Bung Karno, Ploso Jombang, dan Sejarah Kelahiran Proklamator yang belum usai

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 29 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ir. Aldian Dwi Pamungkas (Alumni GMNI)

JATIMRAYA.COM – Sejarah tidak semestinya ditentukan oleh narasi yang paling lama diulang. Sejarah harus berdiri di atas arsip, kesaksian, kritik sumber, dan penelitian yang dapat diuji.

Prinsip itulah yang seharusnya digunakan untuk membaca kembali polemik mengenai tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia mengenal berbagai versi mengenai tempat kelahiran Bung Karno. Salah satu versi menempatkannya di Surabaya, antara lain melalui penelitian Peter A. Rohi dan penelusuran terhadap sejumlah sumber sejarah.

Namun, penelitian tersebut tidak dengan sendirinya mengakhiri seluruh perdebatan sejarah.

Di sisi lain, muncul penelusuran yang menempatkan Ploso Jombang sebagai lokasi kelahiran Bung Karno pada 06 Juni 1902. Penelusuran itu tidak berdiri hanya di atas cerita lisan, tetapi berusaha mempertemukan dokumen penugasan ayah Bung Karno, catatan keluarga, dokumen pendidikan, kesaksian masyarakat, serta jejak sejarah di lokasi yang kini berada di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Bahkan pada 9 September 2026, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) datang langsung ke lokasi yang diyakini sebagai rumah kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang.

Kedatangan tersebut menjadi perkembangan penting.

Sebab, menurut Ketua TACBN Surya Helmi, persoalan tempat kelahiran Bung Karno masih menghadirkan dua versi yang perlu dicari kejelasan dan kesepakatan nasional.

Dengan demikian, persoalan Ploso Jombang hari ini bukan lagi sekadar cerita masyarakat setempat.

Ia telah menjadi pertanyaan dan menggugah misteri sejarah nasional

## Arsip 28 Desember 1901: Titik Penting yang Tidak Bisa Diabaikan

Salah satu dokumen penting dalam penelusuran Ploso Jombang adalah arsip mengenai Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah Bung Karno.

Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat bahwa pada 28 Desember 1901, Raden Soekeni menerima besluit pemindahan tugas ke Kecamatan Ploso, Jombang, sebagai Guru bantu sekolah Ongko loro.

Tanggal tersebut menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kronologi kehidupan keluarga Soekarno.

Apabila kelahiran Bung Karno ditempatkan pada 6 Juni 1902, maka terdapat rentang waktu sekitar enam bulan antara penempatan Raden Soekeni di Ploso dan tanggal kelahiran yang diklaim oleh penelusur sejarah Ploso Jombang.

Kronologi ini tidak otomatis menjadi bukti tunggal bahwa Bung Karno lahir di Ploso Jombang.

Namun, kronologi tersebut merupakan fakta arsip yang layak diuji lebih lanjut.

Dalam penelitian sejarah, sebuah dokumen tidak boleh dipaksakan menjadi kesimpulan akhir sebelum dibandingkan dengan sumber lain.

Tetapi dokumen yang relevan juga tidak boleh diabaikan hanya karena tidak sesuai dengan narasi yang telah lama dikenal.

## 6 Juni 1902 dan Pertanyaan yang Belum Selesai

Salah satu dokumen yang kerap muncul dalam penelitian mengenai tanggal kelahiran Bung Karno adalah Buku Induk mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng, perguruan tinggi yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung.

Catatan tersebut memuat tanggal kelahiran Soekarno pada 06 Juni 1902.

Catatan administrasi semacam ini merupakan sumber penting.

Namun, penelitian sejarah tidak berhenti pada membaca satu dokumen.

Pertanyaan berikutnya adalah: dari mana data tersebut diperoleh? Siapa yang menyampaikannya? Kapan pencatatan dilakukan? Apakah keterangan tersebut merupakan catatan kelahiran asli atau data administratif yang dituliskan kemudian?

