Berpikir Dengan Otak: Pertarungan Ideologis di Balik Pertanyaan Filosofis Yang Menyesatkan

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 29 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membaca Ulang Lenin, Materialisme, dan Politik Kesadaran

Oleh: Kusbachrul, SH. (Ketua Yayasan Satria Merah Jambu)

JATIMRAYA.COM – Ada pertanyaan yang sekilas tampak sederhana, bahkan nyaris menggelikan: apakah manusia berpikir dengan bantuan otak?

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi akal sehat modern, jawabannya hampir tidak membutuhkan perdebatan. Tentu saja manusia berpikir dengan otak. Kita menyaksikan setiap hari bahwa gangguan pada otak—akibat stroke, trauma kepala, tumor, epilepsi, penyakit Alzheimer, Parkinson, atau kerusakan saraf tertentu—dapat mengubah daya ingat, bahasa, emosi, gerak tubuh, bahkan kepribadian seseorang. Ilmu kedokteran, neurologi, psikologi kognitif, dan ilmu saraf modern telah menunjukkan hubungan yang sangat erat antara aktivitas otak dan fungsi mental manusia.

Namun dalam sejarah filsafat, hal yang tampak jelas bagi ilmu pengetahuan sering kali menjadi medan kabut bagi idealisme. Pertanyaan “apakah manusia berpikir dengan bantuan otak?” bukan sekadar pertanyaan biologis. Ia menyentuh jantung perdebatan paling tua dalam filsafat: mana yang primer, materi atau kesadaran? Apakah pikiran merupakan produk dari materi yang terorganisasi secara kompleks, ataukah materi hanya hadir sebagai pengalaman dalam kesadaran? Apakah dunia objektif ada secara independen dari manusia, atau dunia selalu bergantung pada subjek yang mengalaminya?

Di titik inilah Vladimir Ilyich Lenin memasuki perdebatan dengan ketajaman luar biasa melalui Materialism and Empirio-Criticism. Karya itu bukan sekadar pembelaan dogmatis terhadap materialisme, melainkan intervensi ideologis terhadap krisis filsafat dalam gerakan Marxis Rusia setelah kekalahan Revolusi 1905. Kekalahan politik melahirkan demoralisasi. Demoralisasi melahirkan kegamangan teoretis. Dan kegamangan teoretis sering kali membuka pintu bagi filsafat-filsafat “baru” yang tampak modern, tetapi secara substansial menyeret gerakan kembali ke idealisme lama.

Itulah yang dilihat Lenin pada empirio-kritisisme Ernst Mach dan Richard Avenarius, yang kemudian diadopsi oleh sejumlah intelektual Marxis Rusia seperti Alexander Bogdanov, Vladimir Bazarov, dan Anatoly Lunacharsky. Mereka mengaku tidak meninggalkan Marxisme. Mereka mengklaim sedang memperbaruinya, memodernkannya, membersihkannya dari “materialisme vulgar”, dan menyelaraskannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi Lenin melihat sesuatu yang lebih berbahaya: di balik bahasa pembaruan itu, terdapat usaha untuk mencabut Marxisme dari akar materialisnya.

Lenin memahami bahwa pertarungan filsafat bukanlah permainan akademik yang steril. Di balik abstraksi tentang otak, pikiran, sensasi, pengalaman, dan realitas, terdapat konsekuensi politik yang sangat nyata. Jika kesadaran tidak dipahami sebagai produk dari materi, jika pikiran dipisahkan dari tubuh, jika dunia objektif dilebur ke dalam pengalaman subjektif, maka materialisme historis juga ikut goyah. Sebab materialisme historis berdiri di atas keyakinan bahwa keberadaan sosial menentukan kesadaran sosial, bukan sebaliknya.

Dengan kata lain, pertanyaan tentang otak dan pikiran adalah pintu masuk menuju pertanyaan tentang masyarakat dan sejarah. Jika manusia tidak berpikir dengan otak, jika kesadaran tidak memiliki basis material, maka mudah bagi orang untuk menyimpulkan bahwa perubahan sosial cukup dilakukan dengan mengubah pikiran, moralitas, kehendak, atau pengalaman batin. Inilah jalan idealisme. Jalan ini tampak halus, kadang tampak spiritual, kadang tampak humanis, tetapi pada akhirnya sering menutupi struktur material penindasan.

Materialisme menolak ilusi itu. Bagi materialisme, manusia memang memiliki kesadaran, tetapi kesadaran itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari tubuh, otak, kerja, bahasa, sejarah, dan relasi sosial. Pikiran bukan sesuatu yang melayang di atas dunia. Pikiran adalah produk dari manusia konkret yang hidup dalam dunia konkret. Ia dibentuk oleh alam, kerja, kelas sosial, pendidikan, kebudayaan, negara, dan perjuangan.

Di sinilah Lenin berpijak pada Engels. Dalam Anti-Dühring, Engels menegaskan bahwa pikiran dan kesadaran adalah produk dari otak manusia. Dalam Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy, Engels menyatakan bahwa dunia material yang dapat dipersepsi secara inderawi adalah satu-satunya realitas, sedangkan kesadaran dan pemikiran, betapapun tampak halus dan suprasensibel, adalah produk dari organ badaniah, yaitu otak. Materi bukan produk pikiran; pikiran adalah produk tertinggi dari materi.

Pernyataan ini sederhana, tetapi memiliki daya ledak filosofis. Ia menghancurkan segala bentuk dualisme yang memisahkan tubuh dan pikiran sebagai dua substansi sejajar. Ia juga menolak idealisme yang menjadikan kesadaran sebagai asal-usul dunia. Dalam materialisme, dunia ada sebelum manusia memikirkannya. Gunung, sungai, tubuh, pabrik, tanah, modal, buruh, kemiskinan, dan kekuasaan tidak menunggu kesadaran manusia untuk menjadi nyata. Mereka ada sebagai realitas objektif.

Namun penting ditegaskan: materialisme Lenin bukan materialisme kasar yang menyamakan pikiran dengan sekadar reaksi kimia biasa. Materialisme dialektis tidak merendahkan kompleksitas kesadaran. Sebaliknya, ia menjelaskan kesadaran sebagai bentuk tertinggi dari perkembangan materi. Otak manusia adalah materi hidup yang sangat kompleks. Tetapi otak manusia juga tidak bekerja dalam ruang hampa. Ia hidup dalam masyarakat, memakai bahasa, menyerap simbol, mengalami konflik, bekerja, mencinta, takut, berharap, dan berjuang.

Karena itu, kesadaran manusia bukan hanya produk biologi, melainkan juga produk sosial-historis. Bahasa membentuk pikiran. Kerja membentuk kesadaran. Kelas sosial membentuk cara melihat dunia. Ideologi membentuk persepsi. Negara, sekolah, media, agama, pasar, dan keluarga turut membentuk apa yang dianggap wajar, benar, salah, mungkin, mustahil, mulia, atau hina.

Akan tetapi, semua dimensi sosial itu tetap memiliki basis material. Bahasa membutuhkan tubuh dan komunitas. Ideologi membutuhkan lembaga dan aparatus. Kekuasaan membutuhkan alat pemaksa, sumber daya, organisasi, dan legitimasi. Bahkan gagasan yang paling abstrak sekalipun lahir dari manusia bertubuh yang hidup dalam kondisi material tertentu.

Di sinilah Lenin menyerang kaum Machis Rusia. Salah satu tokoh mereka, Bazarov, menyatakan bahwa jika tesis Plekhanov tentang kesadaran sebagai keadaan internal materi diperbaiki menjadi “setiap proses mental adalah fungsi dari proses serebral”, maka Mach dan Avenarius tidak akan membantahnya. Lenin menyebut pernyataan itu sebagai ketidakjujuran langsung. Mengapa? Karena Avenarius justru membangun seluruh teorinya untuk menolak bahwa otak adalah organ pikiran.

Bagi Lenin, Bazarov melakukan siasat intelektual yang pengecut. Ia berpura-pura hanya menyerang Plekhanov, padahal yang sesungguhnya ia serang adalah fondasi materialisme Engels dan Marx. Plekhanov dijadikan sasaran karena dianggap lebih mudah dikritik, terutama karena beberapa formulasinya memang tampak mekanistik. Namun tesis bahwa kesadaran adalah produk materi bukan milik Plekhanov. Itu adalah inti dari materialisme Marxis.

Siasat semacam ini berulang dalam sejarah. Revisionisme jarang datang dengan wajah telanjang. Ia biasanya datang dengan bahasa pembaruan. Ia tidak berkata, “kami meninggalkan materialisme.” Ia berkata, “kami menyempurnakan materialisme.” Ia tidak berkata, “kami kembali ke idealisme.” Ia berkata, “kami melampaui pertentangan materialisme dan idealisme.” Tetapi sering kali, klaim melampaui itu hanya menjadi jalan memutar untuk kembali ke idealisme.

Avenarius menyebut salah satu konsep kuncinya sebagai “introjeksi”. Menurutnya, kesalahan besar filsafat dan ilmu pengetahuan adalah memasukkan pikiran ke dalam otak atau sensasi ke dalam diri manusia. Ia menolak pernyataan bahwa sensasi berada “di dalam kita” atau bahwa pikiran berada “di dalam otak”. Baginya, pengalaman harus dipahami sebagaimana ia hadir: pohon bukan berada “di dalam diriku”, melainkan “di hadapanku”.

Sekilas, ini tampak seperti pembelaan terhadap realitas langsung. Tetapi Lenin melihat jebakannya. Dengan menolak bahwa sensasi merupakan fungsi sistem saraf dan bahwa pikiran merupakan fungsi otak, Avenarius justru menolak fakta fisiologis paling elementer. Ketika kita melihat pohon, citra visual pohon itu tidak jatuh dari langit. Ia melibatkan cahaya, retina, saraf optik, dan proses otak. Pohon memang ada di luar kita, tetapi pengalaman melihat pohon diproses melalui tubuh dan otak kita.

Avenarius ingin mempertahankan “pengalaman lengkap” yang menyatukan diri dan lingkungan dalam satu kompleks yang tak terpisahkan. Tetapi dalam usaha itu, ia mengaburkan perbedaan antara objek dan subjek, antara dunia luar dan kesadaran, antara realitas objektif dan pengalaman subjektif. Akibatnya, dunia objektif kehilangan kemandiriannya. Objek selalu diikat pada subjek. Materi tidak lagi berdiri sebagai realitas independen.

Inilah yang bagi Lenin merupakan idealisme terselubung. Avenarius mengaku memerangi idealisme, tetapi sesungguhnya ia mempertahankannya dengan bahasa baru. Ia menolak mengatakan bahwa pikiran adalah fungsi otak. Ia menolak mengatakan bahwa sensasi adalah fungsi sistem saraf. Ia menggantinya dengan istilah-istilah rumit tentang “elemen”, “koordinasi”, dan “pengalaman”. Tetapi seluruh kerumitan itu hanya menutupi satu hal: penolakan terhadap materialisme.

Lenin kemudian membuat garis pembeda yang tegas. Hanya ada dua cara untuk mengatasi dualisme tubuh dan pikiran. Cara pertama adalah cara materialis: pikiran tidak ada secara independen dari tubuh; pikiran adalah fungsi otak; kesadaran adalah refleksi dunia objektif. Cara kedua adalah cara idealis: tubuh dan dunia dipahami hanya dalam hubungan dengan kesadaran atau pengalaman; objek tidak berdiri independen dari subjek.

Tidak ada jalan ketiga yang benar-benar netral. Apa yang disebut “melampaui materialisme dan idealisme” sering hanya menjadi eklektisisme: campuran tidak stabil yang pada akhirnya jatuh ke idealisme. Sebab begitu seseorang menolak bahwa dunia material ada secara objektif dan independen dari kesadaran, ia telah meninggalkan fondasi materialisme.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus kekerasan argumen Lenin. Ia tidak memberi ruang bagi kabut. Ia memaksa setiap filsafat menjawab pertanyaan mendasar: apakah dunia material ada di luar kesadaran manusia? Apakah kesadaran merupakan produk dari materi? Apakah pikiran adalah fungsi otak? Jika jawabannya tidak, maka sehebat apa pun istilah yang dipakai, filsafat itu telah bergerak menuju idealisme.

Kritik Lenin juga menyentuh bahasa. Avenarius dan para pengikutnya menciptakan banyak istilah baru yang tampak ilmiah dan canggih. Tetapi bagi Lenin, istilah-istilah itu sering berfungsi bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk mengaburkan. Bahasa menjadi kabut. Kata-kata besar dipakai untuk menutupi pertanyaan sederhana. Istilah teknis dipakai untuk menyembunyikan kemunduran filosofis.

Pelajaran ini sangat penting untuk zaman sekarang. Hari ini kita hidup dalam masyarakat yang dipenuhi istilah canggih: transformasi, inovasi, disrupsi, ekosistem, agile, smart governance, human capital, resilience, digital mindset, dan sebagainya. Istilah-istilah itu tidak salah dengan sendirinya. Tetapi ia bisa menjadi alat ideologis bila dipakai untuk menutupi realitas material. Ketika PHK disebut efisiensi, ketika pelemahan perlindungan buruh disebut fleksibilitas, ketika kenaikan beban rakyat disebut penyesuaian, ketika privatisasi disebut optimalisasi, bahasa telah berubah menjadi alat kekuasaan.

Lenin mengajarkan agar kita selalu curiga pada bahasa yang terlalu indah tetapi memutus hubungan dengan kenyataan. Filsafat yang baik harus membuat dunia lebih terang, bukan lebih kabur. Teori yang baik harus membantu rakyat memahami struktur penindasan, bukan membuat mereka tersesat dalam istilah-istilah yang mempesona.

Dari pertanyaan tentang otak dan pikiran, Lenin mengembangkan dasar epistemologi materialis: teori refleksi. Sensasi, persepsi, dan konsep adalah refleksi dunia objektif dalam kesadaran manusia. Ini tidak berarti manusia seperti cermin pasif yang hanya memantulkan dunia. Refleksi dalam materialisme dialektis adalah proses aktif. Manusia menafsirkan, mengolah, menggeneralisasi, dan mengubah data inderawi melalui bahasa, kerja, dan praksis sosial.

Namun aktivitas subjek tidak menciptakan realitas dari ketiadaan. Manusia dapat menafsirkan dunia, tetapi dunia tidak bergantung pada tafsir manusia untuk ada. Petani dapat memiliki berbagai pandangan tentang tanah, tetapi tanah tetap memiliki ukuran, kesuburan, kepemilikan, dan nilai ekonomi tertentu. Buruh dapat memiliki berbagai kesadaran tentang kerja, tetapi upah, jam kerja, kontrak, dan relasi produksi tetap menjadi kenyataan objektif. Rakyat dapat dibujuk oleh propaganda, tetapi harga bahan pokok, pajak, utang, dan ketimpangan tetap bekerja secara material dalam hidup mereka.

Di sinilah praksis menjadi kriteria kebenaran. Gagasan benar bukan karena indah, bukan karena populer, bukan karena disampaikan oleh otoritas, melainkan karena terbukti dalam praktik. Jika suatu teori mampu menjelaskan realitas dan memberi arah bagi tindakan yang mengubah realitas, maka teori itu memiliki kebenaran objektif. Jika suatu narasi hanya menenangkan kesadaran tetapi gagal menyentuh struktur material, ia tidak lebih dari ideologi penghiburan.

Karena itu, pertarungan materialisme dan idealisme bukan urusan perpustakaan semata. Ia menentukan bagaimana kita membaca masyarakat. Idealisme cenderung memindahkan masalah sosial ke dalam kesadaran individu. Kemiskinan dianggap akibat mental miskin. Pengangguran dianggap akibat kurang kreatif. Kegagalan usaha kecil dianggap akibat kurang adaptif. Buruh miskin dianggap kurang produktif. Petani tertinggal dianggap kurang inovatif. Rakyat yang marah dianggap kurang literasi.

Materialisme menolak pembacaan dangkal ini. Ia bertanya: bagaimana struktur kepemilikan tanah? Bagaimana distribusi modal? Bagaimana rantai pasok dikuasai? Bagaimana negara mengatur pajak, subsidi, izin, dan investasi? Siapa yang menguasai media? Siapa yang menentukan kurikulum? Siapa yang mendapat keuntungan dari kebijakan tertentu? Siapa yang menanggung risiko?

Dengan demikian, materialisme bukan sekadar filsafat tentang benda. Ia adalah metode kritik terhadap kekuasaan. Ia mengembalikan setiap gagasan kepada basis sosialnya. Ia menelanjangi kepentingan kelas di balik moralitas resmi. Ia menunjukkan bahwa ideologi dominan bukan lahir karena ia paling benar, melainkan karena ia didukung oleh kekuasaan material.

Di zaman kapitalisme digital, kritik Lenin justru semakin relevan. Kekuasaan hari ini tidak hanya bekerja melalui pabrik dan negara, tetapi juga melalui data, algoritma, platform, citra, dan persepsi. Kesadaran publik diproduksi oleh mesin media yang sangat besar. Orang merasa bebas memilih, padahal pilihannya diarahkan oleh algoritma. Orang merasa berpikir mandiri, padahal pikirannya dibentuk oleh arus informasi yang dikurasi oleh kepentingan ekonomi dan politik.

Di sinilah idealisme modern hadir dalam bentuk baru. Ia tidak selalu berbicara tentang roh atau jiwa. Ia berbicara tentang persepsi, branding, narasi, engagement, dan viralitas. Realitas seolah ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai cerita. Tentu narasi penting. Tetapi materialisme mengingatkan: narasi tidak berdiri sendiri. Di balik narasi ada modal, teknologi, kepemilikan platform, jaringan politik, dan kekuasaan ekonomi.

Karena itu, membela materialisme hari ini berarti membela kewarasan politik. Kita harus menolak segala upaya yang mengubah persoalan struktural menjadi sekadar persoalan psikologis. Rakyat tidak miskin hanya karena kurang motivasi. Buruh tidak tertindas hanya karena kurang keterampilan. Petani tidak lemah hanya karena kurang inovasi. UMKM tidak sulit naik kelas hanya karena kurang mental digital. Semua persoalan itu memiliki akar material dalam struktur ekonomi-politik.

Namun kita juga tidak boleh membaca Lenin secara beku. Lenin bukan kitab suci. Kritiknya terhadap empirio-kritisisme perlu dibaca sebagai metode, bukan dogma. Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat kontemporer tentu memberi banyak nuansa baru tentang pikiran, bahasa, tubuh, dan kesadaran. Neurosains modern menunjukkan kompleksitas otak yang jauh melampaui pengetahuan awal abad ke-20. Filsafat bahasa menunjukkan bahwa kesadaran manusia dibentuk oleh simbol dan komunikasi. Teori sosial menunjukkan bahwa identitas dan pengalaman juga dikonstruksi secara historis.

Tetapi semua pembaruan itu tidak membatalkan inti materialisme. Justru ia memperkayanya. Tubuh tetap nyata. Otak tetap bekerja. Kerja tetap menentukan kehidupan. Kelas tetap membentuk pengalaman. Negara tetap mengatur kekuasaan. Modal tetap mengorganisasi produksi. Bahasa dan kesadaran memang penting, tetapi keduanya tidak mengambang di atas realitas material.

Maka pertanyaan “apakah manusia berpikir dengan bantuan otak?” akhirnya harus diperluas: apakah masyarakat berpikir dengan bantuan sejarah materialnya? Apakah kesadaran publik dibentuk oleh kondisi sosialnya? Apakah ideologi dapat dipahami tanpa melihat struktur ekonomi-politik yang menopangnya?

Jawaban materialis adalah ya: manusia berpikir dengan otak, tetapi otak manusia hidup dalam tubuh sosial. Kesadaran individu lahir dari tubuh biologis, tetapi kesadaran sosial lahir dari sejarah kolektif. Pikiran manusia tidak hanya diproduksi oleh neuron, tetapi juga oleh kerja, bahasa, kelas, lembaga, media, dan perjuangan.

Inilah makna terdalam dari kritik Lenin. Ia tidak berhenti pada neurologi. Ia menjadikan pertanyaan tentang otak sebagai pintu masuk untuk membela pandangan dunia materialis. Sebab tanpa materialisme, filsafat mudah berubah menjadi kabut. Politik mudah berubah menjadi moralitas kosong. Perjuangan mudah berubah menjadi penghiburan. Revolusi mudah berubah menjadi doa tanpa organisasi dan kehendak tanpa analisis.

