Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember)
JATIMARAYA.COM – DI sebuah kafe yang riuh oleh percakapan dan denting sendok, seorang lelaki duduk sendiri di sudut. Di tangannya, ponsel terus menyala—notifikasi demi notifikasi datang silih berganti. Ia membaca komentar-komentar di kolom diskusi, merasakan amarah yang membuncah, lalu mengetik balasan yang pedas. Ia merasa menang. Ia merasa benar. Tetapi setelah mengirim balasan itu, ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya: sebuah kekosongan yang tidak bisa ia namai.
Lelaki itu kemudian melirik jam. Waktu Ashar hampir habis. Ia bangkit, mencari mushala terdekat, dan shalat. Dalam sujudnya, ia berbisik: ”Ya Allah, aku telah membela kebenaran-Mu hari ini.” Tetapi di dalam keheningan sujud itu, sebuah suara lain menyusup: ”Benarkah engkau membela-Ku, atau engkau sedang membela egomu?”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang lahir dari kerendahan hati. Justru sebaliknya: ia lahir dari kegelisahan seorang yang mulai menyadari bahwa ia mungkin telah menipu dirinya sendiri. Ia telah shalat bertahun-tahun, tetapi ia masih merasa lebih baik dari orang lain. Ia masih tersinggung ketika dikritik. Ia masih marah ketika tidak dihormati. Ia masih menyimpan iri terhadap keberhasilan orang lain. Dan semua itu, ia bawa ke dalam shalatnya—tanpa pernah ia sadari.
Seorang arif pernah melantunkan syair yang menusuk kesadaran:
”Ketika engkau menundukkan kepalamu, di dalam sujudmu, benarkah dirimu telah menundukkan kesombonganmu? Perhatikan hatimu di dalam sujudmu, benarkah hatimu telah menerima kehinaanmu dan kelemahanmu? Sungguh jangan engkau membawa kesombonganmu di dalam sholatmu, karena kesombonganmu benar-benar membawa kerugian besar dalam hidupmu, sehingga sholatmu tidak akan pernah bisa mencegah kemungkaran dalam dirimu. Sungguh, di dalam sujudmu, letakkan kepalamu. Letakkan keangkuhanmu, dan mintalah ampunan terhadap Tuhanmu, atas segala kesombonganmu. Sungguh, hanya DIA yang berhak menyombongkan diri-Nya, karena DIA Dzat yang nyata dalam kesempurnaan-Nya, karena DIA Dzat yang kuasa di dalam mengendalikan ciptaan-Nya.”
Syair ini adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang membedah anatomi sujud. Ia tidak hanya mempertanyakan gerakan fisik, tetapi juga keadaan batin.
Zaman yang Selalu Ingin Menang
Kita hidup dalam zaman ketika hampir semua orang ingin terlihat. Pendapat dipajang, keberhasilan diumumkan, kemarahan disiarkan, dan kebaikan kadang baru terasa lengkap setelah mendapat tanda suka. Bahkan kesalehan dapat menjadi bagian dari penampilan: sebuah foto, kutipan doa, atau kisah tentang perjalanan rohani yang disusun agar orang lain tahu bahwa kita sedang mendekat kepada Tuhan.
Di tengah dunia yang begitu gaduh memamerkan diri, sujud menawarkan gerak yang berlawanan. Manusia menundukkan kepala, meletakkan dahi di bumi, lalu diam. Tetapi gerak itu menyisakan pertanyaan: ketika tubuh merendah, apakah keinginan untuk menang, dipuji, dan dianggap paling benar ikut merendah?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi shalat siapa pun. Hanya Allah yang mengetahui seluruh isi hati. Ia adalah pertanyaan untuk diri sendiri, sebab manusia dapat membawa egonya ke mana-mana, termasuk ke dalam ibadah. Ia dapat bersujud sambil membayangkan betapa khusyuk dirinya, memohon ampun sambil merasa lebih baik daripada orang yang belum bertobat, atau mengucapkan Allahu Akbar sambil tetap menganggap suaranya sendiri paling penting.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa sujud yang sejati adalah fana’ fi al-sujud—peleburan total dalam sujud. Ketika seorang hamba benar-benar bersujud, ia tidak hanya meletakkan dahinya di atas tanah, tetapi juga meletakkan egonya, kesombongannya, ambisinya, dan seluruh eksistensinya di hadapan Allah. Pada momen itu, ia menyadari bahwa dirinya adalah ‘adam—ketiadaan—dan bahwa hanya Allah yang Wujud.