Pertanyaan semacam itu penting karena dokumen administratif memiliki konteks sejarah pembuatannya.

Dalam kasus Bung Karno, terdapat perbedaan antara sejumlah catatan tanggal lahir dengan narasi autobiografis yang berkembang kemudian.

Karena itu, angka*06 Juni 1902 justru menjadi salah satu pintu untuk membuka penelitian lebih mendalam.

Bukan untuk memaksakan kesimpulan.

Melainkan untuk mencari sumber pertama.

## Stamboek Keluarga dan Pentingnya Sumber Primer

Penelusuran sejarah Ploso Jombang juga merujuk pada stamboek atau catatan keluarga Raden Soekeni yang disebut memuat tanggal kelahiran Soekarno.

Jika dokumen tersebut dapat ditemukan dalam bentuk aslinya, diperiksa autentisitasnya, diketahui asal-usul penyimpanannya, dan dibandingkan dengan arsip kolonial lainnya, maka nilai sejarahnya akan sangat penting.

Sebab sumber keluarga seorang tokoh sejarah dapat memberikan informasi yang berbeda dari catatan administrasi pemerintah.

Tetapi sekali lagi, sumber keluarga pun harus melewati kritik sumber.

Tidak cukup mengatakan bahwa sebuah dokumen adalah “arsip keluarga”.

Yang harus dijawab adalah siapa yang membuatnya, kapan dibuat, untuk tujuan apa, apakah merupakan dokumen asli, dan apakah isinya konsisten dengan dokumen lain.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi agenda penelitian nasional.

## Ploso Jombang dan Kesaksian yang Bertahan

Selain arsip tertulis, penelusuran mengenai Ploso Jombang juga berkembang melalui kesaksian masyarakat dan keluarga yang dikaitkan dengan masa awal kehidupan Bung Karno.

Nama-nama seperti Mbok Suwi, Mbok Mirah, dan Mbah Joyo Dipo muncul dalam berbagai penelusuran sejarah lokal.

Kesaksian tersebut tentu tidak boleh langsung ditempatkan sebagai bukti final.

Namun kesaksian juga tidak boleh dihapus dari penelitian hanya karena bentuknya lisan.

Dalam ilmu sejarah, kesaksian lisan dapat menjadi pintu untuk menemukan arsip, lokasi, nama keluarga, serta hubungan sosial yang kemudian dapat diverifikasi melalui sumber tertulis.

Karena itu, kesaksian masyarakat Ploso Jombang seharusnya dikumpulkan secara sistematis, direkam, ditranskripsikan, dan dibandingkan dengan sumber primer.

Sebelum para saksi dan generasi yang mewarisi cerita tersebut semakin sedikit, penelitian harus dilakukan.

## Cindy Adams dan Jejak Penelusuran 1964

Nama Cindy Adams juga menjadi bagian penting dalam penelusuran sejarah kehidupan Bung Karno.

Dalam berbagai kajian mengenai Ploso Jombang, disebutkan bahwa Cindy Adams melakukan perjalanan ke wilayah tersebut pada 16 Januari 1964 dan menemui sejumlah orang yang berkaitan dengan cerita masa awal kehidupan Soekarno.

Informasi mengenai perjalanan tersebut perlu ditelusuri kembali melalui sumber aslinya.

Jika terdapat catatan lapangan, foto, manuskrip, surat, atau dokumentasi asli perjalanan Cindy Adams, semuanya perlu dibuka dan diperiksa.

Pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar apakah Cindy Adams pernah berada di Ploso Jombang.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang dicari Cindy Adams di sana?

Siapa yang diwawancarai?

Apa yang dicatat olehnya?

Apakah informasi tersebut masuk ke dalam naskah autobiografi Bung Karno?

Dan apabila terdapat foto yang menghubungkan Cindy Adams dengan lokasi tertentu, apa keterangan asli foto tersebut dalam arsip atau publikasi pertama?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan foto berdasarkan ingatan atau unggahan media sosial.

