Ketika Robot Dimanusiakan, Manusia Dirobotkan: Krisis Arah Gerakan di Era Artificial Intelligence

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 17 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membaca Ulang Kaderisasi, Kekuasaan, dan Masa Depan GMNI di Tengah Perubahan Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan

Oleh: Ir. Aldian Dwi Pamungkas (Demisioner Ketua Cabang GMNI Surabaya 2018-2020)

JATIMRAYA.COM – Konferda GMNI Jawa Timur 2026 berlangsung pada sebuah zaman yang berbeda. Dunia tidak lagi hanya mengalami perubahan politik, ekonomi, dan kebudayaan, tetapi sedang memasuki transformasi yang menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar yaitu bagaimana manusia berpikir, memperoleh pengetahuan, bekerja, berkomunikasi, dan memahami realitas.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah bergerak dari ruang laboratorium menuju kehidupan sehari-hari. Mesin tidak lagi sekadar menjalankan perintah. Ia mampu membaca pola, menghasilkan teks, membuat gambar, menganalisis data, menerjemahkan bahasa, hingga berinteraksi dengan manusia.

Di tengah kemajuan tersebut muncul sebuah paradoks zaman,

Ketika robot semakin dimanusiakan, manusia justru berisiko semakin dirobotkan.

Mesin diberikan kemampuan menyerupai manusia, sementara manusia semakin didorong untuk berpikir seperti mesin: cepat, efisien, terukur, responsif, mengikuti pola, mengejar angka, dan tunduk pada algoritma.

Paradoks tersebut semestinya menjadi bahan refleksi serius bagi organisasi pergerakan.

 Krisis Zaman Ini Bukan Sekadar Krisis Teknologi

Persoalan terbesar AI sesungguhnya bukan hanya tentang apakah mesin kelak mampu menggantikan pekerjaan manusia. Persoalan yang lebih mendasar adalah perubahan terhadap cara manusia memperoleh dan memvalidasi pengetahuan.

Di sinilah epistemologi menjadi relevan.

Epistemologi membicarakan bagaimana pengetahuan diperoleh, bagaimana kebenaran diuji, dan bagaimana manusia membedakan pengetahuan dari sekadar informasi.

Hari ini manusia hidup dalam kelimpahan informasi. Namun kelimpahan informasi tidak otomatis melahirkan kelimpahan pengetahuan.

Setiap detik masyarakat berhadapan dengan berita, video pendek, opini, propaganda, statistik, komentar, dan berbagai informasi yang diproduksi tanpa henti. Algoritma kemudian menyaring apa yang muncul di hadapan pengguna berdasarkan perilaku, preferensi, dan interaksi digital.

Akibatnya, manusia bukan hanya mengonsumsi informasi, tetapi semakin hidup di dalam realitas yang telah diseleksi oleh algoritma.

Di sinilah persoalan epistemologis menjadi penting. Sesuatu dapat dianggap benar bukan karena telah diuji secara kritis, melainkan karena terus muncul di layar. Sebuah gagasan dapat dianggap kuat bukan karena argumentasinya, melainkan karena memperoleh perhatian paling besar. Popularitas kemudian perlahan menggantikan proses verifikasi.

Situasi tersebut bukan hanya persoalan teknologi.

Ia merupakan persoalan kesadaran.

 Sukarno dan “Guru di Masa Kebangunan”

Pada titik inilah warisan pemikiran Sukarno menjadi relevan untuk dibaca kembali, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai cermin bagi kader hari ini.

Sukarno menempatkan pendidikan politik, kesadaran, dan pembentukan manusia sebagai bagian penting dari proses kebangunan. Dalam perspektif tersebut, seorang kader bukan sekadar pengikut keadaan, melainkan manusia yang belajar membaca zamannya dan kemudian ikut membangkitkan kesadaran masyarakat.

Gagasan tentang “guru di masa kebangunan” menjadi penting karena seorang guru dalam pengertian pergerakan bukan hanya orang yang menyampaikan pengetahuan. Ia adalah manusia yang membantu manusia lainnya memahami realitas, menemukan kesadaran, dan mengenali kemungkinan perubahan.

