Oleh: Tofan Mahdi (Penulis buku “Pena di Atas Langit”)
JATIMRAYA.COM – Sebetulnya agak malu untuk menceritakan, tapi kenyataannya memang demikian. Perlu waktu 21 tahun bagi saya untuk lulus kuliah pascasarjana. Jika dihitung masuk kuliah S2 kali pertama tahun 2004 dan baru lulus ujian tesis kemarin (6/8/2025), hampir seperempat abad saya berusaha untuk mendapatkan gelar magister. Lha memang ada kuliah sampai 21 tahun lamanya?
Keasyikan Bekerja
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Jakarta adalah kampus kelima saya sekolah S2. Alhamdulillah akhirnya lulus. Meskipun perlu 8 semester atau 4 tahun untuk bisa menyelesaikan studi. Dan masa ujian tesisnya pun sudah tinggal dua pekan menjelang berakhirnya semester. Meleset lagi, meraih gelar Master Ilmu HI mungkin tinggal mimpi. Luar biasa lelet bukan? Nah yang seperti ini tidak untuk ditiru, terutama untuk adek-adek yang masih energik dan muda.
“Sekolah kuwi sing penting lulus Dek,” kata senior yang sudah seperti kakak sendiri, Dr Leo Herlambang yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor UISI (Universitas Internasional Semen Indonesia) sebelum mendapatkan amanah sebagai tim ahli di salah satu kementerian. Kalimat “sekolah itu yang penting bisa lulus” itu juga saya dengar dari dua sahabat yang lain, yang sama-sama Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair: Prof Dr Muhammad Nafik dan Prof Dr Imron Mawardi. Sudah puluhan tahun saya dengar, tapi dasar saya ndablek, kuliah juga gak kelar-kelar.
Empat kampus yang sempat saya cicipi bangku kelas S2-nya: pertama dan kedua, Magister Akuntansi Universitas Airlangga Surabaya (dua kali masuk dan dua kali prothol/ tidak melanjutkan studi). Bisa dua kali lolos kuliah di Maksi Unair tak lepas dari dukungan yang luar biasa Ketua Prodi Maksi Unair saat itu Prof Dr Tjiptohadi Sawarjuwono. Kuliah di Maksi Unair ini tidak saya lanjutkan karena karir di kantor lagi bagus-bagusnya, baru diangkat sebagai Managing Editor (Redaktur Pelaksana), sebuah posisi yang mentereng dalam jajaran redaksi koran. Matur nuwun dan pangapunten Pak Tjip.
Ketiga, kampus INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) Kuala Lumpur Malaysia. Di sini saya mendapat beasiswa dari Bank Negara Malaysia. Kuliah gratis di Surabaya dan KL. Sempat jalan satu semester tetapi saat harus mengikuti perkuliahan di Malaysia tidak bisa saya lakukan karena alasan pekerjaan sebagai wartawan di Jawa Pos. Sempat memohon agar bisa menjadi wartawan Biro Kuala Lumpur, tetapi ditolak. “Tetap di Surabaya atau pilih kuliah di Malaysia tetapi resign dari pekerjaan,” tegas salah satu pimpinan Jawa Pos
saat itu. Karena menurut hitungan keuangan keluarga jika pindah ke Malaysia dengan anak dua dan hanya mengandalkan uang beasiswa tidak cukup, saya memilih tetap bekerja dan tidak melanjutkan kuliah. Tiga kali sudah pupus kuliah S2.
Tahun 2009 pindah kerja di Jakarta. Setelah sekitar 5 tahun pertama sudah tune in dengan pekerjaan baru, muncul lagi keinginan kuliah. Sekira tahun 2014/ 2015 saya mendaftar di STIE Tazkia Sentul mengambil Prodi Islamic Finance. Baru semester awal, sudah malas melanjutkan, lebih memilih asyik dengan pekerjaan. Gagal-lah upaya keempat saya kuliah S2.
Tahun 2021, masih di tengah situasi pandemi Covid-19, tiba-tiba ingin kuliah lagi. Tapi kali ini bukan di Ekonomi, tetapi Prodi Diplomasi (Hubungan Internasional). Karena teringat cita-cita masa kecil yang ingin jadi diplomat karena terinspirasi tayangan Dunia Dalam Berita tentang Sidang PBB yang membahas nasib Palestina. Searching online sana-sani, akhirnya mantab mendaftar ke Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina. Alasannya, awal-awal kuliah hybrid (online dan offline) dan akreditasnya A.