Gerak Turun, Jalan Mendekat
Al-Qur’an menutup surah Al-‘Alaq dengan seruan: “Sujudlah dan dekatkanlah diri” (QS. Al-‘Alaq: 19). Ada paradoks dalam perintah itu. Manusia mendekat kepada Yang Mahatinggi dengan merendah. Ia tidak mencapai Tuhan dengan meninggikan diri, melainkan dengan mengakui bahwa ia bergantung.
Kedekatan tersebut tentu bukan jarak fisik. Allah tidak lebih dekat karena dahi manusia menyentuh lantai. Yang berubah ialah cara manusia memandang dirinya. Dalam sujud, ia berhenti sejenak dari kesibukan menjadi pengatur hidup, pemilik keberhasilan, dan hakim atas orang lain. Ia mengakui bahwa napas yang menghidupinya, ilmu yang dimilikinya, dan kesempatan untuk bertobat bukan sepenuhnya miliknya.
Tubuh menyampaikan pengakuan itu sebelum pikiran sempat merapikannya menjadi teori. Kepala, lambang kehormatan, dibawa ke tempat yang diinjak kaki. Dahi yang biasa menghadap dunia diturunkan ke bumi. Dalam sekejap, tubuh mengingatkan bahwa segala pencapaian manusia bertumpu pada sesuatu yang tidak ia ciptakan sendiri.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa kesombongan (kibr) adalah penyakit iblis yang paling berbahaya. Iblis menolak sujud kepada Adam karena kesombongan: “Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12). Maka, ketika seorang hamba bersujud, ia sedang melakukan apa yang ditolak oleh iblis. Tetapi jika ia bersujud sambil membawa kesombongan, maka ia sesungguhnya sedang mengulangi dosa iblis—menolak sujud secara batin, meskipun tubuhnya bersujud secara lahir.
Namun, merendah di hadapan Allah tidak berarti merendahkan martabat manusia. Tawaduk bukan menerima kekerasan atau membiarkan kezaliman. Seorang hamba dapat menjaga haknya, menolak ketidakadilan, dan tetap rendah hati. Yang dilepaskan bukan kehormatan sebagai manusia, melainkan kesombongan yang membuat seseorang menganggap dirinya lebih berhak daripada orang lain.
Sujud juga tidak menjadikan manusia pasif. Ia tidak menyuruh kita berhenti bekerja, berpikir, atau mengambil keputusan. Ia mengubah cara kita bekerja dan memegang kuasa: tanpa menyangka bahwa keberhasilan adalah bukti kesempurnaan diri, tanpa memperlakukan manusia lain sebagai alat, dan tanpa mengira bahwa jabatan membuat kita kebal dari koreksi.
Kesombongan yang Berganti Pakaian
Kesombongan paling mudah dikenali ketika seseorang merendahkan orang lain secara terang-terangan. Yang lebih sulit ialah kesombongan yang memakai bahasa kebaikan. Ia dapat menyebut diri “tegas” ketika sebenarnya tidak mau mengakui kesalahan; menyebut diri “menjaga prinsip” ketika menolak mendengar; atau mengaku rendah hati sambil kecewa karena kerendahan hatinya tidak dipuji.
Nabi Muhammad SAW memberi ukuran yang tegas: kesombongan berkaitan dengan menolak kebenaran dan merendahkan manusia, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim. Ukuran itu tidak bertumpu pada pakaian, jabatan, atau cara bicara. Ia tampak ketika seseorang berhadapan dengan kebenaran, terutama jika kebenaran datang dari orang yang tidak ia anggap setara.
