Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
JATIMRAYA.COM – DI sebuah ruang kerja yang sunyi, seorang lelaki duduk di depan layar komputernya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tetapi matanya masih terjaga. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Ia baru saja menyelesaikan shalat malam, tetapi hatinya terasa kosong. Ia mengingat Allah, tetapi pikirannya melayang ke tagihan yang belum dibayar, ke konflik dengan rekannya, ke masa depan yang tidak pasti. Ia merasa hadir, tetapi sebenarnya tidak hadir. Ia merasa mengingat, tetapi sebenarnya sedang berpaling.
Lelaki itu adalah potret dari sebagian besar kita. Di tengah dunia yang semakin cepat dan semakin riuh, kita sering kali kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya. Kita shalat, tetapi pikiran kita mengembara. Kita berdzikir, tetapi hati kita terpaku pada layar ponsel. Kita mengaku mencintai Allah, tetapi dalam sekejap, kita berpaling kepada selain-Nya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang arif pernah melantunkan sebuah peringatan yang menggetarkan:
”Jangan berpaling dari-Nya, meskipun hanya sekejap saja, karena Rahmat dan hidayah-Nya setiap saat bisa datang kapan saja dan akan tercurahkan kepada hamba-Nya yang tidak memalingkan diri dari-Nya. Tapi jika berpaling dari-Nya, walau hanya sekejap saja maka seketika itu pula engkau sudah ada dalam kesesatan yang nyata.”
Teks ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang membedah hakikat orientasi ruhani. Ia bukan hanya berbicara tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga tentang bagaimana manusia modern kehilangan kemampuan untuk hadir, untuk fokus, dan untuk setia pada satu arah. Mari kita selami maknanya.
Berpaling yang Tidak Selalu Terlihat
Kata “berpaling” (i’radh) dalam bahasa Arab mengandung makna menjauhkan wajah, menolak, atau mengabaikan. Dalam konteks tasawuf, berpaling dari Allah bukanlah sekadar tindakan fisik. Ia adalah kondisi hati. Seseorang bisa duduk di masjid, tetapi hatinya berpaling dari Allah. Sebaliknya, seseorang bisa bekerja di pasar, tetapi hatinya tetap tertuju kepada-Nya.
Al-Qur’an menegaskan: ”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24). Ayat ini menunjukkan bahwa i’radh adalah kondisi hati yang terkunci dari cahaya Ilahi. Hati yang terkunci tidak lagi bisa menerima cahaya. Ia tidak lagi bisa merasakan kehadiran Allah. Ia hidup dalam kegelapan, meskipun ia berada di tengah cahaya.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa tawajjuh—orientasi hati kepada Allah—adalah syarat pertama bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual). Tanpa tawajjuh, perjalanan spiritual tidak akan pernah dimulai. Beliau menegaskan bahwa tawajjuh bukanlah kondisi statis, melainkan dinamika yang harus dijaga setiap saat. Seperti seseorang yang mendayung perahu di sungai deras; jika ia berhenti mendayung sekejap saja, perahunya akan terbawa arus.
Di sinilah letak relevansi teks ini bagi manusia modern. Kita hidup di zaman yang dirancang untuk memecah perhatian kita. Notifikasi ponsel, iklan yang tak henti, berita yang mengalir deras—semuanya bersaing untuk merebut perhatian kita. Kita berpindah dari satu layar ke layar lain, dari satu obrolan ke obrolan lain, dari satu keinginan ke keinginan lain. Kita tidak pernah benar-benar hadir di satu tempat. Kita selalu berpaling.
Rahmat yang Setiap Saat Bisa Datang
”Rahmat dan hidayah-Nya setiap saat bisa datang kapan saja.”
Teks ini menegaskan bahwa rahmat Allah tidak terikat oleh waktu tertentu. Ia bisa datang kapan saja—pagi, siang, sore, malam. Ia bisa datang dalam keadaan lapang maupun sempit. Ia bisa datang melalui peristiwa besar maupun melalui kejadian kecil yang tidak terduga. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa rahmat Allah adalah lautan tanpa tepi. Ia tidak pernah kering, tidak pernah surut. Yang menghalangi manusia dari rahmat itu bukanlah Allah, melainkan hijab—tabir—yang diciptakan oleh manusia sendiri, yaitu ghaflah (kelalaian) dan i’radh (berpaling).
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam kisah seorang sufi yang bekerja sebagai pedagang. Ketika ditanya bagaimana ia menjaga tawajjuh-nya di tengah pasar yang riuh, ia menjawab: “Hatiku tidak pernah meninggalkan Allah, meskipun tanganku sibuk dengan dunia. Aku berdagang dengan tanganku, tetapi hatiku berdzikir dengan Tuhanku.” Inilah tawajjuh sejati: hati yang tidak berpaling, meskipun tubuh sibuk dengan dunia. Rahmat Allah datang kepadanya bukan karena ia meninggalkan dunia, tetapi karena ia tidak berpaling dari Allah di tengah dunia.
