Top Predator’ di Rimba Kekuasaan Modern

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 7 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras 

JATIMRAYA.COM – Sebuah Perenungan tentang Nalar, Keserakahan, dan Batas Ekologis Kekuasaan

Bayangkan sebuah rimba yang lebat. Pikiran awam kita akan segera menunjuk harimau yang mengaum lantang atau singa politik yang gemar memamerkan taring di atas podium sebagai penguasa tertinggi. Namun, benarkah mereka berada di puncak rantai makanan? Di medan laga kekuasaan yang sejati, sejarah berulang kali membisikkan koreksi: top predator bukanlah ia yang paling bising, melainkan kekuatan hening yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur siapa yang boleh berburu, kapan perburuan dimulai, di mana ladangnya, dan dengan aturan siapa. Ia adalah wujud dari ‘meta-kekuasaan’—sebuah kekuasaan atas kekuasaan itu sendiri.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam lanskap modern yang hari ini kita huni, sang predator puncak telah bermutasi menjadi sistem yang rapi, dingin, dan kerap kali tanpa wajah. Ia bekerja melalui empat ketangkasan purba. Pertama, ia memiliki otoritas absolut untuk mendefinisikan siapa yang menjadi “teman” dan siapa yang sah dijadikan “mangsa”. Kedua, ia dengan cerdik menyusun aturan main yang ketat bagi seisi rimba, namun dirinya sendiri berdiri dengan angkuh di luar aturan tersebut. Ketiga, ia gemar menyulut konflik di antara para predator tingkat bawah agar mereka saling melemahkan dan cakar-cakaran mereka tumpul oleh sesamanya. Dan keempat, yang paling mematikan, ia mampu mendiktekan keputusan-keputusan besar lewat bisikan halus, tanpa pernah merasa perlu menunjukkan taringnya di hadapan publik.

Ia bisa mewujud dalam rupa seorang birokrat bayangan yang mengendalikan pena regulasi, sebuah ideologi mutlak yang tak boleh dibantah, atau bahkan sebuah ketakutan kolektif yang dipelihara sedemikian rupa, hingga membuat seluruh makhluk rimba patuh dan bersujud tanpa perlu dipaksa secara fisik.

Ketika kita membedah sistem ekonomi dunia hari ini melalui kacamata Neoliberalisme, predator tanpa wajah ini menjelma menjadi jaring-jaring kapital global dan struktur teknokrasi. Mereka adalah lembaga finansial internasional, algoritma Big Tech, serta para konsultan bayangan yang merancang undang-undang dari balik meja kaca di kota-kota megapolitan dunia. Mereka mendikte kebijakan sebuah negara berdaulat melalui indikator peringkat utang dan syarat investasi. Mereka membiarkan para politisi lokal di negara-negara berkembang saling cakar-cakaran memperebutkan remah-remah kekuasaan, sementara arah peradaban dan sumber daya alam telah dikunci oleh aturan main yang mereka ciptakan.

Sebaliknya, jika kita menengok ke dalam sangkar Otoritarianisme, predator puncak ini mewujud sebagai Arsitek Ketakutan. Sang diktator boleh jadi adalah singa yang dipajang di etalase, namun mesin kecemasan yang berjalan di belakangnyalah sang predator sejati. Hukum sengaja dibuat abu-abu dan tidak pasti agar setiap warga negara merasa bersalah dan diliputi kecemasan. Ketika rasa takut telah merembes hingga ke sumsum tulang masyarakat, terjadilah apa yang disebut sensor diri. Tanpa perlu moncong senjata di setiap sudut jalan, kepatuhan telah tegak dengan sendirinya karena nalar kritis masyarakat telah mati sukarela.

Namun, rimba raya memiliki hukumnya sendiri yang tak bisa ditawar oleh kesombongan manusia. Di alam yang perawan, seorang predator puncak yang sejati selalu dibatasi oleh keseimbangan ekologis. Jika ia terlalu rakus dan menghabiskan seluruh hewan buruannya tanpa sisa, maka esok hari ia akan mati kelaparan di tengah kesunyian rimba yang ia hancurkan sendiri. Kekuasaan pun demikian. Ia membawa benih kehancurannya sendiri di dalam rahim keserakahannya.

Dalam bentang sejarah, fenomena ini dikenal sebagai ‘hubris’—kesombongan akut yang membutakan. Ketika Neoliberalisme terlalu dalam menghisap darah kelas pekerja tanpa menyisakan jaring pengaman, sistem itu akan ambruk oleh krisis finansial yang hebat atau hantaman populisme ekstrem. Begitu pula ketika Otoritarianisme berhasil membungkam seluruh oposisi dan menghabisi setiap kritik, sang penguasa sebenarnya sedang mengisolasi dirinya di dalam ruang gema yang penuh ilusi. Tanpa radar kritik, mereka kehilangan kemampuan membaca realitas, berjalan dalam kegelapan salah kalkulasi, hingga akhirnya runtuh dari dalam oleh pembusukan yang mereka pelihara sendiri.

Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan yang benderang. Setangguh apa pun sebuah kekuatan merekayasa aturan main, mereka tetap tidak akan pernah bisa meloloskan diri dari hukum alam politik. Kekuasaan yang tak terkendali, yang abai terhadap napas kehidupan rakyatnya, pada hakikatnya sedang meruntuhkan fondasi tempat ia berdiri. Rimba akan selalu menemukan cara untuk memulihkan keseimbangannya sendiri, dan sejarah selalu memiliki cara yang sunyi namun pasti untuk menumbangkan para predator yang melampaui batasnya.

Salam Nalar dan Kontemplasi.

Berita Terkait

Amburadul: Gugatan Nalar atas Struktur yang Mengasuh Kerusakan
Berhala Bernama Uang: Ketika Angka Mendikte Jiwa
Saatnya Politik Ekonomi Fokus ke Sektor Riil Menengah Bawah?
Global Bond Danantara: Lazim, tapi Perlu Transparansi
Berbusana Yang Bagus Setiap Memasuki Masjid
Indonesia Bukan Satelit: Menolak “Pivot Washington” dan Menegaskan Kedaulatan Aktif di Abad Multipolar
Panggung P21 dan Luka Ideologis Negara Hukum Kita
Kongres Nasional IV GSNI: Konsolidasi Pelajar Nasionalis dan Pertaruhan Masa Depan Kebangsaan

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:21 WIB

Amburadul: Gugatan Nalar atas Struktur yang Mengasuh Kerusakan

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:11 WIB

Berhala Bernama Uang: Ketika Angka Mendikte Jiwa

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:06 WIB

Top Predator’ di Rimba Kekuasaan Modern

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:59 WIB

Saatnya Politik Ekonomi Fokus ke Sektor Riil Menengah Bawah?

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:53 WIB

Global Bond Danantara: Lazim, tapi Perlu Transparansi

Berita Terbaru

Lifestyle

Berhala Bernama Uang: Ketika Angka Mendikte Jiwa

Minggu, 7 Jun 2026 - 00:11 WIB

Lifestyle

Top Predator’ di Rimba Kekuasaan Modern

Minggu, 7 Jun 2026 - 00:06 WIB