Pesan Menohok dari Madura: Urus Dapur Sendiri, Jangan Mengurusi Dapur Orang Lain!

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 21 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM — Kritik merupakan instrumen vital dalam menjaga arah jalannya pemerintahan agar tetap berorientasi pada kepentingan publik. Kendati demikian, kritik yang lahir tanpa kedalaman data, ketepatan konteks, serta kepedulian pada daerah sendiri berisiko bergeser menjadi sekadar kegaduhan sosial dan populisme digital.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, Prof. Dr. Achmad Muhlis. Menurutnya, kritik yang berkeadilan harus bermula dari kepedulian terhadap ruang sosial yang paling dekat.

“Kritik yang sehat tidak hanya diukur dari keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga dari kedalaman pengetahuan dan tanggung jawab moral. Kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia mengomentari orang lain, melainkan dari seberapa baik ia menjaga amanah di lingkungannya sendiri,” ujar Prof. Achmad Muhlis, Selasa (21/7/2026).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan itu mengaitkan fenomena kritik luar wilayah ini dengan kearifan lokal masyarakat Madura yang sarat pesan mendalam, yakni “jegeh daporrah dibi’, je’ ajege’en deporrah oreng” (jagalah dapurmu sendiri, jangan sibuk mengurusi dapur orang lain).

Ia menekankan bahwa falsafah tersebut bukanlah ajaran individualisme, melainkan etika prioritas. Seseorang atau pengamat yang gencar mengkritik daerah lain sementara membiarkan persoalan di daerahnya sendiri terbengkalai, dinilai akan kehilangan legitimasi dan otoritas moral di mata publik.

“Setiap daerah memiliki karakter, sejarah, kultur birokrasi, dan kapasitas fiskal yang berbeda. Mengukur keberhasilan suatu kebijakan tidak bisa hanya bermodalkan persepsi terbatas dari potongan informasi di media sosial,” tambahnya.

Dalam konteks hukum Islam, Ketua Senat UIN Madura itu mengingatkan agar kontrol sosial tidak berubah menjadi budaya mencari-cari kesalahan (tajassus) yang dilandasi prasangka, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurāt ayat 12.

Kritik dalam Islam adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang wajib dilandasi ilmu, kejujuran, dan niat memperbaiki (bonum commune), bukan untuk mempermalukan atau membangun popularitas semata.

“Masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang paling keras mengkritik orang lain, melainkan masyarakat yang paling jujur memperbaiki dirinya sendiri. Introspeksi harus selalu mendahului intervensi,” pungkasnya.

Berita Terkait

Tim URC Polres Sampang Bekuk Dua Pelaku Curat Motor, Modus Potong Kabel Kontak
Pimpin BEM SI Kerakyatan Jatim 2026–2027, Iskil El Fatih Tegaskan Independensi Gerakan Mahasiswa
Bunda PAUD Sidoarjo Tekankan Pentingnya Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini
Cegah HIV pada Remaja, Pemkab Sidoarjo Gandeng IKA Unair dan Umsida Gelar Edukasi
Bakti TNI AD untuk Rakyat, Kodim 0826 Pamekasan Berhasil Operasi Katarak 160 Pasien
Dishub Jatim dan Pemkab Sidoarjo Lepas Patok di Perlintasan KA JPL 69 Gelam
Apresiasi Tokoh Inspiratif, PWI Gresik dan DPRD Gelar Giri Pancasuar Awards (GPA) 2026
Ngopi Bareng Kemendagri, Pemkab Sidoarjo Perkuat Otonomi Daerah dan Akuntabilitas Keuangan

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:50 WIB

Tim URC Polres Sampang Bekuk Dua Pelaku Curat Motor, Modus Potong Kabel Kontak

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Pimpin BEM SI Kerakyatan Jatim 2026–2027, Iskil El Fatih Tegaskan Independensi Gerakan Mahasiswa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:42 WIB

Bunda PAUD Sidoarjo Tekankan Pentingnya Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:02 WIB

Cegah HIV pada Remaja, Pemkab Sidoarjo Gandeng IKA Unair dan Umsida Gelar Edukasi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Bakti TNI AD untuk Rakyat, Kodim 0826 Pamekasan Berhasil Operasi Katarak 160 Pasien

Berita Terbaru