## Kelud dan Narasi “Putra Sang Fajar”

Dalam autobiografi Bung Karno yang dituturkan kepada Cindy Adams, terdapat narasi mengenai kelahirannya yang dikaitkan dengan Gunung Kelud serta simbol “Putra Sang Fajar”.

Narasi tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari cerita mengenai kelahiran Bung Karno.

Namun, kutipan-kutipan yang beredar di masyarakat harus kembali dibandingkan dengan edisi asli.

Tidak setiap kalimat yang beredar di internet dapat langsung dianggap sebagai kutipan autentik Bung Karno.

Karena itu, apabila bagian mengenai Kelud hendak digunakan sebagai bukti sejarah, penelitian harus menunjuk pada halaman dan edisi sumber aslinya, bukan sekadar mengutip kalimat yang telah berulang kali disalin.

Sejarah membutuhkan presisi.

Terutama ketika yang sedang diteliti adalah kelahiran seorang tokoh yang menjadi salah satu pendiri bangsa.

## Ploso Jombang Tidak Cukup Dibela dengan Narasi

Membuktikan suatu peristiwa sejarah tidak cukup dengan mengatakan bahwa masyarakat setempat meyakininya.

Begitu pula tidak cukup dengan menunjukkan satu dokumen.

Yang diperlukan adalah konstruksi bukti.

Arsip penugasan Raden Soekeni.

Catatan kelahiran.

Stamboek keluarga.

Dokumen pendidikan.

Kesaksian dari berbagai sumber.

Catatan perjalanan Cindy Adams.

Dokumentasi lokasi.

Konteks administratif wilayah pada masa Hindia Belanda.

Serta berbagai sumber lain yang dapat memperkuat atau justru membantah hipotesis tersebut.

Semua harus diletakkan di atas meja yang sama.

Kemudian diuji.

Dengan metode yang sama.

Tanpa tekanan politik.

Tanpa kepentingan daerah.

Tanpa terlebih dahulu menentukan kesimpulan.

## September 2026: Polemik Masuk Tahap Nasional

Perkembangan penting terjadi pada September 2026.

Pada 9 September 2026, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional datang ke lokasi yang diyakini sebagai rumah kelahiran Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Kunjungan itu melibatkan TACB Jawa Timur, TACB Jombang, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, penelusur sejarah, budayawan dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam kunjungan tersebut, TACBN menerima pemaparan mengenai bukti dan penelusuran sejarah yang menempatkan Ploso Jombang sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

Ketua TACBN Surya Helmi menyatakan bahwa persoalan tersebut perlu dicari kejelasan dan kesepakatan nasional karena terdapat dua versi yang berkembang.

Pernyataan tersebut penting.

Sebab persoalan ini telah bergerak dari perdebatan lokal menuju ruang penelitian dan pelestarian pada tingkat nasional.

Namun, kunjungan TACBN belum berarti bahwa tempat kelahiran Bung Karno telah ditetapkan secara final sebagai Ploso Jombang.

Justru sebaliknya,

Kunjungan itu menunjukkan bahwa proses penelitian dan verifikasi masih diperlukan.

## Mendesak Ploso Jombang Menjadi Cagar Budaya

Di tengah proses penelitian tersebut, ada satu hal yang tidak seharusnya menunggu terlalu lama: perlindungan terhadap situs.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Jombang bersama pemerintah provinsi dan lembaga terkait perlu mempercepat proses kajian dan mendorong lokasi yang diyakini sebagai rumah kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang untuk diproses sebagai Cagar Budaya, sesuai mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dorongan tersebut tidak harus menunggu sampai seluruh perdebatan mengenai tempat kelahiran Bung Karno selesai.

Sebab pelestarian situs dan penetapan fakta sejarah adalah dua proses yang dapat berjalan beriringan.

Situs dapat diamankan, didokumentasikan, diteliti, dan dilindungi selama proses verifikasi sejarah berlangsung.

