Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
JATIMRAYA.COM – MALAM itu, seorang lelaki duduk di sudut masjid yang remang. Mayoritas jamaah telah pulang, menyisakan dirinya dan beberapa bayangan yang masih setia di barisan paling depan. Ia tidak lagi menghitung wirid dengan biji tasbih. Tangannya terkulai di pangkuan, matanya terpejam, dan bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang menggelora: sebuah getaran halus yang terus-menerus berdenyut seirama dengan napasnya, seperti ombak yang tak henti-hentinya menyapu pantai kesadaran.
Ia sedang berdzikir. Tetapi dzikirnya kini berbeda dengan dzikir yang dulu ia kenal. Dahulu, dzikir adalah deretan kata yang ia lafalkan dengan lidah, sementara hatinya entah berkelana ke mana. Kini, dzikir telah menjadi semacam tarikan gravitasi batin yang menyeret seluruh dirinya ke dalam pusaran kerinduan yang tak terperikan. Ia tidak lagi sekadar menyebut nama; ia sedang dipanggil oleh Nama itu sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang arif pernah melantunkan syair yang melukiskan perjalanan dzikir semacam ini. Syair itu bukan sekadar petunjuk teknis; ia adalah peta ruhani yang membentang dari langkah pertama yang paling sederhana hingga puncak yang paling misterius:
”Biasakan di setiap waktu engkau mengingat-ingat-Nya, sampai tumbuh rasa rindu terhadap-Nya. Tetapkan dirimu selalu ingat terhadap-Nya, sampai diri-Nya mengangkat dirimu menjadi orang yang dekat dengan-Nya. Di dalam dzikirmu, satukan jiwamu dengan alam semesta, agar engkau dapat merasa sendirian bersama-Nya dan sampai engkau diutamakan-Nya. Di dalam dzikirmu, bersihkan keduniawianmu, sampai engkau dapat meluruskan diri dan menerima dengan kehendak-Nya, keinginan-Nya, dan rencana-Nya. Di dalam dzikirmu, sucikan sifat-sifat-Nya, agar engkau dapat hidup bersama dengan rahmat dan ridho-Nya. Di dalam dzikirmu, berserah dirilah di setiap desah nafasmu agar terbuka pintu hijab dan tiada penghalang lagi bagimu untuk mengenal Rahasia Tuhanmu.”
Syair ini adalah undangan untuk menempuh perjalanan dzikir yang sesungguhnya. Bukan dzikir yang sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan dzikir yang mentransformasi, dzikir yang membakar habis segala sesuatu selain Dia, dzikir yang akhirnya menyingkapkan tirai yang selama ini menghalangi pandangan batin dari Wajah-Nya. Mari kita susuri bait demi baitnya dengan hati yang terbuka, dalam keheningan yang hanya bisa diisi oleh Nama-Nya.
Mengingat hingga Tumbuh Rindu
”Biasakan di setiap waktu engkau mengingat-ingat-Nya, sampai tumbuh rasa rindu terhadap-Nya.”
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi menyimpan rahasia besar. Ia tidak memerintahkan kita untuk langsung merasakan rindu, karena rindu bukanlah sesuatu yang bisa dinyalakan dengan satu kali percikan. Rindu adalah buah dari pembiasaan. Ia adalah hasil dari akumulasi momen-momen kecil ketika lisan dan hati secara sadar mengarah kepada Allah, seperti tetesan air yang jatuh terus-menerus di atas batu, lama-kelamaan melubangi juga.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa dzikir adalah kunci pembuka hati. “Barangsiapa membiasakan lisannya untuk berdzikir,” tulisnya, “maka hatinya akan mengikuti. Dan barangsiapa hatinya mengikuti, maka seluruh jiwanya akan diterangi.” Di sinilah letak pentingnya istiqamah—kontinuitas. Dalam tradisi tasawuf, istiqamah dianggap lebih tinggi daripada seribu karamah. Karamah bisa datang sesekali sebagai anugerah, tetapi istiqamah adalah perjuangan sehari-hari yang memerlukan kesabaran dan keteguhan.
Lalu, kapan rindu itu datang? Ia datang tanpa diundang. Suatu hari, di tengah dzikir yang tampaknya rutin dan biasa saja, tiba-tiba ada getaran aneh di dalam hati. Nama Allah yang selama ini diucapkan terasa berbeda—lebih manis, lebih hangat, lebih intim. Itulah rindu. Dan ketika rindu telah tumbuh, dzikir tidak lagi menjadi kewajiban; ia menjadi kebutuhan, sebagaimana seorang pecinta yang tidak bisa berhenti memikirkan kekasihnya.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam kisah seorang sufi yang ketika ditanya, “Mengapa engkau tidak pernah berhenti berdzikir?” ia menjawab, “Karena aku takut jika aku berhenti sesaat saja, rinduku kepada-Nya akan membunuhku.” Bagi para pencinta, dzikir bukan lagi amalan; ia adalah napas. Berhenti berdzikir sama dengan berhenti bernapas.
