GMNI FISIP dan Teknik UNTAG Surabaya Gelar Kaderisasi Dasar 2026, Perkuat Ideologi Marhaenisme

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 6 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan DPK Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya berkolaborasi menyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) 2026 dengan mengusung tema “Transformasi Marhaenisme Membentuk Kader Kritis, Progresif, dan Resilien dalam Menghadapi Dinamika Global.”

Kegiatan kaderisasi tersebut berlangsung selama tiga hari, pada 30–31 Oktober hingga 1 November 2026, bertempat di Agroedupark Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis organisasi dalam membangun kesadaran ideologis, memperkuat kapasitas intelektual, serta membentuk karakter kader yang memiliki keberpihakan terhadap kepentingan rakyat di tengah kompleksitas dinamika sosial, ekonomi, politik, dan globalisasi.

KTD 2026 tidak sekadar dimaknai sebagai proses pengenalan organisasi, melainkan sebagai ruang pendidikan ideologis dan pembentukan kesadaran kritis mahasiswa. Melalui kaderisasi ini, GMNI berupaya menanamkan kembali nilai-nilai perjuangan Marhaenisme dan nasionalisme sebagai landasan berpikir sekaligus pijakan praksis dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua DPK GMNI Komisariat FISIP UNTAG Surabaya, Ziven Aurelino, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan fondasi penting dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga mempunyai kesadaran ideologis dan kepekaan terhadap realitas sosial.

“GMNI berupaya membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran ideologis, kepekaan sosial, serta keberanian dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Kader GMNI diharapkan mampu menjadi insan yang kritis dalam berpikir, progresif dalam bergerak, dan konsisten dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagaimana semboyan Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang, pemikiran harus diwujudkan melalui tindakan nyata, sementara perjuangan harus senantiasa dilandasi oleh pengetahuan, kesadaran, dan keberpihakan kepada kaum Marhaen,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua DPK GMNI Komisariat Teknik UNTAG Surabaya, Josh Leo, menyampaikan bahwa KTD bukan sekadar tahapan administratif untuk memperoleh status sebagai kader GMNI, melainkan merupakan awal dari tanggung jawab ideologis dan komitmen perjuangan.

Menurutnya, keilmuan teknik harus ditempatkan dalam kerangka kemanfaatan sosial dan kepentingan masyarakat luas. Ilmu teknik tidak hanya berkaitan dengan mesin, angka, perhitungan, maupun penciptaan sistem, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, sistematis, dan solutif dalam menjawab persoalan kehidupan masyarakat.

“Seorang kader Teknik tidak cukup hanya mampu memperbaiki sistem, tetapi juga harus berani mengkritisi sistem yang tidak berpihak kepada rakyat. Jangan jadikan organisasi sekadar tempat berkumpul. Jadikan GMNI sebagai ruang belajar, ruang perjuangan, dan tempat menempa diri,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa GMNI membutuhkan kader yang mempunyai kapasitas intelektual, keberanian bersikap, serta keberpihakan terhadap kaum Marhaen. Oleh karena itu, kader tidak boleh terjebak pada penguasaan teori semata, tetapi harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas sosial dan kebutuhan masyarakat.

Penguatan Kesadaran Ideologis dan Peran Sarinah dalam Perjuangan Sosial

Selain penguatan ideologi dan nasionalisme, kaderisasi ini juga memberikan perhatian terhadap perspektif gender dan peran perempuan dalam gerakan. Materi kesarinahan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun kesadaran bahwa perjuangan pembebasan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perjuangan perempuan.

Sarinah Dia Puspitasari, S.Sos., M.Si., alumni GMNI sekaligus Dosen FISIP UNTAG Surabaya, menjelaskan bahwa menjadi Sarinah bukan hanya tentang memahami posisi perempuan dalam organisasi, melainkan juga membangun kesadaran ideologis, keberpihakan sosial, dan tanggung jawab historis.

