Connect with us

JATIM RAYA

Bu Risma dan Tugas yang Segera Purna

Published

on

foto: Jonathan Ivander Kurniawan

Catatan : Tofan Mahdi tentang Kota Surabaya (1)

 JatimRaya.Com, Pekan lalu, selama dua hari, saya pulang ke Surabaya. Bagi yang pernah tinggal di Surabaya atau cukup lama meninggalkan kota ini, setidaknya setelah satu dekade atau lebih, pasti kaget dengan wajah Surabaya. Sudah sangat berubah dan tidak berlebihan jika secara kasat mata saya berani menyebut, saat ini Surabaya adalah kota terbaik di Indonesia. Atau lebih tepatnya ibukota provinsi terbaik di Indonesia.

Karena alasan dinas, saya telah mengunjungi hampir semua ibukota provinsi di Indonesia (minus dua ibukota di Papua). Saya belum pernah sama sekali ke Papua. Semua kota-kota di Indonesia tipologi-nya sama. Bahkan banyak kota yang terkesan jalan sendiri tanpa tampak kehadiran pemerintah-nya. Ciri khas kota-kota di Indonesia adalah kondisi lalu lintas yang semrawut dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak tertib. Tidak ada akses bagi pejalan kaki yang memadai (trotoar), beberapa sudut kota ada yang kumuh dan tidak tertata, pasar tumpah, hingga berbagai persoalan sosial lain. Sampai hal-hal kecil lain juga saya amati seperti kondisi rambu dan lampu lalu lintas, marka jalan, sampai masih adakah sampah berserakan di jalan. Namun saya tidak mengukur bagaimana pelayanan publik di kota tersebut, sudah baik, transparan, manusiawi, dan atau masih biasa-biasa saja.

Kalau diminta menyebut kota-kota besar manakah yang juga baik menyusul Surabaya, saya akan sebut: Balikpapan (bukan ibukota tapi tertib dan bersih), Jogjakarta, (mungkin) Semarang, dan surprisingly saya akan menyebut kota Ambon. Di luar kota-kota besar tadi, banyak kota-kota kecil di Indonesia yang juga bagus dan nyaman seperti Ngawi, Purwokerto, Magelang, Wonosobo, Tanjung Pandan (Belitung), Bukitinggi (Sumbar), dan masih banyak lagi. Kota-kota besar umumnya menghadapi tantangan ledakan jumlah penduduk sehingga perlu kerja keras yang ekstra untuk menata kotanya.

Sekali lagi, semua penilaian di atas adalah pandangan subjektif saya. Semata-mata dari apa yang saya lihat dan rasakan. Saya tidak menganilisis APBD kota tersebut, PDRB-nya berapa, PDRB per kapita, tingkat UMK, pun tanpa mengukur tingkat kebahagiaan warganya. Seperti halnya saat saya menulis tentang kota-kota di luar negeri yang pernah saya kunjungi, saya hanya menulis dari apa yang saya lihat dan alami saja. Jika misalnya seperti di Amsterdam atau Singapore kotanya bagus dan indah tetapi warganya tidak bahagia karena biaya hidup yang mahal, itu hal lain yang tidak masuk dalam koteks yang saya tulis. Pun tentang Surabaya ini, semata-mata dari apa yang saya lihat saat ini dan yang pernah saya lihat dan rasakan satu dekade lalu saat selama lebih 12 tahun tinggal di kota ini.

Surabaya di Tangan Bu Risma

Siapakah sosok di balik perubahan wajah kota Surabaya? Semua sepakat hanya ada satu nama: Tri Rismaharini atau arek Suroboyo biasa memanggil Bu Risma. Tangan dingin Bu Risma mulai kelihatan saat dia masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya zaman walikota Bambang DH. Pelan tapi pasti, wajah Kota Surabaya berubah dari sebuah kota yang gersang, panas, kotor, dan banyak wilayah yang kumuh menjadi kota yang berangsur bersih dengan mulai banyak pohon ditanam di sudut-sudut kota. Juga mulai banyak dibangun taman-taman yang indah. Pelan tapi pasti dan konsisten. Kalau dihitung sejak Bu Risma menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan tahun 2005, berarti sudah 15 tahun hingga hari ini, wajah Surabaya pun berubah menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Saya tidak kenal dekat dengan Bu Risma. Hanya pernah dalam sebuah kesempatan di Universitas Kristen Petra, saya menjadi moderator dan Bu Risma sebagai pembicara. Saat itu Bu Risma sudah “naik pangkat” sebagai Kepala Bappeko (Badan Perencanaan Pembangunan Kota). Kalau tidak salah itu tahun 2008. Usai seminar, kami sempat ngobrol. Namun lebih tepatnya saya mendengarkan curhat Bu Risma karena habis ditegur sama Pak Wawali Surabaya Arif Afandi WakGus Arif Afandi. Gegara Bu Risma dianggap menolak saat dipanggil untuk menghadap ke ruangan Wawali. Mungkin karena Bu Risma tahu saya temannya Wawali Arif Afandi, jadi dia curhat.