Ketetapan Hati dan Pengangkatan Derajat
”Tetapkan dirimu selalu ingat terhadap-Nya, sampai diri-Nya mengangkat dirimu menjadi orang yang dekat dengan-Nya.”
Jika bait pertama berbicara tentang pembiasaan, bait kedua berbicara tentang tamkin—kemapanan spiritual. Tamkin adalah kondisi di mana dzikir telah meresap ke dalam sirr, rahasia jiwa yang paling dalam. Ia tidak lagi sekadar aktivitas lisan atau pikiran; ia telah menjadi karakter, malakah yang permanen.
Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah, membedakan antara ahwal (keadaan-keadaan spiritual yang datang dan pergi) dan maqamat (stasiun-stasiun yang permanen). Tamkin adalah ketika seorang hamba tidak lagi diombang-ambingkan oleh ahwal. Hatinya telah kokoh tertambat di pelabuhan dzikir, sehingga badai apa pun tidak bisa menggoyahkannya.
Hasil dari ketetapan ini adalah qurb—kedekatan. Syair ini menyebutkan: “sampai diri-Nya mengangkat dirimu menjadi orang yang dekat dengan-Nya.” Ini adalah realisasi dari hadis qudsi yang sangat terkenal: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan” (HR. Bukhari). “Menjadi pendengarannya” berarti hamba tidak lagi mendengar kecuali apa yang diridhai Allah. “Menjadi penglihatannya” berarti hamba tidak lagi melihat kecuali tanda-tanda kebesaran-Nya. Inilah kedekatan eksistensial: Allah hadir dalam setiap gerak-gerik hamba, dan hamba tersebut lenyap dalam kehadiran itu.
Menyatu dengan Alam Semesta dalam Khalwat Sejati
”Di dalam dzikirmu, satukan jiwamu dengan alam semesta, agar engkau dapat merasa sendirian bersama-Nya dan sampai engkau diutamakan-Nya.”
Bait ketiga ini membawa kita ke dimensi yang lebih luas dan mistis. “Satukan jiwamu dengan alam semesta” adalah undangan untuk melampaui kesadaran individual dan memasuki kesadaran kosmis. Seorang hamba yang telah mendalam dzikirnya akan mulai mendengar gema dzikir di luar dirinya. Ia mendengar tasbih angin yang berdesir, tahmid burung yang berkicau, dan takbir gunung yang menjulang. Al-Qur’an menegaskan: “Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka” (QS. Al-Isra’: 44).
Ketika jiwa seorang hamba telah selaras dengan simfoni semesta ini, ia tidak lagi merasa terisolasi. Ia adalah bagian dari orkestra agung yang dipimpin oleh Sang Maha Pencipta. Setiap daun yang jatuh, setiap ombak yang memecah, setiap bintang yang berkelap-kelip, semuanya adalah dzikir. Dan sang hamba ikut larut di dalamnya.
Namun, syair ini menambahkan dimensi yang lebih dalam: “agar engkau dapat merasa sendirian bersama-Nya.” Di satu sisi, hamba menyatu dengan alam semesta; di sisi lain, ia merasa sendirian bersama Allah. Ini adalah khalwat sejati. Bukan khalwat fisik di dalam gua, melainkan khalwat batin yang bisa terjadi di tengah keramaian. Al-Kamasykhanawi menyebutnya khalwat dar anjuman—menyendiri di tengah keramaian. Hati yang telah mencapai maqam ini bisa hadir sepenuhnya bersama Allah, meskipun tubuhnya dikelilingi oleh manusia. Dan hasilnya adalah “sampai engkau diutamakan-Nya”—dipilih menjadi wali, kekasih-Nya.
Membersihkan Keduniawian dan Mencapai Taslim
”Di dalam dzikirmu, bersihkan keduniawianmu, sampai engkau dapat meluruskan diri dan menerima dengan kehendak-Nya, keinginan-Nya, dan rencana-Nya.”
Bait keempat ini berbicara tentang fungsi dzikir sebagai takhalli—pengosongan diri dari kotoran duniawi. “Keduniawian” di sini bukan hanya berarti harta, jabatan, atau kenikmatan fisik. Ia mencakup segala sesuatu yang mengikat hati dan menghalanginya dari Allah—pikiran yang melalaikan, ambisi yang tak berujung, dan kesedihan yang berlarut-larut.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis bahwa hati itu seperti cermin. Debu-debu duniawi adalah karat yang mengotori permukaannya, sehingga ia tidak bisa memantulkan cahaya Ilahi. Dzikir adalah kain pembersih yang terus-menerus menggosok cermin itu hingga mengilap kembali. Semakin sering hati berdzikir, semakin bersih ia dari kotoran, dan semakin jelas pula pantulan Cahaya di dalamnya.
Setelah hati bersih, apa yang terjadi? Syair ini menyebutkan: “sampai engkau dapat meluruskan diri dan menerima dengan kehendak-Nya, keinginan-Nya, dan rencana-Nya.” Ini adalah maqam taslim—penyerahan diri yang total. Hati yang telah bersih tidak lagi memiliki agenda pribadi. Ia tidak lagi merencanakan, lalu memaksa Allah untuk mengikuti rencananya. Ia justru membuka lebar-lebar pintunya dan berkata, “Ya Allah, apa pun yang Engkau kehendaki, itulah yang kuinginkan.” Inilah puncak dari ridha—ketenangan hati terhadap apa yang telah ditetapkan Allah.