“Sebagaimana ditegaskan Soekarno dalam buku Sarinah, persoalan perempuan merupakan persoalan masyarakat. Karena itu, Sarinah harus memiliki spirit humanisme, kepekaan membaca realitas sosial, kapasitas mengorganisir massa, serta keberanian mengambil bagian dalam perjuangan dan perubahan sosial di Indonesia. Sarinah bukan sekadar penonton sejarah, melainkan bagian dari kekuatan yang menggerakkan sejarah,” jelasnya.

Perspektif tersebut menjadi penting dalam membangun gerakan mahasiswa yang inklusif, humanis, dan memiliki kesadaran terhadap berbagai bentuk ketimpangan sosial. Dengan demikian, kader GMNI diharapkan mampu menempatkan perjuangan kesetaraan dan keadilan sosial sebagai bagian integral dari cita-cita pembebasan nasional.

Nasionalisme sebagai Fondasi Menghadapi Krisis Kebangsaan

Sementara itu, alumni GMNI Surabaya, Drs. Mahmud Yunus, M.M.Pd., menekankan pentingnya memperkuat karakter nasionalisme generasi muda, khususnya mahasiswa, di tengah berbagai tantangan kebangsaan dan menguatnya kecenderungan pragmatisme dalam kehidupan masyarakat.

“Negara yang sedang tidak baik-baik saja ini perlu diperkuat jiwa nasionalismenya. Generasi muda, terutama mahasiswa, harus senantiasa menjaga kepedulian terhadap nasib bangsa ke depan. Hal ini menjadi semakin penting mengingat pola-pola pragmatisme yang mulai terlihat dalam kehidupan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa nasionalisme tidak cukup berhenti sebagai identitas simbolik, tetapi harus diwujudkan melalui tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap persoalan bangsa, serta keberanian mengambil peran dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Analisis Sosial: Mendekatkan Ideologi dengan Realitas Kehidupan Rakyat

Salah satu agenda utama KTD 2026 adalah pelaksanaan analisis sosial (ansos) di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Desa yang berada di kawasan lereng Pegunungan Kawi tersebut dikenal memiliki potensi hortikultura dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat setempat.

Dalam kegiatan ini, peserta melakukan observasi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, berdialog langsung dengan petani mengenai pengelolaan komoditas pertanian seperti cengkeh, kopi, jeruk, jagung, dan tebu, serta menggali nilai-nilai kearifan lokal dalam tata kelola pertanian rakyat.

Kegiatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan keberadaan Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D., Pembina Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (Pusdipwasbang) sekaligus Pendiri Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, di kawasan tersebut.

Melalui pendekatan partisipatif dan observasi langsung, peserta diajak memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya petani, mulai dari pengelolaan sumber daya pertanian hingga tantangan ekonomi dalam mempertahankan keberlanjutan kehidupan mereka.

Analisis sosial ini menjadi ruang pembelajaran praksis bagi kader untuk menghubungkan teori Marhaenisme dengan realitas kehidupan rakyat. Sebab, perjuangan mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada ruang diskusi dan perdebatan konseptual, tetapi harus berangkat dari pemahaman terhadap kondisi objektif masyarakat.

Dalam perspektif Marhaenisme, keberpihakan terhadap kaum Marhaen harus diwujudkan melalui keberanian membaca ketimpangan sosial, memahami persoalan struktural, serta membangun kesadaran kolektif untuk memperjuangkan keadilan sosial.

Pendidikan Ideologis sebagai Jantung Perjuangan Organisasi

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai pembekalan materi yang mencakup Ideologi GMNI, Marhaenisme, Nasionalisme, Kesarinahan, Advokasi Hukum, Gender, Materialisme Dialektika dan Historis (MDH), Analisis Sosial (Ansos), Manajemen Aksi, hingga simulasi aksi.

Materi-materi tersebut disampaikan oleh alumni GMNI Surabaya dan Malang, serta akademisi dari FISIP UNTAG Surabaya dan UNITRI Malang. Sejumlah pemateri yang terlibat di antaranya Drs. Mahmud Yunus, M.M.Pd., Ahmad Yustinus Ariyanto, S.T., Agustian Anggi Siagian, S.H., CLL, CPLA, CMLE, CMLTH, Sarinah Dia Puspitasari, S.Sos., M.Si., dan Noviana Yaniar, S.Si., M.M.

