Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah, Tapi….

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Judul di atas adalah judul buku yang ditulis Anwar Hudijono, jurnalis senior, yang diterbitkan oleh UMMPress pada Januari 2025 alias masih gres bin kinyis-kinyis.

Bukan sekali ini saja Anwar menulis tentang Muhammadiyah. Sebelumnya dia menulis buku “Darah Guru Darah Muhammadiyah Perjalanan Hidup A Malik Fadjar” yang ditulis bersama Anshary Thayib, diterbitkan penerbit Kompas 2006 kemudian diterbitkan ulang oleh UMMPress.

Anwar yang wartawan Kompas 1984-2012 dan Pemimpin Redaksi Harian Surya 2003-2004 ini banyak menulis tentang Muhammadiyah. Sebagian artikelnya yang ditulis di pelbagai media massa dimasukkan dalam buku ini.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Buku ini memang kumpulan tulisannya, yang sudah dipublikasikan maupun yang belum. Anwar menyebut bukunya yang ke-8 ini merupakan karya jurnalistik.

Acap kali Muhammadiyah dalam situasi kritis, Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Hingga akhirnya organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan di era kolonialisme tahun 1912 ini bisa melenggang hingga sekarang.

Kini, konon, menjadi organisasi Islam terkaya di dunia. Memiliki anggota dan simpatisan sekitar 40 juta yang tersebar di seluruh Indonesia dan sejumlah negara. Umumnya kalangan kelas menengah educated. Memiliki resonansi yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Memiliki aset 172 perguruan tinggi, 5.345 sekolah/madrasah, 122 rumah sakit, 231 klinik, harta wakaf 20465 lokasi, tanah 214742677 meter persegi. Total aset sekitar Rp 400 trilyun.

Aset-aset itu untuk melayani masyarakat dari strata paling dhuafa sampai kelas atas tanpa membeda-bedakan agama, etnis, ras, gender dll. Didukung sistem manajemen modern.

KH AR Fakhruddin

Di antara kasih sayang Tuhan adalah memberi Muhammadiyah pemimpin yang pas sesuai dengan kebutuhan zaman. Pada zaman Orde Baru yang otoriter diktatorial, Tuhan memberi Muhammadiyah KH AR Fakhruddin, seorang pemimpin yang arif bijaksana.

Pak AR bisa nyurteni, ngemong Pak Harto. Dengan pola kepemimpinan Pak AR, Muhammadiyah selamat dari kooptasi kekuasaan, tapi juga tidak jadi musuh penguasa. Tetap eksis.

Tatkala masyarakat butuh pemimpin yang berani melawan kekuasaan yang sudah melampaui batas, Tuhan mentakdirkan Amien Rais untuk memimpin Muhammadiyah. Tak pelak Muhammadiyah menjadi lokomatif reformasi yang berujung lengsernya Presiden Soeharto.

Tatkala akal sehat nyaris lumpuh oleh bahana kebohongan. Tatkala idealisme nyaris tersingkirkan oleh pragmatisme. Tatkala karut marut politik nyaris mengoyak-koyak Muhammadiyah, lagi-lagi Tuhan mengulurkan tangan-Nya menolong Muhammadiyah dengan mentakdirkan Prof Haedar Nashir sebagai Ketua Umum.

Haedar bisa membiaskan cahaya Muhammadiyah di tengah-tengah kehidupan bangsa yang temaram. Di tengah badai politik melanda Muhammadiyah Haedar ibarat pohon ara di tegah prahara.

Tuhan mengulurkan sayang juga saat Muhammadiyah dilanda krisis, entah itu krisis faksional, krisis politik, krisis generasional.

Pada dekade 1980-an, Muhammadiyah dicekam konflik generasional yang nyaris merobek organisasi itu. Naamun semuanya berakhir dengan smooth dan elegan.

Anwar mengingatkan bahwa sayang Tuhan ini juga ujian dan tanggung jawab. Contohnya kekayaan yang besar. Nabi Muhammad dawuh ujian umatnya adalah harta. Kekayaan sebagai wujud sayang Tuhan harus dijaga amanahnya, di tengah-tengah gejala menipisnya keikhlasan, merebaknya pragmatisme dan transaksionalisme. (*)

Berita Terkait

Stabilitas Diatas Ambang Keraguan
Antara Parsel dan Harga Diri Bangsa
Drama Geopolitik Timur Tengah Kini dalam Sudut Pandang Al Quran
Menggapai Lailatul Qadar
Swasembada diatas Lahan yang Letih dan Tergusur
Prosedur, Kompromi, dan Matinya Nalar Kritis
Menghalau Hantu 1998 di Tengah Badai Siaga-1 dan Rp17.000
Ketika Piring Menggeser Aspal

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:35 WIB

Stabilitas Diatas Ambang Keraguan

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:25 WIB

Antara Parsel dan Harga Diri Bangsa

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:27 WIB

Drama Geopolitik Timur Tengah Kini dalam Sudut Pandang Al Quran

Jumat, 13 Maret 2026 - 03:27 WIB

Menggapai Lailatul Qadar

Kamis, 12 Maret 2026 - 15:40 WIB

Swasembada diatas Lahan yang Letih dan Tergusur

Berita Terbaru

Lifestyle

Stabilitas Diatas Ambang Keraguan

Minggu, 15 Mar 2026 - 12:35 WIB

Lifestyle

Antara Parsel dan Harga Diri Bangsa

Minggu, 15 Mar 2026 - 12:25 WIB