Dajjal di Balik Cermin: Mengurai Ilusi Eksistensial, Kematian Nurani, dan Jeritan Sunyi Manusia Modern

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 1 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

JATIMRAYA.COM – DI sebuah senja yang muram, ketika langit mulai memerah dan suara adzan Maghrib berkumandang dari menara masjid di sudut kota, seorang lelaki tua duduk termenung di serambi rumahnya. Ia bukanlah seorang filsuf, bukan pula seorang ulama besar. Ia hanyalah manusia biasa yang telah lelah bergulat dengan hidup. Tetapi di dalam keheningan hatinya, sebuah pertanyaan menggema, lirih namun menghantam: “Apakah selama ini aku telah tertipu? Apakah semua yang kukejar, yang kutakuti, yang kubanggakan, hanyalah ilusi yang disusun oleh egoku sendiri?”

Pertanyaan itu bukanlah sekadar renungan kosong. Ia adalah gema dari syair kuno yang pernah dilantunkan oleh seorang arif, sebuah syair yang membongkar makna Dajjal bukan sebagai monster mengerikan bermata satu yang akan muncul di akhir zaman, melainkan sebagai hantu yang bersemayam di dalam dada setiap manusia. Syair itu berbunyi:

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Lihatlah Dajjal yang terjerat suara adzan yang berkumandang di seluruh belahan bumi. Sungguh dia tidak akan pernah bisa melepaskan diri, kecuali suara adzan telah berhenti, dan Dajjal akan terjerat kembali tatkala suara adzan kembali berbunyi. Begitulah keadaan Dajjal saat ini. Tahukah dirimu, siapakah Dajjal itu? Dia adalah manusia yang terangkat hati nuraninya. Dia adalah manusia yang memandang semua perkara dengan sebelah mata. Dia adalah manusia yang menjalani hidupnya dengan mengada-ada. Dialah manusia yang mendustakan agama, dia pula menebarkan fitnah kepada utusan-utusan Allah Ta’ala. Dia adalah raja yang berkuasa di dalam kehidupan mengada-ada. Bagi umat manusia yang percaya terhadap janji-janjinya, mereka seakan-akan melihat surga di tangan kanannya. Begitu pula sebaliknya, bagi umat manusia yang tidak taat kepadanya, mereka seakan-akan melihat neraka di tangan kirinya. Bagi umat manusia yang kehilangan hati nuraninya, kehilangan kejujurannya, kehilangan tanggung jawabnya, sungguh mereka akan kesulitan membebaskan diri dari fitnah-fitnah Dajjal yang ditebarkan. Tapi bagi hamba-hamba Allah yang mengutamakan shalatnya, mengutamakan kejujuran dan tanggung jawabnya, sungguh keimanan mereka tidak akan pernah goyah, biarpun fitnah Dajjal mengurung kehidupan mereka.”

Syair ini bukanlah sekadar untaian kata puitis. Ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang mentransformasi Dajjal dari mitos eskatologis yang jauh di sana menjadi realitas psikologis yang dekat di sini. Ia mengajak kita untuk berhenti mencari Dajjal di luar, dan mulai mencarinya di dalam diri sendiri. Mari kita masuki maknanya dengan keberanian untuk bercermin.

Kebutaan Sebelah Mata: Ketika Hati Nurani Terangkat

”Tahukah dirimu, siapakah Dajjal itu? Dia adalah manusia yang terangkat hati nuraninya. Dia adalah manusia yang memandang semua perkara dengan sebelah mata.”

Di sinilah letak revolusi tafsir dalam syair ini. Dajjal didefinisikan bukan sebagai sosok misterius, melainkan sebagai kondisi eksistensial: manusia yang kehilangan hati nuraninya. Hati nurani, dalam antropologi sufistik, adalah lathifah rabbaniyah—entitas halus ketuhanan yang diletakkan Allah di dalam dada manusia. Ia adalah “mata batin” (‘ain al-bashirah) yang mampu membedakan antara yang haqq dan yang batil, antara yang benar dan yang salah, bahkan ketika akal dan hawa nafsu berusaha mengaburkannya.

