JATIMRAYA.COM – Merebak isu adanya 9 orang warga sipil tewas, sebagai efek terjadinya konfrontasi bersenjata antara pasukan TNI melawan separatis TPNPB-OPM, di wilayah Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, pada Selasa (14/04/2026).
Selain korban tewas, disebutkan juga terdapat 7 orang warga sipil lainnya yang mengalami luka-luka dalam peristiwa yang berlangsung di area Kampung Makuna, Kampung Kemburu dan Kampung Nilome, Distrik Kemburu, tersebut.
Informasi tewas dan terlukanya warga sipil tersebut dibantah Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, sebagai pernyataan hoax. “(Itu informasi) Hoax, Bang,” tegas Wirya Arthadiguna singkat tertulis menjawab konfirmasi koresponden, Sabtu (18/04/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun dia belum menjawab pertanyaan lanjutan, apakah semua korban, baik tewas maupun terluka, merupakan sipil bersenjata terafiliasi Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang memang tengah diburu TNI hingga terjadinya kontak senjata di wilayah tersebut.
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengirim informasi tentang insiden hingga jatuhnya korban warga sipil, yang diterbitkan otoritas Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak, tersebut sebagai laporan awal kepada Gubernur Papua Tengah di Nabire.
Namun Sambom tidak mengonfirmasi, apakah para korban tersebut teridentifikasi sebagai warga sipil murni, ataukah sipil bersenjata yang melakukan pemberontakan dan memang tengah berjuang melepaskan diri dari negara kesatuan RI.
Bunyi laporan awal Bupati Puncak, Elvis Tabuni, kepada Gubernur Papua Tengah yang ditulis di Ilaga pada Kamis (16/04/2026) tersebut, terjadi penembakan oleh aparat TNI dalam rangka operasi pengejaran terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata.
Dalam pada itu, timbul korban jiwa sebanyak 9 orang warga sipil asal Kampung Makuna, yang sebelumnya terdata 7 orang. Selain korban tewas, laporan awal itu juga menyebut adanya 7 orang warga sipil yang terluka, 5 diantaranya perempuan, 1 pria dewasa dan 1 anak laki-laki.
Para korban tewas, menurut keterangan masyarakat setempat, disebutkan telah dimakamkan menurut prosesi adat di Kampung Tinoti.
Data tersebut diperoleh pemerintah daerah setempat atas informasi yang dirangkum dari beberapa pihak swasta antara lain tokoh masyarakat, kepala suku dan tetua kampung Distrik Kemburu. Pemerintah daerah akan memverifikasinya langsung di lokasi kejadian, melalui kunjungan lapangan yang dilakukan Jumat (17/04/2026).
Mengutip keterangan warga setempat, Panes Kogoya, laporan awal itu mendata para korban tewas masing-masing Tigakan Walia (pria), Wundilina Kogoya (wanita), PLN Kogoya (wanita), Kikunge Walia (wanita), Ekari Walia (wanita), perempuan Mrs X dan Para Walia (pria). Dua korban tewas lainnya belum diakses dalam laporan itu. (as)













