Lik Darkup

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 24 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Di daerah kami ada seorang Kyai yang diyakini punya ilmu ‘linuwuh’. Namanya Kyai Surip. Ilmu ‘linuwih’ adalah ilmu yang menjadikan pemiliknya punya kemampuan di luar nalar dan tak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Seorang supir bus pernah bersaksi, busnya pernah ditumpangi Kyai Surip dari Jakarta-Trangkil Pati. Supir itu aslinya nekad dan ugal-ugalan. Karena tahu ditumpangi Kyai Surip, malam itu ia jadi supir yang manis dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Ia selalu menempatkan mobilnya dalam jarak aman: dua puluh lima meter dari kendaraan di depannya. Berangkat dari Jakarta selepas Ashar dengan kecepatan yang mudah disalip oleh mobil tua sekalipun. Tidak ada yang aneh selama dalam perjalanan.

Keanehan baru terjadi ketika bus sampai ke Trangkil setelah melewati kota Pati. Kyai Surip turun,  si Supir sempat melihat jam tangannya. Betapa kagetnya Supir tersebut. Jarum jam baru menunjukkan di angka sebelas malam. Bagaimana mungkin perjalanan 650 km hanya ditempuh enam jam? Padahal biasanya dua belas jam.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di waktu yang lain lagi, pernah Kyai Surip diundang ceramah pejabat daerah dalam rangka acara syukuran pulang haji. Anehnya, selama di sana, Kyai Surip selalu menunduk tak mau menatap si pejabat yang mengundangnya itu, seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. Sebulan kemudian pejabat itu ditangkap polisi karena menyalahgunakan dana sosial. Orang-orang pun menyimpulkan, kelakuan pejabat inilah yang membuatnya tampak menjijikkan di mata Kyai Surip, tapi tidak tampak di mata orang biasa.

Kyai Surip pernah datang ke desaku waktu peresmian renovasi masjid. Tumpah ruah para pemuka desa, pini-sepuh, dan Alim Ulama menyambut kedatangannya. Namun sebelum memasuki gerbang Masjid, Kyai Surip malah menghentikan langkahnya. Ia urung masuk demi memerhatikan tukang es yang berjualan di jalan depan Masjid.

“Itu siapa? Kok, di sini ada orang begitu tampan, baunya pun wangi.”

Semua bingung karena yang ditunjuk oleh Kyai Surip adalah Lik Darkup, penjual es. Ia sama sekali tidak tampan. Tapi mengapa di mata Kyai Surip begitu tampan? Pertanyaan itu tak terjawab sampai sekarang, sampai Kyai Surip wafat.

Aku sendiri mengenal Lik Darkup cukup dekat. Rumah kami bersebelahan. Ada satu kebiasaannya yang konsisten dilakukan sedari muda, yakni membersihkan kamar mandi Masjid sehabis jama’ah subuh.

Disamping itu, Lik Darkup selalu menyisihkan laba hasil jualan es seharian untuk dibelikan barang satu atau dua bungkus makanan untuk mBah Lasih dan cucunya yang yatim di waktu malam bersamaan pulang dari menjajakan es.

Kebiasaan itu dilakukan Lik Darkup sampai ketika saya sudah dewasa dan merantau di Jakarta.

Tidak ada amalan lain kecuali itu, yang dilakukan secara terus-menerus. (as)

Berita Terkait

Menanti Retaknya Menara Gading: Ketika Hukum Tersandera dan Pidato Menjadi Jenaka
Dari Tapa Brata Senopati ke Transaksionalisme Istana
Negara dalam Cengkeraman Bayang-Bayang: Ketika Intelijen dan Hukum Jadi Alat Tawar Oligarki
Menghunus Trisula Weda: Senjata Gaib Sang Satrio Piningit dan Relevansinya bagi Indonesia Masa Kini
Membedah Paradoks Aparat Penegak Hukum: Ketika Pengawasan Berubah Menjadi Pemerasan dan Gangguan terhadap Dunia Usaha
Melepaskan Genggaman: Jalan Keikhlasan Menuju Kebebasan Sejati
Hotman Paris Bisa Dijerat Hukum UU ITE Pasal 27A. Martabat Pers Harus Dihormati
Ketika Indonesia Memilih Jalan yang Tidak Dipilih Dunia: Menguji Gagasan CNG Tabung 3 Kilogram di Tengah Krisis LPG Bersubsidi

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:38 WIB

Menanti Retaknya Menara Gading: Ketika Hukum Tersandera dan Pidato Menjadi Jenaka

Senin, 20 Juli 2026 - 16:32 WIB

Negara dalam Cengkeraman Bayang-Bayang: Ketika Intelijen dan Hukum Jadi Alat Tawar Oligarki

Senin, 20 Juli 2026 - 16:28 WIB

Menghunus Trisula Weda: Senjata Gaib Sang Satrio Piningit dan Relevansinya bagi Indonesia Masa Kini

Senin, 20 Juli 2026 - 16:24 WIB

Membedah Paradoks Aparat Penegak Hukum: Ketika Pengawasan Berubah Menjadi Pemerasan dan Gangguan terhadap Dunia Usaha

Senin, 20 Juli 2026 - 16:20 WIB

Melepaskan Genggaman: Jalan Keikhlasan Menuju Kebebasan Sejati

Berita Terbaru