Dapatkah seorang pemimpin menerima koreksi dari bawahannya? Sanggupkah orang tua mengakui bahwa anaknya benar? Bisakah seseorang yang tekun beribadah mendengar pertanyaan dari orang yang berbeda keyakinan atau cara hidup, tanpa segera menutup percakapan dengan cap buruk?
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani meriwayatkan pandangan Al-Fudhayl ibn ‘Iyadh bahwa tawaduk berarti tunduk kepada kebenaran, dari siapa pun kebenaran itu datang. Rumusan ini menuntut lebih daripada penampilan santun. Ia meminta manusia meletakkan hak istimewa untuk selalu menjadi pihak yang benar.
Di zaman media sosial, ujian itu mengambil bentuk baru. Kita dapat menghapus orang yang mengganggu keyakinan, membalas kritik dengan penghinaan, atau membagikan potongan pernyataan yang menguatkan prasangka. Kita memiliki banyak kesempatan untuk berbicara, tetapi belum tentu banyak kesempatan untuk sungguh-sungguh mendengar. Perbedaan pendapat cepat berubah menjadi pertarungan harga diri.
Dalam keadaan seperti itu, sujud dapat menjadi sekolah bagi perhatian. Ia mengajarkan jeda: tidak semua dorongan harus langsung diikuti, tidak semua kritik harus dibalas, dan tidak semua kemenangan dalam perdebatan mendekatkan kita kepada kebenaran. Tetapi pelajaran itu hanya hidup jika dibawa keluar dari sajadah. Jika setelah shalat kita kembali mencaci, mempermalukan, atau menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya, tubuh telah merendah sementara kebiasaan batin belum berubah.
Hati Juga Mempunyai Kiblat
Tubuh memiliki arah yang tampak. Hati lebih mudah tersesat. Saat berdiri menghadap kiblat, pikiran dapat mengarah kepada kesalahan masa lalu, kecemasan masa depan, atau penilaian manusia yang ingin kita kuasai. Bahkan ketika memohon ampun, kita mungkin lebih sibuk membangun gambaran tentang diri sebagai orang yang sedang bertobat.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa manusia pada hakikatnya adalah ‘abd—hamba—yang tidak memiliki apa-apa. Ia adalah faqir—miskin—yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Ketika ia bersujud, ia sedang mengakui kefakirannya. Ia sedang meletakkan seluruh klaim kemandiriannya di hadapan Allah.
Namun, kehadiran hati tidak berarti seseorang harus selalu merasakan pengalaman yang luar biasa. Ada sujud yang terasa lapang, ada yang terasa kering. Ada doa yang mengalir bersama air mata, ada pula doa yang hanya mampu diucapkan dengan susah payah. Perasaan bukan ukuran tunggal dari kedekatan kepada Tuhan. Air mata tidak otomatis menebus kezaliman, sementara hati yang tak merasakan gejolak bukan bukti bahwa ia telah ditolak.
Bahaya muncul ketika manusia mulai mengejar rasa khusyuk sebagai milik. Ia ingin merasakan getaran tertentu agar yakin dirinya berhasil mendekat. Ketika rasa itu datang, ia dapat membanggakannya; ketika tak datang, ia meremehkan ibadahnya. Padahal, yang lebih penting daripada menikmati pengalaman ialah kesediaan untuk terus menghadap, termasuk pada saat diri tidak memperoleh kenikmatan emosional.
Hati yang bersujud bukan hati yang selalu merasakan sesuatu yang ajaib. Ia adalah hati yang terus berusaha kembali kepada arah yang benar. Kadang, bentuk kembalinya sangat sederhana: mengakui bahwa kita sedang marah; menyadari bahwa doa kita bercampur dengan keinginan dipuji; atau berhenti sejenak sebelum mengucapkan sesuatu yang melukai.
Fana’ ul-Fana’: Ketika “Aku yang Bersujud” Lenyap
Puncak dari seluruh perjalanan ini adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap.
