Lindungi Perempuan, Pemkot Surabaya Buka Shelter Korban KDRT

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 28 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kekerasan perempuan. (Dok. LPM Opini)

Ilustrasi kekerasan perempuan. (Dok. LPM Opini)

Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lingga Mahawan menyebutkan, bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan hingga kini masih didominasi oleh KDRT.

Berdasar data yang dihimpun hingga akhir Mei 2024 lalu, total sebanyak 30 perempuan mengalami kekerasan, 22 di antaranya merupakan kasus KDRT dan 8 sisanya adalah kekerasan non KDRT.

Sementara itu, untuk tahun 2023 jumlah KDRT juga sama banyaknya. Dari 82 kasus kekerasan terhadap perempuan, 63 kejadian adalah KDRT. Rata-rata per bulan, sebanyak lima kaum perempuan Surabaya mengalami tindak kekerasan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

KDRT yang menimpa perempuan pun menimbulkan trauma yang membekas karena kekerasan fisik yang terjadi. Beberapa korban juga mengalami kekerasan psikis, seks, penelantaran ekonomi hingga kekerasan berbasis gender online (KBGO).

“Jika dilihat dari data 2023 silam, KDRT fisik masih yang tertinggi. Diikuti dengan KDRT psikis, penelantaran ekonomi, dan terakhir KDRT hubungan seksual. Kalau tahun 2024 fisik dan psikis paling banyak mendominasi,” ucap Lingga, Jumat 28 Juni 2024.

Oleh karena itu, Pemkot Surabaya melalui DP3APPKB akan membentuk rumah aman atau shelter bagi para perempuan yang menjadi korban KDRT di Kota Pahlawan untuk menjalani pemulihan secara fisik dan mental.

“Sekarang, yang tersedia baru shelter untuk anak-anak korban kekerasan. Nah yang ini untuk perempuan dewasa. Dengan hadirnya shelter tersebut, maka sarana bagi perlindungan perempuan dan anak di Kota Surabaya akan semakin,” ujar Kepala DP3APPKB Kota Surabaya Ida Widayati.

Dirinya menjelaskan, shelter bagi perempuan korban kekerasan tersebut akan berada di bangunan UPT PPA yang berlokasi di Semolowaru. Bangunan itu terdiri dari 5-7 kamar, dijaga selama 24 jam, dan terdapat tenaga pendamping dan konselor yang berjaga penuh waktu.

“Teman-teman korban akan menjalani perawatan secara psikologis di sana. Juga menenangkan diri. Karena sebelumnya jika ada kasus, kami titipkan mereka ke NGO yang ada di Surabaya untuk ditampung sementara,” ungkapnya.

Ida menjelaskan, shelter bagi perempuan korban kekerasan tersebut akan beroperasi penuh pada bulan depan. Dengan hadirnya rumah aman ini, ia berharap Pemkot Surabaya dapat lebih maksimal bekerja dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Salah satu kesulitan dari penanganan kekerasan terhadap perempuan adalah korban tidak mau melapor (ke kepolisian). Sehingga yang bisa kami lakukan adalah edukasi dan penguatan ke korban,” tegasnya.

Sejalan dengan semangat menekan kasus kekerasan terhadap perempuan, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Ajeng Wira Wati mengatakan, pihaknya sedang menggodok peraturan daerah (perda) inisiatif tentang perlindungan perempuan.

Menurut politikus Gerindra ini, perda yang ada hanya sebatas membahas pengarusutamaan gender saja, belum masuk ke ranah yang lebih spesifik, yakni perlindungan dan pemberdayaan.

“Kami juga tengah membahas mengenai pembentukan Lembaga Penyedia Layanan Pemberdayaan Perempuan (LPLPP). Ini bukan soal perlindungan perempuan saja. Tapi bagaimana agar perempuan itu bisa berdaya juga,” tutur Ajeng.

Dirinya juga menyatakan, pihak sudah bertemu dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA).

Menurutnya, KemenPPA mengapresiasi langkah yang dilakukan Surabaya. Ini akan menjadi koridor utama penyelesaian berbagai masalah yang dialami kaum hawa, mulai dari pengarusutamaan gender hingga kasus kekerasan seksual.

“Kami akan integrasikan peraturan-peraturan itu di sini (perda inisiatif). Sehingga bisa berkaitan ketika nanti dijalankan oleh Pemkot Surabaya,” katanya.

Berita Terkait

Satu Kompas, Sejuta Langkah, SMP Al Muslim Perkuat Karakter dan Cinta Tanah Air
Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Salurkan Bantuan untuk Anak Asuhan Dinsos Sidoarjo
Jelang HUT RI ke-81, Pemkab Sidoarjo Ajak Warga Cegah Hoaks dan Polarisasi Digital
Pemkab Sidoarjo Percepat Digitalisasi Retribusi Pasar, 12 Pasar Sudah Go Digital
Respons Kritik Prabowo, Polres Pamekasan Pastikan FGD Tak Sekadar Seremonial
Polsek Krian Tindaklanjuti Laporan Warga, Bangunan Dugaan Arena Sabung Ayam Dibongkar
Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Bedah Tantangan Kepemimpinan dan UMKM di Sidoarjo
Polsek Buduran Ajak Pelajar SMA Antartika Jaga Toleransi dan Tolak Paham Radikal

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:47 WIB

Satu Kompas, Sejuta Langkah, SMP Al Muslim Perkuat Karakter dan Cinta Tanah Air

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:38 WIB

Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Salurkan Bantuan untuk Anak Asuhan Dinsos Sidoarjo

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Jelang HUT RI ke-81, Pemkab Sidoarjo Ajak Warga Cegah Hoaks dan Polarisasi Digital

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Pemkab Sidoarjo Percepat Digitalisasi Retribusi Pasar, 12 Pasar Sudah Go Digital

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Respons Kritik Prabowo, Polres Pamekasan Pastikan FGD Tak Sekadar Seremonial

Berita Terbaru