Sebuah Esai untuk Negeri Haus
Oleh: Hadipras
JATIMRAYA.COM – Di sudut-sudut kota yang molek, gedung-gedung pencakar langit berdiri pongah—memantulkan silau matahari seolah-olah merekalah mahkota peradaban. Namun, tepat di bawah ketiak betonnya, jari-jari mungil anak balita mengais sisa makanan dari selokan yang menghitam, sementara para lelaki tua duduk mematung di rel kereta, mengeja nasib yang tak kunjung berpihak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini bukan lagi angka-angka dingin dalam laporan Badan Pusat Statistik yang biasa dibacakan pejabat berjas rapi di ruang ber-AC. Ini adalah duka yang berdaging, bernapas, dan menyengat hidung kita setiap pagi saat melintas menuju ruang kerja yang nyaman.
Saat secangkir kopi hangat menyapa bibir, sebersit tanya memukul benak: ke mana berlayarnya keadilan? Mengapa welas asih dan cinta kasih terasa layu, terserak di balik tembok-tembok tebal kepongahan dan kerakusan? Di negeri di mana harta segelintir orang sanggup membeli setengah daratan, jutaan jiwa justru bertaruh nyawa hanya untuk menawar kenaikan harga beras satu kilogram. Apakah keadilan kini resmi menjadi barang gaib—sebuah fatamorgana yang dipajang di etalase utopia?
Mari kita jujur tanpa perlu bersolek kata: ketimpangan yang kita hirup hari ini bukanlah “cacat produksi” atau ketidaksengajaan sistem. Ia adalah fitur yang sengaja didesain. Logika peradaban hari ini mendewakan penumpukan. Kita dituntun untuk percaya bahwa kelas sosial diukur dari seberapa rakus kita menumpuk harta, bukan seberapa bijak kita berbagi rasa. Hukum dan kebijakan publik? Ah, mereka kerap hadir bak obat penenang murahan yang diberikan setelah luka menganga, bukan vaksin yang mencegah pembusukan.
Kepongahan telah berganti busana menjadi kebanggaan. Kita terkagum-kagum pada deretan taipan dan pebisnis elit tanpa pernah sudi bertanya: berapa ribu buruh yang upahnya dikebiri demi menambah digit rekening mereka? Berapa hektar tanah adat yang disulap jadi resor pribadi? Di tengah pesta pora itu, suara rakyat jelata hanyalah bisikan lalat di tengah badai. Bagi para perencana negeri, mereka cuma titik-titik kurva dan sampel statistik dalam folder presentasi, bukan manusia dengan air mata dan mimpi.
Memang, di layar kaca kita tak lagi melihat sosok seperti Bunda Teresa yang merayap di lorong-lorong kusam menuntun jiwa yang sekarat. Tapi bukan berarti nurani telah punah disapu jaman. “Bunda Teresa” hari ini menyamar menjadi guru honorer di pelosok yang merogoh saku tipisnya demi selembar kertas gambar muridnya. Mereka menjelma sebagai ibu warung tegal yang diam-diam melipat harga bagi kakek tua tanpa heboh mengunggahnya ke TikTok.
Mengapa mereka tak kelihatan? Sebab algoritma media sosial tidak jualan ketenangan; mereka berdagang kegaduhan. Ketulusan sunyi tak menghasilkan angka clickbait, sedangkan pamer kemewahan penguasa dan skandal korupsi adalah komoditas segar yang laris manis. Pahlawan hari ini memilih senyap, bekerja tanpa panggung, dipacu oleh satu hal: hati nurani yang menolak membeku.
Mengejar keadilan sempurna sebagai “tujuan akhir” memang bisa membuat kita gila. Jika kita menunggu bumi bersih dari kemiskinan sebelum mau bergerak, kita akan mati berdiri menunggu matahari padam. Namun, keadilan bukanlah garis finis; ia adalah tapak kaki yang kita tinggalkan di sepanjang jalan.
Jangan sibuk menantikan “efek bola salju” atau merindukan sosok pahlawan super sakti penolong negeri. Bola salju raksasa selalu bermula dari sebutir kristal es kecil yang berani jatuh ke tanah dan menolak mencair.
Bila kita tak sanggup merombak undang-undang atau mengubah tata kelola ekonomi nasional, mulailah dalam radius lima meter dari tubuh kita. Ubah cara kita menyapa dan menghargai asisten rumah tangga. Pastikan tak ada rekan kerja di sudut kantor yang menahan lapar karena dompetnya mengempis.
Pada akhirnya, ini adalah soal pilihan tempat berdiri. Kita bisa memilih menjadi bagian dari tembok kepongahan yang memisahkan manusia, atau memilih menjadi sumur di kaki gunung—sederhana, rendah hati, namun mengalirkan kesegaran bagi siapa saja yang haus akan rasa kemanusiaan. Jangan bunuh rasa gelisah dan amarah melihat ketidakadilan itu. Sebab, selama dada kita masih terasa nyeri melihat sesama terinjak, itulah tanda bahwa kita belum sepenuhnya berubah menjadi batu.
Keadilan tidak pernah mati karena dibunuh oleh para penindas; ia hanya sering pingsan karena mereka yang baik memilih diam dan merasa nyaman.











