Mengenal Keluarga Nabi Muhammad SAW

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 28 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Rumah tangga Nabawi yang dibangun oleh Nabi Saw di Madinah, adalah sebelum hijrah.

Nabi Saw menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah sendiri berumur 40 tahun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Saw. Selama membina rumah tangga dengan Khadijah, beliau tidak menikah dengan wanita lain.

Dari pernikahan dengan Khadijah ini, lahirlah putra dan putri Nabi Saw. Sayangnya tak seorangpun dari putra beliau yang hidup, mereka meninggal di usia dini.

Adapun putri putri Nabi Saw yang lahir dari rahim Khadijah adalah: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fatimah.

Zainab adalah putri sulung Nabi Saw dinikahi anak bibinya, yaitu: Abu Al-Ash bin Rabi’ yang berbeda agama sebelum Islam turun. Pada awalnya pernikahan mereka bahagia.

Saat Rasulullah Saw dan umat Muslim hijrah ke Madinah, Zainab tetap tinggal di Mekkah karena suaminya menolak Islam.

Dalam perjalanan hijrah menyusul Rasulullah Saw, dan berpisah dengan suaminya; Zainab ditengah jalan dihadang oleh kaum kafir Quraisy. Akibat insiden itu, Zainab terjatuh dari untanya dan mengalami pendarahan yang berakibat luka yang serius dan keguguran.

Setelah 6 tahun berpisah, Abu al-Ash akhirnya menyusul ke Madinah, mereka bersatu menjalani kehidupan rumah tangga dalam agama yang sama, Islam.

Tak lama setelah bersatu, Zainab meninggal dunia akibat luka luka yang dideritanya sejak insiden saat hijrah.

Adik adik Zainab, yakni Ruqayyah dan Ummu Kulsum.

Keduanya menikah dengan putra Abu Lahab, tetapi kemudian bercerai karena permusuhan keluarga mereka terhadap Islam.

Ruqayyah adalah putri kedua Nabi Saw, setelah Ruqayyah bercerai dengan Utbah bin Abu Lahab, ia dinikahi oleh Utsman bin Affan. Ia meninggal dunia di usia 22 tahun di Madinah, bertepatan dengan hari terjadinya perang Badar.

Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama, Abdullah. Namun kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, Abdullah meninggal dunia saat masih kecil, karena sakit.

Ruqayyah kemudian jatuh sakit karena kesedihan yang mendalam, dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 2 Hijriah, bertepatan dengan berakhirnya perang Badar.

Setelah Ruqayyah wafat, Utsman kemudian menikahi Ummu Kulsum, sehingga Utsman dijuluki Dzur Nurain (Pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah Saw.

Enam tahun berlalu, ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kulsum kembali ke hadapan Rabb-nya pada tahun kesembilan setelah Hijriyah, tanpa meninggalkan seorangpun keturunan bagi suaminya.

Putri bungsu Rasulullah Saw, yakni Fatimah. Amat dicintai oleh Nabi Saw. Ia lahir sekitar lima tahun sebelum kenabian.

Fatimah dikenal sebagai sosok yang mulia, memiliki akhlak terpuji dan menjadi sosok wanita karena kesabaran dan kesetiaannya.

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib dan menjadi ibu dari cucu cucu Nabi Muhammad Saw, yakni : Hasan, Husein. Serta dua putri lainnya Zainab dan Ummu Kulsum.

Keturunan dari garis Fatimah yang menjadi satu-satunya yang bertahan hingga sekarang.

Fatimah wafat sekitar enam bulan setelah wafatnya Nabi Saw, pada usia 29 tahun.

Banyak pujian untuk putri kesayangan Nabi Saw ini, dibeberapa hadits Bukhari dan Muslim; kita menemukan Nabi Saw bersabda:” Fatimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku.”

Berita Terkait

Adu Domba: Racun dalam Bungkus Manajemen Konflik
KUWALAT DI PELATARAN TAMBAKBERAS: Membaca Tanggung Jawab Kosmis Rais Aam dan Muktamirin
Ketika Arkana III Bertemu Arkana 0: Rekonstruksi Takdir Gus Gudfan di Tengah Kegelapan Muktamar
Ketika Langit Nusantara Bergetar: Membaca Aksara Semesta di Ambang 27 Agustus 2026
Mutilasi Kemasan Konstitusional
Menembus Kefanaan Eksistensial: Suluk Sunyi, Ilusi Kesalehan, dan Rahasia Kebermanfaatan Diri dalam Cermin Para Kekasih Tuhan
Menjelang Muktamar: Bencana, Syahwat Kekuasaan, dan Kebutaan Spiritual Kita
Perang Hibrida dan Kerentanan Indonesia: Ancaman dari Wilayah Abu-Abu

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:42 WIB

KUWALAT DI PELATARAN TAMBAKBERAS: Membaca Tanggung Jawab Kosmis Rais Aam dan Muktamirin

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:21 WIB

Ketika Arkana III Bertemu Arkana 0: Rekonstruksi Takdir Gus Gudfan di Tengah Kegelapan Muktamar

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:04 WIB

Ketika Langit Nusantara Bergetar: Membaca Aksara Semesta di Ambang 27 Agustus 2026

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:28 WIB

Mutilasi Kemasan Konstitusional

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Menembus Kefanaan Eksistensial: Suluk Sunyi, Ilusi Kesalehan, dan Rahasia Kebermanfaatan Diri dalam Cermin Para Kekasih Tuhan

Berita Terbaru