Dalam tradisi tasawuf, manusia dibekali dua jenis penglihatan. Pertama, ‘ain al-basar—mata lahiriah yang mencerap alam fenomena, bentuk-bentuk materi, serta kalkulasi rasional-empiris. Kedua, ‘ain al-bashirah—mata batin yang berada di dalam qalb (hati), yang bertugas memandang hakikat di balik bentuk, menangkap makna di balik peristiwa, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Ilahi yang bertebaran di ufuk maupun di dalam diri.

Manusia Dajjalik adalah manusia yang mengalami kebangkrutan total pada ‘ain al-bashirah-nya. Ia berjalan di muka bumi hanya dengan ‘ain al-basar yang buta terhadap dimensi transendental. Pandangan “sebelah mata” ini menjelma menjadi pola pikir positivistik mentah, materialisme agresif, dan positivisme hukum yang mengejar bentuk tetapi membunuh keadilan.

Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menyusun peta sistematis mengenai struktur spiritual manusia. Beliau menjelaskan bahwa di dalam jasad manusia terdapat pusat-pusat kesadaran halus yang disebut Latha’if al-Sittah (Enam Kelembutan Jiwa): Lathifah al-Qalb (pusat keimanan), Lathifah al-Ruh (pusat kerinduan Ilahi), Lathifah al-Sirr (pusat rahasia ketuhanan), Lathifah al-Khafi (pusat penyaksian sifat-sifat Tuhan), Lathifah al-Akhfa (pusat penembusan rahasia Zat), dan Lathifah al-Nafs (pusat dorongan egoistik).

Al-Kamasykhanawi menegaskan bahwa fitnah Dajjal bekerja dengan cara menguasai Lathifah al-Nafs dan menyuntikkan racun kesombongan ke dalamnya. Ketika Lathifah al-Nafs mendominasi, ia akan mengunci kelima Latha’if lainnya. Hati menjadi gelap, roh menjadi lemas, dan rahasia batin terputus dari sumber Cahaya Ilahi. Inilah yang oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din disebut sebagai maut al-qalb—kematian hati. Hati yang mati tidak lagi merasakan sakit ketika melakukan kezaliman, tidak lagi bergetar saat mendengar nama Allah, dan tidak lagi merinding ketika berada di tepi jurang kebohongan.

Raja di Alam Mengada-Ada: Hiperrealitas dan Tipu Daya Ego

”Dia adalah manusia yang menjalani hidupnya dengan mengada-ada. Dialah manusia yang mendustakan agama, dia pula menebarkan fitnah kepada utusan-utusan Allah Ta’ala. Dia adalah raja yang berkuasa di dalam kehidupan mengada-ada.”

Frasa “mengada-ada” (ifkira’) sangat kaya makna. Ia bisa berarti berbohong, menciptakan sesuatu yang tidak ada, atau membangun realitas palsu. Dajjal, dalam pengertian ini, adalah pencipta dan penguasa dunia ilusi—sebuah dunia paralel di mana kebenaran dipelintir, keadilan dibalik, dan moralitas dijungkirkan.

Secara filosofis dan sufistik, “mengada-ada” merujuk pada konsep al-wahm (ilusi eksistensial) atau al-ghurur (tipu daya yang menyesatkan). Dajjal tidak menciptakan keberadaan, sebab hanya Allah yang memiliki sifat Al-Khaliq. Dajjal hanya merangkai simulasi, memutarbalikkan persepsi, dan membangun kepalsuan atas kepalsuan.

Bila ditinjau melalui panggung psikoanalisis modern dan filsafat kontemporer, “kehidupan mengada-ada” adalah apa yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hyper-reality dan simulacra. Manusia modern tidak lagi hidup dalam realitas asli, melainkan dalam dunia citra, persepsi yang difabrikasi, serta rekayasa opini. Sesuatu dianggap “ada” dan “benar” bukan karena ia memiliki bobot kebenaran objektif atau kesucian spiritual, melainkan karena ia diproduksi secara berulang-ulang melalui algoritma, media massa, dan narasi-narasi buatan.