Pada masa kebangunan nasional, tantangannya adalah membangunkan manusia dari keadaan yang membuat mereka menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang biasa.

Hari ini bentuk tantangannya berubah.

Manusia tidak lagi hanya berhadapan dengan keterbatasan informasi. Manusia justru berhadapan dengan kelebihan informasi yang belum tentu menghasilkan kesadaran.

Karena itu, kader pada zaman Artificial Intelligence harus mampu menjadi “guru di masa kebangunan” dalam pengertian yang baru: menjadi manusia yang membantu masyarakat memilah informasi, memahami struktur di balik teknologi, mengenali kepentingan yang bekerja di balik algoritma, serta mempertahankan kemampuan berpikir secara mandiri.

Jika dahulu kebangunan membutuhkan manusia yang mampu membangkitkan kesadaran dari tidur panjang kolonialisme, maka kebangunan hari ini membutuhkan manusia yang mampu membangkitkan kesadaran dari banjir informasi, manipulasi perhatian, dan ketergantungan terhadap algoritma.

Di sinilah kaderisasi menemukan kembali relevansinya.

 Ketika Kader Mulai Berpikir Seperti Algoritma

Kaderisasi pada hakikatnya bukan sekadar proses menyiapkan seseorang untuk menduduki posisi tertentu. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia yang memiliki kesadaran, pengetahuan, keberanian, dan kemampuan membaca realitas.

Namun ketika ukuran keberhasilan kader mulai bergeser menjadi jumlah pengikut, kekuatan jaringan, kedekatan dengan pusat kekuasaan, posisi struktural, atau kemampuan memenangkan kontestasi internal, maka organisasi perlu melakukan refleksi.

Kader dapat kehilangan kemampuan untuk memahami alasan mengapa dirinya berorganisasi ketika pertanyaan tentang perjuangan perlahan tergantikan oleh pertanyaan tentang posisi.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan pergeseran orientasi yang mendasar.

Organisasi pergerakan yang seharusnya memproduksi kesadaran kritis berisiko berubah menjadi arena reproduksi kepentingan. Kader tidak lagi ditempatkan sebagai subjek yang membaca dan mengubah sejarah, tetapi berpotensi menjadi objek dari mekanisme kekuasaan yang sedang dimainkan.

Di titik inilah kritik terhadap kaderisasi menjadi penting.

Apakah kaderisasi masih membentuk manusia yang berpikir, atau hanya membentuk manusia yang pandai mengikuti pola?

 Kekuasaan Semu di Tengah Politik Angka

Era digital semakin membuat manusia akrab dengan angka. Jumlah pengikut, jumlah tayangan, jumlah interaksi, jumlah suara, dan jumlah dukungan dengan mudah dijadikan ukuran pengaruh.

Padahal angka tidak selalu identik dengan legitimasi substantif.

Fenomena serupa dapat muncul dalam organisasi. Jumlah dukungan memang menentukan hasil sebuah kontestasi, tetapi belum tentu menjawab kualitas gagasan yang dibawa.

Seseorang dapat memiliki posisi tinggi tanpa otomatis memiliki kemampuan mengubah keadaan. Seseorang dapat memiliki jaringan luas tanpa otomatis memiliki keberpihakan yang kuat kepada rakyat.

Karena itu, penting membedakan kekuasaan struktural dari kekuasaan substantif.

Kekuasaan struktural lahir dari posisi, sedangkan kekuasaan substantif lahir dari kemampuan menghadirkan perubahan.

Ketika posisi menjadi tujuan akhir, kekuasaan kehilangan makna perjuangannya dan berubah menjadi kekuasaan semu: terlihat besar di dalam struktur, tetapi kehilangan daya ketika berhadapan dengan realitas masyarakat dan terjebak dalam megalomania effect

Di sinilah organisasi perlu bertanya:

Apakah jabatan sedang digunakan sebagai alat perjuangan, atau perjuangan justru sedang dijadikan jalan menuju jabatan ?

 Ketika Kekuasaan Menggantikan Kesadaran

Ada persoalan lain yang tidak boleh luput dari refleksi kaderisasi dimana ketika perbedaan pilihan dan kepentingan kelompok mulai diselesaikan melalui kekerasan, intimidasi, pemaksaan kehendak, atau upaya memecah belah kader.

Dalam organisasi pergerakan, perbedaan adalah sesuatu yang niscaya. Perbedaan pandangan, strategi, pilihan kepemimpinan, maupun cara membaca persoalan merupakan bagian dari dinamika organisasi.

Namun ketika perbedaan tidak lagi dipertemukan melalui argumentasi, dialog, dan mekanisme organisasi, melainkan melalui tekanan dan ketakutan, maka yang mengalami kemunduran bukan hanya proses demokrasi organisasi, tetapi juga kualitas gerakan itu sendiri.

Kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai instrumen perjuangan. Intimidasi bukan bentuk kepemimpinan. Pemaksaan kehendak bukan manifestasi keberanian.

Begitu pula perpecahan yang sengaja diciptakan demi kepentingan kelompok hanya akan menjadikan organisasi kehilangan energi untuk menghadapi persoalan rakyat.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar,

Ketika seorang kader lebih sibuk menekan kader lainnya daripada membangun kesadaran, masihkah ia sedang menjalankan watak sebagai kader pergerakan ?

Kaderisasi seharusnya melahirkan manusia yang mampu berdialog dengan perbedaan, bukan manusia yang takut terhadap perbedaan.

Kaderisasi seharusnya membentuk keberanian untuk mempertanggungjawabkan gagasan, bukan keberanian untuk memaksakan kehendak.

Di sinilah paradoks “robot dimanusiakan, manusia dirobotkan” kembali menemukan relevansinya.

Robot bekerja mengikuti instruksi. Ia tidak mempertanyakan siapa yang memberikan perintah, untuk kepentingan apa perintah itu diberikan, dan apa akibatnya bagi manusia.

Ketika kader mulai bergerak hanya berdasarkan instruksi kelompok, mengikuti kepentingan tertentu tanpa kemampuan untuk menguji secara kritis, serta membenarkan tindakan hanya karena dilakukan oleh kelompoknya sendiri, maka kader tersebut perlahan kehilangan posisi sebagai subjek.

Ia bukan lagi kader yang berpikir. Ia hanya menjadi pelaksana.

Ia bukan lagi manusia yang menghidupkan gagasan. Ia menjadi bagian dari mekanisme.

Dalam keadaan demikian, organisasi dapat terlihat bergerak secara struktural, tetapi sesungguhnya mengalami kemunduran secara substantif.

Rapat tetap berlangsung. Jabatan tetap diperebutkan. Kontestasi tetap berjalan. Struktur tetap berdiri.

Tetapi ruh gerakan perlahan kehilangan daya hidupnya.

Jangan sampai GMNI menghasilkan manusia yang hanya pandai mengikuti perintah, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir.

Jangan sampai kader lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan prinsip.

Sebab pergerakan mahasiswa tidak dibangun untuk melahirkan kepatuhan mekanis. Ia dibangun untuk melahirkan manusia yang sadar, kritis, berani, dan mampu mempertanggungjawabkan perjuangannya di hadapan sejarah.

 Perpecahan dan Kemunduran Gerakan

Perpecahan yang dibangun demi kepentingan kelompok juga perlu dibaca secara kritis.

Ketika kader sengaja dipertentangkan agar kepentingan tertentu dapat dipertahankan, organisasi tidak sedang memperkuat demokrasi. Organisasi justru sedang menghabiskan energi internal yang seharusnya digunakan untuk membaca persoalan rakyat.

Pada akhirnya, kelompok mungkin memperoleh keuntungan jangka pendek, tetapi gerakan membayar harganya dengan mahal yaitu hilangnya kepercayaan, rusaknya solidaritas, melemahnya kaderisasi, dan semakin jauhnya organisasi dari persoalan masyarakat.

Apa gunanya memenangkan pertarungan internal jika organisasi kehilangan kemampuan memenangkan pertarungan gagasan di tengah masyarakat ?

Pertanyaan ini penting karena kemenangan dalam sebuah kontestasi internal tidak selalu identik dengan kemajuan gerakan.

