JATIMRAYA.COM – Situasi keamanan di Papua kembali memanas setelah kelompok separatis bersenjata TPNPB-OPM menyerang Pos TNI di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, sekitar pukul 05.00 WIT. Serangan bersenjata ini diklaim sebagai aksi gabungan dari milisi Kodap XVI/Yahukimo dan Kodap III/Ndugama Derakma, yang menewaskan sedikitnya tujuh anggota militer Indonesia.
Komandan Batalyon OPM, Mayor OPM Nabianus Kerebea, memimpin langsung aksi tersebut bersama puluhan anggota bersenjata. Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi bersenjata yang terus dilancarkan OPM terhadap kehadiran militer Indonesia di wilayah Papua.
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa pihaknya siap bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan. Ia mengklaim tujuh prajurit TNI gugur di tempat akibat tembakan mendadak dari kelompok separatis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menurut informasi dari pasukan kami di lapangan, tujuh anggota militer Indonesia tewas dalam serangan yang dilakukan TPNPB. Kami akan terus memberikan pembaruan situasi dari medan pertempuran,” tulis Sambom dalam pesan singkatnya, Sabtu (17/05/2025).
Pernyataan itu juga disertai siaran pers dari Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM, berikut beberapa foto bangunan dari kayu dan tripleks yang berlubang, diduga akibat tembakan senjata api.
Meski sempat terjadi kontak senjata, pasukan OPM dikabarkan langsung mundur ke hutan setelah melancarkan rentetan tembakan. Sambom menyebut, pihaknya belum mengalami korban jiwa atau luka-luka dalam insiden tersebut. Ia juga belum bisa memastikan berapa lama kontak senjata berlangsung atau jumlah prajurit TNI yang terlibat dalam serangan balik.
“Kami belum menerima informasi lengkap tentang durasi baku tembak atau kekuatan pasukan lawan. Tapi kelompok kami ada lebih dari 20 orang dan sementara ini tidak ada korban di pihak kami,” jelasnya.
Melalui pernyataannya, Sambom kembali menegaskan sikap TPNPB-OPM yang tidak akan mundur dari perjuangan bersenjata, hingga pemerintah Indonesia mengakui kemerdekaan Papua Barat yang diklaim sejak 1 Desember 1961.
“Kami tetap berdiri sebagai pagar negara bangsa Papua. Kami akan jaga rakyat dan sumber daya alam Papua dari penjajahan Indonesia,” ujar Sambom menegaskan.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI terkait insiden kontak senjata yang menewaskan tujuh prajurit. Namun, situasi di Papua Pegunungan dipastikan tetap dalam pemantauan intensif oleh aparat keamanan.
Serangan ini menambah panjang daftar konflik bersenjata antara kelompok separatis dan aparat keamanan di Papua, yang terus menjadi perhatian nasional dan internasional. (as)













