Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
JATIMRAYA.COM – SETIAP hari, puluhan kali kita mengucapkan Allahu Akbar. Kalimat ini menjadi pembuka shalat, penanda perpindahan gerakan, dan seruan universal yang menggema di seluruh penjuru bumi. Ia begitu akrab di lisan, begitu rutin di telinga, sehingga kita nyaris tidak pernah berhenti sejenak untuk menimbangnya. Kita mengucapkannya seperti air mengalir: lancar, tanpa hambatan, tetapi juga tanpa bekas. Mungkin di antara kita ada yang sesekali tergetar, tetapi kebanyakan dari kita telah menjadikan takbir sebagai ritme tubuh, bukan ledakan kesadaran.
Seorang arif melantunkan syair yang merobek kelaziman itu. Dengan nada yang menusuk, ia bertanya:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Ketika engkau bertakbir, pernahkah engkau bertanya dan memperhatikan kuasa Tuhanmu? Cobalah engkau pikirkan, seberapa besar kuasa Allah atas dirimu? Dan lihatlah juga, seberapa besar kuasa harta benda menguasai dirimu, sehingga engkau takut kehilangan harta bendamu, engkau juga takut kehilangan kesempatan mendapatkan harta benda di sekelilingmu. Lihatlah dirimu.. Bukankah engkau dapat diperintah harta benda… Bukankah engkau juga ikhlas mentaatinya. Bukankah harga dirimu serta kesombonganmu juga ikut menguasai dirimu. Bukankah harga dirimu bisa memerintah dirimu. Bukankah harga dirimu juga engkau taati. Benarkah Allah Maha Besar dan Maha Kuasa atas dirimu? Seberapa besar engkau tunduk dan taat terhadap Tuhanmu? Seberapa besar engkau tunduk pada selain Tuhanmu? Sungguh Allah Maha Besar atas segala kekuasaan-Nya, jika di dalam dirimu tiada kuasa lain selain Tuhanmu, maka engkau adalah orang yang terbebas dari sekutu.”
Syair ini adalah cermin. Ia tidak memberikan jawaban, tetapi mengajukan pertanyaan yang membedah lapis demi lapis kepalsuan tauhid kita. Ia mengajak kita untuk tidak hanya bertakbir dengan lisan, tetapi bertakbir dengan seluruh kesadaran. Dan di puncaknya, ia menawarkan visi tentang pembebasan: menjadi orang yang terbebas dari sekutu, karena di dalam dirinya tidak ada lagi kuasa lain selain Tuhan. Mari kita masuki syair ini dengan keheningan, dan biarkan pertanyaan-pertanyaannya menelanjangi kita.
Takbir: Dari Ritual ke Interogasi
Syair ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi mematikan: ”Ketika engkau bertakbir, pernahkah engkau bertanya dan memperhatikan kuasa Tuhanmu?” Ini adalah pukulan pertama. Ia membangunkan kita dari tidur ritualisme. Selama ini, kita mungkin mengira bahwa takbir adalah urusan lisan—cukup diucapkan, selesai. Tetapi syair ini menuntut lebih. Ia menuntut agar takbir menjadi interogasi eksistensial. Setiap kali kita mengucapkan Allahu Akbar, kita seharusnya bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar percaya bahwa Allah Maha Besar? Ataukah aku hanya mengucapkannya sebagai kebiasaan?
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa takbir adalah “deklarasi perang terhadap ego.” Beliau menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mengangkat tangannya dan mengucapkan Allahu Akbar, ia seharusnya sedang mendeklarasikan bahwa tidak ada yang besar dalam dirinya selain Allah. Semua kebesaran palsu—kebesaran harta, kebesaran jabatan, kebesaran ilmu, kebesaran keturunan—harus runtuh dalam satu kalimat itu. Tetapi kenyataannya, seringkali takbir hanya menjadi gerakan tanpa makna. Tangan terangkat, mulut berucap, tetapi hati tetap sujud kepada berhala-berhala modern.
Syair ini selaras dengan semangat itu. Ia mengajak kita untuk mengubah takbir dari sekadar ritual menjadi momen tafakkur. Tafakkur adalah perenungan mendalam yang melibatkan seluruh kesadaran. Dalam tradisi tasawuf, tafakkur adalah ibadah yang sangat dianjurkan, bahkan disebut sebagai “cahaya hati.” Dengan bertafakkur, seorang hamba menembus permukaan menuju kedalaman, dari kulit syariat menuju inti hakikat. Dan syair ini adalah undangan untuk bertafakkur tentang makna takbir.
Kuasa Harta: Tuhan Palsu yang Ditaati dengan Ikhlas
Setelah membangunkan kita, syair ini segera mengarahkan perhatian kita pada pesaing-pesaing Allah dalam diri kita. Pesaing pertama yang disebut adalah harta benda. ”Lihatlah juga, seberapa besar kuasa harta benda menguasai dirimu, sehingga engkau takut kehilangan harta bendamu… Bukankah engkau dapat diperintah harta benda… Bukankah engkau juga ikhlas mentaatinya.”
Kata “ikhlas” di sini digunakan dengan sangat ironis dan menyakitkan. Kata yang seharusnya menjadi mahkota para pencinta Allah—ikhlas—justru dipakai untuk menggambarkan totalitas ketundukan manusia kepada materi. Betapa sering kita dengan “ikhlas” bangun sebelum fajar, bukan untuk shalat malam, tetapi untuk mengejar penerbangan bisnis. Betapa sering kita dengan “ikhlas” menghabiskan berjam-jam di depan layar, bukan untuk membaca Al-Qur’an, tetapi untuk bekerja demi mengumpulkan lebih banyak harta. Betapa sering kita dengan “ikhlas” mengabaikan keluarga, kesehatan, dan bahkan ibadah, demi mengejar apa yang kita sebut sebagai “penghidupan yang layak.”
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis bahwa cinta harta adalah salah satu penyakit hati yang paling kronis. Harta yang seharusnya menjadi alat untuk beribadah, berubah menjadi tujuan akhir. Ia menjadi berhala yang disembah. Dan ciri orang yang menyembah harta, kata Al-Ghazali, adalah ketakutannya yang berlebihan terhadap kemiskinan dan kerugian. Orang yang bertauhid sejati mungkin memiliki harta yang banyak, tetapi hatinya tidak terpaut kepadanya. Ia siap kehilangan semuanya tanpa goyah imannya. Sebaliknya, orang yang menyembah harta, meskipun mungkin hanya memiliki sedikit, hatinya selalu gelisah, selalu takut, selalu merasa kurang. Di mana ada ketakutan mendalam terhadap kehilangan, di situ ada “tuhan” yang disembah.
Syair ini menusuk kita dengan pertanyaan yang tak bisa dihindari: apa yang paling kita takuti kehilangannya? Jika jawabannya adalah harta, maka jujurlah pada diri sendiri bahwa harta telah menjadi tuhan kecil dalam hidup kita. Dan selama tuhan kecil itu masih bertahta, takbir kita hanyalah kepura-puraan. Kita mengucapkan Allahu Akbar dengan lisan, tetapi hati kita berbisik: al-malu akbar—hartalah yang lebih besar kuasanya.
Harga Diri dan Kesombongan: Berhala yang Paling Halus
Setelah harta, syair ini menyerang inti yang lebih dalam: ”Bukankah harga dirimu serta kesombonganmu juga ikut menguasai dirimu. Bukankah harga dirimu bisa memerintah dirimu. Bukankah harga dirimu juga engkau taati.”
Ini adalah pukulan yang lebih mematikan. Jika harta adalah berhala yang tampak, harga diri adalah berhala yang tersembunyi. Ia bersemayam di relung hati yang paling dalam, dan seringkali tidak disadari. Harga diri yang berlebihan—yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai kibr (kesombongan)—adalah penyakit yang paling halus dan paling berbahaya. Ia adalah dosa pertama di alam semesta, dosa Iblis yang menolak sujud kepada Adam.
Syair ini menelanjangi bagaimana harga diri bisa menjadi “tuhan” yang kita taati. Ketika kita tersinggung karena tidak diundang ke sebuah acara, siapa yang tersinggung? Harga diri kita. Ketika kita marah karena dikritik, siapa yang marah? Harga diri kita. Ketika kita menolak kebenaran karena merasa lebih senior, lebih berpengalaman, atau lebih saleh, siapa yang menolak? Harga diri kita. Setiap kali kita memilih untuk tidak meminta maaf terlebih dahulu karena “gengsi,” setiap kali kita memilih untuk tidak mengakui kesalahan karena “malu,” setiap kali kita memilih untuk tetap dalam kesalahan daripada terlihat lemah—di situlah kita sedang menaati perintah harga diri.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam banyak kisah para wali yang berjuang mati-matian melawan harga diri mereka. Salah satu kisah yang terkenal adalah tentang seorang sufi yang sengaja melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh masyarakat—seperti memungut sampah atau mengemis—bukan karena ia membutuhkan, tetapi karena ia ingin membunuh harga dirinya. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi “aku” yang tersinggung, “aku” yang gengsi, “aku” yang merasa mulia. Ini adalah jihad akbar yang sesungguhnya: perang melawan ego sendiri.
Ujian Tauhid: Seberapa Besar Engkau Tunduk?
Setelah mengidentifikasi dua berhala utama—harta dan harga diri—syair ini melancarkan serangkaian pertanyaan retoris yang mengguncang: ”Benarkah Allah Maha Besar dan Maha Kuasa atas dirimu? Seberapa besar engkau tunduk dan taat terhadap Tuhanmu? Seberapa besar engkau tunduk pada selain Tuhanmu?”
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan lisan. Jawabannya terletak pada rekaman nyata perilaku kita sehari-hari. Teori tauhid tidak cukup. Pengakuan iman tidak memadai. Yang dituntut adalah bukti. Dan bukti itu adalah seberapa besar kita tunduk kepada Allah dibandingkan dengan ketundukan kita kepada selain-Nya.
Jika kita lebih taat kepada perintah atasan yang zalim daripada kepada perintah Allah, maka atasan itulah yang lebih besar kuasanya dalam diri kita. Jika kita lebih takut kehilangan pelanggan daripada kehilangan ridha Allah, maka pelanggan itulah tuhan kita. Jika kita lebih rela melanggar aturan Allah demi menjaga hubungan dengan orang penting, maka orang penting itulah yang kita sembah. Inilah ujian tauhid yang sesungguhnya. Bukan ujian di atas kertas, bukan ujian lisan, tetapi ujian dalam pilihan-pilihan nyata yang kita buat setiap hari.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menjelaskan bahwa tauhid memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan paling dasar adalah tauhid lisan: mengucapkan la ilaha illa Allah. Tingkatan berikutnya adalah tauhid hati: meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tetapi tingkatan tertinggi adalah tauhid af’al: menyaksikan bahwa tidak ada pelaku sejati kecuali Allah. Pada tingkatan ini, seorang hamba tidak lagi “melihat” bahwa harta bisa memberi manfaat atau mudarat secara independen. Ia tidak lagi “melihat” bahwa manusia bisa memberikan kehormatan atau kehinaan. Semua kuasa adalah milik Allah semata. Dan ketika penyaksian ini telah meresap sempurna, hamba tersebut telah mencapai apa yang disebut syair ini sebagai “terbebas dari sekutu.”
Pembebasan dari Sekutu: Visi Tauhid Murni
”Sungguh Allah Maha Besar atas segala kekuasaan-Nya, jika di dalam dirimu tiada kuasa lain selain Tuhanmu, maka engkau adalah orang yang terbebas dari sekutu.”
