sudah panen.

Hal itu dibenarkan seorang petani di Desa Temu, Kecamatan Kanor, Bojonegoro Eky Nurhadi, yang menyatakan para petani di desanya yang tanaman padinya masuk program AUTP, sebagian sudah panen sejak sepekan terakhir.

Ia mencontohkan tanaman padi milik keluarganya yang luasnya 4 hektare sudah panen, sebagian dijual kepada pedagang lokal dengan harga Rp23 juta.

“Harga gabah sekarang bagus mencapai Rp4.300/kilogram gabah kering panen (KGP), padahal tahun lalu hanya berkisar Rp2.500-Rp3.000/kilogram GKP,” ucapnya.

Sesuai data pada 2016 petani peserta AUTP ada di delapan kecamatan yaitu Kecamatan Balen 180,01 hektare, Padangan 187,28 hektare, Kapas 773,76 hektare, Kota 288,75 hektare, Kanor 275,79 hektare, Sumberejo 28.25 hektare, dan Trucuk 85,43 hektare.

Selain itu juga Kecamatan Sekar 352,25 hektare, Baureno 500,44 hektare, Temayang 69,00 hektare. “Petani peserta program AUTP pada 2017 meningkat dibandingkan pada 2016,” ucapnya menambahkan, seperti dikutip Antara. (sts)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BOJONEGORO

Dirut PTPN X Katakan Kemarau Panjang Pengaruhi Produktifitas Tebu

Published

on

Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo.

Jatimraya.com, Bojonegoro – Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo mengatakan kemarau panjang yang melanda beberapa wilayah di Indonesia tahun ini akan mempengaruhi produktifitas tebu, yang diperkirakan tidak akan maksimal untuk produksi 2019.

“Upayanya agak berat tahun ini karena ada kemarau panjang, sebab komunitas tebu saat ini agak terpengaruh terhadap iklim yang ada, dan dengan lahan yang ada kita tidak bisa prediksi,” kata Dwi ditemui di Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (3/10/2019).

Dwi yang ditemui pada saat pembukaan lahan baru hasil kerja sama dengan Perhutani mengatakan, untuk mengantisipasi hal serupa terjadi tahun depan perlu dibuka lahan baru, salah satunya yang dilakukan bekerja sama dengan Perhutani.

Sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), kata Dwi, target produksi PTPN X 2019 sebanyak 352 ribu ton, atau lebih tinggi dibanding 2018, yakni sebesar 335 ribu.

“Saat ini sudah tercapai sebesar 85 persen. Dan kami berharap mudah-mudahan target tercapai bisa di atas itu, sebab tahun ini memang secara nasional ada penurunan produksi,” katanya kepada wartawan.

Sementara terkait perluasan lahan kerja sama dengan Perhutani, Dwi menyebut, sesuai dengan persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2017, total PTPN XI akan menggarap lahan seluas 5.661,5 hektare, yang berada di wilayah kawasan KPH Bojonegoro, Mojokerto, Jombang dan Blitar.

“Kami saat ini sudah menggarap 423 hektare, dan ini tahun kedua yang sudah kami mulai secara masiv akan terus bergerak hingga tahun-tahun ke depan,” tuturnya.

Dwi mengaku akan terus mempercepat atau akselesari penggarapan total lahan hasil kerja sama Perhutani, dengan target menggarap 1.000 hektare pada 2020, atau ditarget selesai dalam kurun dua kali dalam lima tahun.

Dwi menyebut, PTPN X saat ini mempunyai 9 pabrik gula dengan kapasitas 38 ribu TCD, dan mengelola 57 ribu hektare.

Agar maksimal, kata Dwi, PTPN X saat ini perlu menggarap lahan seluas 65 ribu hektare. Artinya kurang sebesar 8 ribu hektare dan akan dipenuhi dengan kerja sama Perhutani seluas 5 ribu hektare.

“Sisanya akan kami kerjasamakan dengan masyarakat sebesar 3 ribu hektare, sehingga bisa mendorong peningkatan produktifikas gula Tanah Air,” katanya.

Dwi menyebut, total produksi gula nasional saat ini sebesar 2 juta ton, sedangkan kebutuhan gula konsumsi sebesar 2,5 juta ton, atau kurang 500 ton. Sedangkan gula untuk makanan dan minuman kebutuhannya mencapai 5,5 juta ton sampai 6 juta ton per tahun.