Ketika kekuasaan menjadi tujuan, kader dapat berubah menjadi alat.

Ketika kelompok menjadi tujuan, organisasi dapat berubah menjadi arena pembenaran.

Dan ketika kepatuhan menggantikan kesadaran, kaderisasi kehilangan makna pendidikannya.

Maka GMNI perlu kembali membedakan antara kader yang patuh kepada prinsip dan kader yang sekadar patuh kepada orang atau kelompok.

Kader yang memiliki kesadaran dapat berbeda dengan kawannya tanpa menjadi musuh. Dapat berdebat tanpa melakukan kekerasan. Dapat kalah dalam kontestasi tanpa kehilangan martabat. Dapat memenangkan kontestasi tanpa memperlakukan pihak lain sebagai musuh yang harus disingkirkan.

Itulah kedewasaan politik organisasi.

Sebab gerakan tidak diukur hanya dari siapa yang berhasil menduduki kursi kepemimpinan, tetapi juga dari bagaimana manusia diperlakukan dalam proses menuju kepemimpinan tersebut.

Jika untuk mempertahankan kekuasaan diperlukan intimidasi, jika untuk memenangkan kepentingan diperlukan pemaksaan, dan jika untuk mempertahankan kelompok diperlukan perpecahan, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa yang menang, tetapi apa yang sesungguhnya sedang dimenangkan.

Jangan sampai organisasi pergerakan menghasilkan kader yang tampak bergerak, tetapi tidak lagi mengetahui ke mana gerakan harus diarahkan.

Jangan sampai manusia yang seharusnya menjadi subjek sejarah justru berubah menjadi robot yang menjalankan kepentingan kelompok.

Konferda Tidak Boleh Kehilangan Pertanyaan Besarnya

Dalam konteks Konferda GMNI Jawa Timur 2026, persoalan tersebut menjadi semakin relevan.

Konferda memang merupakan ruang untuk membahas kepemimpinan dan struktur organisasi. Namun konferensi sebuah organisasi pergerakan seharusnya memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pergantian jabatan.

Konferda semestinya menjadi momentum untuk membaca persoalan masyarakat Jawa Timur dan merumuskan bagaimana organisasi merespons perubahan zaman.

Jawa Timur menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi, sementara transformasi digital secara bersamaan mengubah dunia kerja, pendidikan, industri, media, dan relasi sosial.

Perubahan tersebut semestinya mendorong organisasi untuk memikirkan masa depan buruh di tengah otomatisasi, masa depan pendidikan di tengah AI, ketimpangan akses terhadap teknologi, perubahan pola kerja, serta bagaimana algoritma membentuk opini publik dan perilaku masyarakat.

Jika persoalan-persoalan tersebut tidak menjadi bagian penting dari diskursus organisasi, ada risiko energi konferensi lebih banyak terserap oleh persoalan internal daripada perubahan eksternal yang sedang berlangsung begitu cepat.

*angan sampai konferensi yang seharusnya menentukan arah justru kehilangan arah karena terlalu sibuk menentukan siapa yang berkuasa.

 Dari Subjek Menjadi Objek

Bahaya terdalam dari perkembangan teknologi bukan semata-mata kemungkinan mesin menggantikan manusia.

Bahaya yang lebih serius adalah ketika manusia kehilangan posisi sebagai subjek.

Manusia menjadi objek data, objek algoritma, objek pasar, objek popularitas, objek survei, bahkan objek propaganda.

Dalam organisasi, manusia juga dapat direduksi menjadi angka dukungan.

Ketika kader hanya dipandang berdasarkan jumlah suara, jaringan, atau posisi yang dapat diberikan, pengalaman, kesadaran, aspirasi, dan martabat manusia berisiko dikesampingkan.

Padahal inti gerakan sosial terletak pada manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran untuk memahami keadaan dan kemampuan untuk mengubahnya.

Karena itu, tantangan terbesar kaderisasi di era Artificial Intelligence bukan hanya membuat kader mampu menggunakan teknologi, tetapi memastikan teknologi tidak mengambil alih kesadaran kader.

