Keutamaan Surat Wanita (An-Nisa)

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 3 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Surat An-Nisa (Wanita) merupakan surat yang ke-4 dalam Al-Qur’an; diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw setelah hijrah ke Madinah (surat Madaniyah), yang terdiri dari 176 ayat yang focus pada keadilan sosial, hak hak perempuan, anak yatim dan hukum keluarga.

Surat An-Nisa menekankan ketaqwaan kepada ALLOH dan Rasul-NYA serta taat kepada Pemimpin (Ulil Amri) selama Pemimpin tersebut tidak bermaksiat, aturan waris, pernikahan, serta perlindungan terhadap kaum yang lemah.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kandungan dalam surat An-Nisa banyak menjelaskan permasalahan kaum perempuan. Oleh sebab itu dinamakan An-Nisa. Ada juga dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang perempuan, namun tidak sebanyak dan sedetail penjelasan yang terdapat dalam surat An-Nisa.

Surat An-Nisa secara keseluruhan banyak memuat aturan hukum Islam yang diperkuat oleh Sunnah Rasulullah Saw.

Berikut beberapa hadits yang berkaitan dengan permasalahan perempuan dalam surat An-Nisa:

1. Surat An-Nisa ayat 34 (Memukuli istri)

Aisyah Ra berkata:” bahwa Rasulullah Saw tidak pernah memukul apapun dengan tangan, tidak memukul wanita dan pembantunya.” (HR. Muslim).

Berlawanan dengan An-Nisa ayat 34, ayat ini membahas mengenai nusyuz (tindakan pembangkangan yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri). yang dilakukan suami meliputi tindakan fisik seperti: Membenci, melaknat, memukuli, mencela maupun rasa tidak aman.

2. Surat An-Nisa ayat 128 (Isu keluarga)

Abu Dawud dan Al – Hakim meriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa ayat ini turun terkait salah satu istri Nabi Saw yang sudah tua (Saudah binti Zam’ah) merasa takut diceraikan oleh Nabi Saw, sehingga ia memberikan harinya (waktu gilir) untuk Aisyah Ra.

Surat An-Nisa juga menjadi poin penting yang menjadikan Nabi Muhammad Saw menjadi saksi amal perbuatan umatnya dihari kiamat nanti. Saking beratnya memikirkan persidangan di akhirat atas kesaksian umat umatnya; Nabi Saw ketakutan dan menangis.

Kisah riwayat ini tercantum dalam hadits Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:” Rasulullah Saw berkata kepadaku, ” Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.”

Aku bertanya:” Wahai Rasulullah, apakah aku membacakannya untukmu, padahal ia diturunkan kepadamu?”

Beliau menjawab:” Ya, aku suka mendengarnya dari orang lain.”

Maka aku membacakan surat An-Nisa, hingga pada ayat 41 (Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, apabila KAMI mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan KAMI mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).

Lalu beliau bersabda:” Cukuplah, cukuplah sampai disini saja.”

Saat aku menoleh, aku melihat air mata bercucuran dari kedua mata beliau.”

Berita Terkait

Ijazah, Kesetaraan, dan Kepercayaan kepada Negara: Membaca Ulang Polemik Pendidikan Transnasional dalam Kasus Gibran
POPDA Malang: Bawa Nama Daerah, Bayar Sendiri, Bonus Dilepas?
Hukum Formal, Legitimacy Deficit, dan Bayang-Bayang Oligarki
Memutus Jebakan Potensi, Membangun Disiplin Investasi
Paradoks Sarjana Menganggur: Ketika Kelimpahan Tenaga Kerja Terdidik Menjadi Beban, Bukan Berkah
Anatomi Kesadaran dan Realitas Ilahiah: Jalan Sufistik Menembus Kabut Ilusi
Shalat yang Menyerahkan Diri: Ketika Ibadah Menjadi Cermin Kejujuran
Demokrasi Abu-Abu dan Drama Perbenturan Takhta di Mahkamah Konstitusi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Ijazah, Kesetaraan, dan Kepercayaan kepada Negara: Membaca Ulang Polemik Pendidikan Transnasional dalam Kasus Gibran

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:15 WIB

POPDA Malang: Bawa Nama Daerah, Bayar Sendiri, Bonus Dilepas?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Hukum Formal, Legitimacy Deficit, dan Bayang-Bayang Oligarki

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:10 WIB

Memutus Jebakan Potensi, Membangun Disiplin Investasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Paradoks Sarjana Menganggur: Ketika Kelimpahan Tenaga Kerja Terdidik Menjadi Beban, Bukan Berkah

Berita Terbaru