“Aku iku pas sik rapat sama Pak Bambang DH (walikota), lha koq terus di-sms Pak Arif ngene ‘sekarang sudah tidak mau menghadap saya ya. Saya masih wakil walikota Anda lho.’ Sampaikan ke Pak Arif ya Mas, waktu itu aku masih di ruangan Pak Wali,” kata Bu Risma. Pada sebuah kesempatan bertemu Arif Afandi, curhat dan pesan Bu Risma tadi langsung saya sampaikan.

“Ini bukan sekali,” kata Arif Afandi kepada saya. Meski waktu itu Pilwali Surabaya masih dua tahun lagi, tapi suhu politik kota Surabaya sudah panas. Santer terdengar, Bu Risma akan maju sebagai calon walikota. Arif Afandi sendiri juga akan maju sebagai calon walikota karena Bambang DH sudah dua periode sebagai Walikota Surabaya. Singkat cerita, pada Pilwali 2010, pasangan Tri Rismaharini – Bambang DH yang diusung PDIP mengalahkan tiga pasangan lain, salah satunya yaitu pasangan Arif Afandi – Adies Kadir yang diusung Partai Demokrat dan Golkar. Selisih suaranya cukup tipis hanya sekitar 3 persen basis poin.

Surabaya tetap menjadi kandang banteng. Dalam Pilwali 2015, pasangan Tri Rismaharini – Whisnu Sakti Buana menang mutlak dengan meraih suara 86,3% mengalahkan pasangan Rasiyo – Lucy Kurniasari.

Meski bukan “anak kandung” Banteng (PDIP), namun Bu Risma yang DNA-nya adalah seorang birokrat mendapatkan tempat yang istimewa di kandang Banteng. Sukses Bu Risma memimpin Surabaya membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri jatuh hati. Bu Risma bisa menjadi ikon PDIP, menjadi role model pemimpin publik dari PDIP, dan mendapatkan akses komunikasi yang istimewa langsung dengan Mbak Mega.

Pernah saya mendengar sebuah cerita tentang betapa Bu Risma sangat disayangi Mbak Mega. Dalam sebuah kunjungan Megawati ke Surabaya, Bu Risma yang saat itu sudah menjadi walikota, lupa atau sengaja tidak diberitahu oleh jajaran PDIP Surabaya (Jatim) tentang kedatangan Mbak Mega. Ketika tiba di Surabaya, Mbak Mega justru yang menanyakan di mana Bu Risma dan meminta para pengurus PDIP memanggil Bu Risma untuk mendampingi Mbak Mega selama kunjungan ke Surabaya. Nanun cerita ini belum pernah saya konfirmasi kebenarannya kepada teman-teman di PDIP atau kepada Bu Risma sendiri. Dan kecintaan Mbak Mega kepada Bu Risma ini terbukti dengan amannya posisi Bu Risma selama 10 tahun memimpin Surabaya. Tidak ada pengurus PDIP yang berani mengusik kepemimpinan Risma, karena mereka akan berhadapan dengan peminpin tertinggi mereka sendiri. Sebuah privilege dan prestasi politik yang luar biasa dari seorang Tri Rismaharini.

Tahun ini, Bu Risma akan purna tugas. Prestasi dan legacy yang ditinggalkan di Kota Surabaya akan abadi, seabadi legacy yang ditinggalkan salah satu Walikota Surabaya yang juga melegenda, yang dikenal sebagai bapaknya Pasukan Kuning, yaitu Purnomo Kasidi.

Ke mana Bu Risma setelah dari Surabaya? Apakah PDIP akan membawa dia untuk bertarung sebagai calon gubernur di Jakarta? Wallahualam. Yang pasti dan tidak kalah menarik adalah siapa kira-kira yang akan melanjutkan legacy Bu Risma di Surabaya? Dan sebagian nama yang sepertinya sudah siap bertarung dalam Pilwali Surabaya 2020 sudah bertebaran di sudut-sudut jalan kota Surabaya. Siapa saja mereka? Mampukah mereka? Tunggu tulisan saya yang kedua. (bersambung)

*Tofan Mahdi, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007) dan Pemimpin Redaksi SBO TV Surabaya (2008-2009)/ Email: tofan.mahdi@gmail.com

 


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MALANG

Dukung Kawasan Food Estate, BBPP Kota Batu Siap Kolaborasi dengan Paranusa

Published

on

BBPP Kota Batu akan berkolaborasi dengan Paranusa dan juga Petani. /Dok. Jatimraya.com/Ardy MP.

JATIM RAYA – Untuk meningkatkan produksi dan ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19 diperlukan kolaborasi multisektor.

Kolaborasi ini melibatkan pemerintah, petani, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan partisipasi masyarakat.