Berpaling Sejenak, Tersesat Selamanya
”Jika berpaling dari-Nya, walau sekejap saja maka seketika itu pula engkau sudah ada dalam kesesatan yang nyata.”
Bait ini adalah peringatan yang sangat keras. Mengapa demikian? Karena i’radh adalah pintu menuju ghaflah, dan ghaflah adalah pintu menuju hijab. Ketika hati berpaling dari Allah, ia membuka pintu bagi setan untuk masuk. Setan akan menghiasi kebatilan, menyesatkan pikiran, dan menjauhkan hati dari Allah.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa i’radh adalah bentuk kufr yang paling halus. Beliau menegaskan bahwa kufr bukan hanya soal menolak Allah dengan lisan, tetapi juga soal berpaling dari Allah dengan hati. Seseorang yang berpaling dari Allah, meskipun ia masih mengucapkan la ilaha illa Allah, sedang berada dalam kufr yang tersembunyi.
Dalam konteks psikologi modern, i’radh dapat dipahami sebagai dissociation—kondisi di mana seseorang terputus dari dirinya sendiri, dari lingkungannya, atau dari realitasnya. Seseorang terputus dari Allah, dari dirinya sendiri, dan dari realitas sejati. Ia hidup dalam dunia ilusi yang diciptakan oleh egonya. Ia merasa hadir, tetapi sebenarnya ia tidak hadir. Ia merasa hidup, tetapi sebenarnya ia mati.
Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis, menulis tentang lack—kekurangan eksistensial yang menghuni setiap manusia. Manusia selalu merasa ada yang hilang, ada yang kurang. Kekurangan ini adalah kerinduan akan keutuhan yang telah lama hilang. Dalam bahasa tasawuf, lack ini adalah syauq—kerinduan kepada Allah. Ketika manusia berpaling dari Allah, ia mencoba mengisi lack ini dengan benda-benda duniawi. Tetapi lack ini tidak pernah terisi, karena ia adalah lack yang bersifat transendental. Ia hanya bisa diisi oleh tawajjuh—orientasi hati kepada Allah.
Muraqabah: Menjaga Tawajjuh di Tengah Badai
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa para salaf senantiasa menjaga muraqabah—kesadaran bahwa Allah mengawasi mereka. Mereka tidak pernah merasa sendirian, meskipun mereka berada di tempat yang sepi. Mereka tidak pernah merasa bebas, meskipun mereka berada di tempat yang tersembunyi. Mereka tahu bahwa Allah selalu hadir, selalu mengawasi.
Muraqabah adalah fondasi dari tawajjuh. Barangsiapa menjaga muraqabah-nya, ia akan menjaga tawajjuh-nya. Barangsiapa lalai dari muraqabah, ia akan berpaling dari Allah. Inilah mengapa teks ini menegaskan agar manusia tidak berpaling dari Allah, bahkan sekejap. Sebab dalam sekejap, muraqabah bisa hilang, dan tawajjuh bisa terputus.
Dalam psikologi kontemporer, muraqabah memiliki kesamaan dengan mindfulness—kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada saat ini, tanpa menghakimi. Jon Kabat-Zinn, pelopor mindfulness modern, mendefinisikannya sebagai “kesadaran yang muncul dari memperhatikan dengan sengaja, pada saat ini, dan tanpa menghakimi.” Namun muraqabah melampaui mindfulness. Ia bukan hanya kesadaran akan saat ini, tetapi kesadaran akan Yang Maha Hadir di setiap saat. Ia bukan hanya memperhatikan napas, tetapi memperhatikan Yang Memberi napas.
Tawajjuh sebagai Attention dan I’radh sebagai Distraction
Dalam psikologi modern, attention adalah kemampuan untuk memfokuskan kesadaran pada objek tertentu. William James, bapak psikologi Amerika, menulis bahwa attention adalah “mengambil kepemilikan oleh pikiran, dalam bentuk yang jelas dan gamblang, atas satu dari sekian banyak objek atau rangkaian pikiran yang mungkin hadir.”
Tawajjuh adalah bentuk attention yang paling tinggi. Ia adalah memfokuskan kesadaran pada Allah. Ia adalah mengarahkan hati kepada Yang Maha Hadir. Dalam perspektif ini, i’radh adalah distraction—gangguan perhatian. Ia adalah kondisi di mana kesadaran teralihkan dari Allah kepada selain-Nya.
