Dari “Kaleidiskop Media Massa 2025”, Perlu Intervensi Negara untuk Menjaga Eksistensi Media

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 24 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIMRAYA.COM – Persoalan kebebasan, keberlanjutan, dan tantangan supremasi algoritma terhadap media menjadi isu utama yang diperbincangkan oleh para pakar dan pelaku media dalam diskusi “Kaleidoskop Media Massa 2025”, di Aula Dewan Pers, Jl Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (23/12).

Acara ini digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) bekerja sama dengan kanal podcast AFU (Akbar Faisal Uncensored, dan disiarkan secara langsung melalui live streaming.

Ketua PWI Pusat Akhmad Munir mengatakan bahwa media massa di Indonesia saat ini sedang berada pada posisi yang krusial. “Perlu intervensi negara untuk menyelamatkan pers Indonesia,” kata Munir.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tantangan utama adalah persaingan dengan media sosial yang sangat keras, dominasi platform digital yang masif, serta lemahnya kemampuan manajemen media dalam mengantisipasi transformasi digital.

Wakil ketua Dewan Pers menambahkan bahwa ancaman media sosial terhadap eksistensi media mainstream sangat nyata. ”Saat media mainstream tidak punya kemampuan finansial seperti dulu. Kita tidak bisa lagi menempatkan koresponden di setiap kota, sehingga menyulitkan kita dalam melakukan liputan real time,” kata Totok.

Kalau media sosial bisa melengkapi diri dengan kemampuan verifikasi, konfirmasi, dan check and rechek, serta punya aturan mengenai kode etik maka media mainsream akan selesai,” katanya.

Wahyu Muryadi, anggota Dewan Pakar PWI Pusat menyampaikan data mengenai sejumlah media yang gulung tikar karena tergerus oleh media sosial.

Wahyu mengingatkan bahwa intervensi negara bisa menjadi alternatif penyelematan. Tetapi Wahyu mengingatkan bahwa intervensi negara berisiko terhadap independensi media.

Agus Sudibyo, ketua bidang pendidikan PWI Pusat mengingatkan bahwa dominasi algoritma dari platform digital menjadi ancaman eksistensi media yang sangat serius. “Upaya untuk menuntaskan masalah publiaher’s right sampai sekarang masih menghadapi jalan buntu,” kata Sudibyo.

Dhimam Abror, ketua Dewan Pakar PWI Pusat mengingatkan agar tidak terlalu pesimis menghadapi tantangan teknologi. “Determinisme teknologi yang menjadikan teknologi sebagai faktor utama yang menjadi penentu eksistensi media ternyata tidak terbukti dalam sejarah,” kata Abror.

Dikatakan, sejak dulu sudah muncul teknologi yang diprediksi bakal mengancam eksistensi media. Tapi, sampai sekarang terbukti media masih eksis. Karena itu munculnya artificial intelligence tidak serta merta akan menjadi predator yang menghancurkan eksistensi media.

Effendi Gazali, anggota Dewan Pakar PWI Pusat mengatakan bahwa tantangan artificial intelligence akan memunculkan sintesa dan antitesa dalam industri media. “Media akan melakukan penyesuaian terhadap kemajuan teknologi. Mungkin sekarang terlihat bahwa media mainstream kalah dari media baru. Tapi nantinya akan terjadi ekuilibrium baru dalam industri media.

Budayawan Sujiwo Tedjo yang juga menjadi anggota Dewan Pakar mengatakan bahwa algoritma bukan hal yang baru. Sejak zaman dulu kalau algoritma sudah ada. “Kalau ada gula pasti ada semut. Kalau ada kotoran yang bau pasti ada lalat. Itulah prinsip algoritma yang sudah ada sejak dulu. Lalu mengapa sekarang kita mesti takut terhadap ancaman algotitma,” tanya Tedjo.

Mengakhiri diskusi Akbar Faisal mengatakan bahwa profesi kewartawanan sedang menghadapi tantangan besar karena disrupsi teknologi. Karena itu organisasi kewartawanan seperti PWi harus menjadi fasilitator untuk meningkatkan profesionalitas wartawan sehingga eksistensi bisa dipertahankan. (as)

Berita Terkait

Dukung Gus Kikin Pimpin PBNU, Lora Hasyim Tekankan Harapan untuk Warga Nahdliyin
Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah
RIV Diakui Dunia, Raih Best Multi-Asset Trading Platform hingga Most Trusted Brand
Andy Setiawan Pimpin Hallo.id, Hadirkan Media Ekonomi yang Tajam, Akurat, dan Kredibel
PWI Pusat Soroti Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Kebebasan Pers Harus Dijaga
Penguatan AD/ART, PWI Pusat Sosialisasi Lima Peraturan Organisasi
PCM Grand Wisata Ucapkan Terima Kasih kepada Donatur, TK ABA 12 Siap Tingkatkan Mutu Pendidikan
PWI Pusat Berlakukan Reaktivasi Keanggotaan hingga Akhir 2026 untuk Tertibkan Administrasi

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:41 WIB

Dukung Gus Kikin Pimpin PBNU, Lora Hasyim Tekankan Harapan untuk Warga Nahdliyin

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:13 WIB

RIV Diakui Dunia, Raih Best Multi-Asset Trading Platform hingga Most Trusted Brand

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Andy Setiawan Pimpin Hallo.id, Hadirkan Media Ekonomi yang Tajam, Akurat, dan Kredibel

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:18 WIB

PWI Pusat Soroti Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Kebebasan Pers Harus Dijaga

Berita Terbaru

Lifestyle

Badan sebagai Rumah Ruh dan Jalan Menuju Fana’ul-Fana’

Minggu, 20 Sep 2026 - 17:32 WIB