“Ini artinya masih sangat kurang banyak, dan yang kami lakukan adalah bukan menambah pabrik gula, melainkan pertambahan kebun karena gula sebenarnya diproduksi di kebun,” katanya. (ami)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

BOJONEGORO

PTPN Gandeng Perhutani Buka Lahan Budi Daya Tebu di Bojonegoro

Published

on

Direktur Utama PTPN X, Dwi Satriyo Annurogo saat meninjau lahan baru di Kabupaten Bojonegoro.

Jatimraya.com, Bojonegoro – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menggandeng Perum Perhutani membuka lahan baru untuk pemanfaatan kawasan hutan bagi budi daya tebu di Bojonegoro, Jawa Timur, guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Direktur Utama PTPN X, Dwi Satriyo Annurogo pada saat meninjau lahan baru itu di Bojonegoro, Kamis (3/10/2019), mengatakan kerja sama ini untuk kegiatan penanaman agroforestry tebu seluas 5.661,5 hektare.

Lahan yang berada di wilayah Perum Perhutani BKPH Celangap, KPH di Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, itu akan ditanami tebu varietas unggul baru dengan potensi produksi 80 ton/hektare dan rendemen 9 persen.

“Nanti dikelola Pabrik Gula (PG) Djombang Baru. Dan penggunaan lahan telah mendapat persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2017,” katanya.

Ia mengatakan, pengerjaan lahan agroforestry tebu sebagai upaya dari PTPN X untuk memastikan stabilitas pasok BBT ke pabrik gula pada masa giling tahun 2020.

Pada 2018 juga telah dilakukan penanaman seluas 223 hektare di kawasan KPH Bojonegoro, Mojokerto, Jombang, dan Blitar. Dan rencananya pada 2019 akan ada pengerjaan seluas 423 hektare.

Sebelumnya, lahan yang telah dikerjakan berada di kawasan KPH Jombang seluas 108 hektare dikelola oleh PG Lestari, sedangkan pengerjaan lahan di kawasan KPH Mojokerto seluas 253 hektare akan dikelola oleh PG Gempolkrep.

“Kerja sama ini merupakan sinergi BUMN dengan Perum Perhutani dan merupakan tugas negara berdasarkan SKB 4 Menteri sebagai wujud BUMN Hadir Untuk Negeri karena kegiatan agroforestry tebu memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” katanya. (ami)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

BOJONEGORO

Plateno akan Kembangkan Hotel di Bojonegoro

Published

on

Tavip (kiri), Project Director PT Graha Persada Internasional saat menjelaskan potensi Bojonegoro di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Jatimraya.com, Jakarta – Plateno Grup, sebagai salah satu pelaku industri hotel di Indonesia, saat ini berencana mengembangkan ke Bojonegoro, Jawa Timur, mengingat kawasan itu potensial dari sektor pariwisata maupun industri.

“Pasarnya kami nilai cukup untuk membangun hotel,” kata Direktur PT Graha Persada Internasional, Tavip di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dia mengatakan Bojonegoro meskipun bukan Ibu kota provinsi, akan tetapi potensi untuk industri hotel disana sangat baik bahkan ada yang menyebutnya sebagai “Texas” Indonesia.

Bojonegoro sendiri akan dilewati oleh jalan tol Solo – Ngawi, sehingga jika dari Yogyakarta menuju Surabaya akan melewati Bojonegoro.

“Inilah yang menjadi salah satu potensi industri hotel akan berkembang di Bojonegoro,” ujar dia.

Menurut dia dalam beberapa tahun ke depan Bojonegoro akan berbeda, bukan lagi seperti diketahui sekarang.

Selain wisatawan yang akan meningkat dengan adanya jalan tol Solo – Ngawi, saat ini di Bojonegoro juga memiliki banyak perusahaan minyak.

Setiap bulannya banyak pekerja asing yang datang untuk bekerja di Bojonegoro.

Meningkatnya wisatawan dan banyaknya pekerja asing menjadi potensi yang besar bagi industri hotel untuk mulai melirik Bojonegoro dengan menghadirkan tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Standar hotel yang berkredibilitas di Bojonegoro sangatlah sedikit, ini menjadi salah satu alasan Plateno Grup mendirikan Lavande Hotel di Bojonegoro.

Tujuannya agar Bojonegoro memiliki hotel berskala menengah yang sudah terjamin kredibilitasnya, ujar dia. (arw)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending