Connect with us

POLITIK

Siapa Jagoan Prabowo untuk Pilkada Jatim? Tunggu Besok Ya

Published

on

Jatimraya.com, Jakarta – Pilgub Jatim 2018 merupakan bagian dari pemanasan menuju Pileg dan Pilpres 2019. Karena itu, partai besar seperti Gerindra harus mendapat panggung di Jatim.

“Sosok Yenny Wahid dianggap mampu mewakili suara Gusdurian di Jatim”

Poros ketiga harus terwujud meski belum jelas siapa yang akan diusung.

Gerindra masih menunggu awal 2018 untuk menentukan pilihan calon mereka. Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Supriyatno menyebutkan, pengumuman calon tidak akan lama lagi.

“Kira-kira tanggal 3 Januari,” ungkapnya kepada Jawa Pos, Minggu (31/12). Namun, dia masih merahasiakan nama-nama yang akan dicalonkan.

Semua kemungkinan, lanjut dia, masih bisa terjadi. Apakah Gerindra akan membuka poros baru atau bergabung dengan poros yang ada.

Karena cukup sulit menemukan tokoh yang berelektabilitas dan memiliki popularitas tinggi di Jatim, Supriyatno mengatakan bahwa bisa jadi pada akhirnya Gerindra tidak membuat poros ketiga.

“Kita masih berkomunikasi dengan semuanya, termasuk dengan Gus Ipul,” jelasnya.

Sempat muncul nama Moreno Suprapto yang merupakan anggota DPR Fraksi Gerindra.

Moreno dianggap sebagai sosok yang cukup mewakili generasi milenial. Namun, dia dinilai belum bisa menyaingi dua poros yang sudah ada.

Jawaban final partai berlambang kepala garuda itu dipastikan muncul pada Rabu (3/1). Gerindra akan bertemu dan rapat dengan pimpinan-pimpinan partai yang belum mengeluarkan keputusan.

Terutama PAN dan PKS yang sempat masuk dalam lingkaran poros baru. “Kami rapatkan dulu tanggal 2 Januari, nanti lihat tanggal 3. Pokoknya, kami akan bikin kejutan,” tuturnya.

Nama lain yang sempat muncul untuk poros ketiga adalah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid. Nama tersebut muncul dari PAN.

Sosok Yenny Wahid dianggap mampu mewakili suara Gusdurian yang cukup masif di Jatim. Hal itu disampaikan Sekretaris DPW PAN Jatim Basuki Babussalam.

“Yenny Wahid cukup dikenal di Jatim dan 90 persen Gusdurian ada di Jatim,” jelasnya. Dia menilai Yenny juga bisa mewakili pemikiran Gus Dur dan membawa kemakmuran untuk Jatim.

Sinyal itu semakin menguat tatkala Yenny bertemu dengan Prabowo Subianto pada Selasa (26/12).

Yenny mengungkapkan lewat akun media sosialnya bahwa pertemuan itu membicarakan masalah kebangsaan dan geopolitik.

Di beberapa daerah, Gerindra memang berkoalisi dengan PAN dan PKS. Dalam pertemuan para ketua umum partai pekan lalu, dicapai kesepakatan untuk berkoalisi di lima daerah.

Yakni, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara. Khusus Jatim, pembahasan koalisi masih ditunda.

“Kami belum memutuskan,” kata Ketua DPP Partai Gerindra Nizar Zahro kepada Jawa Pos.

Menurut dia, DPD Partai Gerindra Jatim sudah menyerahkan nama-nama calon kepada DPP.

Di internal pengurus pusat juga sudah dibahas. Hasil pembahasan diserahkan kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Politikus asal Madura itu menyatakan, keputusan ada di tangan Prabowo. Apakah membentuk poros ketiga atau berkoalisi dengan calon yang sudah ada.

“Kami serahkan kepada ketua umum. Kami sebagai kader tinggal menunggu perintah,” ucap dia. Apa pun yang diputuskan, para kader akan melaksanakannya.

