Tambakberas, Denanyar, dan Jalan Pulang Sang Mutiara: Membaca Tanda-Tanda Semesta di Balik Muktamar ke-35 NU

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 9 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Haqiqi, Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya

Ketika Pesantren Dipilih, Bukan Memilih

JATIMRAYA COM – DI sebuah senja yang basah di bulan Agustus nanti, ribuan kiai, santri, dan tamu-tamu agung dari seantero Nusantara akan bergerak menuju satu titik. Bukan ke hotel berbintang, bukan ke gedung megah, bukan ke stadion yang bergema oleh sorak-sorai politik. Mereka akan menuju ke sebuah pesantren tua di jantung Jombang, di tepian sungai yang telah menjadi saksi bisu lahirnya para kiai besar, para pejuang, dan para wali yang tak sempat tercatat dalam buku sejarah resmi. Pesantren itu bernama Tambakberas. Dan di sanalah, PBNU telah memutuskan: Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan digelar, pada 27-31 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keputusan ini, sebagaimana banyak keputusan penting dalam tubuh NU, mungkin tampak administratif di permukaan. Rapat pleno, pembahasan anggaran, kesiapan infrastruktur, dan lain sebagainya. Tetapi bagi mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda, bagi mereka yang memahami bahwa dalam tradisi pesantren tidak ada yang benar-benar kebetulan, pemilihan Tambakberas sebagai lokasi muktamar adalah sebuah isyarat langit yang tidak bisa diabaikan. Ia adalah sebuah firman situasional—sebuah kalam yang ditulis bukan dengan tinta di atas kertas, melainkan dengan takdir di atas bentangan peristiwa.

Dan di antara ribuan nama yang akan hadir, ada satu nama yang getarannya terasa paling kencang. Ia adalah H. Gudfan Arif Ghofur—Gus Gudfan—Bendahara Umum PBNU, pengelola tambang organisasi, keturunan ke-16 Sunan Drajat, pewaris trah Sunan Giri, dan, yang paling penting dalam konteks ini, alumni Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar Jombang. Denanyar, yang secara geografis dan kultural bertetangga dengan Tambakberas. Denanyar, yang merupakan bagian dari ekosistem spiritual Jombang yang sama.

Apakah ini pertanda bahwa semesta sudah mulai berpihak?

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan retoris yang dilontarkan untuk sekadar memperindah narasi. Ini adalah pertanyaan ideologis, politis, dan sufistik yang menuntut pembacaan mendalam. Sebab dalam tradisi NU, pertarungan politik tidak pernah hanya ditentukan oleh suara dan dukungan formal. Ia ditentukan oleh restu, oleh isyarah, oleh barakah yang mengalir dari para muassis—para pendiri—melalui pesantren-pesantren yang menjadi benteng terakhir spiritualitas di tengah gempuran zaman. Jika Tambakberas telah dipilih, dan jika di sana ada Denanyar yang menunggu kepulangan salah satu putra terbaiknya, maka kita tidak sedang menyaksikan sekadar persiapan muktamar. Kita sedang menyaksikan skenario langit yang sedang bergulir.

Jombang sebagai Poros Langit: Sosiologi Spiritual Tanah Para Wali

Untuk memahami mengapa pemilihan Tambakberas begitu signifikan, kita harus terlebih dahulu memahami posisi Jombang dalam kosmologi Nahdlatul Ulama. Jombang bukanlah sekadar kota santri. Ia adalah poros langit—axis mundi—tempat bertemunya sejarah, spiritualitas, dan politik NU dalam satu titik yang paling pekat.

Di Jombang, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng—benteng utama perlawanan terhadap kolonialisme dan pusat kelahiran NU. Di Jombang pula, KH. Wahab Chasbullah—arsitek politik NU yang brilian—lahir dan dibesarkan di Tambakberas, sebelum kemudian mendirikan Pesantren Bahrul Ulum. Jombang adalah tempat di mana KH. Bisri Syansuri merumuskan fikih sosial yang menjadi landasan bagi keputusan-keputusan strategis organisasi. Jombang adalah rahim, dan NU adalah anak yang lahir darinya.

Secara sosiologis, memilih Tambakberas sebagai lokasi muktamar adalah tindakan yang sarat makna. Ini adalah kembali ke rahim. Dalam situasi ketika NU diguncang oleh friksi internal, ketika suara-suara sumbang mulai mempertanyakan arah organisasi, ketika godaan materialisme dan pragmatisme mulai merayap ke dalam tubuh para pemimpinnya, kembali ke Jombang adalah upaya untuk menyambung kembali tali pusar yang mungkin telah putus. Ini adalah ritual kolektif untuk bertabarruk—mencari berkah—dari tanah yang telah disucikan oleh doa-doa para pendiri.

Dan di dalam ritual kepulangan ini, ada seorang figur yang kisahnya paling dekat dengan narasi “pulang”. Gus Gudfan, yang pernah menimba ilmu di Denanyar, adalah bagian dari memori kolektif Jombang. Ia bukan pendatang yang tiba-tiba muncul di panggung nasional. Ia adalah anak rantau yang telah menempuh perjalanan panjang—dari Lamongan ke Jombang, dari Jombang ke Jakarta, dari Jakarta ke tambang-tambang batu bara, dari tambang kembali ke jantung organisasi—dan kini, ia dipanggil untuk kembali ke tempat di mana ia pernah menjadi santri.

Denanyar dan Tambakberas: Dua Pesantren, Satu Ekosistem Ruhani

Dalam peta spiritual Jombang, Denanyar dan Tambakberas adalah dua titik yang saling terhubung oleh benang-benang tak kasat mata. Denanyar, tempat Gus Gudfan pernah mondok dan menimba ilmu, adalah pesantren yang dikenal sebagai benteng keilmuan dan kaderisasi. Di sanalah para santri digembleng tidak hanya dalam kitab kuning, tetapi juga dalam disiplin batin—dalam riyadhah, dalam mujahadah, dalam khalwat sunyi yang membentuk karakter para pemimpin.

Tambakberas, di sisi lain, adalah simbol kekuatan politik spiritual. Di sinilah KH. Wahab Chasbullah, si “otak politik” NU, dilahirkan dan dibentuk. Tambakberas adalah bukti bahwa pesantren tidak hanya melahirkan kiai, tetapi juga melahirkan negarawan, diplomat, dan arsitek peradaban.

Ketika Muktamar NU digelar di Tambakberas, dan ketika di antara para tokoh yang hadir ada seorang alumni Denanyar yang kini menjadi figur sentral dalam percaturan politik NU, maka ada sebuah geometri spiritual yang terbentuk. Denanyar dan Tambakberas tidak lagi sekadar dua pesantren yang berdekatan secara geografis; mereka menjadi dua titik yang membentuk garis lurus menuju sebuah kemungkinan sejarah: lahirnya pemimpin baru dari rahim Jombang.

Dalam tradisi sufistik, ini disebut al-jam’u bayna al-furqān—pertemuan antara dua hal yang tampak terpisah tetapi sesungguhnya satu dalam esensi. Gus Gudfan adalah produk Denanyar, dan Denanyar adalah bagian dari ekosistem Tambakberas. Kembalinya ia ke Jombang—dan khususnya ke Tambakberas—adalah pertemuan kembali antara sang anak dan sang ibu, antara sang santri dan sang rahim, antara sang pemimpin dan tanah yang telah memberkatinya.

Membaca “Kebetulan” dalam Perspektif Sufistik: Apakah Semesta Mulai Berpihak?

Kaum positivis menyebutnya kebetulan. Kaum rasionalis menyebutnya aksiden. Tetapi dalam tradisi tasawuf, tidak ada yang kebetulan. Setiap peristiwa adalah āyah—tanda—yang dibentangkan oleh Allah bagi mereka yang memiliki bashīrah (mata batin). Setiap pertemuan, setiap lokasi, setiap tanggal, adalah bagian dari naẓm al-kawn—tatanan kosmis yang digerakkan oleh Tangan Ilahi.

Ketika Muktamar NU diputuskan akan digelar di Tambakberas, dan ketika diketahui bahwa di antara figur-figur yang paling diperhitungkan adalah seorang alumni Denanyar, maka bagi para ahl al-bāṭin—para pembaca batin—ini bukanlah sekadar keputusan organisasi. Ini adalah jawaban langit atas doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam oleh para kiai sepuh yang merindukan pemimpin sejati.

Mengapa demikian?

Pertama, secara psikologis dan spiritual, kembali ke tempat di mana seseorang pernah menjadi santri adalah pengalaman yang sangat kuat. Di sana, ia akan diingatkan kembali pada masa-masa ketika ia masih jāhil—masih bodoh, masih mencari, masih meraba-raba. Di sana, ia akan bertemu dengan guru-gurunya yang mungkin telah renta, dengan teman-teman seangkatannya yang mungkin telah menjadi kiai, dengan dinding-dinding yang menyimpan memorinya sebagai seorang pencari ilmu. Dan pertemuan ini akan membangkitkan energi yang tidak bisa diukur dengan logika biasa: energi tawāḍu’—kerendahan hati—yang menjadi syarat utama seorang pemimpin sejati.

