Menang Tanpa Mengalahkan: Tasawuf Jawa, Lelaku, Tirakat, dan Mistika Kemenangan dalam Kebudayaan Jawa

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 15 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Tri Prakoso, S.H., M.HP. (Peneliti Yayasan Satria Merah Jambu)

Di Tengah Riuh Dunia yang Retak

JATIMRAYA.COM – Tidak pernah dalam sejarah peradaban, manusia memiliki begitu banyak informasi, namun begitu miskin kebijaksanaan. Tidak pernah pula manusia begitu mudah terhubung satu sama lain, namun merasa begitu kesepian secara spiritual. Kita hidup di zaman paradoks: teknologi berkembang melampaui imajinasi para leluhur, tetapi konflik sosial, polarisasi politik, perang geopolitik, krisis ekologis, dan krisis makna justru kian meruncing. Peradaban modern, dengan segala kemilaunya, sedang berjalan dalam sebuah ironi yang sunyi: ia semakin pandai menaklukkan dunia luar, namun semakin gagap saat berhadapan dengan dunia dalamnya sendiri.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah dunia yang kian gemar bertarung dan memuja kemenangan inilah, kebudayaan Jawa menawarkan sebuah paradigma yang tampak paradoksal: kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kalimat ini bukan sekadar pitutur etis atau nasihat sopan santun agar manusia tidak sombong selepas menang. Ia adalah rumusan kebudayaan yang lahir dari pergulatan panjang manusia Jawa dalam membaca diri, alam, masyarakat, kekuasaan, dan Tuhan. Di dalamnya terkandung lapis-lapis antropologi, mistik, tasawuf, filsafat politik, dan kritik peradaban yang mendalam.

Dalam bahasa Jawa yang lebih akrab, ajaran ini berdekatan dengan ungkapan: menang tanpo ngasorake—menang tanpa merendahkan. Namun, bila ditarik ke dasar spiritualnya, ungkapan itu dapat dibaca secara lebih radikal: kemenangan sejati tidak membutuhkan kekalahan pihak lain. Seseorang yang masih memerlukan kekalahan orang lain untuk merasa menang, sesungguhnya belumlah menang. Ia masih diperbudak oleh ego, gengsi, dendam, dan nafsu penguasaan. Di sinilah letak kebijaksanaan Jawa: ia tidak memandang kehidupan semata-mata sebagai gelanggang pertarungan eksternal, melainkan sebagai medan laku batin.

Antropologi Harmoni: Kehidupan sebagai Jaring Relasi

Untuk memahami mengapa budaya Jawa menempatkan harmoni sebagai poros kehidupan, kita perlu menyelami cara pandang masyarakatnya terhadap realitas. Clifford Geertz, dalam pembacaan klasiknya The Religion of Java, menunjukkan bahwa kehidupan orang Jawa tak bisa dilepaskan dari pencarian keseimbangan antara dunia lahir dan batin, antara tata sosial dan tata kosmis. Meskipun kategorisasi Geertz tentang abangan, santri, dan priyayi kemudian banyak dikritik, pengamatannya mengenai pentingnya harmoni sebagai nilai sentral tetap relevan.

Bagi masyarakat Jawa, kehidupan bukanlah sekadar kumpulan individu yang berdiri sendiri. Kehidupan adalah jaring relasi yang menghubungkan manusia dengan keluarga, leluhur, masyarakat, alam, dan Tuhan. Setiap tindakan, kata, dan keputusan membawa dampak terhadap keseimbangan sosial. Konflik terbuka sering dihindari bukan karena rasa takut berhadapan dengan kenyataan, melainkan karena konflik yang meledak tanpa kendali dianggap dapat merusak tatanan. Orang yang kasar tidak otomatis dianggap berani. Orang yang meledak-ledak tidak otomatis dianggap jujur. Orang yang selalu ingin menang tidak otomatis dianggap kuat. Justru ia dapat dianggap belum matang secara batin.

Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama etika Jawa adalah menjaga kerukunan (rukun) dan penghormatan (hormat). Dua prinsip ini bukan sekadar sopan santun feodal, melainkan fondasi bagi keteraturan sosial. Sementara Niels Mulder melihat kebudayaan Jawa sebagai sistem pencarian keselarasan batin. Dalam perspektifnya, manusia Jawa selalu berusaha menemukan titik keseimbangan antara tuntutan dunia luar dan ketenteraman dunia dalam. Di sinilah muncul berbagai ungkapan yang sangat terkenal: menang tanpo ngasorake, wani ngalah luhur wekasane, ajining diri saka lathi, hingga nglurug tanpa bala. Ungkapan-ungkapan tersebut bukan sekadar nasihat moral, melainkan mekanisme budaya untuk mencegah dominasi ego atas kehidupan sosial.

Lelaku dan Tirakat: Teknologi Spiritual Pengendalian Diri

Dalam tradisi Jawa, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman spiritual. Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV mengajarkan sebuah prinsip yang sangat mendalam: ngelmu iku kalakone kanthi laku—ilmu sejati itu tercapai melalui laku. Dalam pandangan ini, ilmu bukanlah sekadar informasi, gelar, atau kecakapan teknis. Ilmu sejati adalah pengetahuan yang mengubah diri. Pengetahuan yang tidak menjernihkan hati belumlah menjadi ngelmu. Pengetahuan yang tidak mengendalikan ego belumlah menjadi kebijaksanaan.

Lelaku adalah perjalanan batin. Tirakat adalah disiplin menahan diri. Keduanya bukan sekadar ritual kuno, melainkan apa yang dapat disebut sebagai “teknologi spiritual” untuk menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri. Bentuknya bisa beragam: puasa mutih, puasa ngrowot, tapa bisu, semedi, kungkum, ziarah leluhur, hingga pengendalian hawa nafsu dalam keseharian. Dalam tirakat, manusia belajar mengurangi, bukan menambah. Ia menahan makan, menahan bicara, menahan tidur, menahan marah, menahan keinginan untuk selalu dianggap benar. Di situlah manusia diuji: apakah ia benar-benar berkuasa atas dirinya, atau hanya menjadi budak dari dorongan batinnya sendiri.

Secara antropologis, praktik-praktik tersebut berfungsi sebagai ritual transformasi. Arnold van Gennep menyebut proses semacam ini sebagai rite of passage, yaitu proses peralihan dari satu kondisi eksistensial menuju kondisi yang lebih tinggi. Dalam konteks Jawa, lelaku bertujuan menundukkan ego. Musuh utama bukanlah orang lain. Musuh utama adalah kesombongan, kemarahan, keserakahan, ketakutan, dan hasrat untuk berkuasa. Maka, “menang tanpa mengalahkan” bukanlah ajaran kelemahan. Ia adalah ilmu tingkat tinggi. Sebab, mengalahkan orang lain acap kali jauh lebih mudah dibanding mengalahkan kesombongan di dalam diri sendiri.

Dewa Ruci: Menyelami Samudera Kesadaran

Jika Wedhatama memberi landasan etis-spiritual, maka kisah Dewa Ruci menghadirkan gambaran mistik yang amat kuat dan menjadi inti dari ajaran spiritual Jawa. Dalam kisah ini, Bima—sosok ksatria Pandawa yang gagah, kuat, dan lurus hati—diperintahkan oleh gurunya untuk mencari air kehidupan, Tirta Pawitra. Pencarian itu membawanya menembus hutan, gunung, bahaya, dan samudera. Pada akhirnya, ia berjumpa dengan Dewa Ruci, sosok mungil bercahaya yang memintanya masuk ke dalam tubuhnya.

Secara rasional, hal ini mustahil. Bagaimana mungkin Bima yang bertubuh besar masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang kecil? Namun, justru di sanalah inti makna mistiknya. Setelah Bima masuk, ia menemukan jagat yang maha luas, samudera tak bertepi, dan cahaya kesadaran yang melampaui ukuran fisik.

Kisah Dewa Ruci adalah alegori perjalanan spiritual manusia. Bima mewakili manusia yang kuat secara lahir, tetapi masih harus mencari kesejatian batin. Ia telah memiliki tenaga, keberanian, dan kemampuan bertarung, namun semua itu belum cukup. Kekuatan lahir mesti disempurnakan oleh pengetahuan batin. Dewa Ruci menunjukkan bahwa alam semesta yang dicari manusia di luar, sesungguhnya juga berdiam di dalam dirinya. Orang yang terus-menerus mencari kemenangan di luar akan terus merasa lelah. Ia akan mengejar musuh demi musuh, prestasi demi prestasi, kuasa demi kuasa. Namun, begitu ia berani menyelami samudera batinnya sendiri, ia akan menyadari bahwa seluruh pertarungan luar hanyalah bayang-bayang dari kegelisahan di dalam.

