CV Surabaya Bintang Sejahtera Jadi Distributor Kedua Terbaik Skala Nasional Setelah Bali

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 3 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andy Setiawan didampingi Wahyu Kuncoro ketika berikan keterangan terkait jalankan bisnis roti di Sidoarjo dan Madura.

Andy Setiawan didampingi Wahyu Kuncoro ketika berikan keterangan terkait jalankan bisnis roti di Sidoarjo dan Madura.

JATIMRAYA.COM – Memasuki usianya yang ke-51 tahun, Andy Setiawan berhasil membuktikkan bahwa keluar dari zona nyaman atau comfort zone itu mengasyikkan. Andy berhasil mematahkan persepsi populer  bahwa keluar zona nyaman itu membahayakan.

Namun, tidak baginya. Dia benar-benar menjadi pengusaha sukses sekarang. Padahal, dia dulu hanya seorang wartawan. Andy, sapaan akrabnya tidak memikirkan akan menjadi pengusaha besar seperti sekarang.

Dia lahir di Surabaya sekalipun keluarga besarnya asli Madura. Menjadi wartawan adalah impiannya. Namun, hidupnya berubah setelah bertemu dengan Bob Sadino, pengusaha sukses yang karyanya  menjadi motivasi banyak  orang.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dulu saya dan teman kompas mendapatkan kesempatan untuk wawancara Bob Sadino. Saat  itu, Bob Sadiono meminta saya untuk menunggu sampai jam 4 sore dan dijanjikan akan dibelikan sate di ujung gang rumahnya,” katanya, Jumat (3/5/2024) siang.

Andy mengaku terkejut  saat mendengar Bob Sadino  mempertanyakan besaran gajinya. Setelah itu, kata dia, Bob menunjuk penjual  sate yang ada di ujung gang rumahnya. Dia menyebut penjual sate itu lebih sukses darinya.

“Bob Sadino, ngomong gini, you digaji berapa sama kompas, orang  jual sate satu hari gak sampai jam 8 malam bisa menjual  sekian ekor. Kesimpulannya, gaji yang saya terima per bulan itu lebih rendah dari penghasilan penjual sate,” terangnya.

Ucapan Bob Sadino  ini pun menjadi pertimbangannya untuk meninggalkan profesi sebagai wartawan. Ditambah lagi, ia punya teman pengusaha yang menyebut jika ingin sukses, maka  meminta gaji uang publik yang unlimited.

“Sekarang saya baru paham setelah sekian tahun. Saya ini kan menjalankan bisnis distribusi sari roti di Sidoarjo  dan Madura. Karena saya jualan roti, saya dapat menguasai uang  publik, dan jumlahnya memang tidak terbatas,” tambahnya.

Andy memiliki basis usaha ditribusi roti di Sidoarjo  dan Madura. Hampir semua wilayah Madura  menjadi kawasan untuk distribusi rotinya. Sedangkan di Sidoarjo, hampir separuh wilayah menjadi kawasan untuk distribusinya.

Pemilik CV Surabaya Bintang Sejahtera ini menjadi distributor kedua  terbaik  skala nasional setelah Bali. Omzetnya mencapai miliaran setiap bulannya. Bali di urutan pertama memiliki omzet Rp 8 miliar setiap bulan.

“Saya bersyukur dan allhamdulillah sekali dikasih kesempatan yang baik sampai diberi amanah untuk mengelola perusahaan penjualan roti dan advertising sampai sekarang,” sambung dia.

Bapak satu anak ini mengaku mulai fokus berjualan roti sejak tahun 2013. Dia benar- benar  fokus menjalankan bisnisnya sekalipun sudah dimulainya sejak tahun  2005 saat masih aktif sebagai wartawan media cetak terbesar di Jawa Timur.

“Kalau ditanya modal, saya tidak ada modal. Saya ini berangkat dari nothing  to be something. Makanya, saya sering sampaikan di beberapa kesempatan, pengusaha itu harus punya kiat dulu daripada modal,” jelasnya.

Dia menyadari, gajinya sebagai wartawan yang tidak seberapa besar tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan modal dasar menjalankan bisnisnya sekarang. Ia mengakui ada teman yang mau mensupport permodalan.

“Prinsipnya begini ya, jadi pengusaha itu jangan cari untung. Sebagai pengusaha kecil utamakan bagaimana bisa menggaji karyawan, dan memberikan kesejahteraan karyawan dulu. Saya yakin efek baiknya akan mengikuti,” tegasnya.

Ia dulu hanya berfikir bagaiamana di usia 40 tahun sudah memiliki lompatan dan keluar dari zona nyaman. Ia berpesan, comfort zone itu harus diubah.  Kerja dimanapun dan ikut siapapun tidak akan nyaman kecuali kerja sendiri.

“Maka, saya pesan ke teman-teman wartawan semua, jangan terlalu nyaman berada di zona nyaman. Harus diubah secara perlahan pemikiran itu, karena kita tidak tahu perkembangan media ke depan,” tutup  Andy. (Andy Setiawan)***

Berita Terkait

USANITA Perkuat Akses Global Usahawan Malaysia Indonesia
Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan
Menpora Dukung Penuh Program PBMI, Muaythai Indonesia Tancap Gas Menuju SEA Games Malaysia
Menhan-PWI Pusat Agendakan Khusus Retret 200 Wartawan
Dari “Kaleidiskop Media Massa 2025”, Perlu Intervensi Negara untuk Menjaga Eksistensi Media
H. Iwan Efendi Nakhodai DPC PDI Perjuangan Sampang Periode 2025-2030
Peduli Korban Bencana, Grup Merdeka Serahkan Donasi Rp977 Juta ke BAZNAS RI
PWI Pusat Terbitkan Tiga Surat Edaran untuk Anggota se-Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:47 WIB

USANITA Perkuat Akses Global Usahawan Malaysia Indonesia

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:50 WIB

Di Hadapan PWI, Ahmad Muzani: Hati Saya Masih Wartawan

Selasa, 13 Januari 2026 - 10:09 WIB

Menpora Dukung Penuh Program PBMI, Muaythai Indonesia Tancap Gas Menuju SEA Games Malaysia

Rabu, 24 Desember 2025 - 17:49 WIB

Menhan-PWI Pusat Agendakan Khusus Retret 200 Wartawan

Rabu, 24 Desember 2025 - 08:26 WIB

Dari “Kaleidiskop Media Massa 2025”, Perlu Intervensi Negara untuk Menjaga Eksistensi Media

Berita Terbaru