Kelahiran dan Empat Puluh Tahun Sebelum Nubuwwah

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 12 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Seorang bayi dilahirkan ditengah keluarga Bani Hasyim, di Mekkah pada hari Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, bayi itu diberi nama: Muhammad.

Ibunda nya bernama Siti Aminah lahir di Mekkah, ayahnya adalah pemimpin Bani Zuhrah. Aminah menikah dengan Abdullah.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Abdullah adalah anak dari kepala suku Quraisy yang terkenal dan berpengaruh saat itu di Mekkah, yaitu Abdul Muthalib.

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah disusui ibundanya adalah Tsuwaibah, hamba sahaya Abu Lahab yang kebetulan sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh.

Memang tradisi bangsa Arab saat itu adalah mencari wanita wanita lain yang bisa menyusui anak-anaknya, sebagai langkah untuk meningkatkan imunitas; Maka dicarikan lah wanita

dari Bani Sa’ad bin Bakr, yaitu: Halimah bin Abu Dzu’aib.

Begitulah semasa kecil Nabi Saw tinggal ditengah Bani Sa’ad, hingga umur empat atau lima tahun, sampai terjadinya peristiwa pembelahan dada.

Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa semasa kecilnya Nabi Saw didatangi Jibril yang saat itu beliau sedang bermain main dengan beberapa anak kecil lainnya.

Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau serta mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata:” Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.”

Lalu Jibril mencucinya disebuah baskom dari emas dengan menggunakan air zamzam, kemudian menatanya dan memasukkan kembali ketempat semula.

Anak anak kecil, teman bermainnya ketakutan dan berlarian mencari ibu susuan beliau, seraya berseru:” Muhammad dibunuh!”

Halimah berlarian menghampiri beliau, dilihatnya wajah Nabi Saw waktu itu semakin berseri seri.

Setelah peristiwa pembelahan dada itu terjadi, Halimah dihantui rasa kecemasan yang luar biasa. Kemudian Halimah mengembalikan Nabi Muhammad Saw kepada sang ibu, Aminah.

Sejak saat itu, Nabi Saw merasakan kebahagiaan karena hidup bersama ibundanya. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang ibu, Aminah, meninggal dunia saat Nabi Saw berusia sekit

ar enam tahun.

Berita Terkait

Karhutla, Krisis Spiritual, dan Amanah Kekhalifahan: Ketika Hutan Dibakar atas Nama Kemajuan
Pisau Kebenaran dan Bungkus Moral Kekuasaan
Menyikapi Anatomi Operasional Shadow State
Menko Sugiono dan Tembakau
Antrean di Ujung Barel: Ilusi Harga Pompa dan Ujian Kedaulatan Energi
Menembus Labirin Dark Economy: Mengapa Pembersihan Bisnis Haram dan Kejahatan Kerah Putih Begitu Rumit?
Keheningan Kekuasaan dan Debu Legitimasi
Mencari Malapetaka di Balik Wacana Payroll Kopdes

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Karhutla, Krisis Spiritual, dan Amanah Kekhalifahan: Ketika Hutan Dibakar atas Nama Kemajuan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:27 WIB

Pisau Kebenaran dan Bungkus Moral Kekuasaan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:17 WIB

Menyikapi Anatomi Operasional Shadow State

Minggu, 18 Oktober 2026 - 12:18 WIB

Menko Sugiono dan Tembakau

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Antrean di Ujung Barel: Ilusi Harga Pompa dan Ujian Kedaulatan Energi

Berita Terbaru