Cerita Tentang Khamidi

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 15 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Khamidi sudah lama berbicara tentang Cikarang, seolah-olah kota itu adalah tiket keluar dari nasib yang tak pernah benar-benar ia pilih. Ia sering mrmbayangkannya -jalanan yang ramai sejak subuh, pabrik-pabrik dengan gerbang besi yang selalu terbuka, dan orang-orang yang bekerja mengenakan baju seragam.

Pagi ini, seperti biasa, ia berdiri dibalik meja warung, membungkus nasi gandul dengan cekatan. Tangannya bergerak tanpa perlu berpikir, menyendok nasi, menabur bawang goreng, menata potongan tempe, lalu membungkusnya rapi dengan daun pisang. Bau khas nasi gandul bercampur dengan suwiran daging mengisi udara di warung kecil Pak Jubed yang terletak di pinggir pasar Trangkil.

“Di Cikarang aku punya saudara,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Setidaknya bisa numpang tinggal dulu, sambil cari kerja.”

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku duduk di bangku kayu, memperhatikan bagaimana ia bekerja. Gerakannya sat-set, tapi tatapan matanya yang seperti sedang berada di tempat lain -mungkin di jalanan Cikarang, mungkin di depan pintu sebuah pabrik, mungkin di kos-kosan sempit dengan kipas angin kecil yang berputar dengan suara kencang.

“Tentu saja Cikarang lebih menjanjikan daripada kerja di sini,” lanjutnya, sambil mengikat kantong plastik berisi pesanan pelanggan. Ia melirik ke arah Pak Jubed, yang sedang sibuk mengatur uang kembalian.

Warung sudah mulai ramai, prlanggan datang dan pergi membawa bungkusan nasi gandul. Truk-truk melintas di jalan raya Pati – Tayu, menggetarkan gelas-gelas di rak kayu.

“Aku cuma butuh kesempatan.” Ia menoleh padaku, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.

Dibandingkan pabrik-pabrik di Cikarang, warung ini jelas bukan bandingannya. Pabrik-pabrik itu memiliki gedung bertingkat, mesin yang berdengung tanpa henti, dan pegawai yang berseragam dengan haji tetap. Sementara di sini, hanya ada api yang terus menyala di tungku, sendok kayu besar yang bergerak tanpa lelah, dan tangan-tangan yang membungkus nasi gandul dalam daun pisang.

Tapi yang paling berbeda adalah gaji.

Di warung ini, tidak ada yang namanya gaji pokok. Yang ada hanya “pokoknya gajian”. Jumlahnya tidak pernah tetap -kadang cukup untuk membeli sandal baru, kadang hanya cukup untuk makan dan rokok.

Khamidi menghela nafas, mengikat kantong plastik berisi pesanan, lalu meletakkannya di rak bambu dekat pintu. Di luar, seorang ibu melintas dengan gendongan penuh sayur, sementara seorang bapak tua mendorong gerobak yang rodanya berdecit pelan.

“Sebenarnya cukup,” katanya, matanya menerawang ke luar, ke jalanan pasar yang semakin ramai. “Tapi gajian model begini nggak bisa buat ngajuin kredit motor. Tanpa slip gaji, sama aja mimpi.”

Ia tertawa kecil. Tapi aku tahu, dibalik tawa itu ada sesuatu yang lebih dalam.

Di depan warung, truk-truk tebu melaju melewati pasar, menuju ke tempat pengumpulan tebu sebelum dibawa ke Pabrik Gula Trangkil untuk digiling. Khamidi menatap jalanan itu sebentar -seperti seseorang yang menunggu isyarat dari dunia luar- sebelum kembali ke pekerjaannya: menyendok nasi, menata lauk, membungkusnya dengan daun pisang. Seolah tak ada yang berubah.

Tapi aku tahu, sesuatu di dalam dirinya sudah mulai bergeser.

“Sekarang tidak gampang loh kerja di pabrik. Pesaingnya banyak. Ijazahnya lebih tinggi dari kamu,” kataku biar dia sadar.

Khamidi hanya mengangkat bahu, mengambil sebatang daun pisang dan melipatnya dengan cekatan. Tangannya bergerak seperti sudah terprogram sejak lama, seolah bisa bekerja sendiri tanpa perlu dipikirkan.

