Nasehat Kematian dari Musibah Presiden Ebrahim Raisi

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 22 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anwar Hudijono

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

JATIMRAYA.COM – Karena hendak dinaiki seorang Presiden bisa dipastikan helikopter disiapkan sebaik-baiknya. Pilot dan awaknya dites dan dikarantina. Badan metereologi dan geofisika siaga tingkat tinggi memantau cuaca. Semua disiapkan seoptimal mungkin untuk keselamatan Presiden.

Kalau akhirnya helikopter yang membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi jatuh yang mengakibatkan Raisi dan penumpang lannya, termasuk Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian gugur, menunjukkan bahwa takdir Allah lebih kuat dari ikhtiar manusia.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Allah menetapkan takdir menggunakan ilmu. Sementara ilmu Allah itu tanpa batas. Inilah sebabnya manusia seringkali tidak bisa memahami takdir-Nya karena ilmu manusia sangat terbatas. Ibaratnya ilmu manusia itu setetes air di lautan jika dibanding ilmunya Allah.

Sebelum wafat sebenarnya Raisi – sebagaimana umat manusia lainnya – sudah dikuntit oleh 99 penyebab kamatian. Jika lolos satu sebab, sebab lain sudah membayangi. Kali ini Raisi tidak bisa lolos dari sebab berupa musibah kecelakaan helikopter. Inilah takdirnya. Yang meliputi kapan, tempat dan sebab kamatian. Jika sudah takdir tidak bisa ditunda maupun dimajukan.

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Quran, surah Al Araf 34).

Kalau saja bisa minta ditunda, pasti rakyat Iran minta ditunda karena dia disiapkan menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran Sayid Ali Khamenei. Penyiapan itu dengan pertimbangan usia Raisi jauh lebih muda dari Khamenei. Asumsinya yang tua meninggal lebih dulu.

Padahal usia itu tidak bisa dipakai pedoman melihat kematian. Termasuk jika pembaca tulisan ini lebih muda dari saya, bisa saja lebih dulu meninggal dari saya. Yang usianya di atas saya bisa jadi memang duluan sedang saya belakangan. Monggo, sebagai yang lebih muda saya ngalah saja

Menjadi perbincangan tentang kondisi jazad Raisi. Yang perlu dimafhumi bagaimanapun penyebab kematian entah terbakar, kecelakaan atau di tempat tidur, dan apapun kondisi jazad, sebenarnya proses kamatian itu hanya ada dua.

Pertama, jika yang mati orang baik akan disambut oleh malaikat dengan memakai baju putih. Wajah mereka ceria berseri-seri. Mereka membawa wewangian dan kain kafan dari surga. Malakul maut saat mencabut nyawa melakukannya dengan penuh kasih sayang dan bijaksana.

Kedua, jika yang mati orang jahat akan disambut oleh malaikat yang kasar, wajahnya sangar, membawa kain kafan buruk dari neraka. Malakul maut mencabut nyawanya dengan kasar dan sadis sambil mumukul dada yang mati. Bau yang mati sangat anyir dan memuakkan. Sehingga tatkala dibawa ke langit tidak ada yang mau membukakan pintu.

Setiap peristiwa kematian adalah nasehat bagi para yang masih hidup. Bahwa setiap manusia pasti mati alias kita ini sebenarnya calon jenazah. Cuma tidak tahu kapan, di mana dan caranya mati. “Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Quran, surah Lukman 34).

Dan yang lebih utama adalah mawas diri seberapa bekal yang kita miliki utuk perjalanan hidup setelah mati? (Andy Setiawan)***

Berita Terkait

USANITA Perkuat Akses Global Usahawan Malaysia Indonesia
Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan
Menpora Dukung Penuh Program PBMI, Muaythai Indonesia Tancap Gas Menuju SEA Games Malaysia
Menhan-PWI Pusat Agendakan Khusus Retret 200 Wartawan
Dari “Kaleidiskop Media Massa 2025”, Perlu Intervensi Negara untuk Menjaga Eksistensi Media
H. Iwan Efendi Nakhodai DPC PDI Perjuangan Sampang Periode 2025-2030
Peduli Korban Bencana, Grup Merdeka Serahkan Donasi Rp977 Juta ke BAZNAS RI
PWI Pusat Terbitkan Tiga Surat Edaran untuk Anggota se-Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:47 WIB

USANITA Perkuat Akses Global Usahawan Malaysia Indonesia

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:50 WIB

Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan

Selasa, 13 Januari 2026 - 10:09 WIB

Menpora Dukung Penuh Program PBMI, Muaythai Indonesia Tancap Gas Menuju SEA Games Malaysia

Rabu, 24 Desember 2025 - 17:49 WIB

Menhan-PWI Pusat Agendakan Khusus Retret 200 Wartawan

Rabu, 24 Desember 2025 - 08:26 WIB

Dari “Kaleidiskop Media Massa 2025”, Perlu Intervensi Negara untuk Menjaga Eksistensi Media

Berita Terbaru