“Indonesia Kita Hari Ini”

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 22 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras
JATIMRAYA.COM – Kulihat negeri ini sedang sakit.
Bukan sakit demam yang sembuh oleh obat.
Tapi sakit yang menjalar ke sumsum,
sakit yang membuat rakyat berteriak dalam bisu.

Hukum? Hukum hanyalah kuda tunggangan penguasa.
Tajam ke bawah untuk kesalahan kecil si miskin,
tumpul ke atas untuk dosa besar si kaya.
Keadilan dipajang seperti lukisan di ruang tamu —
di belakangnya, ada kamar gelap bernama tebang pilih.

Kecilkan mulutmu, rakyat!
Protes adalah bibit kriminal.
Bersuara adalah peta menuju tahanan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan Tuhan?
Kami tak tahu Engkau sedang apa.
yang kami tahu: keluhan ini tak kunjung sampai,
atau sudah sampai, tapi tenggelam dalam kesabaranMu. Semoga Engkau sedang menumpuk bara murkaMu diatas kepala para penguasa munafik.

Kebaikan jadi ilusi yang kita genggam erat
agar bisa bernapas esok hari.
Kita bisikkan: “Sabarlah, sabar itu indah.”
Tapi kesabaran punya batas.
Dan batas itu sudah lama usang.

Hati pilu menjadi menu harian.
Tangisan menjadi lagu pengantar tidur.
Kehidupan macam apa ini?
Di mana orang jujur disebut naif,
orang korup disebut cerdik,
dan mereka yang melawan disebut pengganggu stabilitas?

Aku ingin berteriak seperti burung pecah kandang.
Tapi burung itu mati, kehabisan suara.
Maka kubiarkan sajak ini yang menjerit —
karena sajak adalah bahasa kegundahan
yang diteriakkan ke ruang kosmos tak bertepi.

Tuhan Pemilik Alam Semesta,
kalau Engkau masih mendengar di langit yang muram ini:
jangan beri kami ilusi lagi.
Berikan kami kemarahan yang suci,
bukan harapan yang rapuh.
Karena negeri ini sakit —
jiwanya digerogoti yang serakah,
tubuhnya diinjak sepatu bot kekuasaan.

Hei, rakyat Indonesia,
bangunlah dari tidur panjangmu.
Jangan biarkan tangisan jadi lagu pengantar tidur.
Jangan biarkan kepiluan jadi menu harian.
Karena saat semua ilusi runtuh,
hanya mereka yang berdiri
yang bisa menggenggam fajar.

(Esai puitis ala W.S. Rendra)
Surabaya, April 2026

Berita Terkait

Menanti Retaknya Menara Gading: Ketika Hukum Tersandera dan Pidato Menjadi Jenaka
Dari Tapa Brata Senopati ke Transaksionalisme Istana
Negara dalam Cengkeraman Bayang-Bayang: Ketika Intelijen dan Hukum Jadi Alat Tawar Oligarki
Menghunus Trisula Weda: Senjata Gaib Sang Satrio Piningit dan Relevansinya bagi Indonesia Masa Kini
Membedah Paradoks Aparat Penegak Hukum: Ketika Pengawasan Berubah Menjadi Pemerasan dan Gangguan terhadap Dunia Usaha
Melepaskan Genggaman: Jalan Keikhlasan Menuju Kebebasan Sejati
Hotman Paris Bisa Dijerat Hukum UU ITE Pasal 27A. Martabat Pers Harus Dihormati
Ketika Indonesia Memilih Jalan yang Tidak Dipilih Dunia: Menguji Gagasan CNG Tabung 3 Kilogram di Tengah Krisis LPG Bersubsidi

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:38 WIB

Menanti Retaknya Menara Gading: Ketika Hukum Tersandera dan Pidato Menjadi Jenaka

Senin, 20 Juli 2026 - 16:32 WIB

Negara dalam Cengkeraman Bayang-Bayang: Ketika Intelijen dan Hukum Jadi Alat Tawar Oligarki

Senin, 20 Juli 2026 - 16:28 WIB

Menghunus Trisula Weda: Senjata Gaib Sang Satrio Piningit dan Relevansinya bagi Indonesia Masa Kini

Senin, 20 Juli 2026 - 16:24 WIB

Membedah Paradoks Aparat Penegak Hukum: Ketika Pengawasan Berubah Menjadi Pemerasan dan Gangguan terhadap Dunia Usaha

Senin, 20 Juli 2026 - 16:20 WIB

Melepaskan Genggaman: Jalan Keikhlasan Menuju Kebebasan Sejati

Berita Terbaru