“Dengan kerja sama, sinergi, dan gotong royong semua sektor, produksi pangan akan meningkat signifikan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan ekspor,” ungkap Komisaris Paranusa Eko Handoko

Menurut Eko, ada empat pilar ketahanan pangan yang harus menjadi fokus semua pemangku kepentingan. Yaitu, ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan.

“Seringkali ketersediaan pangan ada di petani, namun petani tidak memiliki akses ke pasar mengakibatkan harga pangan di petani murah, sementara masyarakat di perkotaan tidak memiliki akses ke sumber pangan yang mengakibatkan harga pangan mahal.

“Oleh sebab itu, dengan adanya progam kawasan Food Estate berbasis Alpukat Pameling, yang di inisiasi oleh Chairman Jelajah Desa Pangan (JDP) Tony Setiawan, maka Paranusa berusaha memberikan penghasilan dan nilai jual yang pasti kepada petani,” kata Eko Handoko via selulernya, Rabu, 6 Januari 2021.

Di tempat terpisah Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, mengungkapkan, Lahan di bawah budidaya tanaman Alpukat Pameling itu luas, dan ini berpotensi untuk digunakan dalam membudidayakan tanaman pangan lain.

Pages: 1 2


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

GRESIK

Kali Lamong Meluap, Sembilan Desa di Gresik Terendam Banjir

Published

on

Sembilan desa di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik terendam banjir dari luapan Kali Lamong. /Dok. BNPB Indonesia.

JATIM RAYA – Sebanyak sembilan desa di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur terendam banjir dari luapan Kali Lamong, setelah sebelumnya terjadi hujan dengan intensitas tinggi pada Selasa 5 Januari 2021 pukul 09.20 WIB.

Adapun rincian desa yang terdampak meliputi Desa Guranganyar, Desa Dungus, Desa Morowudi, Desa Iker-iker, Desa Cerme Kidul, Desa Pandu, Desa Jono, Desa Tambak Beras dan Desa Banjarsari.

Menurut laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dengan Tinggi Muka Air (TMA) 5-45 sentimeter itu berdampak pada kurang lebih 760 KK.

Banjir tersebut juga merendam lahan persawahan seluas 280 hektar, 760 unit rumah, 1.069 hektar tambak dan beberapa fasilitas umum yang masih dalam pendataan.

Hingga saat ini, Tim Reaksi Cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik terus melakukan kaji cepat di lokasi terdampak. Sampai rilis ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa.

Selain itu, BPBD Kabupaten Gresik juga telah berkoordinasi dengan Muspika termasuk aparat desa setempat dan melakukan penyaluran bantuan logistik serta sembako.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan prakiraan cuaca hujan lebat yang berlaku bagi wilayah Provinsi Jawa Timur untuk hari Senin (5/1) dengan status ‘Siaga’.

Pages: 1 2


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

SURABAYA

Empat JPU Kejari Pamekasan Bakal Dilaporkan ke Bareskrim

Published

on

Empat Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan ke Bareskrim Polri. (Foto: Istimewa)

Jatimraya.com, Surabaya – Kuasa Hukum terdakwa dugaan korupsi Tanah Kas Desa (TKD) yang terletak di Dyesa Kolpajung,y Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Mahmud, Adv Nisan Radian akan melaporkan empat Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan ke Bareskrim Polri. 

Pasalnya, empat JPU tersebut diduga menggunakan bukti yang tidak sesuai dengan dakwaan.

“Saat sidang digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya Selasa 10 November JPU tidak bisa membuktikan sesuai dakwaannya. Maka dari itu kami dari tim kuasa hukum terdakwa akan melaporkan empat orang JPU dari Kejari Pamekasan berinisial TRC, IW, MR dan PT itu ke Bareskrim Polri. Empat orang jaksa itu akan kita laporkan pasal 263 KUHP,” kata Nisan Radian dalam siaran persnya Rabu 11 November 2020.

Menurutnya, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Topikor Surabaya kemarin, JPU menyajikan leter C atas nama Nasirudin sedangkan dalam surat dakwaan JPU menunjukkan bukti Leter C atas nama P Muari/Percaton. 

Selanjutnya, JPU menunjukkan SPPT 2013 atas Nama P Muari/Percaton sedangkan didalam surat dakwaan JPU mengatakan bahwa tanah itu atas nama Muari Percaton.  Lalu JPU menunjukkan SPPT 2014 yang bertuliskan salinan. Namun faktanya kami membawa bukti perbandingan SPPT 2014. 

“Pasalnya SPPT 2014 versi JPU tidak sama dengan enam SPPT yang di tunjukan oleh penasehat hukum,” ujarnya.

Dijelaskan Radian, saat sidang berlangsung kami minta bukti dakwaan kepada JPU. Namun, mereka hanya terlihat membolak balikan kertas.

“Bahkan saya sempat minta kepada majelis hakim jika jaksa tidak dapat menyajikan bukti kami mohon untuk mempertimbangkan surat permohonan penangguhan penahanan terhadap terdakwa,” ucap Radian. (*/tim)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending