Wanita Itu Adalah Asiyah Binti Muzahim

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 3 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Asiyah istri penyabar memang cocok disematkan kepada Asiyah binti Muzahim. Dia adalah istri Fir’aun, penguasa zalim, yang menganggap dirinya Tuhan. Berkat kesabaran dan keimanan yang teguh ditengah kekejaman Fir’aun, Asiyah dijamin masuk surga oleh ALLOH SWT.

Asiyah binti Muzahim memiliki paras yang jelita dan budi pekerti yang baik. Karena parasnya yang jelita itulah, Fir’aun kepincut dan meminangnya dijadikan istrinya. Saking sayangnya Fir’aun kepada istrinya, dia menuruti keinginan istrinya, termasuk memelihara si bayi Musa (cikal bakal Nabi Musa AS).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kenapa Asiyah mau menikah dengan Fir’aun?

Asiyah mau menikah karena kedua orang tuanya ditangkap Fir’aun dan akan dibakar hidup-hidup didepannya.

Akhirnya Asiyah mau menikah dengan Fir’aun dengan syarat orang tuanya dibebaskan dan menolak untuk tidur bersama sang Fir’aun.

Asiyah selalu berdoa kepada ALLOH SWT agar selalu dijaga kehormatannya. Atas doa itu, ALLOH menciptakan jin serupa wajah Asiyah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan melayani Fir’aun di atas ranjang.

Asiyah adalah salah satu wanita terhebat sepanjang masa. Hal ini diakui oleh Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:” Banyak laki laki yang mencapai kesempurnaan, namun tak seorangpun wanita yang mencapai kesempurnaan, kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun…….” (HR. Bukhari)

Namun kebahagiaan Asiyah berubah menjadi penderitaan setelah Fir’aun menyatakan dirinya Tuhan dan menyuruh rakyat menyembahnya.

Asiyah tidak bisa menerima perbuatan Fir’aun, tidak mengakui Fir’aun sebagai Tuhan dan tidak mau menyembahnya. Asiyah tetap teguh dan bersabar menghadapi sifat buruk suaminya; Asiyah rela mengorbankan nyawa dalam menghadapi perlakuan zalim suaminya.

Asiyah yang menyaksikan mukjizat Nabi Musa, akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa.

Fir’aun tak terima istrinya memilih agama Nabi Musa, lalu dia menyiksa Asiyah. Kedua tangan dan kaki diikat pada empat tiang, dijemur di matahari. Fir’aun memerintahkan prajuritnya untuk melempari batu besar.

Dalam deritanya Asiyah berdoa,” Wahai TUHANKU, dirikanlah rumah untukku disisimu di dalam Surga.”

Doa Asiyah ini diabadikan oleh ALLOH SWT, dalam Al-Qur’an, surat At Tahrim ayat 11

Doa Asiyah dikabulkan ALLOH SWT, sebelum ajalnya ditimpa sebuah batu besar, nyawanya dicabut, sehingga ia tidak merasakan sakit. Meninggal dunia dalam keadaan tersenyum.

Berita Terkait

Berhala Ekonomi Makro dan Paradigma ‘Otomatis’ bagi Sektor Riil
Gubernur Jawa Timur yang Terpasung: Sebuah Refleksi Filosofis tentang Kekuasaan, Ketakutan, dan Pengkhianatan terhadap Atlet
Melampaui Kefanaan: Menyelami Samudera Fana’ul Fana’ sebagai Puncak Tauhid
Pajak, Keadilan Sosial, dan Kedaulatan Ekonomi: Membaca PP No. 20 Tahun 2026 di Tengah Pusaran Geoekonomi Global
Martabat Kedaulatan Yang Terluka: Perang Semesta Melawan Minimarket dan Filosofi Warung yang Tak Boleh Mati
Realitas Pahit di Balik Status Upper-Middle Income Indonesia
“Jangan Cari Perkara”: Rakyat Bisa Tiwikrama
Menakar Dosis Kemunafikan: Ketika Paru-Paru Bangsa Memiliki Kasta

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:46 WIB

Berhala Ekonomi Makro dan Paradigma ‘Otomatis’ bagi Sektor Riil

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:25 WIB

Gubernur Jawa Timur yang Terpasung: Sebuah Refleksi Filosofis tentang Kekuasaan, Ketakutan, dan Pengkhianatan terhadap Atlet

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:57 WIB

Melampaui Kefanaan: Menyelami Samudera Fana’ul Fana’ sebagai Puncak Tauhid

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:26 WIB

Pajak, Keadilan Sosial, dan Kedaulatan Ekonomi: Membaca PP No. 20 Tahun 2026 di Tengah Pusaran Geoekonomi Global

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:44 WIB

Martabat Kedaulatan Yang Terluka: Perang Semesta Melawan Minimarket dan Filosofi Warung yang Tak Boleh Mati

Berita Terbaru