Artificial Intelligence dapat membantu manusia berpikir, tetapi manusia tetap harus menentukan apa yang layak dipikirkan.

Artificial Intelligence dapat menghasilkan informasi, tetapi manusia tetap harus menguji kebenarannya.

Artificial Intelligence dapat menyusun argumentasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap nilai dan konsekuensi dari keputusan yang dibuat.

Demikian pula kekuasaan organisasi dapat menjadi instrumen perjuangan, tetapi kader tetap harus mempertanyakan untuk apa kekuasaan itu digunakan.

 Kader Harus Menjadi Pembaca Zaman

GMNI tidak perlu bersikap anti-teknologi.

Justru organisasi pergerakan harus memahami teknologi secara lebih kritis dan menjadi pelopor lahirnya sosio-teknologi dalam menyikapi perubahan zaman, terutama agar kemajuan teknologi tidak berkembang menjadi bentuk eksploitasi baru terhadap manusia.

Kader masa depan harus mampu menggunakan Artificial Intelligence sekaligus memahami struktur sosial yang berada di balik teknologi.

Kader harus mampu membaca data tanpa menjadi budak data, memahami algoritma tanpa tunduk kepada algoritma, serta memasuki ruang kekuasaan tanpa kehilangan orientasi perjuangan.

Di sinilah kaderisasi diuji.

Kader tidak cukup hanya menjadi pengguna zaman.

Kader harus menjadi pembaca zaman.

Dalam semangat “guru di masa kebangunan”, kader juga dituntut untuk menjadi pembangun kesadaran. Bukan sekadar menyampaikan apa yang diketahui, tetapi membantu masyarakat memahami apa yang sedang terjadi dan mengapa keadaan tersebut harus dibaca secara kritis.

Sebab masyarakat yang memiliki informasi belum tentu memiliki kesadaran.

Dan masyarakat yang memiliki kesadaran jauh lebih mungkin menjadi subjek perubahan.

 Dari Perebutan Posisi Menuju Perebutan Gagasan

Konferda GMNI Jawa Timur 2026 dapat menjadi momentum untuk mengembalikan organisasi pada pertarungan yang lebih substantif, yakni pertarungan gagasan.

Perebutan posisi tanpa perebutan gagasan hanya menghasilkan pergantian struktur.

Sebaliknya, pergulatan gagasan dapat melahirkan arah baru.

Organisasi membutuhkan perdebatan mengenai masa depan pendidikan, pekerjaan, transformasi digital, ketimpangan sosial, lingkungan, industrialisasi, kebudayaan, demokrasi, serta posisi manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

Dunia sedang berubah dan tidak akan menunggu organisasi menyelesaikan persoalan internalnya.

Teknologi akan terus bergerak.

Kapital akan terus beradaptasi.

Algoritma akan terus berkembang dan yang menjadi persoalan adalah,

Apakah kesadaran kader juga berkembang secepat perubahan zaman ?

 Jangan Sampai Robot Dimanusiakan, Manusia Dirobotkan

Pada akhirnya, perkembangan Artificial Intelligence membawa manusia kembali kepada pertanyaan klasik tentang kemanusiaan.

Teknologi diciptakan untuk memperluas kebebasan manusia atau justru memperluas kontrol terhadap manusia ?

Otomatisasi dibangun untuk mengurangi beban manusia atau berpotensi melahirkan bentuk eksploitasi baru ?

Artificial Intelligence dikembangkan untuk memperluas pengetahuan atau justru dapat membentuk manusia agar menerima realitas yang telah dipilihkan oleh sistem ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya menjadi bagian dari diskursus gerakan mahasiswa.

Teknologi tidak berdiri di ruang kosong. Ia hadir di dalam struktur ekonomi, politik, kebudayaan, dan relasi kekuasaan tertentu.

Karena itu, organisasi pergerakan harus mampu membaca bukan hanya manfaat teknologi, tetapi juga siapa yang menguasainya, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung risikonya, dan manusia seperti apa yang sedang dibentuk olehnya.

Di sinilah epistemologi bertemu dengan politik dan kaderisasi.