Kedua, secara sosiologis, kehadiran Gus Gudfan di Tambakberas akan menjadi tontonan bagi para kiai dan warga nahdliyin. Mereka akan melihatnya bukan sebagai “calon ketua umum” yang datang untuk berkampanye, melainkan sebagai “anak pulang” yang kembali ke rumahnya. Dan dalam budaya NU, tidak ada yang lebih menggetarkan hati para kiai selain menyaksikan seorang anak muda yang kembali—yang tidak melupakan asalnya, yang tidak silau oleh gemerlap Jakarta, yang tetap rendah hati meskipun telah mengelola tambang dan bernegosiasi dengan para pemodal besar.

Ketiga, secara mistik, pemilihan Tambakberas membuka portal spiritual yang menghubungkan muktamar ini dengan para pendiri NU. KH. Wahab Chasbullah, sang arsitek politik NU, adalah putra Tambakberas. Menggelar muktamar di tanah kelahirannya adalah cara untuk memohon restu—untuk bertawasul kepada ruhnya, agar ia menuntun para pemimpin yang akan dipilih.

Dan di sinilah kuncinya: dalam tradisi pesantren, pemimpin sejati adalah ia yang diminta, bukan yang meminta. Ia yang ditarik, bukan yang mendorong. Gus Gudfan, dengan segala penolakannya untuk dicalonkan, justru sedang menempuh jalan yang paling benar. Ia sedang membiarkan semesta bekerja. Ia sedang membiarkan doa-doa para kiai mengalir. Ia sedang membiarkan Tambakberas memanggilnya.

Peta Politik Muktamar: Antara Faksi, Figur, dan Takdir

Tentu saja, kita tidak boleh naif. Muktamar NU bukanlah ritual suci yang bebas dari politik. Ia adalah medan kontestasi, tempat faksi-faksi bertemu, tempat aliansi-aliansi dibentuk, tempat suara-suara dihitung dengan cermat. Figur-figur besar akan muncul, masing-masing dengan pendukungnya, masing-masing dengan klaim legitimasinya.

Tetapi politik NU bukanlah politik elektoral biasa. Ia tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara. Ia ditentukan oleh restu. Seorang calon yang memiliki suara mayoritas tetapi tidak direstui oleh para kiai sepuh akan kesulitan memimpin. Sebaliknya, seorang calon yang awalnya tidak diunggulkan bisa tiba-tiba muncul sebagai dark horse jika para kiai memberikan isyarat.

Dalam konteks ini, Gus Gudfan memiliki posisi yang unik. Ia bukanlah figur yang paling vokal. Ia bukanlah figur yang paling gencar membangun koalisi. Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak calon lain: genealogi, jaringan, dan kapasitas.

Genealogi-nya sebagai keturunan Sunan Drajat dan Sunan Giri memberinya legitimasi tradisional yang sangat kuat. Di mata para kiai, ia bukanlah “orang luar” yang tiba-tiba muncul; ia adalah darah daging para wali yang telah mengakar dalam sejarah Nusantara.

Jaringan-nya sebagai pengusaha dan pengelola tambang memberinya akses ke sumber daya yang tidak dimiliki oleh calon lain. Di tengah krisis ekonomi global dan kebutuhan NU untuk mandiri secara finansial, figur yang bisa memastikan organisasi tidak bangkrut adalah figur yang sangat berharga.

Kapasitas-nya sebagai organisatoris yang telah teruji di berbagai posisi—dari Bendahara Pagar Nusa hingga Bendahara Umum PBNU—memberinya pemahaman mendalam tentang mesin organisasi.

Dan kini, dengan dipilihnya Tambakberas sebagai lokasi muktamar, ada faktor keempat yang muncul: faktor pulang. Denanyar dan Tambakberas akan menjadi saksi bisu dari sebuah drama kosmis: akankah sang anak yang kembali ini dijemput oleh takdirnya, ataukah ia akan tetap memilih jalan sunyi?

Sufisme Politik: Ketika Muktamar Menjadi Khalwat Kolektif

Dalam perspektif tasawuf, setiap peristiwa besar bisa menjadi khalwat—ruang penyepian spiritual—jika ia dijalani dengan kesadaran yang benar. Muktamar NU, dengan segala hiruk-pikuknya, bisa menjadi khalwat kolektif bagi seluruh peserta yang hadir, jika mereka menyadari bahwa yang mereka lakukan bukanlah sekadar memilih pemimpin, melainkan menerima amanah langit.

Tambakberas, dengan sejarah panjangnya, adalah tempat yang tepat untuk khalwat kolektif ini. Di sanalah ruh KH. Wahab Chasbullah masih bergetar. Di sanalah doa-doa para muassis masih terasa hangat. Di sanalah barakah belum menguap, meskipun zaman telah berubah.

