Orde Pembangunan 3-in-1

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 29 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras

JATIMRAYA.COM – Di warung-warung kopi, kita akrab dengan sachet kopi “3-in-1”. Praktis, cepat, dan manis. Cukup seduh dengan air panas, lalu teguk. Rasa kantuk hilang seketika, meski kita tahu bahwa rasa gurih krimer dan manisnya gula sering kali jauh lebih dominan daripada sari kopinya sendiri.

Namun, apa jadinya jika logika “serba instan” ini menjadi DNA dalam sistem kekuasaan kita?

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

DNA yang Berdebu

Pembangunan 3-in-1 ini lahir dari proses demokrasi yang penuh “debu”. Debu ambisi kekuasaan, debu politik uang, hingga framing digital yang mengaburkan pandangan mata publik. Dalam sistem yang tidak transparan, kebijakan publik sering kali diracik bagaikan sachet kopi yang memiliki tiga lapisan kepentingan sekaligus:

* Gula (Retorika Heroik): Judul-judul program yang manis seperti “Demi Rakyat Kecil” atau “Kedaulatan Pangan”.

* Krimer (Kanalisasi Balas Budi): Mekanisme legal untuk mendistribusikan APBN kepada jaringan pendukung sebagai imbalan loyalitas.

* Kopi (Zat Inti Pembangunan): Esensi kemanfaatan publik yang sering kali dosisnya paling kecil dan kalah dominan oleh rasa manis kepentingan jangka pendek.

Logika Fisika dan Pasir Hisap

Sebagai praktisi yang puluhan tahun bergelut dengan perencanaan spasial dan ekonomi, kita sering menyaksikan proyek-proyek yang lahir dari rahim “crash program” dengan pengerjaan yang asal jadi. Fokus utamanya tunggal: pemenuhan target fisik dan penyerapan anggaran secepat mungkin. Perkara apakah bangunan itu fungsional, apakah lokasinya masuk akal secara ekonomi, atau apakah ia benar-benar bermanfaat bagi warga, seolah menjadi urusan nomor sekian yang tidak lagi dipedulikan.

Proyek-proyek ini memang nyata berdiri secara visual, namun ia dibangun di atas fondasi yang rapuh. Tidak ada satupun hukum fisika yang memvalidasi bahwa sebuah bangunan akan bertahan lama jika didirikan di atas pasir hisap. Betapapun kokoh betonnya, betapapun mentereng catnya, ia akan tenggelam tiba-tiba karena tidak memiliki pijakan yang solid pada realitas kebutuhan rakyat dan studi kelayakan yang jujur. Memaksakan pembangunan hanya demi performance visual tanpa ruh fungsional adalah bentuk penghinaan nyata terhadap nalar publik.

Trauma KUD dan Murka Tiwikrama

Kita lelah dengan sejarah proyek-proyek mangkrak seperti KUD di masa lalu yang hanya meninggalkan “ampas” bagi anggaran negara. Jika proses pembangunan terus dimanipulasi dan rakyat terus dianggap bisa “dibodoh-bodohi” dengan kemasan sachet yang manis, maka kita sedang mengundang risiko besar bagi eksistensi bangsa.

Dalam filosofi kita, pembangunan seharusnya adalah proses Tiwikrama—perubahan wujud menuju kemandirian yang hebat. Namun, jika prosesnya penuh tipu daya, Tiwikrama bisa berubah menjadi wujud murka Prabu Kresna. Itulah kemurkaan rakyat yang merasa dihina kecerdasannya karena disuguhi kepalsuan yang vulgar di depan mata mereka sendiri.

Membangun bangsa adalah kerja peradaban, bukan sekadar menyeduh kopi instan di atas lahan yang tidak pasti. Sudah saatnya kita membersihkan debu-debu ambisi agar bisa melihat kembali mana pembangunan yang benar-benar menapak di tanah, dan mana yang hanya menunggu waktu untuk ditelan pasir hisap kekuasaan.

“Jika sebuah bangsa merasa nyaman dalam buaian drama pembodohan, maka sesungguhnya ia sedang mendaftarkan anak cucunya untuk mewarisi takdir yang menyengsarakan.”

Berita Terkait

Seni Memecah Fokus: Kontra-Intelijen di Balik Gerakan Massa
Menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur’an
Ketika Dompet Kehilangan Kesaktiannya
Di Balik Kerusuhan, Sebuah Teori yang Kehilangan Nyali: Menggugat Nalar Teknokratis, Memulihkan Ingatan Revolusioner
Singapura, Kapital Finansial, dan Kedaulatan Ekspor Indonesia: Membaca Ulang Narasi Konspirasi dalam Politik Ekonomi Kawasan
Ketika Ekonomi Indonesia Digoreng dalam Wajan Bloomberg: Sebuah Kritik Ideologis atas Kolonialisme Baru Berwajah Data
Cacak-e Arek Suroboyo di Vivere Pericoloso
Wajah Islam Yang Tersenyum: Menggali Ruh Islam Nusantara untuk Peradaban yang Terluka, dan Jalan Sunyi Gus Gudfan Menakhoda Bahtera NU

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:11 WIB

Seni Memecah Fokus: Kontra-Intelijen di Balik Gerakan Massa

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:12 WIB

Menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur’an

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:03 WIB

Ketika Dompet Kehilangan Kesaktiannya

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:43 WIB

Di Balik Kerusuhan, Sebuah Teori yang Kehilangan Nyali: Menggugat Nalar Teknokratis, Memulihkan Ingatan Revolusioner

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:34 WIB

Singapura, Kapital Finansial, dan Kedaulatan Ekspor Indonesia: Membaca Ulang Narasi Konspirasi dalam Politik Ekonomi Kawasan

Berita Terbaru

Lifestyle

Seni Memecah Fokus: Kontra-Intelijen di Balik Gerakan Massa

Sabtu, 20 Jun 2026 - 17:11 WIB

Lifestyle

Menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur’an

Jumat, 19 Jun 2026 - 07:12 WIB