Awalnya berpikir PGSD adalah tempat kuliah yang mudah, ternyata saya salah. Standar akademiknya sangat tinggi dan staf pengajarnya memiliki kualifikasi akademik yang sangat baik. Rata-rata pengajar di PGSD adalah doktor lulusan kampus-kampus terbaik di luar negeri. Tetapi bukan karena standar akademik
kampusnya yang tinggi yang membuat saya lulus empat tahun tetapi karena salah saya sendiri: terlalu banyak distraksi. Alasan normatifnya sibuk dengan pekerjaan tetapi sebetulnya ada distraksi lain yang tidak bisa diceritakan, juga karena sakit HNP alias syarat terjepit yang proses medikasinya memerlukan waktu yang panjang.
Alhamdulillah standar akademik yang tinggi bisa saya ikuti. Rata-rata nilai mata kuliah saya A, hanya dua kali dapat B+, yaitu mata kuliah yang diampu oleh Dr A. Khoirul Umam dan Dr Anton Aliabbas.
Padahal beliau berdua ini teman-teman baik saya. Mengoleksi IPK 3,73 untuk seluruh mata kuliah (30 SKS) dan A minus untuk Tesis (6 SKS), saya masih menunggu total IPK akhir saya. Syukurlah akhirnya saya pun resmi meraih gelar Magister Hubungan Internasional (MHI), namun numenklatur resmi gelarnya, sesuai peraturan Dikti, adalah M.Sos (Magister Ilmu Sosial). Tuntas sudah ikhtiar dan perjuangan panjang saya hingga 21 tahun untuk bisa mendapatkan gelar S2.
Ilmu di Atas Segalanya
Ketika saya sangat asyik mengejar karir dan jabatan di kantor, beberapa teman dekat dan sahabat tiba-tiba memilih meninggalkan pekerjaannya untuk sekolah S2. Ada yang dapat beasiswa tetapi ada juga yang biaya sendiri. Beberapa teman tetap bekerja di tempat yang sama tetapi nyambi kuliah. Saya heran dengan langkah teman-teman ini, buat apa kuliah lagi, toh mereka sekarang sudah mapan dan nyaman dengan pekerjaannya.
Lima tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun pun berlalu. Tiba-tiba dapat undangan untuk hadir pada Sidang Terbuka Doktoral satu atau dua orang teman. Tiba-tiba dapat undangan seorang sahabat yang terdepak dalam karirnya di kantor sekitar 15 tahun sebelumnya, akan dikukuhkan sebagai seorang guru besar di sebuah PTN ternama di Surabaya. Tidak satu atau dua orang, banyak sekali sahabat yang tiba-tiba doktor dan tiba-tiba profesor. Seperti sahabat Kurniawan Muhammad yang dua bulan lalu meraih gelar Doktor Ilmu Politik dari Universitas Brawijaya. Sebelumnya, Brigita Manohara, sahabat yang juga presenter sebuah TV berita, meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Indonesia. Banyak lagi lainnya.
“Kuliahmu durung mari tha Bro? Ndang marekno,”
Dr Kurniawan Muhammad yang sekarang mengajar di
Universitas Islam Malang, setiap bertemu selalu menanyakan hal yang sama; kapan saya menyelesaikan S2.
Ketika teman-teman asyik mengejar ilmu, saya yang asyik mengejar karir dan jabatan ini, tampak tidak kemana-mana dan tidak jadi apa-apa juga. Sekitar 20
tahun lalu sempat berbangga menjadi seorang Managing Editor termuda (usia 31 tahun) dan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi termuda (33 tahun). Tetapi ya sampai di situ saja. Tersingkir di puncak, saat menjadi pucuk pimpinan tertinggi di redaksi koran terbesar kedua di Indonesia tinggal selangkah, ternyata takdir mengharuskan saya hijrah dan pindah profesi ke Jakarta. Dan history repeat, sejarah berulang. Membangun karir baru, naik tangga karir mendekati puncak, eh terpeleset juga.
Mata pun terbuka. Mungkin saya salah. Ternyata bukan karir, jabatan, atau uang yang harus kita kejar habis-habisan. Jabatan bisa hilang, uang bisa habis, dan kekuasaan bisa digantikan. Tetapi ilmu yang bermanfaat yang kita pelajari dan dapatkan akan kekal mendampingi kita sepanjang hayat. Dan ilmu yang kita bagikan akan menjadi catatan amal jariyah kita saat kelak kita wafat.
Tak ada kata terlambat untuk mengejar sebuah ilmu. Mumpung masih diberikan sehat wal afiat, kita tuntut ilmu hingga ke liang lahat. Menutup catatan ringan ini, saya kutip salah satu firman Allah SWT dalam Surah Al Mujadalah ayat 11:
“Berlapang-lapanglah dalam majelis ilmu, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”














