Terinspirasi Diana Spencer, Tasya Kejar Cita-cita Jadi Atlet Berkuda

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 3 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Menunggang kuda bukan perkara mudah. Meski sekilas nampak gampang. Jika dilakukan dengan sembrono dan tanpa kemampuan memadai, tidak mustahil justru akan mendapatkan celaka ketimbang nikmatnya berkuda.

Selain faktor kecakapan, olah raga yang berkaitan dengan hewan pacu, sering terhubung dengan budaya ikonik para cowboy di Texas, Amerika itu bukan hobi biasa. Itu kesenangan mahal. Se-atmosfir dengan hobi main golf, terjun payung, paralayang, gantole, aeromodelling dan olah raga bersaku tebal lainnya.

Selain berbiaya tak semurah main sepak bola, tenis meja, bola voli dan sejenisnya, olah raga ekstrem ini dituntut memiliki kesiapan mental, penguasaan adrenalin serta kesanggupan integrated terhadap sarana dan prasarana yang dikendalikannya. Tidak gampang memang. Pendek kata tak sekedar cukup duit, melainkan juga wajib cukup mental.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun begitu, sederet halang rintang tentang berkuda itu tidak mampu merubah segumpal angan-angan seorang mahasiswi cantik asal Kota Madiun, Jawa Timur, untuk tetap menyusurinya. Bahkan disaat yang lain berjalan menjauh, dia berlari mendekat untuk menjemput harapan.

Dialah Tasya Griselda Trisnata, 20 tahun, mahasiswi semester II jurusan Manajemen Ekonomi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang berkampus di Magetan, Jawa Timur. Warga Jl. Semangka No. 19, Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun, itu mengaku menaruh hasrat hobi berkuda karena terinspirasi kegemaran Lady Diana Spencer, Princess of Wales kerajaan Inggris itu.

“Hobi berkuda ini saya tekuni karena terinspirasi kegemaran Lady Diana, termasuk Ratu Elizabeth yang juga gemar berkuda. Kultur bangsawan Inggris itu nampak elegan dan kharismatik,” kata Tasya dalam wawancara dengan koresponden di area tempatnya latihan berkuda, WHC Nusantara, Jl. Raya Dungus, Kecamatan Mojopurno, Kabupaten Madiun, Jumat (03/04/2026).

Dikatakan anak pertama pasangan pengusaha, Reza Angga Kusuma dan Anna Trisnawati, itu sejak jatuh dalam “pelukan kuda” diapun lantas bergegas mengoptimalkan hobinya dengan masuk sekolah berkuda WHC Nusantara. Di tempatnya berlatih itu dia dibimbing Yudho, sebagai horse training-nya.

Selama mengikuti ‘pendidikan’ berkuda dia mengeluarkan biaya sebesar Rp. 850 ribu per paket (5 kali latihan). Juga diwajibkan mengenakan perlengkapan yang sesuai, demi keamanan, seperti kostum (celana panjang dan atasan), sepatu khas joki, helm, kaos tangan, whip atau riding crop (cemeti) dan sarana lainnya. Berbagai kelengkapan tersebut dibeli seharga mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah.

Selama lebih dari dua bulan sejak bergabung sebagai siswa berkuda hingga saat ini, dia mengaku sudah melakukan latihan sebanyak 10 kali. Tidak mulus yang dia lakoni. Lantaran, dia mengaku pernah terjatuh dari pelana saat latihan pada minggu ke lima.

Meski tidak sampai mengalami cedera berarti, namun terjatuh dari ketinggian 170 cm dari punggung kuda diakuinya cukup membuatnya kaget dan kesakitan. Insiden itu, katanya, akibat kedua kakinya lepas dari stirrup (sanggurdi/penumpu/pijakan) disaat memacu kudanya.

Pengalaman pahit yang terbungkus manisnya semangat itu membuatnya semakin tertantang. Terlebih gadis bertinggi badan 167 cm dengan gestur atletis itu memiliki jiwa petualang. Sehingga, bak cowgirl, jatuhnya justru menjadi awal kebangkitannya. Dia pun makin segar dan penuh harapan.

“Pernah jatuh dari kuda. Itu pada latihan ke lima kalau tidak salah. Gara-garanya kedua kaki saya terlepas dari pijakan saat kuda berjalan. Tidak apa-apa karena saya punya jiwa petualang. Saya juga akrab dengan medan yang kotor,” tuturnya.