Sebelumnya, ada beberapa nama yang masuk ke DPP. Di antaranya, La Nyalla M. Mattalitti, Moreno Suprapto, Suyoto, dan Masfuk. Dia meminta publik menunggu keputusan yang akan ditetapkan. Demikian seperti dikutip Jawa Pos. (jap)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

POLITIK

Sebenatnya Pancasila Lahir untuk Siapa, Apakah untuk Mereka yang Mengaku ‘Aku Pancasila

Published

on

1 Juni 1945 Hari Lahir Pancasila. Dok. bpip.go.id

JATIM RAYA – Debat kusir soal hari lahirnya pancasila terus bergema di setiap tanggal 1 Juni. Tok! Palu sudah diketok melalui Keppres No 24 Tahun 2016. Dan, setiap tanggal 1 Juni jadi hari libur nasional.

Kontroversi tak berhenti. Perdebatan terus mengisi kolom media. Medsos lebih ramai lagi. Antar pakar berdebat dan adu argumentasi. Masing-masing mempertahankan keyakinannya sendiri. Tak apa.

Namanya juga demokrasi. Tapi, keputusan tetap ada di tangan penguasa. Penguasa berhenti, bisa juga keputusan akan berganti. Bergantung siapa yang dekat dan lebih kuat dalam berargumentasi.

Penting gak penting soal kontroversi ini. Tapi, yang jauh lebih penting adalah menjawab pertanyaan: “kapan pancasila dilaksanakan?” Ini tentu menjadi substansi.

Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apakah perilaku dan sikap politik kita sudah menunjukkan sikap bertuhan?

Faktanya, sejumlah ormas keagamaan dimanfaatkan untuk saling serang dan menebar kebencian.

Satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain tak jarang dibenturkan. Ini dilakukan demi nafsu politik dan kepentingan elit.

Pages: 1 2 3 4


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

POLITIK

Pancasila 1 Juni 1945 adalah Bagian dari Proses Menuju Kelahiran Pancasila

Published

on

JATIM RAYA – Memaksakan deklarasi Hari Lahir Pancasila itu 1 Juni 1945 adalah menciptakan ruang perdebatan.

Pancasila yang dikenal dan diakui absah oleh anak-anak hingga orang dewasa baik yang berpendidikan TK hingga Guru Besar di Perguruan Tinggi adalah Pancasila dengan rumusan saat ini

Dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Siapapun WNI yang tidak hafal akan rumusan ini akan “dikutuk” publik.

Lahir Pancasila adalah lahirnya Pancasila “sempurna” sebagaimana yang dirumuskan final yaitu rumusan yang ditetapkan tanggal 18 Agustus1945.

Bila mundur ke aspek historis, “kaum kebangsaan” bersikeras pada rumusan dan kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945

Maka “kaum Islam” akan bersikeras pada rumusan dan kelahiran Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945 yang dikenal degan Piagam Jakarta.

Pages: 1 2 3


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

POLITIK

Kapitra Ampera Ungkap Tiga Alasan Kenapa Kapolri Tidak Bisa Tarik Firli Bahuri dari KPK

Published

on

JATIM RAYA – Politisi PDI Perjuangan DR Kapitra Ampera SH MH merespons soal permintaan Indonesia Corruption Watch (ICW) atau koalisi masyarakat sipil antikorupsi, pada Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk menarik Ketua KPK Firli Bahuri.

Pengaduan koalisi masyarakat antikorupsi yang meminta Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk menarik Ketua KPK Firli Bahuri kembali dan diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua KPK dinilai Kapitra salah besar.

“Statemen yang menyesatkan publik. ICW wajib banyak belajar Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru,” kata Kapitra, melalui keterangan tertulis, Jumat, 28 Mei 2021.

Kapitra menyebutkan, setidaknya ada tiga alasan mengapa Kapolri tidak memiliki kewenangan untuk menarik Firli Bahuri dari jabatan Ketua KPK.

Pertama, Firli sebagai Ketua KPK bukan jabatan penugasan tetapi jabatan yang didapat melalui pemilihan dengan selektifitas yang ketat.

Dan diuji kelayakan oleh DPR dan ditetapkan oleh Presiden, sama denngan pengangkatan Kapolri, Panglima TNI dan Hakim Agung.

Kedua, jabatan Ketua KPK bukan jabatan karir kepolisian tetapi jabatan Publik

Pages: 1 2 3


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending