Ketika Negara Menjadi Ruang Tamu Keluarga: Meninjau Kaburnya Batas Kekuasaan dan Oligarki Oleh: Hadipras

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 31 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras 

JATIMRAYA COM – Dalam diskursus politik modern, salah satu tanda kemunduran demokrasi yang paling mengkhawatirkan adalah ketika batas antara kepentingan publik dan kepentingan privat melebur tanpa sisa. Penempatan figur-figur yang terikat jejaring keluarga petinggi negeri atau relasi personal di berbagai lembaga strategis negara sering kali dibungkus dengan narasi profesionalisme dan hak prerogatif. Namun, di balik jargon-jargon tersebut, publik kian tajam menangkap aroma nepotisme yang pekat.

Ketika jabatan-jabatan kunci—yang seharusnya menjadi motor penggerak kesejahteraan rakyat—diisi berdasarkan kedekatan alih-alih meritokrasi, institusi negara perlahan bertransformasi menjadi perpanjangan tangan kelompok tertentu. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai cengkeraman oligarki, di mana kebijakan publik tidak lagi dirancang untuk merespons kebutuhan wong cilik, melainkan untuk mengamankan akumulasi kuasa dan modal segelintir elite. Ruang-ruang kebijakan yang semestinya steril dari benturan kepentingan justru berubah fungsi layaknya ruang tamu privat, tempat negosiasi dan pembagian pengaruh diputuskan di balik pintu tertutup.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, erosi kepercayaan publik (public trust) menjadi keniscayaan. Ketika hukum tampak tajam ke bawah namun tumpul ke atas, dan ketika pelanggaran etika di sektor keuangan seolah diredam oleh kedekatan kekuasaan, keadilan sosial hanyalah ilusi administratif. Jika tren ini terus dibiarkan tanpa adanya mekanisme pengawasan (check and balances) yang independen, negara berisiko kehilangan legitimasi moralnya di mata rakyat sendiri. Pemulihan integritas bangsa menuntut keberanian untuk mengembalikan negara kepada pemilik sahnya: rakyat Indonesia, bukan sekadar para pemegang jejaring kuasa.

“Selamat datang di negeri demokrasi paling efisien di dunia: di mana urusan negara, bisnis, dan keluarga diselesaikan sekaligus dalam satu meja makan, tanpa harus repot-repot memikirkan nasib rakyat di luar pagar.”

Berita Terkait

Rudy Saladin, jejak kepemimpinan, keteladanan dan persahabatan
Garam dan Rahasia Ikhlas: Warisan Doa Nabi Ibrahim
Catatan Akhir Pekan, Sabtu 31 Oktober 2026 untuk Kapolri Jendral Pol Suyudi Ario Seto
Menembus Fatamorgana Job Fair dan Ironi Struktural Ketenagakerjaan Kita
Merawat Bangsa dari Dalam: Menghidupkan Kembali Pengajian Kebangsaan sebagai Gerakan Kebudayaan
Debu yang Tak Terlihat di Balik Doa: Membersihkan Niat Semu Sebelum Menyerahkan Diri
Alloh Mencintai Hambanya Yang Suka Perdamaian dan Mendamaikan Sesamanya
Duduk di Antara Dua Sujud: Seni Mengembalikan Segalanya kepada Allah

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 09:19 WIB

Rudy Saladin, jejak kepemimpinan, keteladanan dan persahabatan

Minggu, 1 November 2026 - 08:13 WIB

Garam dan Rahasia Ikhlas: Warisan Doa Nabi Ibrahim

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Catatan Akhir Pekan, Sabtu 31 Oktober 2026 untuk Kapolri Jendral Pol Suyudi Ario Seto

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Ketika Negara Menjadi Ruang Tamu Keluarga: Meninjau Kaburnya Batas Kekuasaan dan Oligarki Oleh: Hadipras

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:19 WIB

Menembus Fatamorgana Job Fair dan Ironi Struktural Ketenagakerjaan Kita

Berita Terbaru

Lifestyle

Garam dan Rahasia Ikhlas: Warisan Doa Nabi Ibrahim

Minggu, 1 Nov 2026 - 08:13 WIB

Pers Rilis

Huawei Luncurkan Solusi O&M untuk Berbagai Industri

Minggu, 1 Nov 2026 - 04:56 WIB