Teknokrasi di Persimpangan: Antara Benteng Tata Kelola dan Pembantu Syahwat Politik

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 14 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras

JATIMRAYA.COM – Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dan penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru membawa angin penyesalan yang sama, hanya dibungkus dengan pita yang berbeda. Ketika figur yang dikenal vokal dan cenderung eksperimental digantikan oleh seorang teknokrat murni yang dibesarkan di lorong-lorong birokrasi karier Kementerian Keuangan, publik sempat menghela napas lega. Ada ilusi seolah kepastian telah kembali, dan benteng tata kelola keuangan negara kini dijaga oleh pawang yang paham persis anatomi angka dan regulasi.

Namun, di sinilah letak ironi terbesar dalam panggung politik kekuasaan kita.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehadiran seorang teknokrat di tengah ambisi politik yang boros anggaran bukanlah tanda bahwa kekuasaan sedang bertobat. Ia dihadirkan bukan untuk mengerem laju kereta yang ugal-ugalan, melainkan untuk memastikan bahwa benturan yang akan terjadi dilapisi oleh dokumen-dokumen legal yang rapi. Peran teknokrat perlahan terdistorsi: dari fiscal guardian—sang penjaga moral anggaran yang berani berkata tidak—menjadi seorang enabler yang mahir merekayasa akrobat pembiayaan. Atas nama kelancaran program strategis kekuasaan, prinsip dasar tata kelola acap kali ditawar, dilipat, dan diselipkan di antara celah-celah diskresi birokrasi.

Program-program mercusuar yang memakan biaya fantastis menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Postur APBN diperas, alokasi produktif daerah dipangkas, dan kewajiban kontinjensi masa depan ditumpuk rapat-rapat di balik meja negosiasi yang tertutup. Ketika teknokrasi kehilangan independensinya dan sekadar menjadi instrumen legitimasi bagi kepuasan politik instan, maka tata kelola publik bukan lagi soal kepatuhan, melainkan soal seni menyembunyikan risiko.

Kita sedang menyaksikan bagaimana integritas kelembagaan diuji sampai ke batas tertipisnya. Di satu sisi, ada desakan politik yang menuntut eksekusi tanpa peduli rambu-rambu; di sisi lain, ada bayang-bayang krisis sistemik yang mengintai jika akuntabilitas terus diabaikan. Di tengah kepungan ambisi yang mahal ini, arah bangsa seperti berjalan di atas tali tipis: antara harapan dan keputusasaan yang tak terelakkan.

Berita Terkait

Kembalinya Sang Teknokrat: Membaca Ideologi Fiskal di Balik Pengangkatan Suahasil Nazara
Beban Kemasan dalam Timbangan Nalar
Antara Ultimum Remedium dan Overcriminalization: Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Penyitaan Harta Pribadi, dan Kepastian Hukum dalam KUHP 2026
Ketika Bumi Memuntahkan Rahasianya: Membaca Isyarat Zaman dalam Cahaya Tasawuf
Anatomia Malu: Dari Arsitektur Kebudayaan ke Panggung Tipu-Menipu Politik
Demokrasi Tanpa Akal Sehat: Mengapa Kita Harus Muak?
Badan Sebagai Barzakh: Jembatan antara Langit dan Bumi
Pengusaha, Republik, dan Pertaruhan RUU KADIN

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 21:56 WIB

Kembalinya Sang Teknokrat: Membaca Ideologi Fiskal di Balik Pengangkatan Suahasil Nazara

Senin, 14 September 2026 - 17:18 WIB

Teknokrasi di Persimpangan: Antara Benteng Tata Kelola dan Pembantu Syahwat Politik

Senin, 14 September 2026 - 17:12 WIB

Beban Kemasan dalam Timbangan Nalar

Minggu, 13 September 2026 - 09:09 WIB

Antara Ultimum Remedium dan Overcriminalization: Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Penyitaan Harta Pribadi, dan Kepastian Hukum dalam KUHP 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 21:30 WIB

Ketika Bumi Memuntahkan Rahasianya: Membaca Isyarat Zaman dalam Cahaya Tasawuf

Berita Terbaru

Lifestyle

Beban Kemasan dalam Timbangan Nalar

Senin, 14 Sep 2026 - 17:12 WIB