Bima menjadi agung bukan lantaran ia mengalahkan musuh-musuhnya, tetapi karena ia berani masuk ke kedalaman dirinya sendiri. Dalam bahasa tasawuf, perjalanan Bima adalah perjalanan dari nafsu menuju makrifat; dari kekuatan jasmani menuju kesadaran ruhani; dari “aku yang ingin menang” menuju “aku yang larut dalam kehendak Gusti”.

Suluk dan Pencarian Cahaya Sejati

Kedalaman spiritual ini juga bergema dalam berbagai suluk—puisi mistik Jawa—seperti Suluk Sukarsa dan Suluk Malang Sumirang. Suluk Sukarsa menggambarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan spiritual melalui proses penyucian jiwa yang panjang. Sementara Suluk Malang Sumirang mengajarkan bahwa pencarian Tuhan tidak dapat dicapai melalui pengetahuan intelektual semata. Kedua teks tersebut menegaskan bahwa hakikat spiritualitas Jawa bukanlah pencarian kesaktian, melainkan kejernihan batin. Manusia diajak melepaskan keterikatan terhadap dunia luar agar dapat menemukan “cahaya sejati” di dalam dirinya. Konsep ini memiliki kedekatan yang kuat dengan tradisi tasawuf klasik, di mana perjalanan seorang salik menuju Tuhan sering digambarkan sebagai perjalanan dari kegelapan nafsu menuju cahaya makrifat.

Manunggaling Kawula-Gusti: Penyelarasan, Bukan Penghapusan

Konsep puncak dalam mistika Jawa adalah Manunggaling Kawula-Gusti. Konsep ini acap kali disalahpahami secara dangkal sebagai penyatuan ontologis antara manusia dan Tuhan dalam arti literal yang problematis. Padahal, Mark Woodward menjelaskan bahwa dalam pembacaan yang lebih hati-hati, konsep ini merujuk pada penyelarasan kesadaran manusia dengan kehendak Ilahi. Kawula adalah hamba. Gusti adalah Tuhan. Manunggaling Kawula-Gusti bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan manusia sampai pada keadaan batin ketika egonya luluh, kehendaknya dibersihkan, dan hidupnya berjalan selaras dengan tuntunan Ilahi.

Dalam tradisi tasawuf, konsep ini sangat dekat dengan fana (luruhnya ego di hadapan Tuhan), baqa (hidup kembali dalam kesadaran Ilahi), ihsan (beribadah seakan-akan melihat Tuhan), dan makrifat (pengetahuan batin yang mendalam). Ketika ego manusia luluh, yang tersisa adalah kesadaran bahwa seluruh kehidupan merupakan manifestasi kehendak Tuhan. Pada tahap ini, manusia tidak lagi mengejar kemenangan duniawi. Ia mengejar keselarasan. Ia menjadi saluran welas asih, penjaga keseimbangan, dan tak lagi memandang orang lain sebagai ancaman terhadap eksistensinya.

Dialog dengan Tasawuf Klasik: Cermin dari Para Wali

Pandangan ini menemukan gaungnya yang kuat dalam khazanah tasawuf klasik. Dalam kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’ karya Syekh Ahmad Dhiyauddin Al-Kamasykhanawi, para wali digambarkan sebagai manusia yang berhasil mengalahkan hawa nafsunya. Kesucian mereka tidak lahir dari kekuatan eksternal, melainkan dari kemenangan atas diri sendiri. Demikian pula dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani, para sufi awal digambarkan sebagai manusia yang menaklukkan ego sebelum menaklukkan dunia. Mereka memahami bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kekuatan eksternal, melainkan nafsu yang bersembunyi di dalam hati. Pandangan ini sangat dekat dengan filosofi Jawa tentang lelaku dan tirakat.

Geografi Mistik: Gunung Lawu sebagai Mandala Transformasi

Dalam kosmologi Jawa, gunung bukan sekadar bentang alam. Gunung adalah poros kosmis, axis mundi, tempat manusia mendekati langit, meninggalkan keramaian dataran, dan berhadapan dengan kesunyian yang telanjang. Gunung Lawu menempati posisi yang sangat istimewa. Ia terkait erat dengan jejak akhir Majapahit, Prabu Brawijaya, Sabdo Palon, dan pelbagai narasi peralihan zaman. Secara antropologis, Lawu berfungsi sebagai lanskap sakral tempat manusia Jawa membaca perubahan zaman melalui bahasa simbolik.

Mendaki Lawu bukan sekadar menanjak ke ketinggian. Ia adalah metafora meninggalkan dunia bawah: pasar, kekuasaan, percakapan, persaingan, dan kegaduhan. Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin sedikit yang bisa ia bawa. Tubuh dipaksa untuk sederhana. Napas menjadi pendek. Langkah berubah hati-hati. Kesombongan diuji oleh kabut, dingin, gelap, dan sunyi. Gunung mengajarkan bahwa manusia itu kecil. Di puncak, ambisi manusia sering kali menjadi tak berarti. Yang tersisa hanyalah diam, langit, angin, dan rasa takjub.

Kawasan Lawu juga menjadi rumah bagi Candi Sukuh dan Candi Cetho, dua situs yang berbeda dari candi-candi Jawa Tengah lainnya. Bentuknya menyerupai punden berundak dengan simbolisme yang menampilkan tema kelahiran, kematian, kesuburan, dan penyatuan manusia dengan alam. Dalam perspektif antropologi religius, kawasan ini dapat dibaca sebagai mandala, ruang simbolik tempat manusia menjalani proses transformasi kesadaran. Karena itu, banyak pelaku spiritual Jawa melakukan tirakat di Lawu. Gunung tersebut dipandang sebagai sekolah kesunyian.

Sabdo Palon dan Memori Spiritual Peradaban

Dalam kajian mistik Jawa, figur Sabdo Palon dan Naya Genggong tidak dapat dipahami semata sebagai tokoh historis. Keduanya lebih tepat dibaca sebagai simbol kebudayaan yang menyimpan memori kolektif masyarakat Jawa mengenai transisi peradaban. Sabdo Palon sering digambarkan sebagai pamomong spiritual Majapahit. Namun dalam perspektif antropologi simbolik, ia adalah representasi dari “roh kebudayaan Jawa” yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hadir sebagai simbol kontinuitas. Ketika kekuasaan berubah, agama berubah, sistem politik berubah, Sabdo Palon melambangkan sesuatu yang tetap hidup di bawah permukaan sejarah: kesadaran spiritual Nusantara. Berbagai narasi tentang “kembalinya Sabdo Palon” adalah kerinduan masyarakat terhadap kembalinya etika spiritual dalam kehidupan publik. Ia adalah arketipe, suara batin peradaban itu sendiri.

Tubuh sebagai Kosmos: Sedulur Papat Lima Pancer

Salah satu konsep paling mendalam dalam spiritualitas Jawa adalah Sedulur Papat Lima Pancer. Secara lahiriah, konsep ini merujuk pada empat saudara yang lahir bersama manusia: kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah), dan puser (tali pusar), dengan manusia sebagai pancer (pusatnya). Namun, dalam pembacaan simbolik yang lebih dalam, konsep ini menunjukkan bahwa manusia merupakan pusat dari berbagai energi kehidupan. Sedulur Papat dapat dibaca sebagai representasi dari dimensi-dimensi diri: nafsu, emosi, insting, dan kesadaran, sementara pancer adalah pusat kesadaran sejati yang mengintegrasikan semuanya. Dalam perspektif tasawuf, ini memiliki kemiripan dengan tangga-tangga nafsu: nafs al-ammarah, al-lawwamah, al-mulhamah, hingga al-muthmainnah. Perjalanan spiritual Jawa bukanlah upaya mematikan unsur-unsur diri, melainkan menyelaraskannya.

Kekuasaan yang Berbudi: Wahyu Keprabon dan Jalan Raja-Pertapa

Dalam tradisi politik Jawa, kekuasaan tidak semata-mata diperoleh melalui kekuatan militer atau garis keturunan. Kekuasaan harus memperoleh legitimasi kosmis. Legitimasi tersebut disebut wahyu keprabon. Wahyu keprabon bukan sekadar mandat politik, melainkan simbol bahwa seorang pemimpin telah mencapai keselarasan tertentu dengan tatanan semesta. Seorang raja ideal tidak hanya kuat, tetapi juga harus bijaksana, adil, mampu mengendalikan diri, dekat dengan rakyat, dan dekat dengan Tuhan. Figur Panembahan Senopati memperlihatkan sintesis ini. Kisah semedinya di Laut Selatan bukan hanya legenda, melainkan simbol bahwa kekuasaan dipahami sebagai hasil dialog antara manusia dan kosmos. Ia menjadi model raja-pertapa: memerintah dunia luar setelah terlebih dahulu menata dunia dalamnya.

Serat Centhini: Ensiklopedia Spiritual Kehidupan

Jika Dewa Ruci adalah kitab perjalanan mistik dan Wedhatama adalah kitab etika spiritual, maka Serat Centhini adalah ensiklopedia peradaban Jawa itu sendiri. Di dalamnya bertemu agama, filsafat, kebudayaan, seksualitas, seni, kuliner, pengobatan, laku spiritual, dan kosmologi. Serat Centhini memperlihatkan bahwa orang Jawa tidak memisahkan kehidupan duniawi dan spiritual secara dikotomis. Makan, perjalanan, pertemuan, bahkan pengalaman cinta dan penderitaan, semuanya dapat menjadi jalan spiritual. Ini menunjukkan karakter unik mistika Jawa: ia bukan mistik pelarian, melainkan mistik keterlibatan.

Para Sufi dan Resonansi Abadi

Di tingkat yang lebih tinggi, kita dapat mendengar gaung antara mistika Jawa dan para sufi besar dunia. Ibn Arabi berbicara tentang Wahdat al-Wujud, bahwa seluruh eksistensi adalah manifestasi dari Realitas Tunggal, yang memiliki resonansi kuat dengan gagasan Manunggaling Kawula-Gusti. Al-Ghazali menekankan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, bahwa sumber utama kerusakan adalah hawa nafsu yang tidak terkendali—pandangan yang hampir identik dengan tujuan tirakat. Jalaluddin Rumi melihat cinta sebagai jalan pulang menuju Tuhan, sangat dekat dengan semangat Serat Centhini. Sementara itu, Syekh Siti Jenar, terlepas dari kontroversinya, melambangkan keberanian untuk mencari Tuhan dalam kedalaman diri dan tidak lagi memisahkan-Nya dari kehidupan sehari-hari.

Pada puncaknya, dalam tasawuf dikenal istilah fana-ul-fana: lenyapnya ego dalam kesadaran Ilahi, dan bahkan melampaui kesadaran itu sendiri. Orang yang mencapai kedalaman ini tidak lagi merasa dirinya suci, wali, atau sakti. Ia justru semakin sederhana, semakin halus, dan semakin tidak terlihat. Inilah sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Krisis Modernitas dan Jalan Pulang

Dunia hari ini mengalami apa yang oleh Max Weber disebut sebagai disenchantment of the world, hilangnya dimensi sakral dari kehidupan. Kita mengalami krisis multidimensi: ekologis, politik, identitas, dan terutama krisis makna. Manusia modern memiliki kawruh (pengetahuan) yang melimpah, tetapi sedikit ngelmu (kebijaksanaan yang telah menjadi laku). Teknologi kian maju, tetapi batin manusia tertinggal di belakang. Di tengah situasi inilah, spiritualitas Jawa, yang selama ini dianggap sebagai artefak masa lalu, justru menemukan relevansi barunya yang paling mendesak.

Ajaran “menang tanpa mengalahkan” mengingatkan bahwa akar krisis bukanlah di luar, melainkan di dalam diri manusia. Keserakahan, kesombongan, dan hasrat mendominasi adalah sumber masalah. Selama manusia tidak mampu menguasai dirinya sendiri, kemajuan teknologi hanya akan memperbesar dampak destruktif dari nafsunya. Tirakat yang ditawarkan bukanlah penolakan terhadap modernitas, melainkan sebuah etika pengendalian: menahan pasar agar tidak memangsa kehidupan, menahan negara agar tidak menjelma mesin dominasi, dan menahan diri dari kerakusan teknologi.