Jika penelitian kemudian menghasilkan kesimpulan berbeda, status dan interpretasinya dapat ditinjau berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Yang jauh lebih berisiko adalah membiarkan situs dalam kondisi tidak terlindungi sambil menunggu perdebatan sejarah selesai.

Sebab kerusakan fisik tidak dapat dipulihkan hanya dengan keputusan administratif.

Begitu sebuah struktur hilang, benda sejarah berpindah, atau lingkungan historis berubah, sebagian konteks sejarah dapat ikut hilang.

Karena itu, langkah paling rasional adalah:

selamatkan situsnya, amankan sumbernya, lakukan penelitian, kemudian sempurnakan penetapan dan interpretasi sejarahnya.

Ploso Jombang tidak membutuhkan status Cagar Budaya semata sebagai simbol.

Status tersebut harus diikuti dengan konservasi, dokumentasi, papan informasi sejarah, kajian akademik, pengamanan benda terkait, serta pengelolaan yang membuat masyarakat dapat memahami nilai sejarahnya.

Jika kelak penelitian membuktikan kuat bahwa lokasi tersebut memang berkaitan langsung dengan kelahiran Bung Karno, maka Indonesia telah memiliki situs sejarah yang terlindungi secara layak.

Jika penelitian menghasilkan kesimpulan berbeda, perlindungan terhadap objek yang memiliki nilai sejarah tetap dapat dievaluasi sesuai hasil kajian.

Yang tidak boleh adalah membiarkan objek sejarah hilang sebelum penelitian selesai.

## Pemerintah Jombang Tidak Boleh Menunggu Sejarah Hilang

Di titik inilah Pemerintah Kabupaten Jombang memiliki tanggung jawab penting.

Bukan untuk memaksakan Ploso Jombang sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

Bukan pula untuk memenangkan perdebatan dengan daerah lain.

Tanggung jawab pemerintah daerah adalah menyelamatkan sumber sejarah dan memastikan proses penelitian berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan

Sejumlah langkah sebenarnya telah berlangsung. Pembahasan mengenai penguatan sejarah kelahiran Soekarno di Ploso Jombang telah dilakukan, DPRD Jombang bersama perangkat daerah juga telah meninjau lokasi, dan pada September 2026 TACBN telah datang langsung ke situs tersebut.

Namun proses tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah yang lebih konkret.

Karena itu, pertanyaan publik kepada Bupati Jombang Warsubi seharusnya bukan apakah pemerintah percaya atau tidak percaya terhadap klaim Ploso Jombang.

Pertanyaannya adalah:

Kapan situs tersebut mendapatkan perlindungan yang memadai?

Kapan proses kajian Cagar Budaya dipercepat?

Bagaimana pemerintah memastikan arsip dan benda terkait tidak hilang?

Kapan seluruh bukti yang tersedia dibawa ke forum penelitian yang melibatkan ANRI, sejarawan, TACBN, perguruan tinggi dan lembaga terkait?

Pertanyaan tersebut wajar diajukan.

Sebab sejarah tidak bisa menunggu terlalu lama.

Bangunan dapat runtuh.

Dokumen dapat hilang.

Benda dapat berpindah tangan.

Dan saksi sejarah memiliki batas usia.

Kritik terhadap pemerintah daerah karena itu seharusnya diarahkan pada kecepatan, keterukuran, dan keberlanjutan langkah pelestarian, bukan pada tuduhan mengenai motif pribadi.

## Jangan Tetapkan Sebelum Diteliti, Jangan Biarkan Hilang Sebelum Ditetapkan

Dua sikap harus berjalan bersamaan.

Pertama, jangan menetapkan Ploso Jombang sebagai tempat kelahiran Bung Karno sebelum seluruh bukti diuji secara ilmiah dan memadai

Kedua, jangan membiarkan lokasi dan sumber sejarahnya rusak hanya karena status sejarahnya belum memperoleh keputusan final.

Keduanya bukan kontradiksi.

Justru itulah prinsip kehati-hatian dalam pelestarian sejarah.

