JATIMRAYA.COM – Proses tender pembangunan gedung RSUD Sedati senilai Rp47,5 miliar kini masuk tahap evaluasi administrasi, kualifikasi, teknis, dan harga. Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pemkab Sidoarjo belum menetapkan pemenang meski tender sudah berjalan sekitar satu bulan.
Tender ini sempat jadi sorotan karena syarat surat dukungan gas medik dinilai mempersempit persaingan. Seorang kontraktor nasional mengaku mundur karena menilai syarat itu terlihat sederhana tapi bisa menentukan peluang peserta lain.
“Persyaratannya tampak mudah, tapi justru bisa jadi faktor penentu dalam persaingan tender,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota Komisi C DPRD Sidoarjo H. Emir Firdaus meminta Kepala Bagian PBJ Wahyu Herison Made lebih teliti, profesional, dan selektif dalam menentukan pemenang. Ia mengingatkan agar kejadian tahun lalu tidak terulang, ketika kontraktor pemenang gagal menyelesaikan proyek hingga kontrak diputus di tengah jalan.
“Panitia harus benar-benar cermat saat evaluasi. Jangan sampai proyek mangkrak lagi,” tegas Emir.
Politisi PAN itu menekankan seluruh tahapan harus sesuai Perpres Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Harga terendah, kata dia, tidak otomatis jadi dasar penetapan pemenang. Semua proses harus transparan dan sesuai aturan agar tidak merugikan pengadaan.
Data LPSE menunjukkan tender awalnya diikuti 90 perusahaan konstruksi dari Sidoarjo, Surabaya, Semarang, Bekasi, hingga Jakarta. Hanya 11 perusahaan yang lolos hingga tahap penawaran harga.
Penawaran terendah datang dari PT Chiko Karya Pratama Semarang sebesar Rp37,652 miliar. Disusul PT Sultan Sukses Mandiri Jakarta Rp39,900 miliar dan PT Lestari Asi Sejahtera Bekasi Rp40,002 miliar.
Peserta lain, termasuk PT Yang Andalan Utama milik H. Imam Sugiri dari Tulangan Sidoarjo, mengajukan harga di atas Rp41 miliar. PT Permata Anugerah Yalasamudra Surabaya juga masuk dengan penawaran Rp41,355 miliar.
Proyek RSUD Sedati dianggap strategis untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah Sidoarjo timur, sehingga proses evaluasinya kini mendapat perhatian publik. (Rin)