Manusia harus mempertahankan kemampuan untuk bertanya, meragukan, memeriksa, membandingkan, dan merefleksikan realitas sebelum mengambil sikap.

Konferda GMNI Jawa Timur 2026 semestinya tidak berhenti pada persoalan siapa yang memimpin, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih fundamental,

Manusia seperti apa yang hendak dibentuk oleh organisasi ini, dan masyarakat seperti apa yang hendak diperjuangkan ?

Sebab ketika organisasi pergerakan kehilangan kemampuan mengajukan pertanyaan tersebut, jabatan dapat berubah menjadi tujuan, kekuasaan berubah menjadi obsesi, konflik berubah menjadi metode, dan kaderisasi berubah menjadi sekadar reproduksi struktur.

Di tengah zaman ketika robot semakin menyerupai manusia, tugas gerakan mahasiswa justru semakin jelas,

Memastikan manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.

Sukarno mengajarkan pentingnya kebangunan kesadaran. Tantangan generasi hari ini adalah menemukan bentuk kebangunan yang sesuai dengan zamannya.

Jika dahulu kebangunan berarti membangunkan manusia dari belenggu kolonialisme, maka hari ini kebangunan juga berarti membebaskan manusia dari ketergantungan terhadap algoritma, dari kemalasan berpikir, dari banjir informasi yang tidak teruji, dan dari godaan kekuasaan yang menjadikan jabatan sebagai tujuan.

Termasuk membebaskan organisasi dari praktik kekerasan, intimidasi, pemaksaan kehendak, dan politik perpecahan yang hanya menjadikan kader sebagai alat kepentingan kelompok.

Sebab gerakan yang kehilangan dialog akan kehilangan demokrasi.

Gerakan yang kehilangan gagasan akan kehilangan arah.

Dan gerakan yang kehilangan kesadaran akan kehilangan manusia-manusianya.

Karena itu, kader hari ini tidak cukup hanya menjadi pewaris sejarah.

Kader harus menjadi pembaca sejarah yang sedang berlangsung dan guru bagi kebangunan zamannya sendiri.

Di tengah dunia yang semakin dikendalikan algoritma, tugas kader bukan menjadi mesin yang paling cepat mengikuti perubahan.

Tugas kader adalah menjadi manusia yang cukup sadar untuk menentukan ke mana perubahan harus diarahkan.

Berita Terkait

Menjinakkan Danantara: Antara Janji Tata Kelola, Jebakan Quasi-Fiscal, dan Agenda Revisi UU di DPR
Takut Bekas Luka Operasi Besar? Ini Solusi yang Bisa Dipertimbangkan
APBN di Tengah Badai: Antara Kredibilitas Pasar dan Amanat Keadilan Sosial
Kembalinya Sang Teknokrat: Membaca Ideologi Fiskal di Balik Pengangkatan Suahasil Nazara
Teknokrasi di Persimpangan: Antara Benteng Tata Kelola dan Pembantu Syahwat Politik
Beban Kemasan dalam Timbangan Nalar
Antara Ultimum Remedium dan Overcriminalization: Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Penyitaan Harta Pribadi, dan Kepastian Hukum dalam KUHP 2026
Ketika Bumi Memuntahkan Rahasianya: Membaca Isyarat Zaman dalam Cahaya Tasawuf

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 16:17 WIB

Ketika Robot Dimanusiakan, Manusia Dirobotkan: Krisis Arah Gerakan di Era Artificial Intelligence

Rabu, 16 September 2026 - 07:39 WIB

Menjinakkan Danantara: Antara Janji Tata Kelola, Jebakan Quasi-Fiscal, dan Agenda Revisi UU di DPR

Selasa, 15 September 2026 - 20:24 WIB

Takut Bekas Luka Operasi Besar? Ini Solusi yang Bisa Dipertimbangkan

Selasa, 15 September 2026 - 12:39 WIB

APBN di Tengah Badai: Antara Kredibilitas Pasar dan Amanat Keadilan Sosial

Senin, 14 September 2026 - 21:56 WIB

Kembalinya Sang Teknokrat: Membaca Ideologi Fiskal di Balik Pengangkatan Suahasil Nazara

Berita Terbaru