Menyucikan Sifat dan Hidup dalam Rahmat
”Di dalam dzikirmu, sucikan sifat-sifat-Nya, agar engkau dapat hidup bersama dengan rahmat dan ridho-Nya.”
Bait kelima ini memerlukan perenungan yang mendalam. “Sucikan sifat-sifat-Nya” bisa dipahami dalam dua pengertian. Pertama, tanzih—menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan. Kedua, takhalluq bi akhlaqillah—menghiasi diri dengan akhlak Allah. Manusia tidak mungkin memiliki sifat-sifat Allah secara hakiki, tetapi ia bisa meneladaninya: Allah Maha Pengasih, hamba berusaha menjadi pengasih; Allah Maha Pemaaf, hamba berusaha menjadi pemaaf.
Dalam konteks syair ini, pengertian kedua tampaknya lebih mendekati. Dzikir yang benar akan mentransformasi karakter seseorang. Ia tidak hanya membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, tetapi juga mengisinya dengan sifat-sifat terpuji yang merupakan pantulan dari Sifat Ilahi. Al-Kamasykhanawi menulis bahwa fana’ fi al-sifat adalah ketika sifat-sifat manusiawi yang kotor digantikan oleh sifat-sifat Ilahi. Hamba tidak lagi marah dengan amarahnya sendiri, tetapi dengan amarah yang dikendalikan oleh al-Qahhar. Ia tidak lagi mencintai dengan cintanya sendiri, tetapi dengan cinta yang dipancarkan oleh al-Wadud.
Hasilnya adalah hidup dalam rahmat dan ridho Allah. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, tetapi hanya hati yang suci yang bisa mengecap manisnya. Dan ridho Allah adalah puncak dari segala pencarian: “Dan ridho Allah itu lebih besar” (QS. At-Taubah: 72). Surga dan segala kenikmatannya tidak sebanding dengan satu senyuman ridho dari-Nya.
Penyerahan di Setiap Napas dan Terbukanya Hijab
”Di dalam dzikirmu, berserah dirilah di setiap desah nafasmu agar terbuka pintu hijab dan tiada penghalang lagi bagimu untuk mengenal Rahasia Tuhanmu.”
Bait terakhir ini adalah klimaks dari seluruh perjalanan. “Berserah dirilah di setiap desah nafasmu” adalah islam dan taslim yang total. Tidak ada lagi satu napas pun yang keluar tanpa penyerahan. Setiap hirupan adalah doa, setiap hembusan adalah dzikir. Ini adalah realisasi dari firman Allah: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah” (QS. Al-An’am: 162).
Ketika penyerahan telah mencapai derajat ini, hijab-hijab mulai runtuh. Para sufi menjelaskan bahwa ada ribuan hijab yang memisahkan manusia dari Allah, tetapi yang paling tebal adalah hijab keakuan—ana’iyyah. Ego, “aku”—inilah tirai terakhir. Selama masih ada “aku” yang merasa berdzikir, “aku” yang merasa dekat, selama itu pula hijab masih berdiri.
Maka, langkah terakhir adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap. Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Pada tahap ini, bahkan kesadaran “aku telah fana’” pun lenyap. Dzikir bukan lagi “aku mengingat Allah,” melainkan Allah yang mengingat Diri-Nya melalui hamba-Nya. Hamba hanyalah cermin yang telah hancur; yang tampak hanyalah Cahaya. “Rahasia Tuhanmu” yang disebut dalam syair ini adalah ma’rifah—pengalaman langsung tentang Allah yang tak terkatakan dengan kata-kata.
Kembali ke Napas Pertama
Lelaki di sudut masjid itu akhirnya membuka matanya. Malam semakin larut, dan masjid kini benar-benar kosong. Tetapi ia tidak merasa sendiri. Di setiap sudut, di setiap bayangan, di setiap partikel debu yang melayang di bawah cahaya lampu, ia merasakan kehadiran yang sama. Kehadiran yang tidak bisa dinamai, tetapi sangat akrab.
Ia bangkit, mengambil air wudhu untuk shalat sunnah terakhir sebelum Subuh. Ketika ia mengangkat tangannya untuk takbir, ia tersenyum. Takbir itu bukan lagi ucapannya. Ia hanyalah alat. Dan ia merasa sangat bahagia menjadi alat.
Syair itu kembali bergema di dalam dadanya: “Berserah dirilah di setiap desah nafasmu.” Ia menarik napas panjang. Allah. Ia menghembuskannya pelan. Allah. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa napasnya bukanlah miliknya. Napas itu adalah pinjaman, titipan, yang setiap saat bisa diambil kembali oleh Pemiliknya. Dan justru karena ia menyadari hal itu, ia tidak lagi takut kehilangan.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


