“Ya, kalau nggak diterima di pabrik, kerja kasar di proyek juga nggak apa-apa sih,” katanya santai. “Kan upahnya lumayan, kalau nggak boros bisa buat beli cash motor bekas.”

Apa yang dikatakan Khamidi sebenarnya wajar. Biasa. Hampir semua pemuda di desa punya mimpi yang sama: keluar, mencari pekerjaan yang lebih besar, lebih menjanjikan. Seperti sungai kecil yang pada akhirnya ini bertemu dengan laut.

Namun, membayangkan warung itu tanpa Khamidi, rasanya hampa.

Aku menatap Pak Jubed, yang sedang sibuk merapikan lembaran uang lusuh di dalam kaleng bekas biskuit. Wajahnya tenang, tapi aku merasa ia mendengar pembicaraan kami.

Perlu anda ketahui, Pak Jubed itu gagu. Selama ini, Khamidi-lah yang menjadi suaranya. Ia yang ngobrol dengan pembeli, yang memberitahu kalau nasi gandul sudah hampir habis atau kalau tempe gorengnya baru matang. Tanpa Khamidi, entah apa jadinya warung ini.

Aku melirik Pak Jubed, menebak apa yang ada dalam pikirannya. Apakah ia sudah membayangkan warungnya tanpa Khamidi? Atau apakah ia percaya bahwa, seperti nasi yang tetap mengepul di bakul, warung ini pun akan menemukan nasibnya sendiri, dengan atau tanpa Khamidi?

Setahun berlalu sejak percakapan kami tentang Cikarang. Aku mampir ke warung Pak Jubed pagi itu, tanpa harapan apa pun, hanya sekedar ingin bernostalgia dengan nasi gandul dan teh hangatnya. Tapi yang kutemukan dibalik meja warung justru sesuatu yang mengejutkan.

Khamidi masih di sana.

“Loh? Masih disini? Nggak jadi ke Cikarang?” tanyaku sedikit tak percaya.

Khamidi menggeleng, bibirnya membentuk senyum kecil yang nyaris misterius, seperti seseorang yang menyimpan rahasia yang tak perlu dijelaskan.

“Pikir-pikir, di sini sajalah,” katanya ringan. “Lebih indah.”

Aku menaikkan alis. “Apanya yang indah?”

Khamidi tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangkat panci nasi dan menggantinya dengan yang baru. Gerakannya tetap cekatan seperti dulu.

Aku menatap Khamidi lagi, mencoba menemukan jawabannya dalam sorot matanya. Tapi ia hanya tertawa kecil, seperti seseorang yang sudah memahami sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Pokoknya indah,” katanya, sambil kembali membungkus nasi gandul dengan daun pisang.

Saat mataku menangkap sosok gadis yang membuka kios kain di seberang warung Pak Jubed, aku langsung mengerti. Mungkin inilah yang dimaksud Khamidi dengan “pemandangan indah”. Wajahnya lembut, rambutnya diikat sederhana, dan ada keluwesan yang menarik dalam caranya menata kain-kain batik di etalase kecilnya.

Aku tersenyum. “Gadis itu maksudmu?” tebakku, separuh menggoda.

Khamidi tertawa kecil, lalu menggeleng. “Bukan,” katanya, tanpa sedikit pun raut malu di wajahnya. Tangannya yang masih memegang sendok kayu, dengan ringan memutar bahuku, mengubah arah pandanganku dari kios itu ke ujung jalan.

“Tunggu sebentar lagi,” katanya.

Lima menit kemudian, yang dimaksud Khamidi akhirnya muncul.

Seorang bocah lelaki, kutaksir berusia sembilan tahun, mungkin kelas tiga SD, berjalan ke arah warung ini. Langkahnya kecil, sedikit terburu-buru, seperti anak yang punya kebiasaan bangun kesiangan tapi tetap ingin tiba tepat waktu.

Aku meletakkan sendok, menatap bocah itu, lalu beralih menatap Khamidi.

Dan, di detik itu, aku tahu.

Keindahan yang ia maksud ternyata bukan tentang apa yang dilihat mata, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

“Anak itu pertama kali le warung ini seminggu setelah ayahnya meninggal,” ujar Khamidi, suaranya pelan.

“Ia membawa uang dua ribu,” lanjutnya. “Dengan uang itu, kusiapkan nasi gandul sepincuk. Polosan. Cuma nasi dengan kuah saja.”