Epilog: Menaklukkan Diri, Menyelamatkan Peradaban

Jika seluruh tradisi mistik Jawa diringkas ke dalam satu pesan, maka pesan itu adalah: “Manusia harus pulang kepada dirinya sendiri.”

Dewa Ruci mengajarkan perjalanan ke dalam samudera batin. Wedhatama mengajarkan laku dan ngelmu. Wulangreh mengajarkan adab sebagai pagar batin. Centhini mengajarkan keluasan pengalaman hidup sebagai jalan spiritual. Sabdo Palon mengajarkan memori spiritual peradaban yang tak pernah mati. Gunung Lawu mengajarkan kesunyian. Para wali dalam Hilyatul Auliya’ mengajarkan penaklukan ego. Semuanya bermuara pada satu tujuan abadi: menundukkan ego, menaklukkan diri sendiri.

Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia tidak kekurangan ahli strategi. Dunia tidak kekurangan pemimpin yang berhasrat untuk menang. Yang langka—dan yang paling kita butuhkan—adalah manusia yang mampu menang tanpa menghancurkan, berkuasa tanpa menindas, dan benar tanpa merendahkan.

Puncak kemenangan bukanlah ketika musuh berlutut di hadapan kita. Puncak kemenangan adalah ketika ego kita sendiri tunduk di hadapan kebijaksanaan. Itulah kemenangan yang paling sunyi, namun paling agung: kemenangan yang tidak meninggalkan puing, tidak meninggalkan dendam, dan tidak meninggalkan luka sejarah. Kemenangan yang, pada akhirnya, menyelamatkan kehidupan.

Orang Jawa telah lama mewariskan pesan ini, lirih namun dalam. Kini, di tengah riuh peradaban global yang kian retak oleh ambisi, mungkin inilah waktunya bagi dunia untuk berhenti sejenak, menepi, dan mendengarkan. Sebab, orang yang telah menang atas dirinya sendiri tak lagi membutuhkan kekalahan orang lain. Ia telah menemukan samudera kesadaran yang menghubungkan manusia, alam, dan Gusti dalam satu harmoni kosmis yang utuh.

Berita Terkait

Malam 1 Suro dan Jalan Pulang Orang Jawa: Tentang Sunyi, Pusaka, Leluhur, dan Kesadaran Batin sebagai Waktu Ruwat Bangsa
Mahasiswa, Pabrik yang Putus, dan Kegagalan Berpikir Struktural
Ketika Pertamax Naik, Pertalite Menjadi Arena Politik
Dibalik Angka TKA: Pendidikan Yang Melupakan Manusia 
Ratapan Kelas Menengah
Regulasi Yang Gagap: Mengkritisi Kewajiban Unggah Laporan Tahunan Perseroan dan Perlindungan Rahasia Usaha 
Fatuleu: Batu Keramat, Ingatan Leluhur, dan Sunyi Spiritual Tanah Timor
Ironi Dokter On Call: Membaca Ulang Ancaman Pidana bagi Dokter dari Perspektif Socio-Legal

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 09:01 WIB

Malam 1 Suro dan Jalan Pulang Orang Jawa: Tentang Sunyi, Pusaka, Leluhur, dan Kesadaran Batin sebagai Waktu Ruwat Bangsa

Senin, 15 Juni 2026 - 08:45 WIB

Mahasiswa, Pabrik yang Putus, dan Kegagalan Berpikir Struktural

Senin, 15 Juni 2026 - 08:32 WIB

Ketika Pertamax Naik, Pertalite Menjadi Arena Politik

Senin, 15 Juni 2026 - 08:05 WIB

Dibalik Angka TKA: Pendidikan Yang Melupakan Manusia 

Senin, 15 Juni 2026 - 07:33 WIB

Menang Tanpa Mengalahkan: Tasawuf Jawa, Lelaku, Tirakat, dan Mistika Kemenangan dalam Kebudayaan Jawa

Berita Terbaru

Lifestyle

Ketika Pertamax Naik, Pertalite Menjadi Arena Politik

Senin, 15 Jun 2026 - 08:32 WIB

Lifestyle

Dibalik Angka TKA: Pendidikan Yang Melupakan Manusia 

Senin, 15 Jun 2026 - 08:05 WIB