Kalimat penutup syair ini adalah visi tentang kemerdekaan spiritual yang sejati. “Terbebas dari sekutu” berarti tidak ada lagi sesuatu pun dalam diri yang menjadi tandingan bagi Allah. Tidak ada lagi kuasa harta yang ditakuti, tidak ada lagi kuasa harga diri yang ditaati, tidak ada lagi kuasa manusia yang disembah. Semua kuasa telah runtuh, dan yang tegak hanyalah Kuasa Allah semata.
Ini adalah puncak dari tauhid. Bukan tauhid yang sekadar diyakini, tetapi tauhid yang dihayati dan disaksikan. Dalam tradisi tasawuf, maqam ini dicapai melalui proses fana’—peleburan ego. Fana’ fi al-af’al adalah lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain Allah. Fana’ fi al-sifat adalah lenyapnya sifat-sifat tercela seperti takut kepada makhluk dan sombong kepada sesama. Dan puncaknya adalah fana’ ul-fana’: lenyapnya kesadaran “aku telah fana’, aku telah terbebas dari sekutu.” Dalam fana’ ul-fana’, tidak ada lagi “aku” yang merasa suci, “aku” yang merasa telah mencapai sesuatu. Semua “aku” telah lenyap. Yang tersisa hanyalah al-Haqq.
Al-Kamasykhanawi menyebut ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan atas penghapusan. Dalam maqam ini, takbir bukan lagi “aku bertakbir,” tetapi Allah yang “bertakbir” melalui hamba-Nya. Hamba hanyalah cermin yang telah hancur, dan yang tampak hanyalah Cahaya Ilahi. Inilah makna sejati dari Allahu Akbar: Allah Maha Besar, bukan hanya di lisan, tetapi di seluruh realitas diri yang telah lebur dalam-Nya.
Refleksi: Kembali ke Cermin Takbir
Syair ini mengajak kita untuk kembali ke cermin. Setiap kali kita mengangkat tangan dan mengucapkan Allahu Akbar, ia meminta kita untuk bertanya: masih adakah tuhan-tuhan kecil dalam diriku? Masih adakah kuasa selain Dia yang kutakuti dan kutaati? Apakah hartaku masih memerintahku? Apakah harga diriku masih menguasaiku? Apakah aku benar-benar percaya bahwa Allah Maha Besar, ataukah aku hanya berpura-pura?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman. Ia menusuk dan membongkar. Tetapi justru dalam ketidaknyamanan itulah terletak obatnya. Sebab, penyakit yang paling berbahaya adalah penyakit yang tidak disadari. Dan syair ini, dengan kejamnya, memaksa kita untuk membuka mata dan melihat penyakit-penyakit itu. Ia tidak menawarkan kenyamanan, tetapi ia menawarkan pembebasan.
Pada akhirnya, takbir yang sejati adalah takbir yang membebaskan. Ia membebaskan kita dari ketakutan terhadap kemiskinan, karena kita tahu bahwa Allah adalah al-Razzaq. Ia membebaskan kita dari ketakutan terhadap penghinaan, karena kita tahu bahwa Allah adalah al-Mu’izz. Ia membebaskan kita dari perbudakan ego, karena kita telah meleburkan ego itu dalam samudra al-Haqq. Dan ketika pembebasan itu sempurna, takbir tidak lagi sekadar kata. Ia adalah keadaan. Seluruh wujud kita menjadi takbir. Setiap detak jantung kita adalah Allahu Akbar. Setiap hembusan napas kita adalah Allahu Akbar. Karena tidak ada lagi yang tersisa dalam diri ini selain Dia.
”Sungguh Allah Maha Besar atas segala kekuasaan-Nya, jika di dalam dirimu tiada kuasa lain selain Tuhanmu, maka engkau adalah orang yang terbebas dari sekutu.”
Wallahu a’lam bi al-shawab.
















