Menembus Kefanaan Eksistensial: Suluk Sunyi, Ilusi Kesalehan, dan Rahasia Kebermanfaatan Diri dalam Cermin Para Kekasih Tuhan

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 25 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

JATIMRAYA.COM – DI tengah deru zaman yang bergerak cepat dan riuh, manusia modern kerap terjebak dalam panggung pertunjukan sosial yang melelahkan. Kita hidup di era di mana segala hal dituntut untuk tampil, diukur, dan diberi label. Kesalehan tidak lagi senyap; ia kerap dipamerkan dalam kemasan pencitraan yang rapi. Kebajikan tidak lagi mengalir seperti mata air di tengah belantara, melainkan dihitung sebagai komoditas reputasi. Dalam riuhnya panggung keberagamaan dan kemanusiaan seperti inilah, sebuah untaian syair sederhana datang menghujam jantung kesadaran kita:

”Benarkah perbuatanmu sudah berguna bagi agamamu? Sedang dirimu masih belum mampu menegakkan kebiasaan yang baik bagi agamamu. Benarkah perbuatanmu sudah berguna bagi sesamamu? Sedang rasa peduli yang ada dalam dirimu masih belum tersampaikan terhadap sesamamu. Dan sebaik-baiknya perbuatan yang berguna adalah perbuatan yang berguna bagi agama dan sesama. Sedang sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang beriman dan berakhlakul karimah.”

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bait-bait di atas bukan sekadar petuah moralistik yang dangkal, melainkan sebuah cermin spiritual yang dirancang untuk meretakkan ilusi kesalehan palsu. Ia bukan teguran dari seorang hakim yang merasa lebih suci, melainkan sebuah undangan mistikal untuk memasuki lorong kesadaran batin yang paling dalam. Ketika kita membaca bait demi baitnya dengan jiwa yang sunyi, terasa ada mata pisau yang secara halus menyingkap topeng-topeng ego kita, menelanjangi kepalsuan dari klaim-klaim kebermanfaatan yang selama ini kita banggakan.

Mendedah Topeng Ego dan Narsisme Spiritual

Mengapa manusia begitu mudah merasa telah berbuat banyak bagi agamanya dan berguna bagi sesamanya, padahal dalam kenyataannya, habitus kebaikan belum menetap dalam dirinya dan rasa pedulinya belum pernah sungguh-sungguh menyentuh jiwa orang lain?

Dalam tradisi ilmu jiwa dan kedalaman spiritual, manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk melakukan pembenaran diri. Ego manusia senantiasa mencari cara agar terlihat agung, baik di hadapan orang lain maupun di hadapan dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan satu atau dua kebaikan kecil, ego dengan cepat mengambil alih perbuatan tersebut dan mengklaimnya sebagai mahkota keberhasilan. Inilah yang dalam disiplin psikoanalisis dikenal sebagai mekanika narsisme sekunder, di mana manusia jatuh cinta pada gambaran ideal tentang dirinya sendiri.

Ego membangun sebuah fantasi bahwa dirinya adalah hamba yang saleh, pahlawan agama, atau dermawan yang penuh kasih. Namun, syair ini hadir merubuhkan bangunan fantasi tersebut. Syair ini bertanya dengan sangat teliti: bagaimana mungkin engkau mengklaim telah memberi manfaat bagi agamamu, jika disiplin kebaikan yang paling mendasar pun belum mengakar dalam ketidaksadaranmu? Bagaimana mungkin engkau merasa telah berguna bagi sesama, jika empati yang engkau agungkan itu berhenti hanya sebagai wacana, kalimat manis, atau luapan emosi sesaat yang tak pernah benar-benar sampai dalam bentuk pengorbanan yang nyata?

Dalam kacamata tasawuf, jebakan ini dinamakan ujub atau kekaguman pada diri sendiri, yang berpadu halus dengan riya khofi, yaitu sifat pamer yang sangat tersembunyi. Ujub dan riya khofi adalah racun mematikan bagi perjalanan ruhani. Ia bekerja seperti rayap yang memakan kayu bangunan amal tanpa terdengar suaranya. Seseorang bisa saja merasa tengah berjuang membela agama atau mengabdi pada kemanusiaan, padahal secara tidak sadar, ia hanya sedang memberi makan bagi keangkuhan egonya. Agama dan sesama manusia hanya dijadikan panggung tempat egonya menari dan menuntut tepuk tangan.

Peziarahan Jiwa dalam Kitab-Kitab Klasik

Untuk memahami betapa dalamnya teguran syair ini, kita perlu menyelami samudra pemikiran para wali dan arif billah yang telah memetakan seluk-beluk jiwa manusia sejak abad-abad silam.

Dalam mahakarya Jami’ul Ushul fil Auliya’ yang disusun oleh Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dipaparkan bahwa peziarahan seorang pencari Tuhan selalu bermula dari tiga pilar utama: kejujuran niat, kemurnian batin, dan ketetapan langkah yang berkesinambungan atau istiqamah. Al-Kamasykhanawi menegaskan bahwa amal kebajikan yang dilakukan secara instan dan berubah-ubah adalah tanda nyata bahwa amal tersebut masih dikendalikan oleh hawa nafsu. Seseorang yang belum mampu menegakkan kebiasaan baik dalam kehidupannya sehari-hari sejatinya belum menyentuh maqam istiqamah. Istiqamah bukanlah sekadar melakukan ibadah berulang-ulang secara mekanis, melainkan sebuah kondisi jiwa di mana kebaikan telah menjadi karakter bawaan yang mengalir alami tanpa memerlukan paksaan.

Ketika syair bertanya tentang kebermanfaatan, Jami’ul Ushul fil Auliya’ memberikan jawaban bahwa kebermanfaatan itu memiliki tingkatan. Ada kebermanfaatan orang awam, yaitu perbuatan baik yang masih terikat oleh harapan akan pahala, pujian, atau rasa nyaman dalam dada. Namun, ada kebermanfaatan tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh para khawas, orang-orang khusus. Kebermanfaatan tingkat tinggi ini tidak memancar dari ego manusia, melainkan mengalir secara mutlak karena terbenamnya sang hamba dalam sifat-sifat Allah. Seseorang tidak akan pernah bisa memberikan manfaat yang sejati bagi sesamanya selama hatinya belum dipenuhi oleh kasih sayang universal, sebuah kondisi batin di mana ia memandang seluruh makhluk dengan rasa iba dan cinta tanpa sekat-sekat kepentingan.

Perspektif ini diperkaya secara sangat indah jika kita membaca kitab monumental Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani. Kitab ini merekam jejak-jejak kehidupan para sufi purba dan sahabat Nabi yang hidup dalam kerendahan hati yang ekstrem. Para tokoh yang dikisahkan dalam Hilyatul Auliya’ adalah manusia-manusia yang justru selalu gemetar ketakutan setiap kali usai berbuat kebaikan. Mereka tidak pernah merasa perbuatan mereka telah berguna bagi agama atau sesama. Sebaliknya, mereka selalu menangis di kegelapan malam, merasa bahwa amal mereka masih penuh dengan cela dan belum layak diterima di hadapan Keagungan Ilahi.

Dalam Hilyatul Auliya’, diriwayatkan bagaimana Sufyan Al-Thawri, seorang ulama dan sufi agung, menyatakan bahwa meluruskan niat adalah perjuangan paling berat sepanjang hidupnya karena niat itu senantiasa berbolak-balik. Para kekasih Allah dalam kitab tersebut memandang bahwa rasa peduli yang sejati terhadap sesama bukan sekadar simpati lisan, melainkan pengorbanan jiwa secara totalitas. Mereka rela lapar agar orang lain kenyang, mereka rela menderita agar orang lain bahagia. Bagi mereka, rasa peduli yang tidak tersampaikan adalah bukti ketidakjujuran batin. Rasa peduli yang berhenti di batas bibir adalah bentuk pengkhianatan terhadap makna kasih sayang itu sendiri.

Lebih jauh lagi, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab rahasia Sirr al-Asrar menuntun kita untuk melihat fenomena ini dari kedalaman struktur alam kesadaran manusia. Syekh Abdul Qadir membagi alam eksistensi manusia ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari alam jasad atau material, alam batin atau malakut, hingga alam rahasia ruhani yang paling murni. Menurut beliau, setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh jasad di alam fisik tidak akan memiliki nilai spiritual sejati jika tidak dihidupkan oleh cahaya ruh yang berasal dari alam kedalaman.

Ketika seseorang belum mampu menegakkan kebiasaan baik, itu berarti jasadnya masih terbelenggu oleh kegelapan syahwat alam material. Ia beragama baru sebatas kulit luar, yaitu rutinitas fiqih yang kering dari kehidupan batin. Dan ketika rasa pedulinya belum tersampaikan, itu tandanya saluran rahasia dalam hatinya masih tersumbat oleh debu-debu kecintaan pada duniawi. Dalam pandangan Sirr al-Asrar, amal lahiriah dan rasa peduli sosial adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan; keduanya merupakan pengejawantahan dari cahaya ruh yang telah berhasil membebaskan diri dari penjara nafsu rendah.

Rahasia Kebajikan dan Tatanan Moral Spiritualitas

Memasuki bait ketiga dan keempat, syair ini membawa kita pada puncak pemaknaan tentang hakikat perbuatan dan hakikat kemanusiaan:

“Dan sebaik-baiknya perbuatan yang berguna adalah perbuatan yang berguna bagi agama dan sesama. Sedang sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang beriman dan berakhlakul karimah.”

Di sinilah letak keindahan sintesis tasawuf. Tasawuf sering kali dituduh secara keliru sebagai ajaran yang menjauhkan manusia dari realitas sosial, sebuah jalan asketis yang egois karena hanya mengejar keselamatan individu di ruang kesunyian. Namun, bait syair ini membantah prasangka tersebut secara tegas. Sebaik-baiknya perbuatan adalah perbuatan yang menyatukan dimensi vertikal dan dimensi horizontal.

Agama tanpa pelayanan kepada sesama manusia akan menjadi dogma yang kaku, dingin, dan berpotensi melahirkan keangkuhan teologis. Orang yang merasa membela agama tetapi hatinya keras, kasar, dan tumpul terhadap penderitaan sesamanya sejatinya sedang menyembah egonya sendiri yang mengenakan topeng agama. Sebaliknya, pelayanan kepada sesama tanpa ditautkan pada kesadaran iman akan kehilangan jangkar transendentalnya; ia rentan berubah menjadi humanisme sekuler yang hampa cahaya spiritual dan gampang goyah ketika dihadapkan pada kekecewaan sosial.

Integrasi antara dimensi agama dan sesama ini menemukan bentuk sempurnanya dalam frasa beriman dan berakhlakul karimah. Iman dalam kedalaman tradisi mistik bukan sekadar pengakuan dogmatis di dalam otak atau hafalan atas rumusan doktrin. Iman adalah penyingkapan batin, sebuah penyaksian langsung di mana hati seorang hamba mampu melihat kehadiran Cahaya Ilahi dalam setiap jengkal realitas. Iman adalah fondasi ontologis yang membuat jiwa manusia menjadi kokoh tak tergoyahkan.

Sementara itu, akhlakul karimah adalah manifestasi atau pancaran dari iman tersebut ke alam nyata. Akhlakul karimah bukanlah sekadar etika sopan santun borjuis atau kebiasaan basa-basi sosial. Dalam kacamata Sirr al-Asrar dan Jami’ul Ushul fil Auliya’, akhlakul karimah adalah penjelmaan sifat-sifat Tuhan dalam perilaku manusia. Ketika seorang manusia bersikap dermawan tanpa mengharapkan balasan, ia sedang menjadi cermin bagi sifat Allah Yang Maha Pemurah. Ketika ia memaafkan kesalahan orang lain dengan dada yang lapang, ia sedang memantulkan sifat Allah Yang Maha Pengampun. Ketika ia mengasihi mereka yang lemah dan terpinggirkan, ia menjadi saluran bagi rahmat Allah yang meliputi semesta alam.

Oleh karena itu, kesempurnaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa panjang gelar keagamaannya, seberapa riuh klaim-klaim kebermanfaatannya, atau seberapa banyak pengikutnya di panggung dunia. Kesempurnaan manusia diukur dari sejauh mana iman yang tersembunyi di dalam rahasia hatinya mampu berubah menjadi akhlak terpuji yang dirasakan manfaatnya oleh setiap makhluk yang berada di sekitarnya.

Puncak Kesadaran Mistik: Menyelami Fana’ ul Fana’

Namun, bagaimana mungkin seorang manusia dapat mencapai derajat di mana ia mampu menegakkan kebiasaan baik secara konsisten dan menyampaikan rasa pedulinya secara murni tanpa sedikit pun terkontaminasi oleh keangkuhan ego?

Jawabannya terletak pada doktrin tertinggi dalam tradisi mistik tasawuf, yaitu pencapaian maqam fana’ dan fana’ ul fana’.

Secara bahasa, fana’ berarti lebur, hancur, atau lenyap. Dalam terminologi para sufi, fana’ adalah sebuah kondisi kesadaran di mana seorang hamba kehilangan kesadaran akan keberadaan dirinya sendiri karena tenggelam dalam keagungan dan keindahan Tuhan. Ketika seseorang mengalami fana’, seluruh keinginan pribadi, kepentingan ego, dan kesadaran akan “akunya” mendadak lenyap terbakar oleh Cahaya Ilahi.

Untuk memahami fenomena ini secara runtut, para arif billah membagi tingkatan kefanaan ke dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah kefanaan dari maksiat, di mana keinginan untuk berbuat jahat lenyap dari dalam jiwa. Tahap kedua adalah kefanaan perbuatan, di mana seseorang tidak lagi melihat bahwa dirinya adalah pelaku dari kebajikan. Ketika ia bersedekah, beribadah, atau menolong sesama, hatinya menyaksikan dengan sangat jernih bahwa Allah-lah yang menggerakkan tubuhnya, Allah-lah yang memberikan rezeki, dan Allah-lah yang menuntun hatinya. Keinginan untuk merasa bangga atas amalnya seketika runtuh karena ia sadar bahwa ia sama sekali tidak memiliki daya apa pun. Tahap ketiga adalah kefanaan sifat, di mana seseorang melihat bahwa seluruh sifat kebaikan yang ada dalam dirinya—seperti kasih sayang, ilmu, kekuatan, dan kedermawanan—sebenarnya bukan miliknya, melainkan milik Allah yang dipinjamkan sementara kepadanya.

Namun, peziarahan spiritual belum berhenti di situ. Di atas fana’ masih ada satu puncak kesadaran yang sangat halus dan rahasia, yaitu fana’ ul fana’, atau kefanaan dari kefanaan itu sendiri.

Apakah yang dimaksud dengan fana’ ul fana’? Pada tingkat fana’ biasa, seseorang mungkin telah lebur dari egonya, namun dalam sudut batinnya yang paling dalam, masih ada sedikit sisa kesadaran yang berbisik: “Aku sedang mengalami kefanaan,” atau “Aku telah menyatu dengan Tuhan.” Bisikan halus ini, menurut para penganjur tasawuf murni seperti Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, adalah wujud terselubung dari sisa-sisa ego. Selama masih ada kesadaran akan “aku yang fana'”, maka kefanaan tersebut belum sempurna.

Fana’ ul fana’ terjadi ketika kesadaran akan kefanaan itu sendiri ikut lenyap secara total. Sang hamba tidak lagi sadar bahwa ia sedang fana’. Ia tidak lagi memikirkan status spiritualnya, tidak lagi peduli apakah ia berada di maqam tinggi atau rendah, tidak lagi memikirkan apakah dirinya masuk surga atau neraka. Seluruh alam kesadarannya telah disapu bersih, sehingga yang ada dan tersisa hanyalah Kesadaran Mutlak tentang Kehadiran Tuhan.