Di era ekonomi perhatian (attention economy), di mana raksasa teknologi bersaing untuk merebut perhatian kita, tawajjuh menjadi semakin sulit. Setiap notifikasi, setiap iklan, setiap unggahan media sosial adalah upaya untuk memalingkan kita dari Allah. Kita hidup di zaman di mana i’radh telah menjadi norma, dan tawajjuh telah menjadi anomaly. Maka, menjaga tawajjuh di zaman ini adalah jihad yang sesungguhnya—jihad melawan arus yang terus-menerus berusaha memalingkan kita dari Allah.
Fana’ ul-Fana’: Ketika “Aku yang Berpaling” Lenyap
Puncak dari seluruh perenungan ini adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap.
Pada tahap awal, hamba berjuang untuk menjaga tawajjuh-nya. Ia berdzikir, ia shalat, ia membaca Al-Qur’an. Ia berusaha untuk tidak berpaling dari Allah. Tetapi ia masih merasa bahwa dialah yang menjaga tawajjuh. Ia masih merasa bahwa dialah yang berjuang. Ini adalah amal yang masih bercampur dengan ‘ujb—kekaguman pada diri sendiri.
Dalam fana’, hamba melepaskan klaim bahwa ia yang menjaga tawajjuh. Ia menyadari bahwa tawajjuh-nya adalah tajalli dari al-Hadi—Yang Maha Memberi Petunjuk. Ia hanyalah mazhar dari tawajjuh Allah. Ia tidak lagi merasa bahwa ia yang menghadap Allah; ia menyadari bahwa Allah-lah yang menghadapkan wajahnya kepada-Nya.
Puncaknya adalah fana’ ul-fana’. Pada maqam ini, bahkan kesadaran “aku telah menghadap Allah” lenyap. Tidak ada lagi “aku” yang menghadap. Yang ada hanyalah Allah yang menghadap Diri-Nya melalui hamba-Nya. Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang menjaga tawajjuh, tidak ada lagi “aku” yang berdzikir, tidak ada lagi “aku” yang shalat. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, al-Hadi, yang membimbing Diri-Nya melalui hamba-Nya.
Pada maqam ini, teks “Jangan berpaling dari-Nya, meskipun hanya sekejap saja” mencapai realisasinya yang paling sempurna. Hamba tidak lagi mampu berpaling, karena “aku” yang berpaling telah lenyap. Ia telah lebur dalam tawajjuh Ilahi. Ia telah menjadi tawajjuh itu sendiri. Sebagaimana setetes air yang jatuh ke dalam samudra tidak lagi bisa memisahkan diri dari samudra, demikian pula hamba yang telah fana’ ul-fana’ tidak lagi bisa berpaling dari Allah. Ia telah menjadi satu dengan tawajjuh Ilahi.
Kembali ke Ruang Kerja
Lelaki di ruang kerjanya itu akhirnya menyadari sesuatu. Ia menyadari bahwa kegelisahannya bukan karena pekerjaan yang menumpuk, bukan karena tagihan yang belum dibayar, bukan karena masa depan yang tidak pasti. Kegelisahannya adalah karena ia telah berpaling dari Allah. Ia telah membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana, sementara hatinya seharusnya tertuju kepada-Nya.
Ia menutup laptopnya, mengambil wudhu, lalu duduk bersila di atas sajadah. Ia menarik napas panjang. Allah. Ia menghembuskan napas pelan. Allah. Ia tidak lagi memikirkan tagihan, konflik, atau masa depan. Ia hanya hadir. Ia hanya menghadap. Ia hanya tawajjuh.
Dan dalam keheningan itu, ia merasakan sesuatu yang telah lama ia rindukan: kedamaian. Bukan kedamaian yang datang dari selesainya pekerjaan, bukan kedamaian yang datang dari terpenuhinya kebutuhan, melainkan kedamaian yang datang dari hadirnya Allah. Ia menyadari bahwa rahmat dan hidayah Allah tidak pernah berhenti mengalir. Yang berhenti adalah tawajjuh-nya. Yang berhenti adalah kesediaannya untuk hadir.
Teks ini mengajarkan kita untuk menjaga tawajjuh—orientasi hati—kepada Allah, bahkan dalam sekejap. Sebab dalam sekejap, rahmat bisa datang—atau kesesatan bisa menyelinap. Puncaknya adalah fana’ ul-fana’, di mana hamba tidak lagi merasa sebagai subjek yang menghadap, karena seluruh eksistensinya telah lebur dalam Kehendak Ilahi. Yang tersisa hanyalah Allah, al-Hadi, yang membimbing Diri-Nya melalui hamba-Nya.
Semoga kita termasuk hamba yang menjaga tawajjuh-nya, yang tidak berpaling dari Allah, dan yang pada akhirnya mencapai maqam di mana tidak ada lagi “aku” yang menghadap—yang ada hanyalah Allah, Yang Maha Menghadap, Yang Maha Membimbing.
Wallahu a’lam bi al-shawab.















