JATIMRAYA.COM – Pemerintah Republik Indonesia diharapkan mengambil sikap politik luar negeri yang tegas menyikapi situasi geopolitik di Timur Tengah yang terjadi saat ini. Indonesia harus berdiri di sisi Iran, mendukung kemerdekaan Palestina, dan mengecam agresi serta imprealisme Amerika Serikat dan Israel.
“Iran telah mengembalikan marwah dan harga diri umat Islam dunia setelah dengan gagah berani dan penuh risiliensi perang melawan dua kekuatan militer terbesar dunia: Amerika Serikat dan Israel. Sudah 44 berperang, Amerika dan Serikat tidak bisa mengalahkan Iran. Tidak satu pun target dari perang ini yang telah dicapai dua negara imprealis tersebut. Termasuk gagal menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran,” kata Tofan Mahdi, peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), dalam seminar yang diselenggarakan MN KAHMI (Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) di Jakarta, Sabtu (18 April 2026).
Tofan mengatakan, ketika negara-negara Islam di Timur Tengah sudah tunduk dan menjadi sekutu AS dan Israel, Iran mengambil sikap yang tegas. Menentang imprealiame Israel dan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Perlawanan, kemampuan bertahan, bahkan serangan rudal Iran ke Israel mengejutkan dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Negara-negara Arab juga terkejut bahwa persenjataan Iran sangat canggih. Karena itu, negara Arab tampak lebih berhati-hati dan sepertinya mengantisipasi jika Iran menjadi pemenang perang dan konstelasi geopolitik berubah. Meski sejumlah wilayah negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS diserang Iran, seperti di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Saudi Arabia, namun negara-negara tersebut menolak permintaan AS untuk ikut membalas Iran. Seperti peta geopolitik di Timur Tengah akan berubah,” kata mantan Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos tersebut.
Tofan berharap perang segera berakhir. Karena semakin lama perang, dampaknya bisa menghancurkan perekonomian dunia termasuk Indonesia. Akibat perang Iran melawan AS dan Israel harga minyak melonjak tinggi hingga lebih US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak mentah ini mengakibatkan krisis energi di berbagai negara.
“Kita sudah melihat harga beberapa jenis bahan bakar minyak sudah naik dan nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp 17.100 per dolar AS. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata alumnus Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) ini.
Dalam seminar yang dipandu moderator Lely Puspitasari, Wakil Rektor UICI (Universitas Insan Cita Indonesia) tersebut, hadir tiga pembicara lainnya yaitu Dr Wajd Fauzi (Duta Besar RI untuk Suriah 2019-2025), Zezen Zaenal Mutaqien, PhD (Dosen Universitas Internasional Islam Indonesia), dan Dr Syaroni Rofii (Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia).
Dubes Wajid Fauzi menjelaskan kompleksitas geopolitik di Timur Tengah dan para aktor yang terlibat dalam konflik tersebut. Baik state actor maupun proxy yang mewakili kepentingan yang berbeda di antara para state actor.
“Kita tahu bagaimana konflik di Timur Tengah ini semakin kompleks dengan hadirnya para aktor non negara yang terlibat. Kita tahu pernah ada ISIS dan gagal. Kemudian aktor non negara yang sekarang menonjol dalam konflik Iran melawan AS dan Israel adalah Hizbullah. Di Gaza Palestina ada Hamas. Kita juga harus melihat ke mana arah kebijakan politik luar negeri Suriah di bawah Presiden Ahmad Al Sharaa,” kata Wajid.
Sementara itu, Dr Zezen dan Syaroni banyak memaparkan sejarah Iran yang berakar pada peradaban Persia bahkan jauh sebelum datangnya Islam. Resiliensi dan enduransi Iran yang sangat tinggi karena kuatnya keyakinan sebagai bangsa yang selalu melawan kebatilan.
“Sejak dalam sejarah awal bangsa Persia, bangsa ini selalu melawan setiap penindasan dan ketidakadilan. Dan setelah bangsa Persia memeluk Islam, semangat tragedi Karbala menjadi bahan bakar dan pendorong semangat perjuangan dan tegaknya peradaban Iran hingga saat ini,” kata Zezen. (as)