Kombinasi materi ideologis, historis, akademis, dan praktis tersebut dirancang untuk membangun kemampuan kader dalam memahami persoalan masyarakat secara komprehensif. Kader tidak hanya dibekali pemahaman mengenai sejarah dan ideologi perjuangan, tetapi juga kemampuan mengorganisasi, melakukan advokasi, menyusun strategi gerakan, serta merumuskan tindakan kolektif yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, KTD 2026 menjadi penegasan bahwa kaderisasi merupakan jantung keberlanjutan perjuangan GMNI, khususnya di lingkungan DPK FISIP dan DPK Teknik UNTAG Surabaya. Transformasi Marhaenisme tidak dimaknai sebagai upaya meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan, melainkan sebagai proses aktualisasi ideologi agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Melalui kegiatan ini, kedua komisariat berkomitmen melahirkan kader yang tidak hanya berkutat pada teori dan wacana organisasi, tetapi mampu menghadirkan pemikiran kritis, tindakan progresif, serta keberpihakan nyata terhadap rakyat.

Dengan demikian, kader GMNI diharapkan mampu menjadi bagian dari kekuatan intelektual dan sosial yang turut mendorong perubahan, menjaga cita-cita nasionalisme, serta memperjuangkan keadilan sosial sebagaimana semangat perjuangan Bung Karno.

Sebab, menjadi kader bukan sekadar tentang mengenal ideologi, tetapi tentang bagaimana menghidupi, memperjuangkan, dan mengaktualisasikan ideologi tersebut dalam realitas kehidupan rakyat. (as)

Berita Terkait

Kapolresta Tuban Ajak Mahasiswa Jadi Pelopor Informasi Sehat dan Tangkal Hoaks
PWI Tuban Goes to Campus, Ajak 120 Mahasiswa STAI Senori Jadi Pelopor Informasi Sehat
Dihadiri 40 Ribu Penonton, Konser Slank di Banyuwangi Tutup Tur Nasional 10 Kota
Bupati Sumenep Luncurkan Program Sumenep Bersih Pagi Hari, Patriot Kebersihan Dapat Insentif
Lutfil Hakim Calon Tunggal Ketua PWI Jatim, Konferda Digelar 13 November
Bertemu Khofifah, LDII Jatim Bahas Rakerwil dan Peresmian Gedung Tiga Lantai
Meriah! Siswa SDN 3 Bangunsari Ponorogo Ikuti Edukasi Gizi hingga Pertunjukan Barongan
DLH dan Kemenag Sumenep Bersinergi Jaga Kebersihan Lingkungan

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 07:27 WIB

GMNI FISIP dan Teknik UNTAG Surabaya Gelar Kaderisasi Dasar 2026, Perkuat Ideologi Marhaenisme

Rabu, 4 November 2026 - 20:47 WIB

Kapolresta Tuban Ajak Mahasiswa Jadi Pelopor Informasi Sehat dan Tangkal Hoaks

Rabu, 4 November 2026 - 20:40 WIB

PWI Tuban Goes to Campus, Ajak 120 Mahasiswa STAI Senori Jadi Pelopor Informasi Sehat

Senin, 2 November 2026 - 17:56 WIB

Dihadiri 40 Ribu Penonton, Konser Slank di Banyuwangi Tutup Tur Nasional 10 Kota

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Bupati Sumenep Luncurkan Program Sumenep Bersih Pagi Hari, Patriot Kebersihan Dapat Insentif

Berita Terbaru

geopark Raja Ampat (dok.Pesona Indonesia)

Nasional

Lima Geopark Indonesia Raih Rekomendasi Green Card UNESCO

Jumat, 6 Nov 2026 - 12:43 WIB

Lifestyle

Agama Instrumental

Jumat, 6 Nov 2026 - 12:31 WIB