JATIMRAYA.COM – Korea Utara (Korut) membantah keterlibatannya dalam pencurian uang kripto serta mengecam keras Washington yang menuduh negara tersebut terlibat dalam peretasan uang digital bernilai miliaran dolar melalui Binance, salah satu platform bursa (exchange) aset kripto terbesar di dunia.
Melansir Antara, kantor berita resmi Pyongyang, KCNA, melaporkan pada hari Selasa (3/11/2026) jika Kim Yo Jong-adik Pemimpin Korut Kim Jong Un- menyebut tuduhan itu sebagai upaya provokasi politik yang serius.
“Pernyataan AS itu hanyalah retorika konyol dan bukan hal baru,” ujar Kim Yo Jong dalam sebuah pernyataan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
ia juga menambahkan bahwa Washington kerap menuding Korea Utara sebagai dalang di balik peretasan siber internasional berskala besar tanpa menyertakan bukti yang sah sembari menyebut jika tahun lalu tuduhan yang sama juga dialami Korut yang melibatkan bursa Bybit.
Dalam pernyataannya Kim Yo Jong mengisyaratkan bahwa Washington mungkin akan diuntungkan jika kripto yang dicuri dipulihkan, mengingat AS berencana membuka cadangan strategis untuk mata uang digital tersebut.
Sebagai informasi, pada hari Sabtu (31/10/2026) pekan lalu, FBI resmi merilis pengumuman yang menyatakan bahwa Korea Utara berada dibalik pencurian lebih dari US$6 miliar dalam bentuk mata uang kripto yang terjadi pada Kamis (29/10/2026), mengutip KBS World Indonesia.
Dalam laporannya, media tersebut menulis bahwa FBI mengidentifikasi peretas sebagai bagian dari kelompok hacker bernama TraderTraitor yang diduga memiliki keterkaitan dengan Pyongyang.
Baca Juga:
Kafe Milik Ayah Jimin BTS di Busan Bakal Tutup, Pengumuman Sisa Waktu 365 Hari
Indonesia-Swiss Jalin Kerja Sama Sovereign AI, Nongsa Digital Park Jadi Pusat Pengembangan
Biro investigasi itu bahkan mengkonfirmasi kalau para pelaku tengah mengonversi sebagian besar kripto menjadi Ethereum, sebuah platform blockchain terdesentralisasi untuk membuat smart contracts dan aplikasi terdesentralisasi (dApps), dan diperkirakan pencucian uang selanjutnya akan dilakukan lewat platform DeFi.
Pihak Binance sendiri mengonfirmasi bahwa insiden ini diawali dari penyusupan pada laptop milik salah satu insinyur mereka. Dampaknya, kripto senilai US$6,3 miliar berhasil ditarik tanpa izin, yang tercatat sebagai kasus peretasan tunggal terbesar di industri ini. (RM)