Jika penelitian akhirnya menyimpulkan bahwa Versi Ploso Jombang bukan tempat kelahiran Bung Karno, kesimpulan itu harus diterima.

Namun jika penelitian menemukan bukti yang kuat bahwa versi Ploso Jombang memang merupakan tempat kelahirannya, negara juga harus memiliki keberanian untuk memperbaiki catatan sejarah.

Yang terpenting adalah prosesnya transparan ilmiah dan akuntabel

## Sejarah Bukan Pertandingan Antarwilayah

Polemik tempat kelahiran Bung Karno tidak seharusnya menjadi pertandingan antara Jombang dan daerah lain.

Sejarah bukan pertandingan antarkota.

Tidak ada kehormatan daerah yang harus dipertahankan dengan mengorbankan kebenaran sejarah.

Jika suatu sumber menunjukkan satu hal, ia harus diuji.

Jika sumber lain menunjukkan hal berbeda, ia juga harus diuji.

Dan jika kedua sumber sama-sama belum cukup kuat, maka kesimpulan ilmiahnya adalah: penelitian belum selesai.

Sikap semacam itu jauh lebih terhormat daripada memaksakan kepastian yang belum tersedia.

Sebab Bung Karno bukan milik satu kota.

Bung Karno adalah bagian dari sejarah Indonesia.

Maka tempat kelahirannya juga merupakan persoalan sejarah Indonesia.

## Epilog: Selamat Jalan, Mas Guruh

Tulisan ini pada akhirnya juga harus berhenti sejenak untuk mengenang seorang anak Soekarno yang hari ini telah berpulang.

Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, yang dikenal sebagai Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Bung Karno dan Fatmawati, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB, dalam usia 73 tahun.

Mas Guruh dikenal luas sebagai seniman, budayawan, pencipta karya musik dan salah satu sosok yang menjaga ingatan kebudayaan yang diwariskan dari zaman Bung Karno.

Dalam konteks tulisan ini, kepergian Mas Guruh memberikan kesunyian tersendiri.

Sebab setiap kali satu generasi keluarga sejarah berpulang, semakin penting pula bagi bangsa ini untuk menjaga arsip, kesaksian, dokumen, dan jejak sejarah yang ditinggalkan.

Terima kasih, Mas Guruh Soekarnoputra.

Terima kasih atas karya, pengabdian, dan bagian sejarah yang telah Mas Guruh wariskan kepada bangsa dan negara.

Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari generasi yang membawa nama besar Bung Karno sekaligus menghidupkan kebudayaan Indonesia melalui jalan seni.

Hari ini, kita mengucapkan selamat jalan, Mas Guruh.

Semoga segala karya dan pengabdianmu menjadi bagian dari ingatan panjang bangsa ini.

Dan semoga generasi yang masih hidup memiliki keberanian untuk menjaga apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Termasuk menjaga sejarah tentang Soekarno

Termasuk menjaga jejaknya.

Termasuk menjaga tempat-tempat yang mungkin menjadi bagian dari awal perjalanan hidupnya.

Karena ketika satu per satu manusia yang pernah mengalami zaman itu pergi, yang tersisa bagi generasi berikutnya adalah arsip, situs, dokumen, kesaksian, dan keberanian untuk mencari kebenaran.

Selamat jalan, Mas Guruh.

Sejarah akan terus berjalan.

Dan tugas kita adalah memastikan bahwa sejarah itu tidak kehilangan jejaknya.

## Ploso Jombang Tidak Meminta Dipercaya

Pada akhirnya, Ploso Jombang tidak membutuhkan propaganda.

Ploso Jombang membutuhkan penelitian.

Arsip membutuhkan pemeriksaan.

Kesaksian membutuhkan verifikasi.

Situs membutuhkan perlindungan.

Dan negara membutuhkan keberanian untuk membuka kembali pertanyaan sejarah yang selama ini dianggap selesai.

Jika bukti versi Ploso Jombang kuat, sejarah harus mengakuinya.

Jika bukti itu belum cukup, penelitian harus mengatakannya.