Materialisme mengajarkan bahwa dunia dapat diketahui karena dunia ada secara objektif. Dunia dapat diubah karena ia memiliki struktur. Penindasan dapat dilawan karena ia bukan takdir, melainkan hasil relasi sosial tertentu. Kesadaran rakyat dapat dibangkitkan bukan dengan mistifikasi, melainkan dengan membuka hubungan antara pengalaman sehari-hari dan struktur kekuasaan yang membentuknya.

Di sinilah Lenin tetap hidup sebagai metode. Bukan karena setiap kalimatnya harus diulang, tetapi karena keberaniannya membongkar penyamaran idealisme tetap diperlukan. Setiap zaman memiliki Avenarius-nya sendiri. Setiap zaman memiliki istilah-istilah canggih yang tampak modern tetapi bekerja mengaburkan kenyataan. Setiap zaman memiliki kaum revisionis yang mengaku memperbarui teori, padahal mencabutnya dari akar material.

Dan setiap zaman membutuhkan keberanian materialis untuk mengatakan: berhentilah mengaburkan dunia. Pikiran manusia bukan roh yang melayang. Ia lahir dari otak, tubuh, kerja, bahasa, dan sejarah. Kesadaran sosial bukan mukjizat. Ia lahir dari kehidupan material masyarakat. Maka pembebasan manusia tidak cukup dilakukan dengan mengubah kata-kata, membangun citra, atau menciptakan narasi. Pembebasan menuntut perubahan struktur material yang melahirkan ketidakadilan.

Manusia berpikir dengan otak. Tetapi manusia membebaskan dirinya dengan kesadaran yang berakar pada kenyataan. Dan kenyataan itu—sekeras apa pun disembunyikan oleh bahasa kekuasaan—tetap material: tanah, kerja, upah, modal, negara, tubuh, pangan, energi, pendidikan, dan sejarah.

Itulah pelajaran terbesar dari Lenin: membela materialisme berarti membela kemungkinan ilmu, kritik, dan pembebasan. Tanpa materialisme, kita tersesat dalam kabut ide. Dengan materialisme, kita kembali berpijak di bumi—tempat manusia hidup, menderita, berpikir, bekerja, melawan, dan mengubah dunia.

Berita Terkait

Dari Politik Organisasi ke Politik Pembudayaan: Permenpora 7/2026 dan Masa Depan Olahraga Jawa Timur
Menapak Kepala Kerbau, Membaca Sunyi di Balik Kuasa
Pemimpin di Kerajaan Sunyi: Sebuah Tafsir Sufistik tentang Kepemimpinan Diri
Warisan Iblis yang Membara di Dalam Dada: Menyelami Racun Kebencian dan Jalan Pembebasan Melalui Fana’ ul-Fana’
Sosialisme Indonesia sebagai Jawaban atas Dilema dan Tantangan dalam Mewujudkan Keadilan Sosial
Galunggung, Darmasiksa, dan Filsafat Kabuyutan: Membaca Kembali Puncak Karesian Sunda
Hanacaraka dan Kutukan “Ma Ga Ba Tha Nga” dalam Politik Kita
Ketika Intelektual Membegokan Diri

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 08:08 WIB

Berpikir Dengan Otak: Pertarungan Ideologis di Balik Pertanyaan Filosofis Yang Menyesatkan

Senin, 29 Juni 2026 - 07:57 WIB

Dari Politik Organisasi ke Politik Pembudayaan: Permenpora 7/2026 dan Masa Depan Olahraga Jawa Timur

Senin, 29 Juni 2026 - 07:42 WIB

Menapak Kepala Kerbau, Membaca Sunyi di Balik Kuasa

Minggu, 28 Juni 2026 - 07:12 WIB

Pemimpin di Kerajaan Sunyi: Sebuah Tafsir Sufistik tentang Kepemimpinan Diri

Sabtu, 27 Juni 2026 - 08:10 WIB

Warisan Iblis yang Membara di Dalam Dada: Menyelami Racun Kebencian dan Jalan Pembebasan Melalui Fana’ ul-Fana’

Berita Terbaru

Lifestyle

Menapak Kepala Kerbau, Membaca Sunyi di Balik Kuasa

Senin, 29 Jun 2026 - 07:42 WIB