Dajjal adalah arsitek utama dari tatanan imajiner ini. Dalam terminologi psikoanalisis Jacques Lacan, Dajjal berkuasa penuh atas The Imaginary Order yang memanipulasi hasrat manusia. Manusia digiring untuk terus-menerus memburu objek hasrat yang semu (l’objet petit a), sebuah bayangan yang berjanji memberikan kepuasan tetapi senantiasa meninggalkan kehampaan yang makin menganga.

Di dalam alam “mengada-ada” ini, kepura-puraan diangkat menjadi standar keberhasilan. Kesalehan diukur dari estetika tampilan luar, kedermawanan dijadikan konten pencitraan, dan kepemimpinan dinilai dari kemahiran mengolah narasi penyesatan. Dajjal—baik sebagai potensi batin maupun sebagai tatanan sistemik global—adalah raja dari kerajaan maya ini. Ia menciptakan sebuah matriks ilusi di mana manusia merasa sangat sibuk, sangat berkuasa, dan sangat kaya, padahal mereka sejatinya hanyalah tawanan yang sedang menari di atas rantai perbudakan ego mereka sendiri.

Pendustaan terhadap agama yang dilakukan oleh Dajjal internal tidak selalu berwujud pembakaran kitab suci atau pengrusakan rumah ibadah secara terang-terangan. Bentuk pendustaan yang jauh lebih halus dan destruktif adalah dengan mengosongkan agama dari substansi etik dan spiritualnya. Agama diubah menjadi komoditas politik, alat legitimasi kekuasaan, atau sekadar aksesoris identitas formal yang kehilangan daya transformatifnya.

Surga dan Neraka Palsu: Inversi Nilai yang Menyesatkan

”Bagi umat manusia yang percaya terhadap janji-janjinya, mereka seakan-akan melihat surga di tangan kanannya. Begitu pula sebaliknya, bagi umat manusia yang tidak taat kepadanya, mereka seakan-akan melihat neraka di tangan kirinya.”

Inilah inti dari fitnah al-Dajjal—ujian yang membingungkan karena ia membalikkan persepsi. Dajjal menguasai seni manipulasi psikologis tingkat tertinggi. Apa yang diulurkan di tangan kanannya disajikan sebagai “surga”—sebuah janji tentang kenyamanan materi, kemudahan karier, penerimaan sosial, dan kemewahan hidup. Namun, bagi para pencari kebenaran yang memiliki bashirah, “surga” Dajjalik hakikatnya adalah neraka keterasingan dari Allah. Kenikmatan yang dibeli dengan mengorbankan nurani adalah racun yang dibungkus dengan madu.

Sebaliknya, apa yang ditunjukkan di tangan kirinya adalah “neraka”—ancaman berupa penolakan publik, kemiskinan, dan pengucilan sosial bagi siapa pun yang berani berdiri tegak menyuarakan kebenaran. Namun, bagi hamba yang hatinya tersinari Cahaya Ilahi, “neraka” Dajjalik tersebut hakikatnya adalah surga kedekatan dengan Allah. Penderitaan yang ditanggung demi mempertahankan kejujuran adalah jalan pembersihan jiwa yang akan mengantarkan pada kedamaian sejati.

Psikoanalisis Sigmund Freud menguraikan bagaimana jiwa manusia kerap terjebak dalam Pleasure Principle (prinsip kesenangan). Dajjal mengeksploitasi prinsip ini secara brutal. Ia menyodorkan “surga” instan kepada jiwa-jiwa yang kendor, yang tidak sabar menempuh tirakat kehidupan, dan yang haus akan pengakuan eksternal. Sebaliknya, psikologi transpersonal dan tasawuf mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat dicapai ketika manusia berani melintasi ancaman “neraka” ilusi tersebut. Selama manusia masih takut miskin karena mempertahankan kejujuran, selama ia masih takut dipecat karena menolak manipulasi, selama itu pula ia masih menjadi hamba dari surga dan neraka palsu Dajjal.

Kesaksian Kitab Klasik: Peta Anatomi Jiwa dan Keteladanan Ashfiya’

Untuk membedah fenomena ini secara lebih berbobot, kita perlu melangkahkan kaki ke dalam perpustakaan klasik tasawuf.

Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi memberikan obat bagi dominasi Lathifah al-Nafs: pancaran energi Nida’ al-Ilahi (Seruan Ketuhanan) yang disimbolkan melalui suara Adzan. Ketika Adzan berkumandang—bukan hanya sebagai getaran akustik, melainkan sebagai injeksi Nur Tauhid ke dalam titik-titik Latha’if—struktur jahat Dajjalik di dalam Lathifah al-Nafs mengalami kelumpuhan. Inilah mengapa syair menyatakan bahwa Dajjal “terjerat suara adzan… dan tidak akan pernah bisa melepaskan diri.” Adzan adalah manifestasi dari Al-Kalam al-Azali yang menghancurkan struktur mengada-ada. Dajjalik ego terjerat karena ia tidak memiliki akar dalam realitas; ia hanyalah kebohongan yang gemetar ketika Kebenaran Sejati diperdengarkan.

Sementara itu, Al-Hafiz Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ menyajikan rekonstruksi sejarah hidup manusia-manusia pilihan yang berhasil memenangkan pertempuran melawan Dajjalik ego pada zamannya masing-masing. Salah satu benang merah yang ditarik adalah pentingnya Al-Shidq (kejujuran otentik) sebagai perisai yang tidak dapat ditembus oleh fitnah.

Hasan al-Basri, sebagaimana dicatat dalam Hilyatul Auliya’, pernah berkata: “Waspadalah kalian terhadap dunia ini! Demi Allah, ia adalah penyihir yang lebih ulung daripada Harut dan Marut. Barangsiapa yang memberikan hatinya kepada dunia, maka dunia akan mengikat jiwanya dengan tiga hal: keputusasaan yang tidak pernah menemui titik terang, kerakusan yang tidak pernah merasakan kepuasan, dan angan-angan kosong yang tidak akan pernah sampai pada ujungnya.” Tiga hal ini—keputusasaan, kerakusan, dan angan-angan kosong—adalah pilar utama dari kerajaan Dajjal.

Adzan dan Shalat: Frekuensi Pembebas dari Cengkeraman Ilusi

”Tapi bagi hamba-hamba Allah yang mengutamakan shalatnya, mengutamakan kejujuran dan tanggung jawabnya, sungguh keimanan mereka tidak akan pernah goyah, biarpun fitnah Dajjal mengurung kehidupan mereka.”

Secara metafisis, Adzan adalah seruan pembebasan. Ia dimulai dengan Allahu Akbar dan diakhiri dengan La ilaha illa Allah. Pernyataan ini adalah pembongkaran ontologis terhadap semua ukuran kebesaran palsu yang dibangun oleh Dajjal. Ketika seseorang mendengarkan Adzan dengan kesadaran batin yang utuh, ia sedang meruntuhkan seluruh berhala modernitas: berhala kekuasaan, berhala uang, berhala reputasi, dan berhala ego.

Namun, Adzan baru merupakan panggilan; pemenuhannya berada di dalam Shalat. Dalam perspektif psikologi sufistik, Shalat yang diutamakan adalah proses rekonstruksi kepribadian secara radikal. Dalam Takbiratul Ihram, seorang mushalli melemparkan seluruh dunia ke belakang punggungnya. Di dalam Ruku’, ia meruntuhkan kesombongan intelektual dan fisiknya. Di dalam Sujud—puncak dari seluruh pengalaman shalat—ia meletakkan bagian tubuhnya yang paling mulia sejajar dengan tanah. Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menyatakan bahwa sujud adalah bentuk pengakuan mutlak atas kehinaan diri di hadapan Kemuliaan Ilahi. Manusia yang sujudnya otentik tidak akan pernah bisa diintimidasi oleh “neraka” Dajjalik dan tidak akan pernah bisa dibeli oleh “surga” Dajjalik, karena di dalam sujud ia telah menemukan Surga Sejati.

Fana’ ul-Fana’: Pemusnahan Mutlak Substrat Dajjal

Kajian sufistik terhadap syair ini mencapai puncaknya ketika dipertemukan dengan doktrin Fana’ ul-Fana’. Dajjal hanya dapat mengeksploitasi makhluk yang memiliki dualisme kesadaran dan ego terpisah. Dajjal membutuhkan subjek (manusia yang takut atau loba) dan objek (surga atau neraka palsu). Ketika seorang hamba masuk ke dalam maqam Fana’ ul-Fana’, subjek (ego manusia) telah musnah. Siapakah yang bisa ditakut-takuti oleh Dajjal jika “diri” yang takut itu sudah tidak ada lagi? Objek (ilusi mengada-ada) telah terbakar oleh Manifestasi Kesadaran Sejati.

Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang melawan Dajjal, “aku” yang bertakwa, “aku” yang kebal fitnah. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah al-Haqq. Bagi jiwa yang mencapai maqam ini, seluruh alam semesta—termasuk Dajjal dan seluruh propaganda ilusinya—hanyalah bayangan tipis yang tak memiliki substansi. Sebagaimana pepatah sufistik: “Ketika Matahari Realitas terbit dari ufuk batin, maka seluruh bintang ilusi, lampu-lampu kebohongan, dan bayangan Dajjalik tidak hanya padam, tetapi terhapus dari lembaran sejarah keberadaan.”

Penutup: Menatap Cermin dengan Dua Mata yang Utuh

Pada akhirnya, Dajjal adalah peringatan kosmologis sekaligus panggilan introspeksi batin. Kita bisa saja terus menatap ke luar, memindai tanda-tanda zaman, dan menunjuk orang lain sebagai representasi Dajjal. Namun, tasawuf mengajari kita keberanian yang lebih jauh: menatap ke dalam cermin batin kita sendiri. Apakah di dalam diri kita masih ada sisa-sisa pandangan “sebelah mata”? Apakah kita masih sering mengarungi kehidupan yang “mengada-ada”, penuh kepura-puraan dan pencitraan semu? Apakah kita masih gampang tergiur oleh “surga” instan dan gemetar terhadap “neraka” ancaman?

Jika jawabannya ya, maka Dajjal belum berada di tempat yang jauh. Ia sedang bersemayam secara halus di dalam lipatan-lipatan jiwa kita. Namun, harapan selalu terbentang lebar. Selama suara Adzan masih menggetarkan dada, selama jidat masih bersedia menyentuh bumi dalam sujud yang tulus, dan selama hati nurani masih dipelihara dengan kejujuran serta tanggung jawab, maka fitnah sebesar apa pun tidak akan mampu menggoyahkan keimanan.

Dan ketika jiwa mampu melangkah lebih jauh melintasi seluruh ego menuju maqam Fana’ ul-Fana’, maka selesailah sudah segala bentuk ilusi. Di sana, di puncak hening keberadaan, tidak ada lagi bayangan Dajjal yang menakutkan. Yang ada hanyalah Kedamaian Abadi, Fajar Kebenaran yang tak pernah tenggelam, dan Wujud Tunggal Yang Maha Nyata: La Ilaha Illallah.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Berita Terkait

Hati Yang Sehat, Hati Yang Sakit, dan Hati Yang Mati
Ketika Kekuasaan Ditaklukkan oleh Kesunyian: Fenomena Gus Gudfan dan Jalan Taslim Menuju Muktamar
BADUT PASTI BERLALU: Menguji Substansi Oposisi dan Teatrikalisasi Politik dalam Demokrasi Presidensial
Negara Meminjam Uang Rakyat?
Dinamika Kekuasaan: Antara Patronase, Keamanan, dan Kontrol Elektoral
Saat Jurnalistik Kritis Bertekuk Lutut di Panggung Kekuasaan
Menjaga Rupiah di Panggung yang Berisik
Di Meja Rapat, Sebuah Tipuan Optik?

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:39 WIB

Dajjal di Balik Cermin: Mengurai Ilusi Eksistensial, Kematian Nurani, dan Jeritan Sunyi Manusia Modern

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:21 WIB

Hati Yang Sehat, Hati Yang Sakit, dan Hati Yang Mati

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:44 WIB

Ketika Kekuasaan Ditaklukkan oleh Kesunyian: Fenomena Gus Gudfan dan Jalan Taslim Menuju Muktamar

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:34 WIB

BADUT PASTI BERLALU: Menguji Substansi Oposisi dan Teatrikalisasi Politik dalam Demokrasi Presidensial

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:18 WIB

Negara Meminjam Uang Rakyat?

Berita Terbaru