Sujud sejati adalah fana’ fi al-sujud—peleburan total dalam sujud. Pada maqam ini, hamba tidak lagi merasa bahwa ia yang bersujud. Yang bersujud adalah Allah melalui dirinya. Ia telah lenyap dalam kehinaan, dan yang tersisa hanyalah Keagungan Allah.
Tetapi puncaknya adalah fana’ ul-fana’. Setelah hamba mencapai fana’ fi al-sujud, masih ada residu yang sangat halus: kesadaran “aku telah bersujud dengan khusyuk,” “aku telah menundukkan kesombonganku.” Residu ini adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi yang paling sulit dideteksi.
Dalam fana’ ul-fana’, residu ini dihapuskan. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Tidak ada lagi “aku” yang bersujud, “aku” yang khusyuk, “aku” yang rendah hati. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, al-Mutakabbir, yang menyaksikan Diri-Nya sendiri melalui hamba-Nya.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam perkataan seorang wali: “Aku telah bersujud selama lima puluh tahun. Tetapi baru kemarin aku benar-benar bersujud. Saat itu, aku tidak lagi tahu siapa yang bersujud—apakah aku atau Dia. Yang aku tahu, aku telah lenyap, dan yang ada hanyalah Dia.”
Setelah Dahi Terangkat
Sujud selalu berakhir. Dahi terangkat, tubuh duduk, salam diucapkan. Manusia kembali ke ruang yang sama: rumah dengan persoalannya, pekerjaan dengan tekanan, masyarakat dengan perbedaan dan ketidakadilannya. Namun, ia tidak harus kembali dengan cara pandang yang persis sama.
Mungkin perubahan setelah satu sujud hanya kecil. Seseorang sedikit lebih lambat marah, lebih sanggup mendengar, atau lebih berani berkata, “Saya keliru.” Perubahan kecil tidak perlu dipandang remeh. Ia dapat menjadi benih yang tumbuh melalui pengulangan, selama manusia tidak berhenti menganggap dirinya telah selesai dibentuk.
Al-Qur’an mengingatkan: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci” (QS. An-Najm: 32). Peringatan itu bukan larangan untuk berharap menjadi lebih baik. Ia menjaga harapan agar tidak menjelma menjadi klaim kesempurnaan. Kita boleh berharap shalat mengubah diri, tetapi tidak perlu mengangkat diri sendiri sebagai bukti bahwa perubahan itu telah tuntas.
Ketika dahi menyentuh bumi, mungkin masih ada bagian diri yang ingin menang. Masih ada ketakutan mengaku salah, keinginan dipuji, atau prasangka kepada mereka yang berbeda. Kesadaran akan semua itu tidak membatalkan sujud. Ia dapat menjadi pintu bagi sujud yang lebih jujur: bukan sujud seorang manusia yang telah merasa bersih, melainkan sujud seorang hamba yang mengetahui dirinya membutuhkan pembersihan.
Barangkali misteri sujud terletak pada kesederhanaan ini. Manusia merendah bukan untuk menjadi rendah di mata sesamanya, tetapi untuk berhenti menjadikan dirinya ukuran bagi segala sesuatu. Ia meminta ampun kepada Tuhan, lalu berusaha tidak menahan ampun dan keadilan dari manusia. Ia bangkit dari sajadah, tetapi membawa pulang kesediaan untuk dikoreksi.
Dahi pada akhirnya meninggalkan bumi. Namun, hati masih dapat menyimpan bekas sentuhannya. Bekas itu tampak ketika kita tidak menggunakan agama untuk meninggikan diri, ketika kita mau mendengar kebenaran yang tak kita sukai, dan ketika kita tetap menghormati martabat orang yang tak dapat memberi apa-apa kepada kita.
Di hadapan Tuhan, kepala telah menunduk. Di hadapan manusia, kitalah yang perlu membuktikan apakah hati pernah benar-benar bersujud.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



















