Kisah Seorang Ibu Yang Memasak Batu

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 8 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro
JATIMRAYA.COM – Suatu masa dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, negeri Arab sedang dilanda musim paceklik, hujan lama tidak turun, tanah kering kerontang, lahan pertanian mengering dan banyak ternak mati kehausan.

Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab melakukan kebiasaan rutinnya, yaitu berkeliling kota Madinah untuk memantau keadaan rakyatnya secara riil di lapangan. Umar pun selalu menyamar menjadi rakyat biasa, agar tidak dikenali oleh masyarakatnya, sehingga data/laporan yang diperolehnya betul betul akurat. Tujuannya adalah memastikan apakah kesejahteraan warganya sudah merata.

Suatu ketika Umar sampai di rumah yang sangat sederhana, didengarnya suara tangisan anak anak kecil. Ia pun mengintipnya dari balik pintu, dilihatnya seorang ibu sedang memasak sesuatu, sementara anak anaknya menangis karena lapar.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Umar mengetuk pintu, lalu bertanya kepada si Ibu, ” Wahai ibu, kenapa anak anakmu menangis?”

Sang ibu menjawab dengan sedih :” Mereka menangis karena lapar, wahai tuan. Aku sedang memasak batu batu ini hanya untuk menenangkan mereka, agar mereka berpikir bahwa makanan sedang ku masak. Namun sebenarnya aku sudah tidak memiliki apapun untuk dimasak.”

Ibu ini juga sempat mengutarakan kekesalannya untuk pemimpin masa itu:” Celakalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”

Umar pun terperanjat sekaligus tersentuh rasa harunya, ternyata ada warganya seorang janda yang betul betul miskin.

Hati Khalifah Umar terasa amat pilu. Ia ingin menangis mendengar penuturan si Ibu. Ia bergegas mengajak Aslam (pengawalnya) balik ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Khalifah Umar mengambil sekarung gandum, ia memanggulnya menuju ke rumah si Ibu.

Di tengah perjalanan, Aslam berkata:” Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memanggul gandum itu.”

” Tidak Aslam,” Kata Umar, ” Jangan jerumuskan aku ke dalam Neraka. Engkau ingin menggantikanku memikul beban ini. Tapi kamu tidak bisa memikul tanggungjawab ini kelak di akhirat.”

Sesampai di rumah si Ibu, Umar pun menyerahkan sekarung gandum itu. Si Ibu terkejut, ” Siapa tuan sebenarnya?”

Khalifah Umar tersenyum,” Aku lah Umar bin Khattab. Aku adalah hamba ALLOH yang diamanahkan untuk mengurus keperluan rakyat. Maafkan aku karena telah mengabaikan ibu.”

Berita Terkait

Akar yang Menghidupkan: Santri dan Ikhtiar Menjaga Keutuhan Negeri dan Peradaban
Kedaulatan Ekonomi di Bawah Bayang-Bayang Indeks
Dua Tahun Kekuasaan dan Hak Rakyat Menagih
Dua Tahun Prabowo -Gibran: Fatamorgana Gagasan di Lorong Gelap Birokrasi
MSCI, Pasar Saham dan Kebijakan Ekonomi Presiden Prabowo
Karhutla, Krisis Spiritual, dan Amanah Kekhalifahan: Ketika Hutan Dibakar atas Nama Kemajuan
Pisau Kebenaran dan Bungkus Moral Kekuasaan
Menyikapi Anatomi Operasional Shadow State

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Akar yang Menghidupkan: Santri dan Ikhtiar Menjaga Keutuhan Negeri dan Peradaban

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Kedaulatan Ekonomi di Bawah Bayang-Bayang Indeks

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:31 WIB

Dua Tahun Kekuasaan dan Hak Rakyat Menagih

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Dua Tahun Prabowo -Gibran: Fatamorgana Gagasan di Lorong Gelap Birokrasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:02 WIB

MSCI, Pasar Saham dan Kebijakan Ekonomi Presiden Prabowo

Berita Terbaru

Lifestyle

Kedaulatan Ekonomi di Bawah Bayang-Bayang Indeks

Kamis, 22 Okt 2026 - 18:45 WIB

Lifestyle

Dua Tahun Kekuasaan dan Hak Rakyat Menagih

Kamis, 22 Okt 2026 - 18:31 WIB

Lifestyle

MSCI, Pasar Saham dan Kebijakan Ekonomi Presiden Prabowo

Kamis, 22 Okt 2026 - 15:02 WIB