Bagi Gus Gudfan, muktamar di Tambakberas adalah panggilan untuk memasuki maqam baru: maqam al-taslīm—maqam penyerahan total. Selama ini, ia telah menolak untuk dicalonkan. Ia telah memilih jalan sunyi. Ia telah menjadi dhele kopong—kedelai kosong—yang tidak lagi memiliki keinginan pribadi. Tetapi taslīm yang sejati bukan hanya menolak; taslīm yang sejati adalah siap menerima jika itu yang dikehendaki.

Dan jika di Tambakberas nanti, para kiai sepuh menatapnya dengan mata yang penuh harap, jika teman-teman seangkatannya di Denanyar berbisik, “Sudah waktunya, Gus,” jika ruh para leluhur bergetar di dinding-dinding pesantren—maka penolakan bukan lagi tanda kerendahan hati. Penolakan justru bisa menjadi tanda ketidaksiapan untuk memikul amanah.

Apakah Semesta Sudah Berpihak?

Kembali ke pertanyaan awal: apakah ini tanda semesta sudah mulai berpihak?

Bagi mereka yang hanya percaya pada yang kasat mata, pertanyaan ini tidak relevan. Mereka hanya akan melihat angka-angka: berapa suara yang bisa dikumpulkan, siapa yang mendukung, siapa yang menolak. Tetapi bagi mereka yang memahami bahwa di balik yang kasat mata ada yang gaib—bahwa di balik suara-suara manusia ada suara langit—pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling penting.

Tanda-tanda itu mulai terlihat. Tambakberas dipilih. Denanyar menanti. Jombang membuka pelukannya. Dan seorang anak muda yang pernah mondok di pesantren itu, yang kini telah menjadi Bendahara Umum PBNU dan pengelola tambang organisasi, sedang dalam perjalanan pulang.

Apakah semesta sudah mulai berpihak? Saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Tetapi saya bisa mengatakan ini: semesta tidak pernah berpihak kepada mereka yang mengejar. Semesta hanya berpihak kepada mereka yang dipanggil. Dan jika panggilan itu datang dari Tambakberas, dari Denanyar, dari Jombang, dari tanah yang telah disucikan oleh doa-doa para wali—maka itu bukan lagi sekadar panggilan politik. Itu adalah panggilan takdir.

Penutup: Menunggu Agustus di Jombang

Agustus 2026 masih beberapa bulan lagi. Tetapi bagi para pembaca tanda, Agustus itu sudah dimulai sekarang. Ia dimulai di setiap doa yang dipanjatkan di sepertiga malam. Ia dimulai di setiap pertemuan para kiai yang membincangkan masa depan NU. Ia dimulai di setiap langkah Gus Gudfan, yang mungkin masih ragu, masih menimbang, masih bertanya: “Apakah aku layak?”

Dan jawaban dari pertanyaan itu tidak akan datang dari dirinya sendiri. Jawaban itu akan datang dari Tambakberas. Dari Denanyar. Dari Jombang. Dari para kiai yang akan menatapnya dengan mata yang telah lelah oleh pencarian panjang. Dari ruh KH. Wahab Chasbullah yang akan berbisik di dinding-dinding pesantren: “Wahai anakku, engkau telah pulang. Kini, saatnya engkau memikul amanah.”

Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Berita Terkait

Kotak Pandora Birokrasi: Ketika Selembar Kertas Menguras Energi Bangsa
Menyongsong Badai Reformasi Jilid Baru
Sektor Ultra Mikro dan Informal Harus Masuk Radar Statistik
Menata Ulang Dapil Surabaya: Antara Representasi Politik dan Keadilan Kewilayahan
Empat Puluh Tahun, Empat Puluh Malam: Membaca Isyarat Langit di Balik Usia Gus Gudfan dan Jalan Sunyi Menuju Singgasana Nahdlatul Ulama
Bahan Pokok Ke-10: Ketika Kemunafikan Menjadi Kebutuhan Primer
Neraca di Tangan Iblis: Ketika Hukum Menjadi Berhala
Jebakan Revolusi: Karpet Merah Pasar Bebas

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:23 WIB

Kotak Pandora Birokrasi: Ketika Selembar Kertas Menguras Energi Bangsa

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:22 WIB

Menyongsong Badai Reformasi Jilid Baru

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:19 WIB

Sektor Ultra Mikro dan Informal Harus Masuk Radar Statistik

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:49 WIB

Empat Puluh Tahun, Empat Puluh Malam: Membaca Isyarat Langit di Balik Usia Gus Gudfan dan Jalan Sunyi Menuju Singgasana Nahdlatul Ulama

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:39 WIB

Tambakberas, Denanyar, dan Jalan Pulang Sang Mutiara: Membaca Tanda-Tanda Semesta di Balik Muktamar ke-35 NU

Berita Terbaru

Lifestyle

Menyongsong Badai Reformasi Jilid Baru

Kamis, 9 Jul 2026 - 21:22 WIB