Yang paling sulit dalam mengikuti latihan menunggang kuda, menurutnya, adalah bab keseimbangan, integrated dan feel antara joki dengan kudanya. Namun jika sudah menyatu, sebutnya, maka perasaannya laksana terbang diantara warna warni pelangi yang indah.

Dijelaskannya, binatang kuda memiliki sifat yang sensitif. Hewan itu mengerti bagaimana perasaan rider. Karakter kuda, nilainya, mencerminkan apa yang dirasakan sang joki. Manakala sang joki merasa takut, maka kuda segera meresponnya dengan tingkah polah liar sulit dikendalikan.

Yang diperoleh, meski belum masuk kategori mahir berkuda, namun dia sudah mampu menunggang kuda secara mandiri. Meski begitu dia mengaku belum memiliki kecakapan berkuda dengan melintasi berbagai rintangan.

Dijelaskan Tasya, sebagai ‘mahkota’ bagi rider adalah jika telah mampu melewati rintangan secara mulus tanpa cacat. Rintangan berkuda itu antara lain show jumping, upright, oxer dan triple bar.

Dari awalnya sekedar hobi, Tasya becita-cita ke depan bisa menjadi seorang atlet berkuda putri, yang mewakili Indonesia pada kompetisi baik tingkat lokal, regional, nasional dan bahkan internasional.

Dia berkeinginan, pada suatu hari nanti bisa menyusul atlet berkuda putri Indonesia seperti Aisha Maydina Hakim, Ivana Putri Santosa dan Galis Kirina. Keinginan itu didasarkan pada pinginnya membanggakan kedua orang tuanya, juga nama baik bangsa dan negara.

“Saya tidak ingin melihat ke belakang terlalu lama. Karena yang di depan telah menungguku, untuk mengantar masuk ke salah satu dari seribu pintu penuh bintang-bintang,” slogan Tasya mengakhiri wawancara. (as)

Berita Terkait

Jelang Haji 2026, Kemenhaj Sidoarjo Tekankan Kesehatan Jamaah Risti dan Lansia
Polisi Turun ke Sawah, Polsek Prambon Cek Lahan Jagung Petani
Fun Lab Tour, Siswa SMPN 6 Rasakan Serunya Belajar Sains di SMK
Bekali Siswa Kelas XII, SMKN 2 Buduran Hadirkan Program Skill Paradise
Atap SDN 1 Sidokepung Ambruk, Bupati Subandi Tawarkan Dua Skema Perbaikan
Puncak HPN 2026 di Surabaya, Gus Irfan Raih PWI Jatim Award atas Transformasi Haji
Rakernas PERBAMIDA 2026 Dorong Peran BPR/BPRS Perkuat UMKM dan Ekonomi Nasional
Santri Al Amanah Krian Dapat Edukasi Safety Riding dari Polresta Sidoarjo

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 18:26 WIB

Jelang Haji 2026, Kemenhaj Sidoarjo Tekankan Kesehatan Jamaah Risti dan Lansia

Minggu, 19 April 2026 - 09:41 WIB

Polisi Turun ke Sawah, Polsek Prambon Cek Lahan Jagung Petani

Minggu, 19 April 2026 - 09:14 WIB

Fun Lab Tour, Siswa SMPN 6 Rasakan Serunya Belajar Sains di SMK

Minggu, 19 April 2026 - 08:58 WIB

Bekali Siswa Kelas XII, SMKN 2 Buduran Hadirkan Program Skill Paradise

Jumat, 17 April 2026 - 19:58 WIB

Puncak HPN 2026 di Surabaya, Gus Irfan Raih PWI Jatim Award atas Transformasi Haji

Berita Terbaru

DISKUSI IRAN: (dari kiri) Lely Puspitasari, Tofan Mahdi, dan Zezen Zaenal Mutaqien dalam Diskusi Publik di MN KAHMI, Sabtu (18/4).

Nasional

Pemerintah Indonesia Harus Berdiri di Sisi Iran

Minggu, 19 Apr 2026 - 16:42 WIB

Info Jatim

Polisi Turun ke Sawah, Polsek Prambon Cek Lahan Jagung Petani

Minggu, 19 Apr 2026 - 09:41 WIB

Info Jatim

Fun Lab Tour, Siswa SMPN 6 Rasakan Serunya Belajar Sains di SMK

Minggu, 19 Apr 2026 - 09:14 WIB