Khamidi berhenti sejenak, seperti membiarkan ingatannya itu kembali muncul dengan jelas.

“Tapi kemudian Pak Jubed merebut pincukan yang sedang kusiapkan. Nggak cuma itu, dia malah mengusirku agar menjauh.”

Aku mengernyit.

“Aku pun melipir, tapi mataku tetap curi-curi pandang. Soalnya curiga. Nggak pernah-pernah ia melayani sendiri.”

Aku menunggu kelanjutannya.

“Kau tahu apa yang dilakukannya?” tanya Khamidi, matanya sedikit menyempit, seolah sedang menyimpan sesuatu yang lebih besar dari sekadar cerita biasa.

Aku menggeleng.

“Pak Jubed menyembunyikan seiris daging di balik nasi gandul untuk anak itu.”

Aku kontan berhenti mengunyah.

“Dan selalu begitu setiap anak itu datang membeli,” lanjutnya, suaranya kini lebih lembut, nyaris seperti bisikan.

Aku mulai memahami mengapa Khamidi menyebut ini sebagai pemandangan yang “indah”. Alu tahu, Khamidi juga yatim dari sejak seusia bocah itu sehingga pemandangan itu begitu menentramkannya, mengisi dahaga masa Kanak-Kanaknya.

Namun bagiku yang bukan yatim pun pemandangan itu tetap istimewa.

Aku ingat Kyai Sholihun pernah berkata bahwa Rasulullah sangat dekat dengan anak yatim, sedekat jari-jari tangan ketika dirapatkan. Maka siapapun yang mencintai Rasulullah hendaknya mencintai anak yatim.

Bocah itu mengambil bungkusan makanannya, mengangguk kecil, lalu bersiap pergi. Namun, sebelum itu, Pak Jubed -dengan segala kesulitannya dalam berbicara- masih sempat memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar nasi gandul.

“Bee…agh….jarg…ang gra jin…. bar bji ttttttaraaa,” katanya, dengan suara yang pecah dan sulit dimengerti.

Tapi tangannya berbicara dengan lebih jelas – ia memperagakan orang menulis, lalu memberi hormat, lalu seolah memegang bedil.

Aku menelan ludah.

Menurut Khamidi, artinya, “Belajar yang rajin biar jadi tentara.”

Aku tertunduk. Entah kenapa, aku tidak sanggup melihat pemandangan ini terlalu lama. Ada sesuatu yang hangat, tetapi juga menusuk di dada.

Pak Jubed yang gagu itu ternyata punya cara tersendiri dalam bershalawat pada Nabi. Bukan dengan bibirnya, tetapi dengan caranya sendiri -sebuah cinta rahasia, yang ia sembunyikan dalam sepincuk nasi gandul.

Dalam diam yang tiba-tiba melingkupi warung, hanya ada satu hal yang sanggung kami ucapkan -lirih tetapi penuh getaran: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”

Berita Terkait

Surat Al – A’raf (Tempat Tertinggi)
Mengapa Tumbuh 5,61% Tak Sampai ke Dapur Kita?
Menelusuri “Roh” Pembangunan di Balik Laba BPD
Menambal Atap di Tengah Badai: Ironi SBN dan Urgensi Reformasi Radikal
Antara Algoritma dan Gentong Babi: Wajah Ganda Demokrasi 5.0
Surat Al – An’am (Binatang Ternak)
Singgasana Sang ‘ Dark triad’
Ketika Buah Busuk di Tangan, dan Riset Mati di Rak

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:32 WIB

Cerita Tentang Khamidi

Jumat, 15 Mei 2026 - 07:34 WIB

Surat Al – A’raf (Tempat Tertinggi)

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:06 WIB

Mengapa Tumbuh 5,61% Tak Sampai ke Dapur Kita?

Kamis, 14 Mei 2026 - 17:59 WIB

Menelusuri “Roh” Pembangunan di Balik Laba BPD

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:55 WIB

Menambal Atap di Tengah Badai: Ironi SBN dan Urgensi Reformasi Radikal

Berita Terbaru

Lifestyle

Cerita Tentang Khamidi

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:32 WIB

Lifestyle

Surat Al – A’raf (Tempat Tertinggi)

Jumat, 15 Mei 2026 - 07:34 WIB