Adab Belasungkawa/Berkabung (Takziah) dalam Islam

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 12 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Takziah adalah ungkapan belasungkawa yang diberikan kepada keluarga atau kerabat yang sedang berduka.

Dalam agama Islam, memberikan takziah memiliki adab dan tata krama yang perlu diperhatikan serta dapat dilakukan dengan baik dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut beberapa adab takziah yang sebaiknya dilakukan, yaitu:

1. Menunjukkan rasa belasungkawa.

Sampaikan ungkapan belasungkawa dengan tulus dan empati.

Frasa seperti ‘ Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un ‘ (Sesungguhnya kita milik ALLOH dan kepada-NYA lah kita kembali) adalah ungkapan yang baik untuk disampaikan.

2. Berkunjung.

Mengunjungi ke rumah duka adalah salah satu dukungan moral.

Usahakan mengunjungi dalam waktu yang wajar dan tidak menggangu proses berduka keluarga jenazah.

3. Hindari ucapan yang tidak pantas.

Hindari ucapan yang menyakiti perasaan keluarga yang berduka, seperti pernyataan yang meremehkan atau membandingkan dengan kehilangan sesuatu yang lain.

4. Mendoakan almarhum.

Ucapan doa agar ALLOH mengampuni dosa dosanya dan memberikan tempat disisi-NYA merupakan ucapan yang dianjurkan.

5. Dukungan

Jika memungkinkan, tawarkan bantuan praktis pada keluarga yang berduka, seperti membantu mengurus makanan atau keperluan sehari-hari. Ini sangat berarti bagi mereka yang sedang mengalami duka.

6. Jaga kebersihan dan kesopanan.

Tetap sopan, berpakaian rapi dan bersih adalah mencerminkan tanda penghormatan terhadap keluarga yang terkena musibah.

7. Tidak memaksakan diri.

Jika keluarga korban tidak ingin diganggu termasuk tidak menerima tamu, hormatilah keinginannya.

8. Tidak berlama lama.

Jangan berlama-lama, cukup sampaikan ucapan belasungkawa dan doa singkat namun bermakna.

Diperbolehkan bagi yang hadir (pelayat); untuk membuka wajah serta boleh menciumnya (sejenis).

Hadits Aisyah ra:” Nabi Saw pernah menemui Utsman bin Mazh’un yang saat itu telah meninggal dunia, lalu beliau membuka penutup wajah, membungkuk dan menciumnya. Kemudian beliau menangis hingga aku melihat air matanya menetes pada kedua pipinya.” (HR. Tirmidzi)

Berita Terkait

Dari ADA Menuju Fana’: Misteri Penciptaan dan Peleburan Keinginan dalam Cermin Ilahi
Nol Persen Presidential Threshold: Saatnya Politik Kembali Menjadi Milik Rakyat
Operasi Senyap di Balik Viral Nostalgia: Analisis Intelijen atas Kebangkitan Konten Demo Mahasiswa
Demokrasi yang Diperdagangkan: Ketika Pemilu Menjadi Pasar Suara Lima Tahunan
DARI SEPIRING NASI KE DEMOKRASI EKONOMI: Menakar Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis sebagai Proyek Ideologis Negara
Fitnah Jari Bisa Jadi Lebih Kejam
Paradoks di Atas Sajadah: Enam Pertanyaan yang Menelanjangi Ibadah Kita
GARIS KEBERUNTUNGANMU, MEWARISI KEBAIKAN PENDAHULUMU: Jalan Sunyi Gus Gudfan dan Wasiat Spiritual Kiai Ghofur dari Istana Negara yang Terlupakan

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 01:48 WIB

Dari ADA Menuju Fana’: Misteri Penciptaan dan Peleburan Keinginan dalam Cermin Ilahi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Nol Persen Presidential Threshold: Saatnya Politik Kembali Menjadi Milik Rakyat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:11 WIB

Operasi Senyap di Balik Viral Nostalgia: Analisis Intelijen atas Kebangkitan Konten Demo Mahasiswa

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Demokrasi yang Diperdagangkan: Ketika Pemilu Menjadi Pasar Suara Lima Tahunan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:58 WIB

DARI SEPIRING NASI KE DEMOKRASI EKONOMI: Menakar Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis sebagai Proyek Ideologis Negara

Berita Terbaru