Cinta Segitiga Anak Nabi Adam Yang Berakhir Tragis

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 1 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gatot Sundoro 

JATIMRAYA.COM – Setelah Nabi Adam dan Hawa terusir dari Surga, mereka akhirnya bertemu di Jabar Rahmah (sekitar 20 km arah Tenggara dari kota Mekkah), kemudian mereka melanjutkan kehidupan berumah tangga.

Beberapa saat kemudian Hawa pun hamil, dan melahirkan anak kembar laki laki dan perempuan. Kembar pertama, dinamakan Qabil dan Iqlima, sedangkan kembar berikutnya diberi nama Habil dan Labuda (Layutsa).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika mereka mulai dewasa, Nabi Adam memberikan tanggung jawab kepada mereka; Qabil diserahi tanggung jawab mengurus ladang pertanian, sedangkan Habil diberi amanah mengurus peternakan domba.

Habil ternyata lebih rajin dan telaten dibandingkan Qabil yang suka bermalas-malasan.

Kemudian, ALLOH SWT mewahyukan kepada Nabi Adam untuk menikahkan anak anaknya agar keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi dapat berkembang.

Karena aturan saat itu (syari’at masa awal) melarang pernikahan dengan saudara kembar sendiri, Nabi Adam diperintahkan Menikahkan anaknya secara silang, yakni Qabil dinikahkan dengan saudara kembarnya Habil, yaitu Labuda; sedangkan Habil dengan Iqlima.

Qabil menolak aturan syariat itu dan berkata:” Aku tidak akan kawin kecuali dengan Iqlima karena ia dilahirkan bersamaku dalam satu kandungan. Aku lebih mencintai Iqlima daripada saudari sekandung Habil.”

Dikisahkan bahwa Qabil melakukan hal tersebut karena Iqlima jauh lebih cantik dibandingkan dengan Labuda.

Nabi Adam kemudian menawarkan solusi dengan cara agar Qabil dan Habil mempersembahkan kurban kepada ALLOH Ta’ala. Dengan catatan, siapa yang kurbannya diterima; maka dia berhak memilih jodohnya. Qabil dan Habil menerima keputusan tersebut.

Qabil adalah petani, sedangkan Habil peternak. Qabil mempersembahkan kurban hasil pertaniannya yang buruk; sedangkan Habil mempersembahkan kambing peliharaannya yang besar.

Tentu saja persembahan Habil yang diterima.

Akibatnya Qabil marah dan semakin iri kepada Habil.

Seseorang yang mempunyai sifat iri dengki (iri hati/hasad) amat tercela, sifat ini akan menyiksa dirinya sendiri. Ia merasa dongkol, geram dan ingin merusak; padahal tidak ada orang lain yang melakukan kesalahan terhadapnya.

Menurut Ibnu Juraij cara Qabil membunuh Habil diajarkan oleh Iblis, Iblis menampakkan dirinya kepada Qabil. Iblis mengambil seekor burung dan meletakkan kepala burung diatas sebuah batu, lalu kepala burung itu dihancurkan dengan batu lain.

Qabil pun menirunya, dihantamnya kepala Habil dengan batu, saat Habil sedang tidur.

Penyebab utama Qabil membunuh Habil adalah rasa iri hati dan dengki. Pemicu spesifik nya adalah ditolaknya kurban Qabil oleh ALLOH, sementara kurban Habil diterima, serta perselisihan mengenai perjodohan.

Al-Qur’an mengabadikan pembunuhan pertama dalam sejarah peradaban manusia. Qabil putra Nabi Adam yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, Habil.

” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, karena itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah, 30)

Kisah mereka ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27-31.

Dalam literatur dan riwayat tidak ada waktu yang pasti berapa lama Qabil membawa mayat Habil, dipanggul kemana mana.

Mayat Habil pun digendong oleh Qabil sambil mencari tempat untuk menyembunyikan jenazah yang mulai mengeluarkan bau busuk, namun Qabil tidak menemukan tempat tersebut. Saat Qabil mulai kebingungan dan putus asa; Akhirnya

ALLOH SWT memberinya petunjuk melalui pembunuhan/ pertarungan dua ekor burung gagak, kemudian seekor burung gagak yang menang menggali nggali bumi untuk mengubur mayat burung gagak yang kalah (Al Maidah: 31)

Perbuatan Qabil membunuh Habil merupakan dosa pertama yang dilakukan oleh manusia. Qabil memikul dosa setiap pembunuhan yang tidak sah di muka bumi.

Rasulullah Saw pernah bersabda:” Anak pertama Adam turut menanggung sebagian kesalahan setiap orang yang membunuh orang lain secara tidak sah karena dialah yang memulai pembunuhan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berita Terkait

Dapur yang Mendidik: Sebuah Manifesto Ideologis untuk Pendidikan Tinggi Indonesia
Kala Nasionalisme Jadi Perisai Kegagalan: Ironi Imbauan Modi di Tengah Krisis Hormuz
Menenun Kabut, Menimbun Utang: Catatan Teoretis Menuju 2029
Estetika Korupsi Manipulasi 6.0
Cerita Tentang Khamidi
Surat Al – A’raf (Tempat Tertinggi)
Mengapa Tumbuh 5,61% Tak Sampai ke Dapur Kita?
Menelusuri “Roh” Pembangunan di Balik Laba BPD

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 15:35 WIB

Dapur yang Mendidik: Sebuah Manifesto Ideologis untuk Pendidikan Tinggi Indonesia

Senin, 18 Mei 2026 - 15:24 WIB

Kala Nasionalisme Jadi Perisai Kegagalan: Ironi Imbauan Modi di Tengah Krisis Hormuz

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:34 WIB

Menenun Kabut, Menimbun Utang: Catatan Teoretis Menuju 2029

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:24 WIB

Estetika Korupsi Manipulasi 6.0

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:32 WIB

Cerita Tentang Khamidi

Berita Terbaru