JATIMRAYA.COM – Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menggenapi usianya yang ke-55 tahun dalam sebuah peringatan sederhana namun sarat makna. Bertempat di lingkungan sekretariatnya, para seniman, budayawan, hingga perwakilan jaringan ekosistem kreatif Kota Surabaya berkumpul untuk merefleksikan perjalanan panjang organisasi kesenian tertua di Kota Pahlawan tersebut.
Suasana hangat menyelimuti jalannya acara yang diwarnai oleh lantunan tembang Jawa, sajian musik akustik, serta pembacaan puisi. Meskipun digelar secara bersahaja dan swadaya, semangat para pegiat seni yang hadir menegaskan keteguhan sikap DKS yang terus bertahan menjaga denyut kebudayaan kota di tengah berbagai dinamika zaman.
Acara perayaan ke-55 ini melibatkan berbagai lintas elemen ekosistem kota, mulai dari para praktisi dan pengurus 6 bidang seni DKS (Seni rupa, Teater, Musik, Tari, Film dan Seni Tradisi), perwakilan elemen organisasi kemahasiswaan, jaringan praktisi perhotelan dan pariwisata (Hotel Midtown Group), hingga praktisi industri kreatif seperti Lia Sidik Design and Branding. Sinergi elemen-elemen ini hadir untuk mempererat simpul silaturahmi serta memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor yang selama ini menyokong keberlangsungan ruang ekspresi seni di Surabaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas konsistensi serta kegigihan para seniman dalam menjaga eksistensi rumah bersama ini. Menurutnya, perjalanan lebih dari setengah abad bukanlah waktu yang singkat, melainkan bukti nyata dari kedewasaan dan komitmen yang telah teruji.
“Saya kira 55 tahun itu cukup untuk menunjukkan keteguhan kawan-kawan. Ini menunjukkan kedewasaan dan kematangan. Tiap tahun kita punya perayaan sederhana ini dari swadaya dan bukti kecintaan teman-teman semua,” ujar Chrisman Hadi saat menyampaikan sambutannya di hadapan para seniman.
Chrisman juga menyoroti bagaimana enam bidang seni di bawah naungan DKS—mulai dari musik, tari, teater tradisi dan modern, hingga seni rupa—tetap aktif berproses dan melahirkan karya-karya yang menghidupkan iklim kesenian Surabaya. Semua proses kreatif tersebut dijalankan secara independen tanpa bergantung pada fasilitas formal pemerintah.
“Sangat mengharukan dan sangat membanggakan, karena ternyata teman-teman tetap bisa berjalan, tetap bisa berkarya meskipun tanpa fasilitasi dari pemerintah kota. Padahal jelas di dalam Instruksi Mendagri No. 5 Tahun 1993, anggaran kegiatan Dewan Kesenian bersumber dari APBD,” tutur Chrisman menggarisbawahi kemandirian DKS.
Baca Juga:
Muhasabah (Perhitungan/Menghizab)
LDII Jatim dan PWI Bahas Sinergi Pelatihan Jurnalistik hingga Kegiatan Sosial
PWI Jatim Bekali 75 Siswa MAN Sidoarjo Teknik Menulis dan Verifikasi Berita
Senada dengan Chrisman, Dewan Kehormatan Organisasi Dewan Kesenian Surabaya, Hadi Pranoto, menyampaikan apresiasi mendalam atas daya tahan seniman Surabaya. Ia menilai usia ke-55 adalah fase yang sangat matang bagi sebuah lembaga kebudayaan untuk terus menancapkan pengaruhnya.
“Selamat ulang tahun DKS yang ke-55. Ini usia yang sebenarnya matang, dan seharusnya dalam perjalanan 55 tahun ini DKS berpengaruh besar dalam kesenian dalam bingkai kebudayaan yang berkepribadian Indonesia,” kata Hadi Pranoto.
Meski demikian, Hadi Pranoto juga tidak memungkiri adanya keprihatinan atas sikap serta dinamika regulasi dan tata kelola kebijakan kebudayaan tingkat daerah yang berulang kali menyudutkan ruang gerak DKS dalam beberapa periode terakhir. Ia menyayangkan minimnya perhatian pejabat daerah terhadap amanat pemajuan kebudayaan lokal.
Ia mengingatkan kembali bahwa visi kebudayaan nasional yang diamanatkan dalam Trisakti—yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara kebudayaan—seharusnya menjadi landasan utama bagi pengambil kebijakan di tingkat daerah untuk mendukung ruang-ruang kesenian.
“Di tengah gelombang budaya asing yang begitu dahsyat melalui internet dan media sosial, mestinya penguasa kota berterima kasih dan ingat akan janjinya untuk mendukung kemajuan seni budaya lokal,” tegas Hadi Pranoto.
GMNI dan Tugas Kebudayaan Nasional
Bagi Ni Kadek Ayu Wardani Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, dalam HUT ke-55 tahun DKS, kebudayaan ini juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali tugas gerakan mahasiswa nasionalis.
GMNI tidak boleh hanya hadir dalam isu elektoral, advokasi kampus, atau perdebatan kebijakan sesaat. GMNI harus hadir dalam kerja kebudayaan.
Sebab nasionalisme tanpa kebudayaan akan menjadi kering. Politik tanpa kebudayaan akan menjadi teknokratis. Pembangunan tanpa kebudayaan akan kehilangan jiwa.
Marhaenisme mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan ekonomi, sosial, dan mental. Dalam kerangka itu, kebudayaan adalah medan pembebasan. Ia membebaskan rakyat dari rasa rendah diri terhadap kebudayaannya sendiri. Ia membebaskan bangsa dari ketergantungan imajinatif terhadap pusat-pusat kekuasaan global. Ia membebaskan negara dari cara pandang sempit yang hanya mengukur kemajuan melalui angka, beton, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Jam Tangan MR-G dengan Kristal Safir Biru
94th CMEF, Pameran Industri Perangkat Medis Terkemuka Dunia, Digelar di Beijing pada 21-24 Oktober
GMNI perlu mendorong agar kebudayaan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan rakyat. Kampus harus dihidupkan sebagai ruang kebudayaan.
Organisasi mahasiswa harus kembali membaca sastra, sejarah, filsafat, seni, dan tradisi. Aktivisme harus memiliki kedalaman kultural. Sebab tanpa kedalaman kebudayaan, aktivisme mudah berubah menjadi kegaduhan. Tanpa akar sejarah, politik mudah menjadi sekadar perebutan posisi.
Peringatan hari jadi DKS ke-55 ini ditutup dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama sebagai penanda syukur atas bertahannya DKS. Seluruh jajaran pengurus dan simpatisan bertekad untuk terus melangkah tanpa gentar demi mempertahankan identitas dan warisan budaya Surabaya. (as)















