Belajarlah Diam!

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 2 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anwar Hudijono

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

JATIMRAYA.COM – Salah satu amalan utama yang dicontohkan Rasulullah pada bulan Ramadhan adalah itikaf atau berdiam diri di dalam masjid terkhusus pada 10 hari terakhir Ramadhan. Saya kira umat Islam sudah sangat mafhum tentang hal ini.

Dalam itikaf itu ada proses belajar diam. Maka dipilihlah masjid sebagai tempatnya. Lingkungan masjid penuh dengan nilai spiritualisme. Di jaman now, belajar diam itu sangat penting. Sebab ranah publik sudah penuh dengan polutan informasi berupa fitnah, hoaks, prank, ujub, kesombongan, kebodohan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Semakin banyak aktif dalam pergulatan informasi di ranah publik ibaratnya semakin banyak menghirup polutan daripada oksigin. Paru-paru yang terlalu banyak mengonsumsi polutan, risidu lama-lama kotor dan jebol juga.

Saat ini trends banjir informasi menggiring manusia menjadi penonton, bukan pemikir. Sampai-sampai kadang ironis. Itikaf di masjid itu kan disuruh berdzikir dan berpikir. Tapi yang tejadi itikaf justru diisi tiktokan. Cari internet gratis. Untuk buat nyetatus. Di antara shalat tarawih bukan baca Allahumma innaka afuwum karim, tapi chek whatsap. Ajuur.. ajuur.

Diam yang diniatkan itikaf itu bukan sembarang diam. Tapi diam yang penuh makna. Diam tapi sebenarnya ada pergerakan sangat cepat. Pergerakan transformatif revolusioner dengan memanfaatkan momentum yang singkat untuk menjadi manusia ulul albab.

Siapa ulul albab? Sebagaimana disebutkan di Quran surah Ali Imrah 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ulul albab (orang yang berakal),

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Ulul albab adalah orang merajut dirinya dengan selalu dzikir kepada Allah dalam keadaan apapun. Saat duduk, berdiri, berbaring. Setiap denyut jantungnya adalah dzikir. Hembusan nafasnya adalah dzikir. Dan dzikir yang dilakukan secara rahasia adalah dzikir yang utama.

Ulul albab bukan sekadar berakal tetapi menggunakan daya akalnya untuk memikirkan segala karya cipta Allah atas alam semesta, termasuk dirinya. Tidak banyak manusia yang memiliki aktivitas pikir demikian. Bahkan jarang memikirkan siapa dirinya, apa tujuan hidupnya di dunia, apa hakikat dunia yang ditempatinya.

Ini sejalan dengan fitrah Islam sebagai agama untuk orang yang berpikir. Islam tidak menghendaki pemeluknya hanya ngglundung semprong (ikut-ikutan) dalam beragama. Dalam bahasa fiqihnya taqlid.

Tingginya apresiasi Islam terhadap olah pikir ini yang menjadi salah satu daya tarik Islam di kalangan orang cerdas sehingga masuk Islam. Sudah berapa ribu orang cerdas, khususnya dari Barat yang masuk Islam justru ketika berpikir. Sebab agama lain justru mengajarkan agar manut saja pada imam atau pemimpin agama. Jangankan bersikap kritis, bahkan bertanya saja tidak boleh. Jawaban khas sang imam adalah “Sudahlah ikuti saya saja, penak-penak”.

Ulul albab memiliki kekuatan spiritual yang dahsyat. Ia menyerahkan olah pikirnya kepada keilmuan dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Inilah yang membedakan ilmuwan atau intelektual sekuler dengan intelektual ulul albab.

Intelektual sekuler berpendapat rasionalitas adalah puncak kebenaran. Inilah yang membuat mereka keblinger Sedang ulul albab yakin puncak kebenaran adalah kemutlakan Tuhan. Maka ulul albab selaku rendah hati, memuji Tuhan sekaligus memohon dijauhkan dari api neraka. (Andy Setiawan)***

Berita Terkait

Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media
Teken MoU, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas untuk Menjaga Ketahanan Nasional
Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik
Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik
Lestarikan Budaya Jawa, Purwakanthi Gelar Pementasan Prasadha Hambeksa Abhirama
Perkuat Digitalisasi Organisasi, PWI Pusat Resmi Launching Website pwi.or.id
Dukung Gus Kikin Pimpin PBNU, Lora Hasyim Tekankan Harapan untuk Warga Nahdliyin
Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:42 WIB

Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:18 WIB

Teken MoU, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas untuk Menjaga Ketahanan Nasional

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:53 WIB

Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Lestarikan Budaya Jawa, Purwakanthi Gelar Pementasan Prasadha Hambeksa Abhirama

Berita Terbaru

Lifestyle

Kok Haji Isam?

Sabtu, 24 Okt 2026 - 17:18 WIB

Lifestyle

Nyali Prabowo di Antara Dikte Pasar dan Cengkeraman Oligarki

Sabtu, 24 Okt 2026 - 08:03 WIB