AI Makin Canggih, Literasi Digital Harus Ikut Bergerak

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dion Satrio Nugroho

JATIMRAYA.COM – Artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan oleh perusahaan teknologi atau orang yang bekerja di bidang tertentu. Masyarakat dapat memakainya untuk mencari informasi, membantu menyusun tulisan, menghasilkan gambar, menerjemahkan bahasa, mencari ide, hingga mempelajari sesuatu yang baru.

Kemudahan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Namun, semakin mudah teknologi digunakan, semakin penting pula kemampuan untuk menilai hasil yang diberikannya. Persoalan literasi digital hari ini karena itu tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat, membuka aplikasi, atau mencari informasi di internet.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masyarakat juga perlu memahami kapan sebuah informasi dapat dipercaya, data apa yang sebaiknya tidak dibagikan, serta mengapa jawaban yang diberikan teknologi tetap perlu diperiksa kembali.

AI merupakan contoh yang sangat jelas. Jawaban yang dihasilkan dapat terlihat rapi, meyakinkan, dan seolah-olah benar. Padahal, hasil tersebut tetap dapat mengandung kesalahan. Jika pengguna menerima setiap jawaban tanpa melakukan pemeriksaan, kemudahan yang ditawarkan AI justru dapat melahirkan persoalan baru.

Prinsipnya sederhana: teknologi membantu manusia, tetapi pertimbangan manusia tetap diperlukan.

Kemampuan tersebut semakin penting karena AI mulai digunakan untuk berbagai kebutuhan. Seseorang dapat memakainya untuk membantu pekerjaan, memahami suatu istilah, mencari inspirasi, atau mempelajari topik yang belum dikenal. Namun, penggunaan seperti ini tetap membutuhkan kesadaran mengenai batas teknologi dan keamanan informasi.

Data pribadi dan informasi sensitif, misalnya, tidak seharusnya dimasukkan sembarangan ke layanan digital maupun aplikasi berbasis AI. Kebiasaan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan pemahaman mengenai privasi, keamanan akun, dan risiko penyalahgunaan informasi.

Hal yang sama berlaku ketika menerima informasi dari media sosial. Banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi tidak otomatis membuat informasi tersebut benar. Judul yang menarik, gambar yang terlihat meyakinkan, atau pesan yang berulang kali diteruskan tetap perlu diperiksa sumber dan konteksnya.

Pengalaman pendampingan literasi digital bersama warga Kelurahan Nyamplungan, Surabaya, memperlihatkan bahwa persoalan seperti ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pembahasan mengenai keamanan akun, perlindungan data pribadi, pemeriksaan informasi, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab bukan lagi isu yang hanya relevan bagi kelompok yang memahami teknologi secara mendalam.

Justru masyarakat umum perlu semakin akrab dengan persoalan tersebut karena teknologi digital telah masuk ke berbagai aktivitas sehari-hari. Tantangannya bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana menggunakannya dengan aman dan tetap memiliki kemampuan untuk menilai.

Di sinilah pendampingan literasi digital memiliki peran penting. Mengetahui sebuah konsep belum tentu berarti mampu menerapkannya ketika menghadapi situasi nyata. Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa kata sandi harus dijaga, tetapi masih menggunakan kata sandi yang sama pada banyak akun. Ia mungkin memahami bahwa informasi perlu diperiksa, tetapi tetap tergoda meneruskan pesan karena isinya terasa penting atau sesuai dengan keyakinannya.

Karena itu, literasi digital tidak cukup diberikan melalui satu kali penjelasan. Teknologi berubah terlalu cepat. Platform baru muncul, modus penipuan berkembang, dan kemampuan AI terus bertambah. Pengetahuan yang dianggap cukup hari ini belum tentu memadai beberapa tahun mendatang.

Pendampingan masyarakat perlu bergerak mengikuti perubahan tersebut. Pada tahap awal, perhatian dapat diberikan pada kemampuan mendasar seperti keamanan akun, privasi, dan pemeriksaan informasi. Setelah itu, masyarakat dapat didorong untuk memanfaatkan teknologi dan AI secara lebih produktif, tanpa kehilangan sikap kritis terhadap hasil yang diberikan.

Arah ini penting karena transformasi digital sering kali terlalu mudah dipahami sebagai persoalan akses. Penyediaan internet, perangkat, dan aplikasi memang diperlukan. Namun, tersedianya teknologi tidak otomatis membuat pengguna memperoleh manfaat yang sama.

Manfaat teknologi sangat bergantung pada kemampuan manusia yang menggunakannya. Dua orang dapat menggunakan aplikasi yang sama tetapi mengambil keputusan yang berbeda karena tingkat pemahaman, kehati-hatian, dan kemampuan menilai informasi mereka tidak sama.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak ditempatkan hanya sebagai pengguna teknologi. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, dan menentukan bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan mereka sendiri.

Pandangan tersebut juga penting ketika membicarakan AI. Tujuannya bukan membuat semua orang menjadi ahli AI atau memahami seluruh cara kerja teknologinya. Yang lebih mendasar adalah membangun kebiasaan untuk tidak langsung percaya, berani memeriksa kembali, menjaga informasi pribadi, dan memahami bahwa teknologi memiliki keterbatasan.

Literasi digital pada akhirnya bukan sekadar keterampilan teknis. Ia merupakan kemampuan untuk menggunakan teknologi dengan lebih kritis, aman, mandiri, dan adaptif.

AI akan terus berkembang dan mungkin akan semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, kemampuan masyarakat juga harus ikut bergerak. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keputusan tentang bagaimana teknologi digunakan tetap berada di tangan manusia.

Berita Terkait

Ijazah, Kesetaraan, dan Kepercayaan kepada Negara: Membaca Ulang Polemik Pendidikan Transnasional dalam Kasus Gibran
POPDA Malang: Bawa Nama Daerah, Bayar Sendiri, Bonus Dilepas?
Hukum Formal, Legitimacy Deficit, dan Bayang-Bayang Oligarki
Memutus Jebakan Potensi, Membangun Disiplin Investasi
Paradoks Sarjana Menganggur: Ketika Kelimpahan Tenaga Kerja Terdidik Menjadi Beban, Bukan Berkah
Anatomi Kesadaran dan Realitas Ilahiah: Jalan Sufistik Menembus Kabut Ilusi
Shalat yang Menyerahkan Diri: Ketika Ibadah Menjadi Cermin Kejujuran
Demokrasi Abu-Abu dan Drama Perbenturan Takhta di Mahkamah Konstitusi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Ijazah, Kesetaraan, dan Kepercayaan kepada Negara: Membaca Ulang Polemik Pendidikan Transnasional dalam Kasus Gibran

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:15 WIB

POPDA Malang: Bawa Nama Daerah, Bayar Sendiri, Bonus Dilepas?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Hukum Formal, Legitimacy Deficit, dan Bayang-Bayang Oligarki

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:10 WIB

Memutus Jebakan Potensi, Membangun Disiplin Investasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Paradoks Sarjana Menganggur: Ketika Kelimpahan Tenaga Kerja Terdidik Menjadi Beban, Bukan Berkah

Berita Terbaru