Mari kita hubungkan doktrin fana’ ul fana’ ini dengan syair yang sedang kita kaji. Orang yang mengklaim bahwa perbuatannya telah berguna bagi agama dan sesama berada dalam tingkat kegelapan ego yang paling bawah. Ia sepenuhnya terikat oleh ilusi tentang kehebatan dirinya. Orang yang mulai menyadari kelemahannya, yang merasa bersalah karena belum mampu menegakkan kebiasaan baik dan belum bisa menyampaikan rasa pedulinya, berada pada tahap awal pembersihan jiwa. Ia sedang berusaha melakukan pemeriksaan batin dan meniti jalan kefanaan sifat.

Namun, manusia yang telah mencapai fana’ ul fana’ hidup dalam dimensi kesadaran yang sama sekali berbeda. Ketika ia melangkah di muka bumi, ia tidak pernah membawa klaim bahwa dirinya adalah orang berguna. Ia tidak lagi disibukkan oleh keinginan untuk dianggap sebagai pahlawan agama atau dermawan sosial. Namun, uniknya, dari dalam wujud manusia seperti inilah kebaikan dan kebermanfaatan mengalir deras tanpa henti.

Mengapa demikian? Karena dalam kondisi fana’ ul fana’, kebiasaan baik yang ia tegakkan tidak lagi digerakkan oleh niat egonya yang rapuh, melainkan digerakkan langsung oleh Kekuasaan Ilahi. Ia dipulihkan kembali ke dunia dalam kondisi yang disebut para sufi sebagai baqa’ bi Allah, yaitu kekal bersama Tuhan.

Dalam kondisi baqa’, seorang manusia berjalan di tengah pasar, bekerja di kantor, melayani masyarakat, dan membela agama, namun hatinya tidak pernah terlepas dari Tuhan sekejap pun. Tangannya menolong orang miskin, tetapi ia tidak merasa sedang menolong. Matanya memandang sesama dengan penuh kasih, tetapi ia tahu bahwa kasih itu adalah Rahmat Ilahi yang sedang memancar melalui dirinya. Ia menjadi saluran sunyi dari kasih sayang Tuhan bagi alam semesta.

Ia memenuhi indikator yang pernah disabdakan dalam sebuah Hadits Qudsi yang amat masyhur: ketika Tuhan telah mencintai hamba-Nya yang melebur dalam pengabdian murni, maka Tuhan menjadi pendengaran yang dengannya hamba itu mendengar, menjadi penglihatan yang dengannya ia melihat, menjadi tangan yang dengannya ia melangkah dan berbuat.

Transformasi Sunyi di Tengah Kehidupan Modern

Merenungi syair ini melalui kacamata tasawuf klasik dan kesadaran mistik bukanlah sebuah latihan intelektual belaka untuk mengisi ruang wacana. Ia adalah panggilan untuk melakukan transformasi sunyi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di tengah dunia modern yang serba bising, di mana orang-orang berebut panggung untuk membuktikan siapa yang paling berguna, siapa yang paling benar, dan siapa yang paling berhak mewakili agama, perspektif sufistik ini memberi kita jalan keluar yang menyelamatkan. Ia mengajak kita untuk berani mundur sejenak dari keriuhan tersebut, mematikan lampu-lampu panggung pencitraan, dan masuk ke dalam kamar sunyi jiwa kita sendiri.

Di dalam kamar sunyi itu, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri dengan penuh kejujuran: untuk siapakah selama ini kita berbuat? Ketika kita membela agama, apakah kita benar-benar sedang mengagungkan Nama Tuhan, ataukah kita hanya sedang melampiaskan kemarahan dan memuaskan keangkuhan kelompok kita? Ketika kita membantu orang lain, apakah kita benar-benar peduli pada penderitaan mereka, ataukah kita hanya sedang membeli rasa nyaman untuk ketenangan rasa bersalah kita sendiri?

Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu jujur, kita mungkin akan mendapati bahwa sebagian besar dari apa yang kita anggap sebagai kebajikan selama ini masih berbau busuk oleh kotoran ego dan narsisme kita. Namun, kesadaran akan keburukan diri ini bukanlah untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk melahirkan kerendahan hati yang murni. Kerendahan hati inilah tanah subur tempat tumbuhnya benih-benih iman yang sejati.

Dari kerendahan hati itu, kita mulai belajar menegakkan kebiasaan baik bukan agar dipuji orang, melainkan sebagai wujud rasa syukur atas nafas yang masih diberikan. Kita mulai belajar menyampaikan rasa peduli kita kepada sesama secara senyap, tanpa perlu membuat pengumuman di media sosial, tanpa perlu mengharapkan ucapan terima kasih, dan tanpa perlu merasa bahwa kita telah menjadi penolong bagi hidup mereka.

Kita menolong sesama sederhana karena kita melihat Cahaya Tuhan dalam diri mereka. Kita mencintai sesama karena kita sadar bahwa mencintai makhluk adalah satu-satunya cara nyata untuk membuktikan cinta kita kepada Sang Pencipta.

Penutup: Menjadi Kebajikan Itu Sendiri

Pada akhirnya, peziarahan spiritual ini menuntun kita pada satu kesimpulan yang amat indah dan menenangkan. Manusia terbaik bukanlah manusia yang berhasil mengumpulkan daftar panjang tentang kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan. Manusia terbaik—mereka yang beriman dan berakhlakul karimah—adalah mereka yang telah selesai dengan egonya sendiri.

Mereka telah lebur dalam kefanaan yang sempurna, sehingga ketika orang lain melihat mereka, orang lain tidak lagi melihat sosok manusia yang angkuh dan merasa paling berguna, melainkan melihat pantulan Kasih Sayang, Kedamaian, dan Keagungan Tuhan yang tak terbatas. Mereka menjadi kebajikan itu sendiri; sebuah kehadiran yang menyejukkan, sebuah keheningan yang menyembuhkan, dan sebuah kebermanfaatan murni yang mengalir tanpa suara, dari Keabadian menuju Keabadian.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Berita Terkait

Menjelang Muktamar: Bencana, Syahwat Kekuasaan, dan Kebutaan Spiritual Kita
Perang Hibrida dan Kerentanan Indonesia: Ancaman dari Wilayah Abu-Abu
Epistemicide di Fakultas Hukum: Melenyapkan Warisan Profesor Djokosoetono, Mematikan Nurani Konstitusionalisme
Ketika Keadilan Hanya Fatamorgana
Langgam Angka dan Derita Realita: Ketika Data Menjadi Panggung Ilusi
Nahdlatut Tujjar Abad Kedua: Kadin Jatim, Gus Gudfan, dan Kebangkitan Ekonomi Pesantren
SOWAN KE HATI, BUKAN KE TAKHTA: Mistikus Pembebasan, Marhaenisme, dan Demokrasi Tanpa Kekerasan di Persimpangan Muktamar NU
Kiai, Saudagar, dan Sufi: Trilogi Kepemimpinan Abad Kedua Nahdlatul Ulama

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Menembus Kefanaan Eksistensial: Suluk Sunyi, Ilusi Kesalehan, dan Rahasia Kebermanfaatan Diri dalam Cermin Para Kekasih Tuhan

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Menjelang Muktamar: Bencana, Syahwat Kekuasaan, dan Kebutaan Spiritual Kita

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:16 WIB

Perang Hibrida dan Kerentanan Indonesia: Ancaman dari Wilayah Abu-Abu

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:14 WIB

Epistemicide di Fakultas Hukum: Melenyapkan Warisan Profesor Djokosoetono, Mematikan Nurani Konstitusionalisme

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:39 WIB

Ketika Keadilan Hanya Fatamorgana

Berita Terbaru