Jika masih terdapat dua kemungkinan, negara harus menyediakan ruang ilmiah untuk menyelesaikannya.

Yang tidak boleh terjadi adalah sumber sejarah hilang lebih dahulu sebelum kebenaran berhasil ditemukan.

Bung Karno pernah meninggalkan pesan yang sangat terkenal: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”

Pesan itu hari ini seharusnya tidak hanya menjadi slogan tetapi harus menjadi metode dengan cara Membaca arsip,Menguji dokumen, Mencari sumber pertama, Mendengar kesaksian, Menyelamatkan situs, dan Menetapkan Cagar Budaya apabila memenuhi persyaratan.

Serta berani mengoreksi pemahaman lama apabila bukti baru memang menuntutnya.

Karena itu, pertanyaan tentang rumah kelahiran versi Ploso Jombang bukan hanya sekadar

“Di mana Bung Karno dilahirkan?”

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

“Seberapa serius negara bersedia mencari jawabannya sekaligus menyelamatkan jejak sejarahnya?”

Sebab sejarah tidak membutuhkan siapa yang paling keras berbicara.

Sejarah membutuhkan bukti.

Dan Ploso Jombang, dengan seluruh arsip, kesaksian, jejak keluarga, serta situs yang masih tersisa, layak mendapatkan kesempatan untuk diuji dan dilindungi secara nasional.

Bukan untuk memenangkan Ploso.

Bukan untuk mengalahkan daerah lain.

Tetapi untuk memastikan bahwa ketika bangsa Indonesia menyebut nama Soekarno, bangsa ini juga memiliki keberanian untuk memastikan bahwa kisah kelahirannya berdiri di atas sejarah yang benar-benar telah diperiksa.

Ploso Jombang tidak meminta untuk dipercaya begitu saja.

Ploso Jombang meminta untuk diteliti.

Dan sembari penelitian itu berjalan, jejak sejarahnya jangan dibiarkan hilang. Lindungi, kaji, dan dorong menjadi Cagar Budaya.

Karena jika benar tempat itu merupakan bagian dari titik awal kehidupan Bung Karno, maka yang sedang diselamatkan bukan hanya sebuah rumah tua di Ploso Jombang.

Yang sedang diselamatkan adalah salah satu jejak awal sejarah Indonesia

Berita Terkait

Balada Sang Komprador
AI Makin Canggih, Literasi Digital Harus Ikut Bergerak
Sajadah yang Retak: Membaca Kesombongan Tersembunyi di Balik Ibadah yang Tampak Sempurna
Ketika Bumi Terbungkus Kepalsuan: Renungan Sufistik tentang Keruntuhan dan Kebangkitan Jiwa
Muraqabah di Tengah Kebisingan: Menjaga Kesadaran Ilahi di Era Distraksi
Keputusan Bisnis Bukan Kejahatan, tetapi Bukan Pula Tameng Korupsi
Dari Antroposentrisme menuju Teosentrisme: Menghormati Ciptaan sebagai Wujud Tauhid
Ketika Alloh Memberikan Perumpamaan Seperti Binatang – Binatang Kecil

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 12:03 WIB

Balada Sang Komprador

Selasa, 29 September 2026 - 08:39 WIB

Bung Karno, Ploso Jombang, dan Sejarah Kelahiran Proklamator yang belum usai

Senin, 28 September 2026 - 19:05 WIB

AI Makin Canggih, Literasi Digital Harus Ikut Bergerak

Senin, 28 September 2026 - 17:13 WIB

Sajadah yang Retak: Membaca Kesombongan Tersembunyi di Balik Ibadah yang Tampak Sempurna

Minggu, 27 September 2026 - 16:30 WIB

Ketika Bumi Terbungkus Kepalsuan: Renungan Sufistik tentang Keruntuhan dan Kebangkitan Jiwa

Berita Terbaru

Lifestyle

Balada Sang Komprador

Selasa, 29 Sep 2026 - 12:03 WIB