JATIMRAYA.COM – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertemu dengan mantan anak buahnya yang pernah ia didik di Jakarta pada tahun 1996 silam.
Pertemuan itu terjadi ketika Prabowo Subianto menyalami satu-persatu para Prajurit TNI saat kunjungan kerja di Makodim 1710/Mimika Papua.
Dalam rangka penyerahan bantuan sepeda motor yang akan diberikan kepada para Prajurit TNI & Polri, Jumat, 10 November 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Komando 74! Mantan rekrutan Bapak Jenderal.” ucap Hengki M. Haluk kepada Prabowo Subianto.
“Ohya? Umur berapa waktu itu aku bawa sampe ke Jakarta?” tanya Prabowo Subianto.
Baca artikel lainnya, di sini: Prabowo Subianto Paparkan Program Unggulannya, Makan Siang dan Susu Gratis untuk Anak Indonesia
“Siap mohon izin 23 tahun.” jawab Hengki.
Baca Juga:
Anatomia Malu: Dari Arsitektur Kebudayaan ke Panggung Tipu-Menipu Politik
Demokrasi Tanpa Akal Sehat: Mengapa Kita Harus Muak?
Patroli Humanis, Polwan Polresta Sidoarjo Imbau Warga Waspadai Gangguan Kamtibmas
Terhitung sudah 27 tahun lamanya, Prabowo Subianto bertemu lagi dengan anak buahnya itu saat ia menjabat sebagai Komandan di Komando 74 kala itu.
“Waktu itu aku masih langsing ya. Ini dulu, waktu masih muda saya bawa ke Jakarta satu komando ya.” ungkap Prabowo Subianto bercerita di hadapan para awak media.
Baca artikel lainnya, di sini: Jasa Siaran Pers Solusi untuk Kebutuhan Publikasi Press Release Secara Serentak di Puluhan Media dan Setiap Hari
“Siap komando 74” jawab Hengki M. Haluk.
Baca Juga:
Forkopimka Gedangan Kompak Olahraga Bersama, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Sat Binmas Polresta Sidoarjo Beri Pembinaan Hukum kepada Siswa SMAN 3
“Dulu saya OK ya, saya baik ngga?” tanya Prabowo Subianto seraya berkelakar dan mengundang gelak tawa.
“Siap, baik Bapak Jenderal.” ujar Hengki M. Haluk.
“Ngga kejam kan?” tanya Prabowo Subianto lagi ke Hengki mantan anak buahnya itu.
“Siap tidak.” jawab Hengki.
“Pelatih kadang-kadang harus keras ya.” ucap Prabowo Subianto.
“Siap komandan” jawab Hengki.***
Baca Juga:
Pengusaha, Republik, dan Pertaruhan RUU KADIN
GMNI dan Politik Batu: Ketika Organisasi Intelektual Kehilangan Pikiran













